IBU VS ISTRI: PILIH YANG MANA?

image

…dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

Sebuah masalah klasik yang terjadi di hampir setiap pernikahan, dimana seorang suami sering diperhadapkan pada keadaan: Membela ibu atau istri? Mengutamakan ibu atau istri?

Akan lebih baik dan lebih mulus jalannya bila seorang calon istri mengambil waktu untuk mengenal lebih dekat bakal calon ibu mertuanya. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang muncul di kemudian hari dapat lebih mudah teratasi. Begitu pula dengan sang anak lelaki, atau calon suami. Ada baiknya secara terbuka berbicara pada ibunya dari hati ke hati tentang seberapa jauh ia ingin sang ibu mensupport pernikahan dan hubungannya dengan istrinya.

Dengan demikian, hubungan ibu dan anak lelaki serta menantu perempuan akan lebih jelas dan terarah serta saling mengerti dan menghormati posisi masing-masing.

Dr. Sylvia L. Mikucki-Enyart, seorang asisten profesor bidang Komunikasi di Universitas Wisconsin melakukan penelitian terhadap 89 orang ibu mertua, dan ditemukan beberapa kekhawatiran mendasar (yang mirip satu sama lain) tentang pernikahan anak lelakinya. Ternyata, ibu yang memiliki anak lelaki jauh lebih khawatir untuk melepas anak lelakinya masuk dalam pernikahan, dibandingkan melepas anak perempuannya.

Kekhawatiran itu adalah:
1. Apakah hubungan IBU-ANAK akan berubah?
2. Apakah anak saya akan menjadi jarang berkunjung atau menelepon?
3. Apakah ia akan mengisi liburan bersama kami atau tidak?
4. Apakah ia akan tetap setia membela dan bergantung pada kami atau tidak?
5. Apakah dia akan cukup makan yang sehat dan bergizi?
6. Bagaimana istrinya akan memperlakukan dia nanti?

Dr. Mikucki-Enyart juga melakukan penelitian terhadap 133 menantu perempuan. Dan ternyata, mereka pun memiliki beberapa kekhawatiran, yaitu:

1. Apakah ibu mertua saya akan terlalu ikut campur dalam banyak hal di pernikahan kami?
2. Apakah ibu mertua saya mampu mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik? (Atau akan sering merongrong suami saya dan meminta bantuan keuangan).
3. Apakah ibu mertua saya akan menjelek-jelekkan saya pada suami saya?

Dalam pernikahan, sebab utama ketegangan antara ibu mertua dan menantu perempuan adalah: Adanya kompetisi dalam hal siapa yang lebih baik dalam merawat / melayani si anak lelaki; Ibunya kah? Atau sang istri?

Untuk itulah dibutuhkan sikap dewasa, kerendahan hati serta kebijaksanaan sang ibu untuk mundur dan membiarkan sang menantu perempuan berperan menjalankan tugasnya untuk melayani suami. Tentu ini BUKAN PERKARA MUDAH! Karena dibutuhkan pengertian yang besar diantara kedua wanita – ibu mertua dan mantu perempuan – untuk membuat semuanya berjalan dengan baik. Suami juga WAJIB berperan dalam menetapkan batasan-batasan dalam rumah tangganya, baik bagi sang ibu maupun istri.

Masalah yang paling sering muncul ke permukaan adalah: Saat suami (anak lelaki) terperangkap dalam pilihan sulit, membela ibunya atau istrinya? Berikut ini adalah beberapa anjuran untuk mengatasi situasi tersebut:

1. Jadikan istri Anda sebagai prioritas Anda, tetapi jangan meninggalkan dan tetaplah menunjukkan sikap peduli pada ibu Anda. Katakan bahwa Anda mencintai istri Anda, dan bahwa istri Anda membutuhkan dukungan ibu untuk membuat dia (istri Anda) merasa diterima dan dikasihi.

2. Saat istri Anda mengeluh tentang sesuatu, dengarkan keluhannya. Jangan bersikap lebih membela pihak lain, cobalah mengerti permasalahan yang ia hadapi. Jika masalahnya adalah bahwa ibu Anda terlalu mencampuri urusan pribadi rumah tangga Anda berdua, bicaralah empat mata (menegur dengan penuh hormat dan kasih) dengan ibu Anda.

