R E S T

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjalankan tugas sebagai istri dan ibu membutuhkan energi lahir bathin yang tidak sedikit. Mungkin pekerjaan yang kita lakukan tak sehebat seorang direktur atau presiden. Tetapi percayalah, kesiapan lahir bathin yang maksimal amat sangat dibutuhkan.

IMG_3475

Saya mencoba mengingat-ingat, seperti apa hari-hari awal saya saat  menjadi seorang ibu. Jujur saja, jika disuruh mengulang kembali masa itu, rasanya saya akan lebih memilih untuk mendaki gunung Himalaya daripada kembali ke masa itu. Bukan! Bukan karena saya tidak menyukai peran saya sebagai ibu. Tapi justru karena saya merasa melakukan itu semua benar-benar MEMBUTUHKAN fokus, keseriusan, dedikasi, kesungguhan hati, tenaga dan komitmen yang tiada akhirnya.

Bayangkan jika kita bekerja di sebuah perusahaan. Saat kita merasa tugas dan tanggung jawab yang kita emban tak sesuai atau terlalu melelahkan, kita bisa saja mengajukan pengunduran diri atau pemindahan posisi ke departemen lain bukan? Tetapi menjadi ibu? Kita takkan pernah dapat melakukan kedua hal itu bila kelelahan atau stres melanda.

 

Lalu bagaimana kita dapat menjalani semua ini dengan penuh kekuatan, ketabahan dan kesabaran paripurna? BERISTIRAHATLAH!

 

Istirahat lebih dari sekedar tidur nyenyak di malam hari. Istirahat bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, beristirahat juga berarti melakukan hal-hal yang dapat menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Sesuatu yang membangkitkan suasana hati kita. Dan saya percaya, setiap kita memiliki cara tersendiri untuk melakukan ritual ‘istirahat’ ini.

 

Beberapa orang sering menyalah artikan ritual istirahat sebagai sebuah bentuk kemalasan. Padahal beristirahat (apapun cara dan bentuknya) amat dibutuhkan secara fisik, emosi dan mental, demi kesehatan hubungan kita dengan anak-anak dan terutama kesehatan rumah tangga dan pernikahan. Memaksakan diri untuk terus memberi padahal hati, jiwa, pikiran dan fisik kita lelah dan kosong merupakan sebuah kesalahan besar dan serius, yang dapat menyebabkan ledakan bom waktu di saat yang kurang tepat nantinya. Kita perlu beristirahat, agar kita dapat siap melayani, mencintai dan merawat keluarga kita dengan limpahan cinta yang sehat, yang muncul dari – salah satunya – istirahat yang cukup.

 

Satu hal perlu kita ingat, istirahat yang sesungguhnya bukanlah aktifitas serupa minum kopi, nonton TV sambil bermalas-malasan, ngemil atau membuka-buka media sosial lewat perangkat gadget Anda. Tetapi lebih dari itu, beristirahat yang benar adalah dengan sungguh-sungguh menggali dan mencari hal-hal yang dapat menyegarkan tubuh dan pikiran kita yang lelah. Dan hal ini tidak akan kita dapatkan hanya dengan melakukan hal-hal diatas. Kita harus mampu mengidentifikasi dan menyediakan waktu khusus untuk hal-hal yang dapat menginspirasi dan membangun gairah, menghidupkan harapan-harapan kita, membawa kesembuhan jiwa dan mental, mengasah kreatifitas serta mengundang rasa bahagia dan sukacita.

 

Beberapa hal sederhana yang mengandung unsur beristirahat adalah: tidur nyenyak, berkebun, tertawa, meditasi, berolah raga, melukis, membaca dan menonton film-film berkualitas. Beberapa hal ini dapat menyegarkan pikiran, hati, jiwa serta mengasah gairah kita dalam melakukan aktifitas rutin dan tanggung jawab kita sehari-hari.  Temukan aktifitas yang dapat memberikan istirahat yang sesungguhnya bagi fisik, mental dan jiwa kita. So moms, start making your list now and have a great rest! (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)

Advertisements

IBU VS ISTRI: PILIH YANG MANA?

image

…dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

Sebuah masalah klasik yang terjadi di hampir setiap pernikahan, dimana seorang suami sering diperhadapkan pada keadaan: Membela ibu atau istri? Mengutamakan ibu atau istri?

