KETIKA CINTA HARUS MEMILIH

MENCINTAI ADALAH KOMITMEN TAK BERSYARAT PADA SESEORANG YANG TIDAK SEMPURNA. MENCINTAI SESEORANG BUKANLAH SEKEDAR PERASAAN YANG KUAT, TETAPI SEBUAH KEPUTUSAN, PERTIMBANGAN, DAN SEBUAH JANJI (Paul Coelho)

Judul di atas adalah judul film dan novel populer tentang percintaan. Tetapi sebenarnya, secara umum, cinta tidak boleh memilih.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH OBYEKNYA.

Cinta kasih yang sejati tidak bisa memilih siapa yang akan dikasihi dan siapa yang tidak dikasihi. Saya mengasihi yang ini, tetapi membenci yang itu. Itu namanya bukan kasih, tetapi pilih kasih. Tidak bisa seseorang berkata ia mengasihi Tuhannya, lalu menyakiti orang yang berbeda dengannya. Kasih mencintai melampaui segala perbedaan. Bahkan perintah dari salah satu tokoh spiritual yaitu Yesus adalah, "Kasihilah musuhmu, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu."

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH LAMANYA.

Apa jadinya kalau orangtua berkata, "Kami mengasihimu hingga usia 15 tahun saja ya." Atau suami berkata, “Aku mencintaimu selama kulitmu belum keriput.” Kasih yang sejati tidak memberi batasan waktu. Cinta sejati baru berhenti ketika waktu sendiri yang menghentikan, yaitu dengan kematian.

CINTA SEJATI TIDAK BOLEH MEMILIH HASILNYA.  

Kasih memberi tanpa mengharap balasan. Lalu percuma dong?  Agak menyakitkan juga bila kasih tak terbalas?  Ada kalanya kita merasa percuma mengasihi dan berbakti pada orangtua yang pilih kasih, mengasihi kakak/adik kita dan tidak mempedulikan kita.  Kadang kita sudah susah-susah menolong teman dalam kesulitan, ternyata bukan ucapan terima kasih yang kita terima, melainkan cemoohan. Atau kita ragu mengasihi dan berbuat baik pada tetangga, karena belum tentu juga dia akan berbuat yang sama pada kita.  Untuk kasus ini, jawaban Mother Teresa adalah, "Saya temukan paradoks, bahwa bila saya mencintai hingga saya merasa sakit, maka tidak lagi ada rasa sakit, tetapi hanya ada cinta yang lebih besar lagi." Cinta adalah memberi diri bagi orang lain.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH KONDISINYA.  

Saya mengasihimu, kalau… (isi sendiri). Itu kontrak bersyarat, bukan cinta sejati.  Seperti ungkapan, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Karena itu, saat pernikahan orang berjanji untuk saling mencintai tanpa tergantung kondisi: dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, susah maupun senang.

CINTA SEJATI DAN PERNIKAHAN

Sangat dangkal bila memikirkan Valentine’s day sebatas bunga, coklat atau romantika. Sebenarnya kita ditantang untuk merayakan cinta sejati, yaitu cinta yang kuat, bertahan dalam segala macam badai, dan tanpa syarat (“unconditional love”).

Seorang ibu langsung mencintai bayinya yang baru lahir, tidak peduli bagaimana kondisi bayi tersebut, cakep atau tidak, pandai atau tidak, nantinya nakal atau tidak.  Seorang ibu hanya mau mencintai dan memberi, walaupun bayi itu tidak bisa apa-apa dan sangat merepotkan: membuatnya bangun tengah malam, rewel, dan menghabiskan banyak uang serta energi.  
Orang bertepuk tangan melihat kasih seorang ibu yang tanpa syarat. Tetapi bila diminta untuk mengasihi pasangan (suami/isteri) mereka dengan kasih yang demikian, mereka berpikir, “Kok enak bener dia…”  Padahal satu-satunya cara supaya pernikahan bisa berjalan seumur hidup, harus ada kasih tanpa syarat. Kalau kasih bersyarat “tergantung bagaimana dia” maka pernikahan akan bubar di tengah jalan. “Kalau dia cinta, ya saya cinta. Kalau dia baik, ya saya baik. Tapi kalau dia menjengkelkan dan menyakitkan, ngapain dilanjutkan?”

Mungkin bukan cinta yang kita cari, tetapi kesenangan hidup. Kita jatuh cinta supaya hidup menjadi ceria. Kita mencintai supaya dicintai. Kita mencari pasangan supaya tidak kesepian. Kita menikah supaya ada yang mengurus kita seumur hidup. Tapi kita tidak siap mencintai sampai menderita. Kita lupa bahwa mencintai adalah memberi dengan resiko tidak menerima kembali. Kita tidak sadar bahwa mencintai berarti mengampuni tanpa menghitung kesalahan, dan tetap mengasihi ketika orang tersebut sulit dicintai. Namun, bila Anda memiliki cinta tak bersyarat, sebenarnya Anda telah bebas. Bebas dari kekhawatiran cinta tak terbalas, bebas dari ketakutan disakiti, bebas dari segudang ekspektasi. Ini adalah jalan satu-satunya menuju kebahagiaan cinta. (Oleh Esther Idayanti Untuk FOF INDONESIA)

THE ART OF RAISING TEENS

unnamed

Masa remaja adalah masa yang menakjubkan. Remaja diibratkan seperti sebuah pesawat ruang angkasa yang siap diluncurkan. Awalnya kita melihat dengan takjub, terutama mengingat mereka akan pergi menuju ruang angkasa. Segala sesuatunya terlihat menggetarkan.