3. Sebisa mungkin, ajak kedua pihak keluarga (anda dan istri Anda) dalam perayaan atau momen-momen penting Anda. Berhati-hatilah, jangan sampai ibu dari kedua pihak merasa tidak diikut sertakan. Jika salah satu pihak tidak dapat hadir, PASTIKAN Anda memberitahukan bahwa “Tiada kesan tanpa kehadiran mama.”

4. Dalam segala persoalan, kondisi dan situasi, utamakan istri dan keluarga inti Anda. Umumnya, jika ibu melihat bahwa anak-anaknya memiliki pernikahan yang bahagia dan saling mencintai, mereka akan melakukan yang terbaik untuk mendukung kesuksesan pernikahan Anda.

5. Jangan pernah menjelekkan istri Anda dihadapan ibumu, demikian pula sebaliknya. Karena ini dapat menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja.

Biasanya permasalahan keluarga diserahkan kepada pihak wanita atau istri. Tetapi jika itu menyangkut hubungan antara ibu, anak lelaki dan istrinya, permasalahan ini membutuhkan perlakuan dan tindakan khusus dari sang anak lelaki / suami.

Bagaimanapun juga, ibu adalah sosok wanita pertama yang hadir dalam hidup si anak lelaki. Ibu dan anak lelaki memiliki hubungan khusus yang rumit sekaligus istimewa. Oleh karena itu, dibutuhkan kebesaran hati dan pengertian yang dalam bagi seorang ibu untuk dengan rela melepaskan dan mempercayakan anak lelakinya untuk dilayani dan dirawat oleh sang istri. Percaya bahwa si anak mampu mengerti posisi mertua-menantu, serta dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

(KB/FOFI, Disadur dari Artikel “Guys, Your Mother Can Destroy Your Marriage” oleh Mary Jo Rapini, seorang Licensed Relationship and Family Therapist, http://www.chron.com).

A CRANKY MAMA!

“Everyone, stop calling my name and stop asking mommy about anything, okay. I’m tired!” Setengah berteriak saya berkata kepada anak-anak saya dan seisi rumah. Hari itu saya merasa extra lelah dan bad mood. Entah mengapa. Beberapa menit setelah saya mengultimatum seisi rumah untuk berhenti ‘mengganggu’ saya, rumahpun sepi, dan… hati saya mulai diliputi rasa bersalah. Ah, jadi galau!

1457884400057

Berapa banyak isteri dan ibu yang mengalami dan merasa seperti saya? Disatu sisi kita ingin sekali menjadi isteri dan ibu teladan, tapi disisi lain kita (ternyata) hanya manusia biasa yang butuh istirahat, menarik nafas dan sekedar duduk diam tanpa melakukan apa-apa. We just want our quiet moment. And usually we want that at the busiest schedule of the day! HAHA…

Saya rasa masalah ini tidak hanya berhubungan dengan ibu rumah tangga saja. Tetapi ibu bekerja pun mengalami hal yang sama. Intinya, apapun karier dan kesibukan ibu, sekali waktu kita amat sangat membutuhkan momen berdiam diri – tidak melakukan apapun, tidak berkata apapun, tidak berpikir apapun. Kita. Ingin. Istirahat. Bahasa kerennya, hibernating moment. Pertanyaannya: Apakah bisa? Beberapa kali saya (dengan gaya sok idealis) berusaha melakukan momen hibernasi ini. Tetapi dalam waktu 10 menit, hati saya mulai diliputi rasa bersalah, lalu otak saya mulai memikirkan schedule esok hari, “Oh besok si adik harus bawa ini. Oh si kakak besok les, harus dijemput jam sekian, bla.. bla.. bla..” Momen hibernasi pun GAGAL TOTAL!

Bulan Maret 2016 ini, tema Social Media FOF INDONESIA adalah Getting to Know Your Spouse / Kids / Family. Dan saya merasa, topik ini cukup tepat untuk diangkat. Sebagai perempuan yang mewakili jutaan isteri dan ibu, saya ingin menyuarakan isi hati mereka juga. Bukan tentang hal berat serupa kesetaraan gender atau lainnya, tapi hal sederhana yang seringkali kita abaikan, padahal amat kita butuhkan: A quiet moment, a hibernating session, a moment to be alone and NOT doing things that WE HAVE TO, but doing things that WE WANT TO. 