Akan lebih baik dan lebih mulus jalannya bila seorang calon istri mengambil waktu untuk mengenal lebih dekat bakal calon ibu mertuanya. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang muncul di kemudian hari dapat lebih mudah teratasi. Begitu pula dengan sang anak lelaki, atau calon suami. Ada baiknya secara terbuka berbicara pada ibunya dari hati ke hati tentang seberapa jauh ia ingin sang ibu mensupport pernikahan dan hubungannya dengan istrinya.

Dengan demikian, hubungan ibu dan anak lelaki serta menantu perempuan akan lebih jelas dan terarah serta saling mengerti dan menghormati posisi masing-masing.

Dr. Sylvia L. Mikucki-Enyart, seorang asisten profesor bidang Komunikasi di Universitas Wisconsin melakukan penelitian terhadap 89 orang ibu mertua, dan ditemukan beberapa kekhawatiran mendasar (yang mirip satu sama lain) tentang pernikahan anak lelakinya. Ternyata, ibu yang memiliki anak lelaki jauh lebih khawatir untuk melepas anak lelakinya masuk dalam pernikahan, dibandingkan melepas anak perempuannya.

Kekhawatiran itu adalah:
1. Apakah hubungan IBU-ANAK akan berubah?
2. Apakah anak saya akan menjadi jarang berkunjung atau menelepon?
3. Apakah ia akan mengisi liburan bersama kami atau tidak?
4. Apakah ia akan tetap setia membela dan bergantung pada kami atau tidak?
5. Apakah dia akan cukup makan yang sehat dan bergizi?
6. Bagaimana istrinya akan memperlakukan dia nanti?

Dr. Mikucki-Enyart juga melakukan penelitian terhadap 133 menantu perempuan. Dan ternyata, mereka pun memiliki beberapa kekhawatiran, yaitu:

1. Apakah ibu mertua saya akan terlalu ikut campur dalam banyak hal di pernikahan kami?
2. Apakah ibu mertua saya mampu mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik? (Atau akan sering merongrong suami saya dan meminta bantuan keuangan).
3. Apakah ibu mertua saya akan menjelek-jelekkan saya pada suami saya?

Dalam pernikahan, sebab utama ketegangan antara ibu mertua dan menantu perempuan adalah: Adanya kompetisi dalam hal siapa yang lebih baik dalam merawat / melayani si anak lelaki; Ibunya kah? Atau sang istri?

Untuk itulah dibutuhkan sikap dewasa, kerendahan hati serta kebijaksanaan sang ibu untuk mundur dan membiarkan sang menantu perempuan berperan menjalankan tugasnya untuk melayani suami. Tentu ini BUKAN PERKARA MUDAH! Karena dibutuhkan pengertian yang besar diantara kedua wanita – ibu mertua dan mantu perempuan – untuk membuat semuanya berjalan dengan baik. Suami juga WAJIB berperan dalam menetapkan batasan-batasan dalam rumah tangganya, baik bagi sang ibu maupun istri.

Masalah yang paling sering muncul ke permukaan adalah: Saat suami (anak lelaki) terperangkap dalam pilihan sulit, membela ibunya atau istrinya? Berikut ini adalah beberapa anjuran untuk mengatasi situasi tersebut:

1. Jadikan istri Anda sebagai prioritas Anda, tetapi jangan meninggalkan dan tetaplah menunjukkan sikap peduli pada ibu Anda. Katakan bahwa Anda mencintai istri Anda, dan bahwa istri Anda membutuhkan dukungan ibu untuk membuat dia (istri Anda) merasa diterima dan dikasihi.

2. Saat istri Anda mengeluh tentang sesuatu, dengarkan keluhannya. Jangan bersikap lebih membela pihak lain, cobalah mengerti permasalahan yang ia hadapi. Jika masalahnya adalah bahwa ibu Anda terlalu mencampuri urusan pribadi rumah tangga Anda berdua, bicaralah empat mata (menegur dengan penuh hormat dan kasih) dengan ibu Anda.