Mari melihat kedalam pesawat luar angkasa tersebut. Setiap penumpang yang berada didalam pesawat sangat bergantung pada perisai panas yang terletak di dasar kapsul pesawat. Perisai panas ini berfungsi untuk melindungi penumpang dari suhu 537,8 derajat Celcius lebih. Jika perisai itu tidak ada atau tidak berfungsi dengan baik, maka seluruh penumpang didalam pesawat akan hangus terbakar.

Adapun ion-ion negatif yang berada di sekitar kapsul menyebabkan hambatan komunikasi dengan pihak bumi kurang lebih 7 menit lamanya. Semua orang di bumi menahan nafas menanti untuk mendapatkan kembali komunikasi yang jernih. Setelah melewati semua itu, komunikasi kembali jernih dan semua orang bersorak sorai lega dan bahagia.

Analogi apa yang kita peroleh dari kisah pesawat luar angkasa ini? Saat anak-anak kita memasuki usia remaja, saat itu pula kita merasa mereka berubah dan menjadi sosok remaja yang sulit dikenali. Setelah masa kanak-kanak lewat dan akil balik datang, kondisi mereka mirip seperti pesawat ruang angkasa yang berjalan menuju tempat peluncuran.

Para orangtua – layaknya penduduk bumi yang menonton detik-detik pesawat ruang angkasa itu akan terbang – mengamati anak-anak remaja mereka yang harus pergi dengan roketnya. Sebagai orangtua kita ingin ikut terbang pergi bersama mereka. Tetapi kenyataannya, hanya ada satu kursi dan satu ruang di pesawat tersebut. Dan saat ion-ion negatif mulai bermunculan mengitari anak-anak kita, para orang tua mulai bertanya-tanya: “Dimana anak saya? Aku tidak bisa melihat mereka. Mengapa dia tidak mau berbicara lagi dengan saya?”

Masa sulit ini dapat berlangsung bertahun-tahun. Remaja yang tadinya senang berbagi cerita, tiba-tiba hanya senang menjawab singkat. “Nggak tau!”. “Mungkin”. “Iya”. “Nggak”. Dan seterusnya. Kondisi ini mirip dengan keadaan didalam pesawat ruang angkasa, dimana mereka hanya dapat berbicara hal-hal penting karena toh mereka merasa untuk apa bicara banyak bila tak banyak orang yang akan mendengarkan.

Lalu orang-orang yang berada di bumi mulai khawatir, “Mengapa tak ada berita atau obrolan yang terjadi didalam pesawat ruang angkasa itu?” Tetapi tak berapa lama, setelah melalui penantian yang cukup panjang dalam ketakutan dan kekhawatiran, pesawat itu akhirnya kembali ke bumi. Penumpang didalam pesawat ruang angkasa itu merasa sudah cukup memperoleh pengetahuan tentang keadaan ruang angkasa. Lalu mereka kembali ke bumi untuk bertemu dengan keluarga, orang tua, saudara-saudara dan teman-temannya.

Pertanyaannya: Apakah ada cara untuk menghilangkan kecemasan serta stres yang bermunculan dalam pikiran orangtua saat anak remaja mereka melakukan ‘perjalanan ke ruang angkasa’ versi mereka masing-masing?

Sebagai orangtua, kita harus paham bahwa hal utama dalam diri seorang anak remaja yang memiliki kekuatan dahsyat adalah hormon remaja, yang seringkali menguasai kondisi emosi anak. Hal ini membuat anak kadang marah tanpa alasan, merajuk, melamun dan galau memikirkan hal sepele, dan sebagainya. Hormon ini menyerang remaja dari berbagai sisi, baik seksual, demotifasi dan sikap agresif.

Hal lain adalah, seorang anak remaja sangat takut tertolak dan dipermalukan oleh teman atau lingkungannya. Mungkin bagi kita para orangtua, sebuah kejadian kecil sifatnya biasa dan lumrah. Tapi tidak bagi anak remaja. Banyak hal-hal kecil yang tak terpikirkan oleh kita dianggap sebagai sebuah aib serius dalam dunia anak remaja. Aneh memang! Tetapi itulah kenyataannya. Harga diri seorang remaja sangat tergantung dari penerimaan teman-teman dan lingkungannya. Itu sebabnya seringkali remaja melakukan tindakan-tindakan tak masuk akal demi menuai pujian dan penerimaan dari lingkungannya. Dan hal ini seringkali sulit untuk dijelaskan kepada orangtua, sehingga timbullah konflik.