Kepada para pria, selaku suami dan ayah, ada baiknya Anda mulai mencatat hal-hal yang akan saya ungkapkan berikut ini. Jangan khawatir, saya tidak bermaksud memprovokasi para isteri (HAHA..) justru saya ingin para suami dan ayah belajar memahami  isteri Anda dengan lebih baik lagi.

  1. BE THOUGHTFULNothing is sexier than a thoughtful husband. Jadilah suami yang sensitif terhadap kebutuhan isteri untuk merasa dikasihi dan dimengerti. Bukan dengan materi (saja), tapi lebih daripada itu, dimengerti perasaan dan pikirannya. Caranya? Mudah sekali. Ambil waktu untuk mempelajari bahasa tubuh dan kebiasaan isteri Anda. Suami saya orang yang sangat pandai dalam hal ini. Hanya melihat saya naik ke tempat tidur diwaktu yang tidak biasa, ia langsung tahu bahwa saya lelah dan ingin istirahat. Ia lalu akan menutup pintu kamar dan membiarkan saya beristirahat.
  2. HELP YOUR WIFE. Tolonglah isteri Anda. Bentuk pertolongannya bisa bermacam-macam. Jika isteri Anda seorang ibu rumah tangga, bantulah ia dengan melakukan hal-hal simple seperti membereskan rumah yang berantakan, mencuci piring, mencuci kamar mandi, mengajak anak-anak keluar rumah, agar isteri dapat santai sejenak menikmati me time nya tanpa gangguan, atau hal lain yang menurut Anda dapat mengurangi beban isteri saat ia merasa kelelahan. Jika Anda kurang paham apa yang dapat Anda lakukan untuk menolong dia, JANGAN MALU BERTANYA.
  3. GIVE HER ASSURANCE.  Isteri yang Anda nikahi sekarang mungkin (menurut Anda) sudah tidak terlihat semenarik dulu, tetapi ingat: Ia masih dan selamanya akan menjadi isteri Anda, hingga maut memisahkan. Seorang isteri bukannya tidak tahu kalau suaminya mencintai dia. Tentu kami tahu. Tapi kami ingin mendengar para suami melontarkan pujian (bukan rayuan gombal!) yang dapat memberi energi dan mengembalikan rasa percaya diri, bahwa kami dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan dalam hidup suami kami. Kuncinya: Jangan gengsi memuji!
  4. I GOT THIS!  Sebuah kalimat dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih: Biar saya yang urus. Anda sadari atau tidak, saat ini semakin sedikit suami dan ayah yang mampu mengatakan dan melakukan hal ini. Banyak suami atau ayah yang ‘merasa’ isterinya sudah paham dan dapat melakukan hampir segala hal sendiri, termasuk mencuci mobil, service mobil bulanan ke bengkel, menelepon tukang untuk memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah, dan lain sebagainya. TENTU SAJA kami bisa! Tapi terkadang kami ingin menjadi istri yang terima beres dalam hal-hal seperti ini. Kami ingin para suami berkata: “It’s okay sayang, biar aku saja yang urus.” Perkataan seperti ini seperti air yang dituang diatas kepala yang panas karena terpanggang terik matahari.
  5. PHYSICAL TOUCH IS IMPORTANT. Hal terakhir yang mungkin ingin sekali saya sampaikan adalah untuk sering-sering memberi sentuhan sayang kepada isteri Anda. Sentuhan fisik bukan melulu soal aktifitas seksual. Tetapi sentuhan-sentuhan kecil namun hangat yang dilakukan suami kapan saja, dimana saja sebagai ekspresi rasa sayang. Untuk beberapa suami mungkin membutuhkan perjuangan atau latihan khusus dalam melakukan kebiasaan ini. Tetapi teruslah berusaha untuk melakukannya. Isteri Anda akan merasa seperti memiliki energi baru yang luar biasa saat mendapati suaminya mengelus punggungnya, memijit kakinya, mengusap kepalanya atau mencium lembut pipi atau bibirnya. Hal-hal sederhana yang mungkin sudah kita lupakan (saking sibuknya!), mari lakukan kembali.