3. Sebisa mungkin, ajak kedua pihak keluarga (anda dan istri Anda) dalam perayaan atau momen-momen penting Anda. Berhati-hatilah, jangan sampai ibu dari kedua pihak merasa tidak diikut sertakan. Jika salah satu pihak tidak dapat hadir, PASTIKAN Anda memberitahukan bahwa “Tiada kesan tanpa kehadiran mama.”

4. Dalam segala persoalan, kondisi dan situasi, utamakan istri dan keluarga inti Anda. Umumnya, jika ibu melihat bahwa anak-anaknya memiliki pernikahan yang bahagia dan saling mencintai, mereka akan melakukan yang terbaik untuk mendukung kesuksesan pernikahan Anda.

5. Jangan pernah menjelekkan istri Anda dihadapan ibumu, demikian pula sebaliknya. Karena ini dapat menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja.

Biasanya permasalahan keluarga diserahkan kepada pihak wanita atau istri. Tetapi jika itu menyangkut hubungan antara ibu, anak lelaki dan istrinya, permasalahan ini membutuhkan perlakuan dan tindakan khusus dari sang anak lelaki / suami.

Bagaimanapun juga, ibu adalah sosok wanita pertama yang hadir dalam hidup si anak lelaki. Ibu dan anak lelaki memiliki hubungan khusus yang rumit sekaligus istimewa. Oleh karena itu, dibutuhkan kebesaran hati dan pengertian yang dalam bagi seorang ibu untuk dengan rela melepaskan dan mempercayakan anak lelakinya untuk dilayani dan dirawat oleh sang istri. Percaya bahwa si anak mampu mengerti posisi mertua-menantu, serta dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

(KB/FOFI, Disadur dari Artikel “Guys, Your Mother Can Destroy Your Marriage” oleh Mary Jo Rapini, seorang Licensed Relationship and Family Therapist, http://www.chron.com).

A CRANKY MAMA!

“Everyone, stop calling my name and stop asking mommy about anything, okay. I’m tired!” Setengah berteriak saya berkata kepada anak-anak saya dan seisi rumah. Hari itu saya merasa extra lelah dan bad mood. Entah mengapa. Beberapa menit setelah saya mengultimatum seisi rumah untuk berhenti ‘mengganggu’ saya, rumahpun sepi, dan… hati saya mulai diliputi rasa bersalah. Ah, jadi galau!

1457884400057

Berapa banyak isteri dan ibu yang mengalami dan merasa seperti saya? Disatu sisi kita ingin sekali menjadi isteri dan ibu teladan, tapi disisi lain kita (ternyata) hanya manusia biasa yang butuh istirahat, menarik nafas dan sekedar duduk diam tanpa melakukan apa-apa. We just want our quiet moment. And usually we want that at the busiest schedule of the day! HAHA…

Saya rasa masalah ini tidak hanya berhubungan dengan ibu rumah tangga saja. Tetapi ibu bekerja pun mengalami hal yang sama. Intinya, apapun karier dan kesibukan ibu, sekali waktu kita amat sangat membutuhkan momen berdiam diri – tidak melakukan apapun, tidak berkata apapun, tidak berpikir apapun. Kita. Ingin. Istirahat. Bahasa kerennya, hibernating moment. Pertanyaannya: Apakah bisa? Beberapa kali saya (dengan gaya sok idealis) berusaha melakukan momen hibernasi ini. Tetapi dalam waktu 10 menit, hati saya mulai diliputi rasa bersalah, lalu otak saya mulai memikirkan schedule esok hari, “Oh besok si adik harus bawa ini. Oh si kakak besok les, harus dijemput jam sekian, bla.. bla.. bla..” Momen hibernasi pun GAGAL TOTAL!

