THE ART OF RAISING TEENS

unnamed

Masa remaja adalah masa yang menakjubkan. Remaja diibratkan seperti sebuah pesawat ruang angkasa yang siap diluncurkan. Awalnya kita melihat dengan takjub, terutama mengingat mereka akan pergi menuju ruang angkasa. Segala sesuatunya terlihat menggetarkan.

Mari melihat kedalam pesawat luar angkasa tersebut. Setiap penumpang yang berada didalam pesawat sangat bergantung pada perisai panas yang terletak di dasar kapsul pesawat. Perisai panas ini berfungsi untuk melindungi penumpang dari suhu 537,8 derajat Celcius lebih. Jika perisai itu tidak ada atau tidak berfungsi dengan baik, maka seluruh penumpang didalam pesawat akan hangus terbakar.

Adapun ion-ion negatif yang berada di sekitar kapsul menyebabkan hambatan komunikasi dengan pihak bumi kurang lebih 7 menit lamanya. Semua orang di bumi menahan nafas menanti untuk mendapatkan kembali komunikasi yang jernih. Setelah melewati semua itu, komunikasi kembali jernih dan semua orang bersorak sorai lega dan bahagia.

Analogi apa yang kita peroleh dari kisah pesawat luar angkasa ini? Saat anak-anak kita memasuki usia remaja, saat itu pula kita merasa mereka berubah dan menjadi sosok remaja yang sulit dikenali. Setelah masa kanak-kanak lewat dan akil balik datang, kondisi mereka mirip seperti pesawat ruang angkasa yang berjalan menuju tempat peluncuran.

Para orangtua – layaknya penduduk bumi yang menonton detik-detik pesawat ruang angkasa itu akan terbang – mengamati anak-anak remaja mereka yang harus pergi dengan roketnya. Sebagai orangtua kita ingin ikut terbang pergi bersama mereka. Tetapi kenyataannya, hanya ada satu kursi dan satu ruang di pesawat tersebut. Dan saat ion-ion negatif mulai bermunculan mengitari anak-anak kita, para orang tua mulai bertanya-tanya: “Dimana anak saya? Aku tidak bisa melihat mereka. Mengapa dia tidak mau berbicara lagi dengan saya?”

Masa sulit ini dapat berlangsung bertahun-tahun. Remaja yang tadinya senang berbagi cerita, tiba-tiba hanya senang menjawab singkat. “Nggak tau!”. “Mungkin”. “Iya”. “Nggak”. Dan seterusnya. Kondisi ini mirip dengan keadaan didalam pesawat ruang angkasa, dimana mereka hanya dapat berbicara hal-hal penting karena toh mereka merasa untuk apa bicara banyak bila tak banyak orang yang akan mendengarkan.

Lalu orang-orang yang berada di bumi mulai khawatir, “Mengapa tak ada berita atau obrolan yang terjadi didalam pesawat ruang angkasa itu?” Tetapi tak berapa lama, setelah melalui penantian yang cukup panjang dalam ketakutan dan kekhawatiran, pesawat itu akhirnya kembali ke bumi. Penumpang didalam pesawat ruang angkasa itu merasa sudah cukup memperoleh pengetahuan tentang keadaan ruang angkasa. Lalu mereka kembali ke bumi untuk bertemu dengan keluarga, orang tua, saudara-saudara dan teman-temannya.

Pertanyaannya: Apakah ada cara untuk menghilangkan kecemasan serta stres yang bermunculan dalam pikiran orangtua saat anak remaja mereka melakukan ‘perjalanan ke ruang angkasa’ versi mereka masing-masing?

Sebagai orangtua, kita harus paham bahwa hal utama dalam diri seorang anak remaja yang memiliki kekuatan dahsyat adalah hormon remaja, yang seringkali menguasai kondisi emosi anak. Hal ini membuat anak kadang marah tanpa alasan, merajuk, melamun dan galau memikirkan hal sepele, dan sebagainya. Hormon ini menyerang remaja dari berbagai sisi, baik seksual, demotifasi dan sikap agresif.

Hal lain adalah, seorang anak remaja sangat takut tertolak dan dipermalukan oleh teman atau lingkungannya. Mungkin bagi kita para orangtua, sebuah kejadian kecil sifatnya biasa dan lumrah. Tapi tidak bagi anak remaja. Banyak hal-hal kecil yang tak terpikirkan oleh kita dianggap sebagai sebuah aib serius dalam dunia anak remaja. Aneh memang! Tetapi itulah kenyataannya. Harga diri seorang remaja sangat tergantung dari penerimaan teman-teman dan lingkungannya. Itu sebabnya seringkali remaja melakukan tindakan-tindakan tak masuk akal demi menuai pujian dan penerimaan dari lingkungannya. Dan hal ini seringkali sulit untuk dijelaskan kepada orangtua, sehingga timbullah konflik.