Akhir kata, semoga tulisan saya ini dapat membantu para suami dan ayah untuk ‘mengerti’ keinginan dan kebutuhan isteri Anda untuk merasa dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan. Dan bagi para isteri, semoga tulisan ini dapat mewakili setidaknya sepersekian persen dari sekian banyak harapan Anda kepada sang suami. Mari berlomba dalam memberi dan melakukan kebaikan bagi pasangan Anda. Belajarlah untuk mencintai dan mengerti, mengasihi dan melindungi, mempraktekkan berbagai ilmu positif yang kita lihat, kita dengar dan kita baca demi kelanggengan hidup pernikahan kita. Selamat berjuang dan teruslah mencintai pasangan Anda. (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA)

1457883638257

 

 

 

MEMAHAMI REMAJA

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa (misalnya perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki).

Selain aspek fisik, secara kognitif anak pun mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orangtua perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orangtua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi bantahan sebagai ekspresi pernyataan pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosioemosional remaja.
Secara sosioemosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orangtua.
Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orangtua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebayanya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.
Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya masih berproses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih dan menentukan nilai dan prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Oleh karena itu orangtua sering melihat bagaimana remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, tetapi bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-4 aspek tersebut: fisik, kognitif, sosioemosional dan moral, dapat disimpulkan bahwa si remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orangtua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami si remaja, akan membuat orangtua dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan si remaja.

Misalnya terkait pubertas, orangtua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, berikut bagaimana menyikapinya. Tentang kemampuan berpikir, orangtua hendaknya tidak memaknai pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi memang konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orangtua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosioemosional remaja, diperlukan kebesaran hati orangtua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minatnya, tetapi tetap dalam batasan koridor norma aturan keluarga yang jelas. Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Pada dasarnya, yang dibutuhkan remaja ada penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. (Ibu Pinkan Margaretha Bolang untuk FOF Indonesia)

SEDIKIT CATATAN TENTANG CINTA

Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna.

image

Saya bukan pakar pernikahan. Bukan pula seorang istri atau ibu yang sempurna. Sama seperti kalian, saya juga memiliki banyak impian, harapan dan – sedang berjuang tiada henti – demi menciptakan kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Mengamati serta mendengar kisah pernikahan dari banyak kawan, sahabat dan saudara, selalu menambah ‘sesuatu’ dalam pikiran dan hati saya. Dua hal yang bisa saya simpulkan setelah berbincang dengan mereka:

1. Tak ada pernikahan yang sempurna.
2. Bahwa tiap kita selalu memiliki 3 pilihan dalam menjalaninya: melanjutkan, menyerah, atau berusaha sekuat dan sebaik yang kita mampu, setiap saat. (Give up, give in or give all we got!).

Saya semakin sadar, dunia saat ini berputar terlalu cepat. Seingat saya semua itu terjadi sejak segala sesuatu diberi label FAST. Fast food, fast communication, fast interaction, fast information, fast result dan berbagai macam ‘fast’ lainnya. Dunia semakin tak bisa menikmati proses alami dari banyak hal. Orang lebih memilih membeli makanan kaleng atau makan fastfood. Alasannya: biar cepat!

Orang lebih suka bertegur sapa dengan chat apps daripada bertemu muka dan berbincang. Alasannya: biar cepat! Orang lebih suka mencari info dari internet atau berkirim ‘kartu digital’ kepada teman dan keluarga, karena (guess what?) LEBIH CEPAT sampai dan langsung dibaca. Tak ada lagi rasa deg2an menanti pak pos mengantar surat pacar. Atau silaturahmi kepada sanak keluarga (karena merasa toh tiap hari sudah berbincang lewat chat apps).

TAK ADA YANG SALAH DENGAN SEMUA ITU. Asal digunakan sesuai porsinya. Yang salah adalah, jika gaya hidup serba cepat itu lalu mempengaruhi karakter dan cara pandang kita terhadap kehidupan. Kita lebih suka MENGGANTI daripada MEMPERBAIKI. Kita lebih suka HASIL daripada PROSES. Dan gawatnya, hal itu diimplementasikan dalam segala segi kehidupan, termasuk PERNIKAHAN. Semakin jarang pasangan yang memilih untuk ‘memperbaiki’, apalagi mencintai ‘proses’. Dan semakin banyak pasangan yang lebih suka ‘mengganti’ dan berfokus pada ‘hasil’ tapi tidak pada proses & perbaikannya.