Bulan Maret 2016 ini, tema Social Media FOF INDONESIA adalah Getting to Know Your Spouse / Kids / Family. Dan saya merasa, topik ini cukup tepat untuk diangkat. Sebagai perempuan yang mewakili jutaan isteri dan ibu, saya ingin menyuarakan isi hati mereka juga. Bukan tentang hal berat serupa kesetaraan gender atau lainnya, tapi hal sederhana yang seringkali kita abaikan, padahal amat kita butuhkan: A quiet moment, a hibernating session, a moment to be alone and NOT doing things that WE HAVE TO, but doing things that WE WANT TO. 

Kepada para pria, selaku suami dan ayah, ada baiknya Anda mulai mencatat hal-hal yang akan saya ungkapkan berikut ini. Jangan khawatir, saya tidak bermaksud memprovokasi para isteri (HAHA..) justru saya ingin para suami dan ayah belajar memahami  isteri Anda dengan lebih baik lagi.

  1. BE THOUGHTFULNothing is sexier than a thoughtful husband. Jadilah suami yang sensitif terhadap kebutuhan isteri untuk merasa dikasihi dan dimengerti. Bukan dengan materi (saja), tapi lebih daripada itu, dimengerti perasaan dan pikirannya. Caranya? Mudah sekali. Ambil waktu untuk mempelajari bahasa tubuh dan kebiasaan isteri Anda. Suami saya orang yang sangat pandai dalam hal ini. Hanya melihat saya naik ke tempat tidur diwaktu yang tidak biasa, ia langsung tahu bahwa saya lelah dan ingin istirahat. Ia lalu akan menutup pintu kamar dan membiarkan saya beristirahat.
  2. HELP YOUR WIFE. Tolonglah isteri Anda. Bentuk pertolongannya bisa bermacam-macam. Jika isteri Anda seorang ibu rumah tangga, bantulah ia dengan melakukan hal-hal simple seperti membereskan rumah yang berantakan, mencuci piring, mencuci kamar mandi, mengajak anak-anak keluar rumah, agar isteri dapat santai sejenak menikmati me time nya tanpa gangguan, atau hal lain yang menurut Anda dapat mengurangi beban isteri saat ia merasa kelelahan. Jika Anda kurang paham apa yang dapat Anda lakukan untuk menolong dia, JANGAN MALU BERTANYA.
  3. GIVE HER ASSURANCE.  Isteri yang Anda nikahi sekarang mungkin (menurut Anda) sudah tidak terlihat semenarik dulu, tetapi ingat: Ia masih dan selamanya akan menjadi isteri Anda, hingga maut memisahkan. Seorang isteri bukannya tidak tahu kalau suaminya mencintai dia. Tentu kami tahu. Tapi kami ingin mendengar para suami melontarkan pujian (bukan rayuan gombal!) yang dapat memberi energi dan mengembalikan rasa percaya diri, bahwa kami dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan dalam hidup suami kami. Kuncinya: Jangan gengsi memuji!
  4. I GOT THIS!  Sebuah kalimat dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih: Biar saya yang urus. Anda sadari atau tidak, saat ini semakin sedikit suami dan ayah yang mampu mengatakan dan melakukan hal ini. Banyak suami atau ayah yang ‘merasa’ isterinya sudah paham dan dapat melakukan hampir segala hal sendiri, termasuk mencuci mobil, service mobil bulanan ke bengkel, menelepon tukang untuk memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah, dan lain sebagainya. TENTU SAJA kami bisa! Tapi terkadang kami ingin menjadi istri yang terima beres dalam hal-hal seperti ini. Kami ingin para suami berkata: “It’s okay sayang, biar aku saja yang urus.” Perkataan seperti ini seperti air yang dituang diatas kepala yang panas karena terpanggang terik matahari.
  5. PHYSICAL TOUCH IS IMPORTANT. Hal terakhir yang mungkin ingin sekali saya sampaikan adalah untuk sering-sering memberi sentuhan sayang kepada isteri Anda. Sentuhan fisik bukan melulu soal aktifitas seksual. Tetapi sentuhan-sentuhan kecil namun hangat yang dilakukan suami kapan saja, dimana saja sebagai ekspresi rasa sayang. Untuk beberapa suami mungkin membutuhkan perjuangan atau latihan khusus dalam melakukan kebiasaan ini. Tetapi teruslah berusaha untuk melakukannya. Isteri Anda akan merasa seperti memiliki energi baru yang luar biasa saat mendapati suaminya mengelus punggungnya, memijit kakinya, mengusap kepalanya atau mencium lembut pipi atau bibirnya. Hal-hal sederhana yang mungkin sudah kita lupakan (saking sibuknya!), mari lakukan kembali.

