A CRANKY MAMA!

“Everyone, stop calling my name and stop asking mommy about anything, okay. I’m tired!” Setengah berteriak saya berkata kepada anak-anak saya dan seisi rumah. Hari itu saya merasa extra lelah dan bad mood. Entah mengapa. Beberapa menit setelah saya mengultimatum seisi rumah untuk berhenti ‘mengganggu’ saya, rumahpun sepi, dan… hati saya mulai diliputi rasa bersalah. Ah, jadi galau!

1457884400057

Berapa banyak isteri dan ibu yang mengalami dan merasa seperti saya? Disatu sisi kita ingin sekali menjadi isteri dan ibu teladan, tapi disisi lain kita (ternyata) hanya manusia biasa yang butuh istirahat, menarik nafas dan sekedar duduk diam tanpa melakukan apa-apa. We just want our quiet moment. And usually we want that at the busiest schedule of the day! HAHA…

Saya rasa masalah ini tidak hanya berhubungan dengan ibu rumah tangga saja. Tetapi ibu bekerja pun mengalami hal yang sama. Intinya, apapun karier dan kesibukan ibu, sekali waktu kita amat sangat membutuhkan momen berdiam diri – tidak melakukan apapun, tidak berkata apapun, tidak berpikir apapun. Kita. Ingin. Istirahat. Bahasa kerennya, hibernating moment. Pertanyaannya: Apakah bisa? Beberapa kali saya (dengan gaya sok idealis) berusaha melakukan momen hibernasi ini. Tetapi dalam waktu 10 menit, hati saya mulai diliputi rasa bersalah, lalu otak saya mulai memikirkan schedule esok hari, “Oh besok si adik harus bawa ini. Oh si kakak besok les, harus dijemput jam sekian, bla.. bla.. bla..” Momen hibernasi pun GAGAL TOTAL!

Bulan Maret 2016 ini, tema Social Media FOF INDONESIA adalah Getting to Know Your Spouse / Kids / Family. Dan saya merasa, topik ini cukup tepat untuk diangkat. Sebagai perempuan yang mewakili jutaan isteri dan ibu, saya ingin menyuarakan isi hati mereka juga. Bukan tentang hal berat serupa kesetaraan gender atau lainnya, tapi hal sederhana yang seringkali kita abaikan, padahal amat kita butuhkan: A quiet moment, a hibernating session, a moment to be alone and NOT doing things that WE HAVE TO, but doing things that WE WANT TO. 

Kepada para pria, selaku suami dan ayah, ada baiknya Anda mulai mencatat hal-hal yang akan saya ungkapkan berikut ini. Jangan khawatir, saya tidak bermaksud memprovokasi para isteri (HAHA..) justru saya ingin para suami dan ayah belajar memahami  isteri Anda dengan lebih baik lagi.