Saya adalah salah satu dari banyak wanita  istri dan ibu yang masih & (mudah2an dengan kasih karunia Tuhan) akan selalu memposisikan PERNIKAHAN sebagai sebuah ‘lahan kudus’ yang harus dijaga, ditanami, dirawat dan diberi ‘makan’. Saya MASIH PERCAYA, bahwa sebuah pernikahan memang sejatinya harus dijalani ‘hingga maut memisahkan’. Dan proses mencintai seseorang tidak cukup hanya dengan masa-masa bahagia saja. Tetapi yang lebih penting adalah: dimasa sulit. Dimana semuanya seperti tak termaafkan. Disitulah kita perlu menabur lebih banyak pengampunan, kasih, pengertian dan penerimaan.

Usia pernikahan kami baru 18 tahun. Masih ABG memang. Mangkanya saya segan menulis dengan “udara menasehati”. Mungkin lebih tepat kalo disebut “berbagi untuk memberkati”. Jika boleh saya berbagi beberapa hal untuk sahabat-sahabat yang single (dan sedang mencari jodohnya), yang menikah, yang tidak menikah, yang duda/janda atau juga mereka yang telah menikah lagi (dan lagi! Hehehe…). Berikut pemikiran saya (mohon maaf kalau TIDAK SEMPURNA):

1. Jika kamu masih single, fokuslah membangun dirimu menjadi seorang pria/wanita yang baik dan bertanggung jawab (kepada Tuhan, orangtua dan sesama). Orang yang fokus membangun karakter dirinya sesuai dengan KEBENARAN, tentu tak akan dengan mudah memutuskan untuk menikah dengan sembarang orang. Focus on being a Godly man/woman. And you will find the one that attract your Godly  character as well.

2. Jika kamu adalah seorang yang sudah menikah, ingatlah: pernikahan bukan didesign untuk memudahkan hidupmu, tetapi dirancang bagi para pejuang dan pemberani, yang tidak mudah putus asa dan mau terus melakukan yang terbaik, berapapun harganya, hingga maut memisahkan. Pernikahan tidak dirancang untuk orang-orang egois, yang menikah demi harta, tahta, wanita atau kerakusan pribadi semata. Karena pada dasarnya: pernikahan adalah tempatnya berbagi tanpa pamrih dan tanpa ada batasan waktu.

3. Kalau kamu adalah seorang yang sedang memutuskan untuk berpisah atau meninggalkan pasanganmu, ingatlah: Jangan selalu mengakhiri segala sesuatu dengan perpisahan. Karena berpisah bukan selalu jawaban terbaik. Berusahalah dahulu. Belajarlah mencintai proses. Mundurlah dari ranah keegoisan dan mulailah mementingkan kebahagiaan pasanganmu lebih daripada kepentinganmu sendiri. Berikan waktu pada CINTA untuk bangkit kembali. Seorang yang peduli pada kebahagiaan orang lain UMUMNYA akan merasakan kebahagiaan yang LEBIH BANYAK dari yang dia harapkan. Ingat: memberi selalu lebih baik daripada menerima. Sementara bercerai itu seperti bom waktu yang meninggalkan tapi tidak menyelesaikan masalah. Hanya menguburnya, dan suatu saat akan naik ke permukaan lalu MELEDAK dan mengacaukan kehidupan baru Anda.

4. Jika Anda adalah duda/janda yang merindukan kesempatan kedua, saya berharap Anda memulai lagi dengan pemikiran yang bijaksana. Bahwa pernikahan adalah seperti yang saya katakan di nomor 2. Secantik apapun istri barumu, sekaya apapun suami barumu, masalah dalam pernikahan akan selalu ada. Mungkin beda bentuknya. Tapi semua selalu tentang “ujian terhadap kemampuan kita untuk mencintai, mengampuni, mengerti dan menerima, apapun, bagaimanapun & sampai kapanpun.” TITIK. Jadi jangan Anda pikir, pasangan barumu akan menghindarkanmu dari masalah. Ingat: Mobil baru hanya terasa baru di bulan pertama. Setelah itu ia tetap harus dibawa ke bengkel untuk dirawat & diperbaiki.