Bila kita sedang mengalami kondisi seperti ini, 5 (lima) tips berikut ini mungkin dapat menolong Anda:

1. BERI KESIBUKAN.
Jangan biarkan seorang remaja menghabiskan banyak waktu yang sia-sia dan kurang produktif. Biarkan mereka aktif dalam komunitas positif seperti olahraga, organisasi sekolah, kerohanian, ekskul dan sebagainya.

2. MEMBANTU MEREKA MENGERTI.
Bantu anak memecahkan berbagai masalah yang mungkin tidak dapat ia tangani sendiri. Seperti mengajar anak untuk mulai bertanggung jawab terhadap keuangannya. “Ini ATM untuk kamu. Ibu punya M-banking untuk melihat segala transaksi yang kamu lakukan. Kamu dapat gunakan ATM ini untuk keperluan harian kamu.” Lalu ajarkan dia bagaimana menggunakan uang dengan bertanggung jawab.

Hindari larangan-larangan yang tak masuk akal, mengkritik berlebihan atau memberikan aturan-aturan yang terlalu mengekang. Biarkan anak bebas, selama apa yang mereka lakukan masih dalam batas wajar. Sesungguhnya mereka tidak ingin haknya diambil. Kedengarannya membebaskan mereka seperti sebuah gagasan buruk. Tetapi percayalah, hal ini sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter mereka.

3. SIAPKAN ENERGI CADANGAN.
Sebagai orang tua Anda harus mempersiapkan energi cadangan dengan beristirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan berdoa. Mengapa? Karena Anda akan melalui banyak hal yang menguras energi dan pikiran serta meningkatkan stress level Anda. Oleh karena itu BERSIAPLAH! 🙂

4. DAD, WE NEED YOU!
Diperlukan figur Ayah yang kuat bagi remaja putra. Hobi dan minat yang sama serta kerjasama ayah dan putranya akan menghilangkan segala pemberontakan. Adakan boys time bersama remaja putra Anda. Dibutuhkan pula Ayah yang romantis bagi remaja perempuan. Jika Ayah adalah seorang yang pemarah, penjudi, masa bodoh, meninggalkan dan sebagainya, maka remaja cenderung akan berusaha mencari pengganti figir ayah untuk mengisi kekosongan hati. Dan ini berbahaya. Ayah, hargai remaja putra dan putrimu. Agar mereka juga dapat melihat dirinya berharga.

5. THE ART OF TOUGH LOVE.
Orangtua dapat melakukan ‘tough love’ untuk menangani kasus-kasus berat secara benar. Sebagai contoh: Jika terjadi pelanggaran serius atau berat, katakan pada anak Anda, “Kamu tidak bisa melakukan hal ini. Ini sebuah pelanggaran berat. Jika kamu tidak mau memperbaikinya, kami terpaksa harus memanggil pihak yang berwajib.” Hal ini terdengar mengerikan. Tapi itulah kasih yang sebenarnya. Ajarkan anak Anda untuk bertanggung jawab. Jangan menjadi orangtua yang memohon-mohon apalagi merengek dengan tangisan pada anak remaja Anda, agar mereka kasihan dan berhenti melakukan hal buruk. Seorang anak yang memberontak harus diajarkan untuk berdiri teguh, berani bertanggung jawab dan dapat mengambil tindakan tepat.

Apapun yang terjadi pada remaja kita, lakukan tindakan yang benar untuk mengatasi setiap permasalahan, dan jangan pernah merasa bersalah karena harus memberikan konsekuensi serius pada mereka. Berhentilah melindungi mereka dari tindakan yang destruktif dan akan menghancurkan mereka. TOUGH LOVE amat dibutuhkan untuk menjadi orangtua yang percaya diri, tegas namun bertujuan baik lewat cara-cara yang benar. Semuanya demi masa depan mereka. (Oleh: Vallerie Mellanov | Sumber artikel: Dr. James Dobson – Founder Focus on the Family)

R E S T

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjalankan tugas sebagai istri dan ibu membutuhkan energi lahir bathin yang tidak sedikit. Mungkin pekerjaan yang kita lakukan tak sehebat seorang direktur atau presiden. Tetapi percayalah, kesiapan lahir bathin yang maksimal amat sangat dibutuhkan.

IMG_3475

Saya mencoba mengingat-ingat, seperti apa hari-hari awal saya saat  menjadi seorang ibu. Jujur saja, jika disuruh mengulang kembali masa itu, rasanya saya akan lebih memilih untuk mendaki gunung Himalaya daripada kembali ke masa itu. Bukan! Bukan karena saya tidak menyukai peran saya sebagai ibu. Tapi justru karena saya merasa melakukan itu semua benar-benar MEMBUTUHKAN fokus, keseriusan, dedikasi, kesungguhan hati, tenaga dan komitmen yang tiada akhirnya.