Akhir kata, semoga tulisan saya ini dapat membantu para suami dan ayah untuk ‘mengerti’ keinginan dan kebutuhan isteri Anda untuk merasa dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan. Dan bagi para isteri, semoga tulisan ini dapat mewakili setidaknya sepersekian persen dari sekian banyak harapan Anda kepada sang suami. Mari berlomba dalam memberi dan melakukan kebaikan bagi pasangan Anda. Belajarlah untuk mencintai dan mengerti, mengasihi dan melindungi, mempraktekkan berbagai ilmu positif yang kita lihat, kita dengar dan kita baca demi kelanggengan hidup pernikahan kita. Selamat berjuang dan teruslah mencintai pasangan Anda. (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA)

1457883638257

 

 

 

MOTHER & SON CONNECTION

image

Harapan kami adalah: Agar setiap ibu mau mengambil waktu untuk membangun hubungan dari hati ke hati dengan anak-anaknya, serta menyadari pentingnya menerapkan lima bahasa kasih bagi perkembangan jiwa, kestabilan emosi dan kepribadian yang kuat pada anak-anaknya.

Sekali lagi, Focus On The Family Indonesia sukses menggelar event keluarga bertajuk “Mother & Son Connection” yang diadakan pada Sabtu, 30 Mei 2015 yang lalu. Acara yang mengedepankan hubungan ibu dan anak lelakinya ini diikuti oleh 18 pasang ibu-anak yang datang dari berbagai kalangan dan latar belakang kepercayaan.

Tak seperti event FATHER & DAUGHTER DATE yang terkesan lebih formal, MOTHER & SON mengetengahkan suasana yang lebih relax dan laid back. Pernak pernik bernuansa bunga dan kotak-kotak menghiasi meja dan seluruh ruangan, dengan latar hijau dan orange sebagai warna utama. Setiap ibu dan anak lelaki yang hadir seperti tak sabar ingin segera memulai acara yang juga merupakan launching perdana FOF Indonesia untuk event MOTHER & SON.

Acara dibuka dengan sambutan dari direktur FOF INDONESIA, Madame Valerie Mellanov. Diikuti dengan sharing tentang hubungan IBU & ANAK yang disampaikan oleh pakar keluarga, Ibu Hanna Kristanto. Beliau menyampaikan betapa istimewanya hubungan seorang ibu dan anak lelaki. Sebagai seorang ibu dari tiga anak, dimana salah satunya adalah anak lelaki, Ibu Hanna merasakan bonding yang berbeda dengan anak lelaki. Seorang anak laki-laki yang memiliki hubungan yang baik dengan ibunya, akan tumbuh menjadi pria yang lebih pengertian, sabar dan tahu menghargai wanita. Dan adalah tugas sang ibu untuk mengajarkan hal ini kepada anak lelakinya.

Sharing kali ini menitik beratkan pada Lima Bahasa Kasih, sebuah ungkapan universal yang seharusnya menjadi bagian dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kita, baik itu laki-laki maupun perempuan. Beberapa hal perlu kita garis bawahi dalam mendidik dan membesarkan anak lelaki agarvterhindar dari perilaku yang menyimpang. Setiap orangtua wajib berkomitmen untuk menciptakan hubungan pernikahan yang sehat dan stabil, dengan pola yang benar. Anak-anak yang beranjak dewasa perlu mendapatkan informasi yang benar tentang perkembangan seksual dan hal-hal yang menyangkut relationship dengan lawan jenis. Ini penting, agar mereka memiliki gambaran yang positif dan benar tentang sebuah hubungan yang baik. Dan terakhir yang paling penting adalah, seorang anak lelaki harus diajarkan tentang konsep penilaian diri. Mengetahui dengan jelas bahwa dirinya berharga, dikasihi, diterima dan diakui. Sehingga ia mampu menilai dirinya sebagai pribadi yang utuh dan sehat secara jasmani, rohani dan kejiwaan. Hal ini akan mencegah anak-anak lelaki memiliki kepribadian atau perilaku seksual yang menyimpang.