Akhirnya, dengan segala hormat dan kerendahan hati, saya memohon kepada setiap suami/istri, setiap ayah/ibu, mari kita menjadi orang-orang yang mencintai proses dalam sebuah hubungan. Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna. Do not judge your spouse just because he/she sinned differently than you. Adalah tanggung jawab kita sepenuhnya untuk membuat pasangan kita menjadi lebih baik; kamu terlihat lebih baik karena aku, dan aku terlihat lebih baik karena kamu. Let’s build each other and kill every problem with kindness, love, forgiveness, understanding & acceptance. This is an UNCOMPROMISED LEGACY yang wajib kita tinggalkan bagi anak-anak kita. Have a great journey together! (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA) #TogetherStronger #RelationshipMatters #LoveConquersAll

UJIAN YANG MENGUATKAN

Setiap pernikahan akan menghadapi ujian. Sekali lagi, SETIAP pernikahan akan menghadapi UJIAN. Jenisnya mungkin berbeda-beda. Tetapi semuanya sama-sama menuntut kesabaran, penerimaan, pengertian, usaha dan pengorbanan. Wujud dan dalamnya kesabaran serta penerimaan pada setiap orangpun berbeda-beda. Kedewasaan spiritual dan mental menjadi tolok ukur dalam menilai kemampuan setiap pasangan untuk bertahan dan berjuang, hingga akhirnya menang.

Satu hal yang harus kita ingat baik-baik, setiap masalah atau tantangan dalam pernikahan akan membawa kita pada dua posisi akhir, yaitu: menang atau kalah. Menang dalam arti kita tetap teguh berpegang pada janji pernikahan, serta berkomitmen untuk menghadapi, menjalani, bertahan serta memenangkan pertempuran melawan masalah. Atau kalah, dalam arti kita menyerah dan memilih untuk mengakhiri serta meninggalkan medan tempur.

Kedua pilihan itu memang tidak mudah untuk dijalani. Masing-masing memiliki resiko yang harus kita tanggung dan hadapi. Yang tepenting adalah, “Apakah kita mau membayar harga untuk meraih kemenangan itu?” Perjuangan yang kita hadapi menuju pada kemenangan akan menuntut banyak pengorbanan, terutama dalam hal penyesuaian sikap dan pemikiran yang tentu tidak mudah untuk dilakukan. Tak perlu dirinci pengorbanan apa saja yang harus kita lakukan. Tetapi kita semua tahu, sesuatu yang berharga pastilah menuntut pengorbanan yang mahal harganya. Sekarang, apakah kita bersedia membayarnya?

Yang jelas, saat kita dihadapkan pada ujian pernikahan – jika kita tidak menyerah dan mau berusaha demi kepentingan bersama – maka ujian yang kita hadapi akan berakhir pada kemenangan, kedekatan (satu sama lain) dan kesembuhan (jiwa dan roh) pada  kedua belah pihak. Sebaliknya, bila kita memilih untuk menyerah pada ujian ini, maka kita akan berhadapan dengan kekalahan, perpisahan dan luka hati di kedua pihak. Pilihan ada di tangan Anda berdua.

Mungkin beberapa dari kita sedang menghadapi ujian dalam rumah tangga. Resep lulus ujian tentulah “belajar” dan “mempersiapkan diri” dengan sungguh-sungguh:

BELAJAR menerima, memaafkan & mengerti. Serta saling menolong agar pasangan kita dapat kembali pada panggilan awalnya sebagai suami atau istri yang baik.

MEMPERSIAPKAN DIRI meliputi pembenahan hubungan serta kedekatan kita pada Yang Maha Kuasa (karena memenangkan ujian tanpa hikmat dari Tuhan adalah usaha yang sia-sia). Siapkan diri untuk berkomunikasi dengan kerendahan hati, keinginan untuk mendengar serta berfokus pada jalan keluar, bukan pada siapa yang benar atau salah. Siap untuk berkomitmen menjalankan langkah-langkah positif yang telah didiskusikan bersama pasangan agar ujian dapat diselesaikan dengan nilai yang baik. Pada akhirnya, tentukan tujuan baru yang lebih baik bagi pernikahan Anda berdua. Apa serta bagaimana mewujudkannya, sehingga pernikahan Anda akan terus berjalan semakin kuat, semakin indah, semakin melekat dan semakin mesra. (KB/FOF)

SPEECHLESS

image

Daily Mirror di London memuat bahwa ternyata pasangan suami isteri tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan setelah menikah selama 8 tahun. Profesor Hans Jurgens bertanya pada 5000 suami dan isteri di Jerman tentang berapa sering mereka mengobrol. Setelah 2 th menikah mereka berbicara 2-3 menit saat makan pagi, 20 menit saat makan malam, dan beberapa menit lagi di tempat tidur. Menginjak tahun ke-6 mereka mengobrol 10 menit per hari.