Bayangkan jika kita bekerja di sebuah perusahaan. Saat kita merasa tugas dan tanggung jawab yang kita emban tak sesuai atau terlalu melelahkan, kita bisa saja mengajukan pengunduran diri atau pemindahan posisi ke departemen lain bukan? Tetapi menjadi ibu? Kita takkan pernah dapat melakukan kedua hal itu bila kelelahan atau stres melanda.

 

Lalu bagaimana kita dapat menjalani semua ini dengan penuh kekuatan, ketabahan dan kesabaran paripurna? BERISTIRAHATLAH!

 

Istirahat lebih dari sekedar tidur nyenyak di malam hari. Istirahat bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, beristirahat juga berarti melakukan hal-hal yang dapat menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Sesuatu yang membangkitkan suasana hati kita. Dan saya percaya, setiap kita memiliki cara tersendiri untuk melakukan ritual ‘istirahat’ ini.

 

Beberapa orang sering menyalah artikan ritual istirahat sebagai sebuah bentuk kemalasan. Padahal beristirahat (apapun cara dan bentuknya) amat dibutuhkan secara fisik, emosi dan mental, demi kesehatan hubungan kita dengan anak-anak dan terutama kesehatan rumah tangga dan pernikahan. Memaksakan diri untuk terus memberi padahal hati, jiwa, pikiran dan fisik kita lelah dan kosong merupakan sebuah kesalahan besar dan serius, yang dapat menyebabkan ledakan bom waktu di saat yang kurang tepat nantinya. Kita perlu beristirahat, agar kita dapat siap melayani, mencintai dan merawat keluarga kita dengan limpahan cinta yang sehat, yang muncul dari – salah satunya – istirahat yang cukup.

 

Satu hal perlu kita ingat, istirahat yang sesungguhnya bukanlah aktifitas serupa minum kopi, nonton TV sambil bermalas-malasan, ngemil atau membuka-buka media sosial lewat perangkat gadget Anda. Tetapi lebih dari itu, beristirahat yang benar adalah dengan sungguh-sungguh menggali dan mencari hal-hal yang dapat menyegarkan tubuh dan pikiran kita yang lelah. Dan hal ini tidak akan kita dapatkan hanya dengan melakukan hal-hal diatas. Kita harus mampu mengidentifikasi dan menyediakan waktu khusus untuk hal-hal yang dapat menginspirasi dan membangun gairah, menghidupkan harapan-harapan kita, membawa kesembuhan jiwa dan mental, mengasah kreatifitas serta mengundang rasa bahagia dan sukacita.

 

Beberapa hal sederhana yang mengandung unsur beristirahat adalah: tidur nyenyak, berkebun, tertawa, meditasi, berolah raga, melukis, membaca dan menonton film-film berkualitas. Beberapa hal ini dapat menyegarkan pikiran, hati, jiwa serta mengasah gairah kita dalam melakukan aktifitas rutin dan tanggung jawab kita sehari-hari.  Temukan aktifitas yang dapat memberikan istirahat yang sesungguhnya bagi fisik, mental dan jiwa kita. So moms, start making your list now and have a great rest! (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)

IBU VS ISTRI: PILIH YANG MANA?

image

…dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

Sebuah masalah klasik yang terjadi di hampir setiap pernikahan, dimana seorang suami sering diperhadapkan pada keadaan: Membela ibu atau istri? Mengutamakan ibu atau istri?

Akan lebih baik dan lebih mulus jalannya bila seorang calon istri mengambil waktu untuk mengenal lebih dekat bakal calon ibu mertuanya. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang muncul di kemudian hari dapat lebih mudah teratasi. Begitu pula dengan sang anak lelaki, atau calon suami. Ada baiknya secara terbuka berbicara pada ibunya dari hati ke hati tentang seberapa jauh ia ingin sang ibu mensupport pernikahan dan hubungannya dengan istrinya.

Dengan demikian, hubungan ibu dan anak lelaki serta menantu perempuan akan lebih jelas dan terarah serta saling mengerti dan menghormati posisi masing-masing.

Dr. Sylvia L. Mikucki-Enyart, seorang asisten profesor bidang Komunikasi di Universitas Wisconsin melakukan penelitian terhadap 89 orang ibu mertua, dan ditemukan beberapa kekhawatiran mendasar (yang mirip satu sama lain) tentang pernikahan anak lelakinya. Ternyata, ibu yang memiliki anak lelaki jauh lebih khawatir untuk melepas anak lelakinya masuk dalam pernikahan, dibandingkan melepas anak perempuannya.

Kekhawatiran itu adalah:
1. Apakah hubungan IBU-ANAK akan berubah?
2. Apakah anak saya akan menjadi jarang berkunjung atau menelepon?
3. Apakah ia akan mengisi liburan bersama kami atau tidak?
4. Apakah ia akan tetap setia membela dan bergantung pada kami atau tidak?
5. Apakah dia akan cukup makan yang sehat dan bergizi?
6. Bagaimana istrinya akan memperlakukan dia nanti?