Bila kita sedang mengalami kondisi seperti ini, 5 (lima) tips berikut ini mungkin dapat menolong Anda:

1. BERI KESIBUKAN.
Jangan biarkan seorang remaja menghabiskan banyak waktu yang sia-sia dan kurang produktif. Biarkan mereka aktif dalam komunitas positif seperti olahraga, organisasi sekolah, kerohanian, ekskul dan sebagainya.

2. MEMBANTU MEREKA MENGERTI.
Bantu anak memecahkan berbagai masalah yang mungkin tidak dapat ia tangani sendiri. Seperti mengajar anak untuk mulai bertanggung jawab terhadap keuangannya. “Ini ATM untuk kamu. Ibu punya M-banking untuk melihat segala transaksi yang kamu lakukan. Kamu dapat gunakan ATM ini untuk keperluan harian kamu.” Lalu ajarkan dia bagaimana menggunakan uang dengan bertanggung jawab.

Hindari larangan-larangan yang tak masuk akal, mengkritik berlebihan atau memberikan aturan-aturan yang terlalu mengekang. Biarkan anak bebas, selama apa yang mereka lakukan masih dalam batas wajar. Sesungguhnya mereka tidak ingin haknya diambil. Kedengarannya membebaskan mereka seperti sebuah gagasan buruk. Tetapi percayalah, hal ini sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter mereka.

3. SIAPKAN ENERGI CADANGAN.
Sebagai orang tua Anda harus mempersiapkan energi cadangan dengan beristirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan berdoa. Mengapa? Karena Anda akan melalui banyak hal yang menguras energi dan pikiran serta meningkatkan stress level Anda. Oleh karena itu BERSIAPLAH! 🙂

4. DAD, WE NEED YOU!
Diperlukan figur Ayah yang kuat bagi remaja putra. Hobi dan minat yang sama serta kerjasama ayah dan putranya akan menghilangkan segala pemberontakan. Adakan boys time bersama remaja putra Anda. Dibutuhkan pula Ayah yang romantis bagi remaja perempuan. Jika Ayah adalah seorang yang pemarah, penjudi, masa bodoh, meninggalkan dan sebagainya, maka remaja cenderung akan berusaha mencari pengganti figir ayah untuk mengisi kekosongan hati. Dan ini berbahaya. Ayah, hargai remaja putra dan putrimu. Agar mereka juga dapat melihat dirinya berharga.

5. THE ART OF TOUGH LOVE.
Orangtua dapat melakukan ‘tough love’ untuk menangani kasus-kasus berat secara benar. Sebagai contoh: Jika terjadi pelanggaran serius atau berat, katakan pada anak Anda, “Kamu tidak bisa melakukan hal ini. Ini sebuah pelanggaran berat. Jika kamu tidak mau memperbaikinya, kami terpaksa harus memanggil pihak yang berwajib.” Hal ini terdengar mengerikan. Tapi itulah kasih yang sebenarnya. Ajarkan anak Anda untuk bertanggung jawab. Jangan menjadi orangtua yang memohon-mohon apalagi merengek dengan tangisan pada anak remaja Anda, agar mereka kasihan dan berhenti melakukan hal buruk. Seorang anak yang memberontak harus diajarkan untuk berdiri teguh, berani bertanggung jawab dan dapat mengambil tindakan tepat.

Apapun yang terjadi pada remaja kita, lakukan tindakan yang benar untuk mengatasi setiap permasalahan, dan jangan pernah merasa bersalah karena harus memberikan konsekuensi serius pada mereka. Berhentilah melindungi mereka dari tindakan yang destruktif dan akan menghancurkan mereka. TOUGH LOVE amat dibutuhkan untuk menjadi orangtua yang percaya diri, tegas namun bertujuan baik lewat cara-cara yang benar. Semuanya demi masa depan mereka. (Oleh: Vallerie Mellanov | Sumber artikel: Dr. James Dobson – Founder Focus on the Family)

Advertisements

MEMAHAMI REMAJA

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa (misalnya perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki).

Selain aspek fisik, secara kognitif anak pun mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orangtua perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orangtua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi bantahan sebagai ekspresi pernyataan pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosioemosional remaja.
Secara sosioemosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orangtua.
Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orangtua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebayanya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.
Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya masih berproses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih dan menentukan nilai dan prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Oleh karena itu orangtua sering melihat bagaimana remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, tetapi bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-4 aspek tersebut: fisik, kognitif, sosioemosional dan moral, dapat disimpulkan bahwa si remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orangtua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami si remaja, akan membuat orangtua dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan si remaja.

Misalnya terkait pubertas, orangtua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, berikut bagaimana menyikapinya. Tentang kemampuan berpikir, orangtua hendaknya tidak memaknai pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi memang konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orangtua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosioemosional remaja, diperlukan kebesaran hati orangtua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minatnya, tetapi tetap dalam batasan koridor norma aturan keluarga yang jelas. Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Pada dasarnya, yang dibutuhkan remaja ada penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. (Ibu Pinkan Margaretha Bolang untuk FOF Indonesia)