  1. BE THOUGHTFULNothing is sexier than a thoughtful husband. Jadilah suami yang sensitif terhadap kebutuhan isteri untuk merasa dikasihi dan dimengerti. Bukan dengan materi (saja), tapi lebih daripada itu, dimengerti perasaan dan pikirannya. Caranya? Mudah sekali. Ambil waktu untuk mempelajari bahasa tubuh dan kebiasaan isteri Anda. Suami saya orang yang sangat pandai dalam hal ini. Hanya melihat saya naik ke tempat tidur diwaktu yang tidak biasa, ia langsung tahu bahwa saya lelah dan ingin istirahat. Ia lalu akan menutup pintu kamar dan membiarkan saya beristirahat.
  2. HELP YOUR WIFE. Tolonglah isteri Anda. Bentuk pertolongannya bisa bermacam-macam. Jika isteri Anda seorang ibu rumah tangga, bantulah ia dengan melakukan hal-hal simple seperti membereskan rumah yang berantakan, mencuci piring, mencuci kamar mandi, mengajak anak-anak keluar rumah, agar isteri dapat santai sejenak menikmati me time nya tanpa gangguan, atau hal lain yang menurut Anda dapat mengurangi beban isteri saat ia merasa kelelahan. Jika Anda kurang paham apa yang dapat Anda lakukan untuk menolong dia, JANGAN MALU BERTANYA.
  3. GIVE HER ASSURANCE.  Isteri yang Anda nikahi sekarang mungkin (menurut Anda) sudah tidak terlihat semenarik dulu, tetapi ingat: Ia masih dan selamanya akan menjadi isteri Anda, hingga maut memisahkan. Seorang isteri bukannya tidak tahu kalau suaminya mencintai dia. Tentu kami tahu. Tapi kami ingin mendengar para suami melontarkan pujian (bukan rayuan gombal!) yang dapat memberi energi dan mengembalikan rasa percaya diri, bahwa kami dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan dalam hidup suami kami. Kuncinya: Jangan gengsi memuji!
  4. I GOT THIS!  Sebuah kalimat dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih: Biar saya yang urus. Anda sadari atau tidak, saat ini semakin sedikit suami dan ayah yang mampu mengatakan dan melakukan hal ini. Banyak suami atau ayah yang ‘merasa’ isterinya sudah paham dan dapat melakukan hampir segala hal sendiri, termasuk mencuci mobil, service mobil bulanan ke bengkel, menelepon tukang untuk memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah, dan lain sebagainya. TENTU SAJA kami bisa! Tapi terkadang kami ingin menjadi istri yang terima beres dalam hal-hal seperti ini. Kami ingin para suami berkata: “It’s okay sayang, biar aku saja yang urus.” Perkataan seperti ini seperti air yang dituang diatas kepala yang panas karena terpanggang terik matahari.
  5. PHYSICAL TOUCH IS IMPORTANT. Hal terakhir yang mungkin ingin sekali saya sampaikan adalah untuk sering-sering memberi sentuhan sayang kepada isteri Anda. Sentuhan fisik bukan melulu soal aktifitas seksual. Tetapi sentuhan-sentuhan kecil namun hangat yang dilakukan suami kapan saja, dimana saja sebagai ekspresi rasa sayang. Untuk beberapa suami mungkin membutuhkan perjuangan atau latihan khusus dalam melakukan kebiasaan ini. Tetapi teruslah berusaha untuk melakukannya. Isteri Anda akan merasa seperti memiliki energi baru yang luar biasa saat mendapati suaminya mengelus punggungnya, memijit kakinya, mengusap kepalanya atau mencium lembut pipi atau bibirnya. Hal-hal sederhana yang mungkin sudah kita lupakan (saking sibuknya!), mari lakukan kembali.

Akhir kata, semoga tulisan saya ini dapat membantu para suami dan ayah untuk ‘mengerti’ keinginan dan kebutuhan isteri Anda untuk merasa dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan. Dan bagi para isteri, semoga tulisan ini dapat mewakili setidaknya sepersekian persen dari sekian banyak harapan Anda kepada sang suami. Mari berlomba dalam memberi dan melakukan kebaikan bagi pasangan Anda. Belajarlah untuk mencintai dan mengerti, mengasihi dan melindungi, mempraktekkan berbagai ilmu positif yang kita lihat, kita dengar dan kita baca demi kelanggengan hidup pernikahan kita. Selamat berjuang dan teruslah mencintai pasangan Anda. (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA)

1457883638257

 

 

 

SEDIKIT CATATAN TENTANG CINTA

Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna.

image

Saya bukan pakar pernikahan. Bukan pula seorang istri atau ibu yang sempurna. Sama seperti kalian, saya juga memiliki banyak impian, harapan dan – sedang berjuang tiada henti – demi menciptakan kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Mengamati serta mendengar kisah pernikahan dari banyak kawan, sahabat dan saudara, selalu menambah ‘sesuatu’ dalam pikiran dan hati saya. Dua hal yang bisa saya simpulkan setelah berbincang dengan mereka:

1. Tak ada pernikahan yang sempurna.
2. Bahwa tiap kita selalu memiliki 3 pilihan dalam menjalaninya: melanjutkan, menyerah, atau berusaha sekuat dan sebaik yang kita mampu, setiap saat. (Give up, give in or give all we got!).

Saya semakin sadar, dunia saat ini berputar terlalu cepat. Seingat saya semua itu terjadi sejak segala sesuatu diberi label FAST. Fast food, fast communication, fast interaction, fast information, fast result dan berbagai macam ‘fast’ lainnya. Dunia semakin tak bisa menikmati proses alami dari banyak hal. Orang lebih memilih membeli makanan kaleng atau makan fastfood. Alasannya: biar cepat!

Orang lebih suka bertegur sapa dengan chat apps daripada bertemu muka dan berbincang. Alasannya: biar cepat! Orang lebih suka mencari info dari internet atau berkirim ‘kartu digital’ kepada teman dan keluarga, karena (guess what?) LEBIH CEPAT sampai dan langsung dibaca. Tak ada lagi rasa deg2an menanti pak pos mengantar surat pacar. Atau silaturahmi kepada sanak keluarga (karena merasa toh tiap hari sudah berbincang lewat chat apps).