Dr. Mikucki-Enyart juga melakukan penelitian terhadap 133 menantu perempuan. Dan ternyata, mereka pun memiliki beberapa kekhawatiran, yaitu:

1. Apakah ibu mertua saya akan terlalu ikut campur dalam banyak hal di pernikahan kami?
2. Apakah ibu mertua saya mampu mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik? (Atau akan sering merongrong suami saya dan meminta bantuan keuangan).
3. Apakah ibu mertua saya akan menjelek-jelekkan saya pada suami saya?

Dalam pernikahan, sebab utama ketegangan antara ibu mertua dan menantu perempuan adalah: Adanya kompetisi dalam hal siapa yang lebih baik dalam merawat / melayani si anak lelaki; Ibunya kah? Atau sang istri?

Untuk itulah dibutuhkan sikap dewasa, kerendahan hati serta kebijaksanaan sang ibu untuk mundur dan membiarkan sang menantu perempuan berperan menjalankan tugasnya untuk melayani suami. Tentu ini BUKAN PERKARA MUDAH! Karena dibutuhkan pengertian yang besar diantara kedua wanita – ibu mertua dan mantu perempuan – untuk membuat semuanya berjalan dengan baik. Suami juga WAJIB berperan dalam menetapkan batasan-batasan dalam rumah tangganya, baik bagi sang ibu maupun istri.

Masalah yang paling sering muncul ke permukaan adalah: Saat suami (anak lelaki) terperangkap dalam pilihan sulit, membela ibunya atau istrinya? Berikut ini adalah beberapa anjuran untuk mengatasi situasi tersebut:

1. Jadikan istri Anda sebagai prioritas Anda, tetapi jangan meninggalkan dan tetaplah menunjukkan sikap peduli pada ibu Anda. Katakan bahwa Anda mencintai istri Anda, dan bahwa istri Anda membutuhkan dukungan ibu untuk membuat dia (istri Anda) merasa diterima dan dikasihi.

2. Saat istri Anda mengeluh tentang sesuatu, dengarkan keluhannya. Jangan bersikap lebih membela pihak lain, cobalah mengerti permasalahan yang ia hadapi. Jika masalahnya adalah bahwa ibu Anda terlalu mencampuri urusan pribadi rumah tangga Anda berdua, bicaralah empat mata (menegur dengan penuh hormat dan kasih) dengan ibu Anda.

3. Sebisa mungkin, ajak kedua pihak keluarga (anda dan istri Anda) dalam perayaan atau momen-momen penting Anda. Berhati-hatilah, jangan sampai ibu dari kedua pihak merasa tidak diikut sertakan. Jika salah satu pihak tidak dapat hadir, PASTIKAN Anda memberitahukan bahwa “Tiada kesan tanpa kehadiran mama.”

4. Dalam segala persoalan, kondisi dan situasi, utamakan istri dan keluarga inti Anda. Umumnya, jika ibu melihat bahwa anak-anaknya memiliki pernikahan yang bahagia dan saling mencintai, mereka akan melakukan yang terbaik untuk mendukung kesuksesan pernikahan Anda.

5. Jangan pernah menjelekkan istri Anda dihadapan ibumu, demikian pula sebaliknya. Karena ini dapat menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja.

Biasanya permasalahan keluarga diserahkan kepada pihak wanita atau istri. Tetapi jika itu menyangkut hubungan antara ibu, anak lelaki dan istrinya, permasalahan ini membutuhkan perlakuan dan tindakan khusus dari sang anak lelaki / suami.

Bagaimanapun juga, ibu adalah sosok wanita pertama yang hadir dalam hidup si anak lelaki. Ibu dan anak lelaki memiliki hubungan khusus yang rumit sekaligus istimewa. Oleh karena itu, dibutuhkan kebesaran hati dan pengertian yang dalam bagi seorang ibu untuk dengan rela melepaskan dan mempercayakan anak lelakinya untuk dilayani dan dirawat oleh sang istri. Percaya bahwa si anak mampu mengerti posisi mertua-menantu, serta dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

(KB/FOFI, Disadur dari Artikel “Guys, Your Mother Can Destroy Your Marriage” oleh Mary Jo Rapini, seorang Licensed Relationship and Family Therapist, http://www.chron.com).

A CRANKY MAMA!

“Everyone, stop calling my name and stop asking mommy about anything, okay. I’m tired!” Setengah berteriak saya berkata kepada anak-anak saya dan seisi rumah. Hari itu saya merasa extra lelah dan bad mood. Entah mengapa. Beberapa menit setelah saya mengultimatum seisi rumah untuk berhenti ‘mengganggu’ saya, rumahpun sepi, dan… hati saya mulai diliputi rasa bersalah. Ah, jadi galau!