Acara ditutup dengan membuat Sandwich bersama. Setiap pasang ibu dan anak berlomba menghasilkan sandwich terbaik mereka. Lalu para ibu dan anak saling membacakan surat dan menyatakan isi hati mereka masing-masing. Tentu ini menjadi momen hujan airmata bagi setiap yang hadir. Karena bagi beberapa ibu, ini adalah kali pertama mereka sungguh-sungguh memiliki waktu untuk mengungkapkan perasaan mereka kepada sang anak. Tak ada ibu yang tidak mengasihi anaknya. Tetapi seringkali kondisi kehidupanlah yang membuat kita lupa untuk mengekspresikan kasih kita kepada anak-anak kita.

Sebagai launching perdana MOTHER & SON CONNECTION, acara ini terbilang cukup sukses. Dan kami tidak sabar untuk menggelar kembali acara yang sama, bagi pasangan ibu anak lainnya. Karena merupakan kebahagiaan dan suatu kehormatan bagi  jika kami bisa turut ambil bagian dalam perubahan, perkembangan dan keutuhan sebuah hubungan keluarga.

Harapan kami adalah: Agar setiap ibu mau mengambil waktu untuk membangun hubungan dari hati ke hati dengan anak-anaknya, serta menyadari pentingnya menerapkan lima bahasa kasih bagi perkembangan jiwa, kestabilan emosi dan kepribadian yang kuat pada anak-anaknya. Salam hormat dari kami FOF INDONESIA dan sampai jumpa dalam program keluarga berikutnya! (KB/FOF)

HAPPY MOTHER’S DAY!

image

Kepada semua ibu, hanya hormat dan ucapan terimakasih lah yang dapat kami haturkan. Tidak ada kekuatan yang mampu menyamai ketabahan seorang ibu dalam melahirkan dan membesarkan anak-anaknya.

Ada banyak hal yang membuat kehadiran seorang ibu menjadi sangat istimewa. Kehangatan, cinta dan dedikasi seorang ibu bahkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin hebat yang mengubah dunia!

“Motherhood: 24/7 on the frontlines of humanity. Are you man enough to try it?” Let’s start by taking more pride in what we do as mothers, strengthen motherhood from the bottom up, and not allowing others to disparage or belittle it. HAPPY MOTHER’S DAY!

PENTINGNYA SEBUAH KEBERSAMAAN

family

“We may not have it altogether, but together we have it all.”

Kebersamaan adalah sebuah kata sederhana yang ternyata sulit untuk dilakukan, terutama jika melihat kondisi masyarakat kota besar saat ini. Seorang ibu mengaku, ia hanya sempat bertemu dengan anak-anaknya pada hari Sabtu dan Minggu saja. Karena di hari-hari lain, seluruh anggota keluarga sibuk dengan aktifitas masing-masing.

Setiap pagi si ibu (yang adalah seorang single mother) harus berangkat ke kantor pukul 5 pagi, demi menghindari kemacetan ibukota. Tentu saja saat ia pergi, ketiga anaknya masih tidur lelap. Dan ia baru kembali ke rumah sekitar pukul 12 tengah malam, saat anak-anaknya sudah tertidur lelap (lagi). “Kami sudah biasa seperti ini.” Ucapnya. “Sejak bercerai saya harus bekerja untuk menopang kehidupan tiga anak yang semuanya ikut dengan saya. I have no choice!”

Kisah ibu tiga anak ini hanyalah segelintir dari jutaan kisah keluarga yang mengalami kesulitan untuk mempraktekkan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sebuah keluarga. Coba kita cari tahu, ada berapa keluarga yang masih mempraktekkan makan malam bersama? Membantu anak-anak mengerjakan PR? Makan siang bersama? atau ngobrol santai di rumah setiap sore? Rasanya aktifitas sederhana ini sudah agak sulit ditemukan sekarang.