Menjelang 8 th pernikahan, ternyata mereka tidak lagi mengobrol. Mungkin orang Indonesia lebih banyak bicara dari pada orang Jerman. Tetapi mudah-mudahan bukan bicara satu arah saja, atau kehabisan topik setelah menikah bertahun-tahun. Beberapa topik supaya mengobrol memperdalam hubungan Anda:

IMPIAN: Tanyakan impiannya dan bagaimana Anda bisa membantunya mencapai impian itu.  Bisa juga tanyakan pengandaian, “Kalau kamu dapat Rp. 1 milyar, akan kamu gunakan untuk apa uang itu?”

TV DAN FILM: menjadi topik menarik, karena banyak hal yang bisa digali: pelajaran yang ditarik dari film itu, motivasi tiap karakter, dll. Obrolan yang sedikit “mendalam” jauh lebih menarik dari pada sekedar komentar betapa kerennya aktor yang membintangi film tersebut.

TUHAN: Tanyakan apa yang menjadi bebannya untuk didoakan. Bicarakan kebaikan Tuhan yang Anda rasakan hari itu. Bicarakan apa yang Anda berdua bisa lakukan dalam kegiatan sosial kemanusiaan.
Masih banyak topik lainnya, yang penting gunakan pembicaraan itu untuk lebih mengerti pasangan Anda, menggali keinginannya, membuat ia merasa didengarkan, selain mengarahkan Anda berdua pada tujuan yang sama. Eleanor Roosevelt berkata, “Pikiran yang besar berbicara tentang ide. Pikiran yang kecil berbicara tentang orang.” Apa yang Anda dan pasangan bicarakan? Menggosipkan tetangga/rekan kerja, atau bicara hal-hal yang berarti? (EI / FOF)

KAMI INGIN DIMENGERTI

image

Perihal mendidik anak merupakan salah satu topik hangat yang hampir selalu mewarnai perbincangan para ibu dan ayah. Sepertinya butuh seni TERSENDIRI untuk menjadikan momen ‘mendidik dan merawat’ ini berhasil. Tak sedikit orangtua yang mengeluh dan kewalahan menghadapi anak remajanya. “Wah, kalau minta sesuatu ngotot! Nggak boleh dilarang.” Ujar seorang ibu dari remaja putri. “Tiap hari adaaaa… saja momen ngambeknya. Kadang kita nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba ngambek.” Tambah ibu lainnya yang kelihatan sedikit frustasi menghadapi mood anak remajanya.

Well, suka atau tidak suka, setiap anak akan dan pasti melalui fase ini. MASA REMAJA yang oleh banyak orang disebut sebagai masa terindah (buat si anak), sekaligus masa terseram dan terlelah (bagi si ayah dan ibu) jika kita tak mencoba mengerti ‘bagaimana’ menyiasatinya. Masa remaja memang masa yang penuh tantangan bagi kedua pihak – anak dan orangtua. Disatu sisi, si anak merasa sudah dewasa dan ingin mulai mencoba banyak hal SENDIRI. Sementara orangtua berpikir, anak remajanya ini belum paham dunia nyata dan masih harus dijaga serta diberitahu tentang banyak hal.

Tak sedikit orangtua dan anak yang memiliki pengalaman buruk saat melalui masa-masa ini. Orangtua merasa bahwa anaknya berubah menjadi sosok yang sulit dimengerti. Sementara anak merasa orangtuanya terlalu ingin mengatur dan tidak bisa mempercayai apapun yang mereka lakukan.

Sesi curhat atau ngobrol-ngobrol yang dulu diwarnai canda tawa, kini seringkali berakhir dramatis disertai perbantahan. Ada apa ini? Pikir si ayah. Anak remajanya seolah ANTI terhadap aturan, disiplin dan kata TIDAK yang dilontarkan orangtuanya. Apakah kami telah salah mendidik dia? Ujar sang ibu penuh kekhawatiran.