1457884400057

Berapa banyak isteri dan ibu yang mengalami dan merasa seperti saya? Disatu sisi kita ingin sekali menjadi isteri dan ibu teladan, tapi disisi lain kita (ternyata) hanya manusia biasa yang butuh istirahat, menarik nafas dan sekedar duduk diam tanpa melakukan apa-apa. We just want our quiet moment. And usually we want that at the busiest schedule of the day! HAHA…

Saya rasa masalah ini tidak hanya berhubungan dengan ibu rumah tangga saja. Tetapi ibu bekerja pun mengalami hal yang sama. Intinya, apapun karier dan kesibukan ibu, sekali waktu kita amat sangat membutuhkan momen berdiam diri – tidak melakukan apapun, tidak berkata apapun, tidak berpikir apapun. Kita. Ingin. Istirahat. Bahasa kerennya, hibernating moment. Pertanyaannya: Apakah bisa? Beberapa kali saya (dengan gaya sok idealis) berusaha melakukan momen hibernasi ini. Tetapi dalam waktu 10 menit, hati saya mulai diliputi rasa bersalah, lalu otak saya mulai memikirkan schedule esok hari, “Oh besok si adik harus bawa ini. Oh si kakak besok les, harus dijemput jam sekian, bla.. bla.. bla..” Momen hibernasi pun GAGAL TOTAL!

Bulan Maret 2016 ini, tema Social Media FOF INDONESIA adalah Getting to Know Your Spouse / Kids / Family. Dan saya merasa, topik ini cukup tepat untuk diangkat. Sebagai perempuan yang mewakili jutaan isteri dan ibu, saya ingin menyuarakan isi hati mereka juga. Bukan tentang hal berat serupa kesetaraan gender atau lainnya, tapi hal sederhana yang seringkali kita abaikan, padahal amat kita butuhkan: A quiet moment, a hibernating session, a moment to be alone and NOT doing things that WE HAVE TO, but doing things that WE WANT TO. 

Kepada para pria, selaku suami dan ayah, ada baiknya Anda mulai mencatat hal-hal yang akan saya ungkapkan berikut ini. Jangan khawatir, saya tidak bermaksud memprovokasi para isteri (HAHA..) justru saya ingin para suami dan ayah belajar memahami  isteri Anda dengan lebih baik lagi.

  1. BE THOUGHTFUL. Nothing is sexier than a thoughtful husband. Jadilah suami yang sensitif terhadap kebutuhan isteri untuk merasa dikasihi dan dimengerti. Bukan dengan materi (saja), tapi lebih daripada itu, dimengerti perasaan dan pikirannya. Caranya? Mudah sekali. Ambil waktu untuk mempelajari bahasa tubuh dan kebiasaan isteri Anda. Suami saya orang yang sangat pandai dalam hal ini. Hanya melihat saya naik ke tempat tidur diwaktu yang tidak biasa, ia langsung tahu bahwa saya lelah dan ingin istirahat. Ia lalu akan menutup pintu kamar dan membiarkan saya beristirahat.
  2. HELP YOUR WIFE. Tolonglah isteri Anda. Bentuk pertolongannya bisa bermacam-macam. Jika isteri Anda seorang ibu rumah tangga, bantulah ia dengan melakukan hal-hal simple seperti membereskan rumah yang berantakan, mencuci piring, mencuci kamar mandi, mengajak anak-anak keluar rumah, agar isteri dapat santai sejenak menikmati me time nya tanpa gangguan, atau hal lain yang menurut Anda dapat mengurangi beban isteri saat ia merasa kelelahan. Jika Anda kurang paham apa yang dapat Anda lakukan untuk menolong dia, JANGAN MALU BERTANYA.
  3. GIVE HER ASSURANCE.  Isteri yang Anda nikahi sekarang mungkin (menurut Anda) sudah tidak terlihat semenarik dulu, tetapi ingat: Ia masih dan selamanya akan menjadi isteri Anda, hingga maut memisahkan. Seorang isteri bukannya tidak tahu kalau suaminya mencintai dia. Tentu kami tahu. Tapi kami ingin mendengar para suami melontarkan pujian (bukan rayuan gombal!) yang dapat memberi energi dan mengembalikan rasa percaya diri, bahwa kami dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan dalam hidup suami kami. Kuncinya: Jangan gengsi memuji!
  4. I GOT THIS!  Sebuah kalimat dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih: Biar saya yang urus. Anda sadari atau tidak, saat ini semakin sedikit suami dan ayah yang mampu mengatakan dan melakukan hal ini. Banyak suami atau ayah yang ‘merasa’ isterinya sudah paham dan dapat melakukan hampir segala hal sendiri, termasuk mencuci mobil, service mobil bulanan ke bengkel, menelepon tukang untuk memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah, dan lain sebagainya. TENTU SAJA kami bisa! Tapi terkadang kami ingin menjadi istri yang terima beres dalam hal-hal seperti ini. Kami ingin para suami berkata: “It’s okay sayang, biar aku saja yang urus.” Perkataan seperti ini seperti air yang dituang diatas kepala yang panas karena terpanggang terik matahari.
  5. PHYSICAL TOUCH IS IMPORTANT. Hal terakhir yang mungkin ingin sekali saya sampaikan adalah untuk sering-sering memberi sentuhan sayang kepada isteri Anda. Sentuhan fisik bukan melulu soal aktifitas seksual. Tetapi sentuhan-sentuhan kecil namun hangat yang dilakukan suami kapan saja, dimana saja sebagai ekspresi rasa sayang. Untuk beberapa suami mungkin membutuhkan perjuangan atau latihan khusus dalam melakukan kebiasaan ini. Tetapi teruslah berusaha untuk melakukannya. Isteri Anda akan merasa seperti memiliki energi baru yang luar biasa saat mendapati suaminya mengelus punggungnya, memijit kakinya, mengusap kepalanya atau mencium lembut pipi atau bibirnya. Hal-hal sederhana yang mungkin sudah kita lupakan (saking sibuknya!), mari lakukan kembali.