Seberapa pentingkah sebuah kebersamaan? Jawabannya adalah: SANGAT PENTING! Sebagai sebuah keluarga, ayah ibu harus dapat mengambil keputusan untuk meletakkan kebersamaan sebagai sebuah prioritas dalam kegiatan sehari-hari. Setiap kita memiliki 24 jam sehari untuk melakukan, mengelola dan menjalani aktifitas apapun. Dan sudah seharusnya kita mengelola waktu ini dengan sebaik-baiknya.

Manajemen waktu bukanlah sesuatu yang mudah, dan harus dikelola secara serius. Terutama bagi keluarga-keluarga yang memiliki jadwal harian yang cukup padat. Bekerja, sekolah, les, meeting, olahraga dan masih banyak lagi. Semua itu membutuhkan pengaturan waktu yang tidak mudah.

Disinilah perlunya kita bernegosiasi dengan pasangan kita, agar ada kesepakatan dalam menetapkan waktu bersama. Akan selalu ada hal yang perlu dan harus dikorbankan. Dan kami berharap, yang dikorbankan bukanlah anak-anak atau keluarga Anda. Menjadikan kepentingan keluarga sebagai tolok ukur kebersamaan adalah sebuah keharusan. Buatlah komitmen untuk menginvestasikan waktu harian kita agar dapat melakukan satu atau dua hal bersama.

Banyak orang menganggap bahwa dalam kebersamaan yang penting adalah kualitas, bukan kuantitas. Tetapi jika kita telah memiliki sebuah keluarga, kuantitas sama pentingnya dengan kualitas. Karena kuantitas akan menentukan kedekatan satu sama lain, sementara kualitas pertemuan akan membantu kita mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

Ada begitu banyak bencana yang dapat dihindari, bila kita mampu memprioritaskan kebersamaan dalam kehidupan berkeluarga. Seks bebas, penggunaan Narkoba, pergaulan yang merusak, kebiasaan-kebiasaan buruk serta kerapuhan karakter anak adalah beberapa hal dari ribuan hal lain yang dapat kita hindari, jika kita memutuskan untuk membuat kebersamaan sebagai prioritas dalam kehidupan keluarga kita.

Mulailah dengan membuat catatan kegiatan apa saja yang kita lakukan sehari-hari, untuk kemudian menyortir hal-hal yang tidak begitu penting dan menggantinya dengan kebersamaan keluarga.

Dengan mengorbankan beberapa hal, kita telah menyelamatkan lebih banyak hal lain yang berharga, yaitu kelangsungan dan kebahagiaan hidup keluarga kita. Selamat mengatur waktu bersama! (KB/FOF)

SEMUA DIMULAI DARI RUMAH

Parenting with Wisdom

“Right is right even if no one is doing it; wrong is wrong even if everyone is doing it.” –  Augustine of Hippo

Bicara tentang moralitas memang sebuah hal yang lumayan sulit. Karena masyarakat urban abad ini sepertinya sedang meraba-raba, manakah kebenaran dan apa yang salah? Tidak ada lagi hitam atau putih. Yang ada hanyalah area abu-abu. Banyak orang akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu (yang salah menurut ukuran etika, moral dan agama) karena mendapati bahwa sekelilingnya toh juga melakukan hal yang sama.

Contohnya? Sepasang kekasih yang memiliki karier gemilang memutuskan untuk berpacaran. Tak berapa lama merekapun bertunangan. Beberapa hari usai acara pertunangan mereka berlibur ke sebuah pulau berdua saja, dan dengan bangga memamerkan perjalanan ‘honeymoon premature’ itu di media sosial. Teman-teman yang melihat kemudian mengungkapkan rasa turut bahagia, seolah hal yang mereka lakukan itu sesuatu yang wajar, sewajar makan tiga kali sehari.

Saat ini, semua yang salah dianggap benar, apabila mendatangkan kesenangan. Dan semua yang benar dianggap kuno, karena merasa “Sudah tidak ada lagi orang yang melakukan hal itu, jaman sekarang ini.”