Firstable, you are not alone! Ada jutaan orangtua di dunia yang sedang menghadapi musim yang sama dengan Anda. Jangan panik! Karena ketenangan adalah kunci dalam menyelesaikan masalah dengan anak remaja. Berbincang dengan sesama orangtua lain yang memiliki anak remaja akan sangat menolong menenangkan Anda, sekaligus menjadi ajang bertukar ilmu.

Dari berbagai obrolan dan keluhan yang muncul di dunia parenting, kami berkesimpulan ada tiga hal dasar yang perlu kita ingat setiap kali kita berhadapan dengan anak remaja:

1. ANDALAH YANG MEMEGANG KENDALI.
Bukan berarti Anda berhak menjadi seorang yang otoriter dan kejam. Tetapi ingatlah, sebagai orang yang sudah lebih dewasa dan (kami harap) lebih bijaksana dalam berpikir, Anda adalah pihak yang memegang kendali serta memiliki kuasa untuk memutuskan. Tentu saja keputusan yang Anda buat haruslah berdasarkan pertimbangan yang matang serta adil bagi kedua belah pihak. Jangan terbawa emosi. Kendalikan diri Anda dan ingatlah: Anak Anda sebenarnya juga sedang menilai kemampuan parenting Anda, apakah ayah atau ibuku ini seorang yang tegas atau dapat kupengaruhi dalam membuat keputusan?

2. PENJELASAN YANG MASUK AKAL.
Orangtua dengan ribuan keluhannya selalu mengalami ‘drama’ saat harus berkata TIDAK kepada anak remajanya. Payahnya, si anak dengan keras kepala tetap meminta orangtua untuk menuruti keinginan mereka. Banyak orangtua tak cukup sabar untuk menjelaskan kepada si anak mengapa keinginannya ditolak! Berikan penjelasan yang masuk akal dan tegas padanya. Beri contoh-contoh relevan yang dapat dimengerti oleh si anak.

Contoh: Daripada Anda berkata, “Tidak boleh. Karena pulang tengah malam itu tidak baik.” Akan lebih masuk akal jika Anda berkata: “Kamu harus pulang pukul 10.00 malam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.” Lalu beri penjelasan tentang keberatan Anda.

3. INGAT, ANDA JUGA PERNAH MUDA.
Saat libur akhir pekan, sesekali ajak anak remaja Anda untuk hangout ke tempat-tempat andalan Anda sewaktu remaja, jika memungkinkan. Ajaklah ia berdiskusi dan tanyakan pendapatnya. “Menurutmu bagaimana? Bagus nggak tempat hangout papa/mama?” Ajak dia mengunjungi tempat-tempat yang sedang ‘happening’ bersama Anda. Beri kesan bahwa Anda juga mengerti dunianya dan keinginan-keinginannya. Hindari sikap ‘menyerang dan menyudutkan sewaktu anak mengutarakan keinginan yang mungkin kurang Anda setujui.

Mulailah mempercayakan mereka untuk melakukan satu dua hal penting sendiri. Jika kita mengijinkan mereka untuk belajar bertanggung jawab, mereka juga akan berusaha menjaga kepercayaan Anda. Dan untuk sesuatu yang berbahaya, Anda perlu menjelaskan alasan Anda berkata tidak pada keinginannya.

Pada akhirnya, akumulasi didikan dan nasehat-nasehat positif yang telah Anda berikan kepada seorang anak sejak ia kecil, pastilah akan mempengaruhi setiap keputusan yang ia ambil. Jangan terlalu khawatir terhadap segala hal. Anak-anak Anda pasti tahu, apa yang Anda sukai atau tidak, apa yang Anda ijinkan atau tidak.

Hal terpenting bagi seorang remaja adalah mengetahui bahwa kedua orangtuanya selalu mendukung, melindungi, mengerti, mengasihi dan dapat diandalkan. Penting bagi mereka untuk memiliki keyakinan bahwa: “My parents is my rock!” Sehingga mereka tidak perlu mencari perlindungan dan kenyamanan di tempat-tempat lain, yang belum tentu benar. Mari belajar memahami kebutuhan remaja Anda untuk dipercaya, diperlakukan seperti seorang yang dewasa dan diberi tanggung jawab lebih untuk mengatur dirinya sendiri. (KB/FOF)