Akhir kata, semoga tulisan saya ini dapat membantu para suami dan ayah untuk ‘mengerti’ keinginan dan kebutuhan isteri Anda untuk merasa dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan. Dan bagi para isteri, semoga tulisan ini dapat mewakili setidaknya sepersekian persen dari sekian banyak harapan Anda kepada sang suami. Mari berlomba dalam memberi dan melakukan kebaikan bagi pasangan Anda. Belajarlah untuk mencintai dan mengerti, mengasihi dan melindungi, mempraktekkan berbagai ilmu positif yang kita lihat, kita dengar dan kita baca demi kelanggengan hidup pernikahan kita. Selamat berjuang dan teruslah mencintai pasangan Anda. (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA)

1457883638257

 

 

 

MEMAHAMI REMAJA

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa (misalnya perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki).

Selain aspek fisik, secara kognitif anak pun mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orangtua perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orangtua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi bantahan sebagai ekspresi pernyataan pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosioemosional remaja.
Secara sosioemosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orangtua.
Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orangtua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebayanya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.
Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya masih berproses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih dan menentukan nilai dan prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Oleh karena itu orangtua sering melihat bagaimana remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, tetapi bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-4 aspek tersebut: fisik, kognitif, sosioemosional dan moral, dapat disimpulkan bahwa si remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orangtua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami si remaja, akan membuat orangtua dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan si remaja.

Misalnya terkait pubertas, orangtua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, berikut bagaimana menyikapinya. Tentang kemampuan berpikir, orangtua hendaknya tidak memaknai pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi memang konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orangtua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosioemosional remaja, diperlukan kebesaran hati orangtua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minatnya, tetapi tetap dalam batasan koridor norma aturan keluarga yang jelas. Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Pada dasarnya, yang dibutuhkan remaja ada penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. (Ibu Pinkan Margaretha Bolang untuk FOF Indonesia)

SEDIKIT CATATAN TENTANG CINTA

Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna.

image

Saya bukan pakar pernikahan. Bukan pula seorang istri atau ibu yang sempurna. Sama seperti kalian, saya juga memiliki banyak impian, harapan dan – sedang berjuang tiada henti – demi menciptakan kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Mengamati serta mendengar kisah pernikahan dari banyak kawan, sahabat dan saudara, selalu menambah ‘sesuatu’ dalam pikiran dan hati saya. Dua hal yang bisa saya simpulkan setelah berbincang dengan mereka:

1. Tak ada pernikahan yang sempurna.
2. Bahwa tiap kita selalu memiliki 3 pilihan dalam menjalaninya: melanjutkan, menyerah, atau berusaha sekuat dan sebaik yang kita mampu, setiap saat. (Give up, give in or give all we got!).

Saya semakin sadar, dunia saat ini berputar terlalu cepat. Seingat saya semua itu terjadi sejak segala sesuatu diberi label FAST. Fast food, fast communication, fast interaction, fast information, fast result dan berbagai macam ‘fast’ lainnya. Dunia semakin tak bisa menikmati proses alami dari banyak hal. Orang lebih memilih membeli makanan kaleng atau makan fastfood. Alasannya: biar cepat!

Orang lebih suka bertegur sapa dengan chat apps daripada bertemu muka dan berbincang. Alasannya: biar cepat! Orang lebih suka mencari info dari internet atau berkirim ‘kartu digital’ kepada teman dan keluarga, karena (guess what?) LEBIH CEPAT sampai dan langsung dibaca. Tak ada lagi rasa deg2an menanti pak pos mengantar surat pacar. Atau silaturahmi kepada sanak keluarga (karena merasa toh tiap hari sudah berbincang lewat chat apps).

TAK ADA YANG SALAH DENGAN SEMUA ITU. Asal digunakan sesuai porsinya. Yang salah adalah, jika gaya hidup serba cepat itu lalu mempengaruhi karakter dan cara pandang kita terhadap kehidupan. Kita lebih suka MENGGANTI daripada MEMPERBAIKI. Kita lebih suka HASIL daripada PROSES. Dan gawatnya, hal itu diimplementasikan dalam segala segi kehidupan, termasuk PERNIKAHAN. Semakin jarang pasangan yang memilih untuk ‘memperbaiki’, apalagi mencintai ‘proses’. Dan semakin banyak pasangan yang lebih suka ‘mengganti’ dan berfokus pada ‘hasil’ tapi tidak pada proses & perbaikannya.