Dapat dipastikan, saat sepasang kekasih diatas membangun keluarga dalam pernikahan yang sesungguhnya, mereka akan menjadi orangtua paling paranoid yang memiliki ketakutan besar dalam menjaga anak-anaknya.

Mengapa? Karena sesungguhnya, jauh didalam hati mereka, mereka tahu betul, bahwa apa yang dulu mereka lakukan adalah sebuah pelanggaran terhadap nilai-nilai moral, etika dan agama. Dan mereka sangat khawatir bila anak-anaknya melakukan hal yang sama. Setiap gerak-gerik anak-anak selalu dipandang dengan penuh curiga. Rajin menyelidiki dan tak mudah percaya.

Lalu bagaimana cara membangun sebuah keluarga agar suami, istri dan anak-anak menjadi sosok yang menghormati nilai-nilai moral dan etika? It’s time to go back to the basic principle. Everything starts from our home.

Rumah haruslah menjadi awal dan sumber segala hikmat dan pengetahuan akan nilai-nilai kebenaran. Apapun latar belakang kepercayaan setiap orang, pasti memiliki aturan-aturan dan nilai-nilai kesucian yang dijunjung tinggi.

Menjadi orangtua di jaman globalisasi tanpa batas seperti ini memang bukan pekerjaan mudah dan menyisakan PR yang amat banyak dan rumit. Tetapi keputusan ada ditangan kita, para orangtua. Apakah Anda dengan sungguh-sungguh mau menyediakan waktu untuk mengajar dan mendidik anak-anak Anda tentang nilai-nilai itu? Ataukah kita memilih untuk menyerahkan semua itu kepada lingkungan (yang akan dengan senang hati mengajarkan SEGALA HAL kepada anak-anak kita without any filter!) That is scary.

Kita harus mulai mengubah pola pikir dalam menilai sebuah kesuksesan. Membekali anak dengan kebutuhan jasmani tak lantas membuat kita menjadi orangtua yang sukses. Kesuksesan menjadi orangtua di jaman ini seringkali dinilai dari sudut-sudut yang kurang tepat. Seperti:  Dimana anak-anak bersekolah, les apa yang mereka ambil, dengan kalangan mana mereka berteman, prestasi apa yang mereka peroleh di sekolah, tanpa peduli pada pertumbuhan rohani dan kedewasaan moral mereka.

Kesuksesan jasmani dan materi tentulah sebuah pencapaian yang baik dan membanggakan. Tetapi jika hanya itu yang menjadi tujuan dan acuan kita sebagai orangtua, maka celakalah kita!

Apakah mereka menjadi remaja yang dapat berkata tidak pada seks bebas? Menolak NARKOBA? Hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kesucian? serta menjadi contoh bagi teman-temannya yang tersesat dan salah pergaulan? Ini merupakan kesuksesan yang sejati dan utama. Sementara kesuksesan jasmani dan materi yang diperoleh anak-anak itu hanyalah pendukung (walaupun tak kalah pentingnya).

Kesuksesan yang terlihat oleh mata dapat hilang kapan saja. tetapi mental dan karakter yang kuat, kedewasaan rohani serta pengertian yang dalam akan pentingnya nilai-nilai etika dan moral adalah kesuksesan yang tak dapat dicuri oleh siapapun dan apapun juga!

Sebuah bahan perenungan yang dalam bagi setiap kita, para orangtua. Ingatlah bahwa semua dimulai dari ayah dan ibu. Mungkin masa lalu Anda tak terlalu gemilang untuk dijadikan contoh bagi anak-anak Anda. Tetapi justru dari situlah kita belajar, bahwa mengajarkan hikmat dan nilai-nilai kebenaran kepada anak-anak kita merupakan harta abadi serta warisan terbesar yang harus kita berikan, jaga dan lakukan kepada mereka tanpa batas waktu.

Mari ambil alih kendali dalam mendidik anak-anak kita. Jangan biarkan mereka terombang-ambing mencari-cari dari sumber yang salah. Mari berkomitmen menjadi orangtua yang peduli terhadap pendidikan moral dan mental anak-anak kita. Dan semua itu dimulai dari satu tempat yang tidak jauh, yaitu rumah kita sendiri! (KB/FOF)