Saya adalah salah satu dari banyak wanita  istri dan ibu yang masih & (mudah2an dengan kasih karunia Tuhan) akan selalu memposisikan PERNIKAHAN sebagai sebuah ‘lahan kudus’ yang harus dijaga, ditanami, dirawat dan diberi ‘makan’. Saya MASIH PERCAYA, bahwa sebuah pernikahan memang sejatinya harus dijalani ‘hingga maut memisahkan’. Dan proses mencintai seseorang tidak cukup hanya dengan masa-masa bahagia saja. Tetapi yang lebih penting adalah: dimasa sulit. Dimana semuanya seperti tak termaafkan. Disitulah kita perlu menabur lebih banyak pengampunan, kasih, pengertian dan penerimaan.

Usia pernikahan kami baru 18 tahun. Masih ABG memang. Mangkanya saya segan menulis dengan “udara menasehati”. Mungkin lebih tepat kalo disebut “berbagi untuk memberkati”. Jika boleh saya berbagi beberapa hal untuk sahabat-sahabat yang single (dan sedang mencari jodohnya), yang menikah, yang tidak menikah, yang duda/janda atau juga mereka yang telah menikah lagi (dan lagi! Hehehe…). Berikut pemikiran saya (mohon maaf kalau TIDAK SEMPURNA):

1. Jika kamu masih single, fokuslah membangun dirimu menjadi seorang pria/wanita yang baik dan bertanggung jawab (kepada Tuhan, orangtua dan sesama). Orang yang fokus membangun karakter dirinya sesuai dengan KEBENARAN, tentu tak akan dengan mudah memutuskan untuk menikah dengan sembarang orang. Focus on being a Godly man/woman. And you will find the one that attract your Godly  character as well.

2. Jika kamu adalah seorang yang sudah menikah, ingatlah: pernikahan bukan didesign untuk memudahkan hidupmu, tetapi dirancang bagi para pejuang dan pemberani, yang tidak mudah putus asa dan mau terus melakukan yang terbaik, berapapun harganya, hingga maut memisahkan. Pernikahan tidak dirancang untuk orang-orang egois, yang menikah demi harta, tahta, wanita atau kerakusan pribadi semata. Karena pada dasarnya: pernikahan adalah tempatnya berbagi tanpa pamrih dan tanpa ada batasan waktu.

3. Kalau kamu adalah seorang yang sedang memutuskan untuk berpisah atau meninggalkan pasanganmu, ingatlah: Jangan selalu mengakhiri segala sesuatu dengan perpisahan. Karena berpisah bukan selalu jawaban terbaik. Berusahalah dahulu. Belajarlah mencintai proses. Mundurlah dari ranah keegoisan dan mulailah mementingkan kebahagiaan pasanganmu lebih daripada kepentinganmu sendiri. Berikan waktu pada CINTA untuk bangkit kembali. Seorang yang peduli pada kebahagiaan orang lain UMUMNYA akan merasakan kebahagiaan yang LEBIH BANYAK dari yang dia harapkan. Ingat: memberi selalu lebih baik daripada menerima. Sementara bercerai itu seperti bom waktu yang meninggalkan tapi tidak menyelesaikan masalah. Hanya menguburnya, dan suatu saat akan naik ke permukaan lalu MELEDAK dan mengacaukan kehidupan baru Anda.

4. Jika Anda adalah duda/janda yang merindukan kesempatan kedua, saya berharap Anda memulai lagi dengan pemikiran yang bijaksana. Bahwa pernikahan adalah seperti yang saya katakan di nomor 2. Secantik apapun istri barumu, sekaya apapun suami barumu, masalah dalam pernikahan akan selalu ada. Mungkin beda bentuknya. Tapi semua selalu tentang “ujian terhadap kemampuan kita untuk mencintai, mengampuni, mengerti dan menerima, apapun, bagaimanapun & sampai kapanpun.” TITIK. Jadi jangan Anda pikir, pasangan barumu akan menghindarkanmu dari masalah. Ingat: Mobil baru hanya terasa baru di bulan pertama. Setelah itu ia tetap harus dibawa ke bengkel untuk dirawat & diperbaiki.

Akhirnya, dengan segala hormat dan kerendahan hati, saya memohon kepada setiap suami/istri, setiap ayah/ibu, mari kita menjadi orang-orang yang mencintai proses dalam sebuah hubungan. Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna. Do not judge your spouse just because he/she sinned differently than you. Adalah tanggung jawab kita sepenuhnya untuk membuat pasangan kita menjadi lebih baik; kamu terlihat lebih baik karena aku, dan aku terlihat lebih baik karena kamu. Let’s build each other and kill every problem with kindness, love, forgiveness, understanding & acceptance. This is an UNCOMPROMISED LEGACY yang wajib kita tinggalkan bagi anak-anak kita. Have a great journey together! (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA) #TogetherStronger #RelationshipMatters #LoveConquersAll