TAK ADA YANG SALAH DENGAN SEMUA ITU. Asal digunakan sesuai porsinya. Yang salah adalah, jika gaya hidup serba cepat itu lalu mempengaruhi karakter dan cara pandang kita terhadap kehidupan. Kita lebih suka MENGGANTI daripada MEMPERBAIKI. Kita lebih suka HASIL daripada PROSES. Dan gawatnya, hal itu diimplementasikan dalam segala segi kehidupan, termasuk PERNIKAHAN. Semakin jarang pasangan yang memilih untuk ‘memperbaiki’, apalagi mencintai ‘proses’. Dan semakin banyak pasangan yang lebih suka ‘mengganti’ dan berfokus pada ‘hasil’ tapi tidak pada proses & perbaikannya.

Saya adalah salah satu dari banyak wanita  istri dan ibu yang masih & (mudah2an dengan kasih karunia Tuhan) akan selalu memposisikan PERNIKAHAN sebagai sebuah ‘lahan kudus’ yang harus dijaga, ditanami, dirawat dan diberi ‘makan’. Saya MASIH PERCAYA, bahwa sebuah pernikahan memang sejatinya harus dijalani ‘hingga maut memisahkan’. Dan proses mencintai seseorang tidak cukup hanya dengan masa-masa bahagia saja. Tetapi yang lebih penting adalah: dimasa sulit. Dimana semuanya seperti tak termaafkan. Disitulah kita perlu menabur lebih banyak pengampunan, kasih, pengertian dan penerimaan.

Usia pernikahan kami baru 18 tahun. Masih ABG memang. Mangkanya saya segan menulis dengan “udara menasehati”. Mungkin lebih tepat kalo disebut “berbagi untuk memberkati”. Jika boleh saya berbagi beberapa hal untuk sahabat-sahabat yang single (dan sedang mencari jodohnya), yang menikah, yang tidak menikah, yang duda/janda atau juga mereka yang telah menikah lagi (dan lagi! Hehehe…). Berikut pemikiran saya (mohon maaf kalau TIDAK SEMPURNA):

1. Jika kamu masih single, fokuslah membangun dirimu menjadi seorang pria/wanita yang baik dan bertanggung jawab (kepada Tuhan, orangtua dan sesama). Orang yang fokus membangun karakter dirinya sesuai dengan KEBENARAN, tentu tak akan dengan mudah memutuskan untuk menikah dengan sembarang orang. Focus on being a Godly man/woman. And you will find the one that attract your Godly  character as well.

2. Jika kamu adalah seorang yang sudah menikah, ingatlah: pernikahan bukan didesign untuk memudahkan hidupmu, tetapi dirancang bagi para pejuang dan pemberani, yang tidak mudah putus asa dan mau terus melakukan yang terbaik, berapapun harganya, hingga maut memisahkan. Pernikahan tidak dirancang untuk orang-orang egois, yang menikah demi harta, tahta, wanita atau kerakusan pribadi semata. Karena pada dasarnya: pernikahan adalah tempatnya berbagi tanpa pamrih dan tanpa ada batasan waktu.

3. Kalau kamu adalah seorang yang sedang memutuskan untuk berpisah atau meninggalkan pasanganmu, ingatlah: Jangan selalu mengakhiri segala sesuatu dengan perpisahan. Karena berpisah bukan selalu jawaban terbaik. Berusahalah dahulu. Belajarlah mencintai proses. Mundurlah dari ranah keegoisan dan mulailah mementingkan kebahagiaan pasanganmu lebih daripada kepentinganmu sendiri. Berikan waktu pada CINTA untuk bangkit kembali. Seorang yang peduli pada kebahagiaan orang lain UMUMNYA akan merasakan kebahagiaan yang LEBIH BANYAK dari yang dia harapkan. Ingat: memberi selalu lebih baik daripada menerima. Sementara bercerai itu seperti bom waktu yang meninggalkan tapi tidak menyelesaikan masalah. Hanya menguburnya, dan suatu saat akan naik ke permukaan lalu MELEDAK dan mengacaukan kehidupan baru Anda.

4. Jika Anda adalah duda/janda yang merindukan kesempatan kedua, saya berharap Anda memulai lagi dengan pemikiran yang bijaksana. Bahwa pernikahan adalah seperti yang saya katakan di nomor 2. Secantik apapun istri barumu, sekaya apapun suami barumu, masalah dalam pernikahan akan selalu ada. Mungkin beda bentuknya. Tapi semua selalu tentang “ujian terhadap kemampuan kita untuk mencintai, mengampuni, mengerti dan menerima, apapun, bagaimanapun & sampai kapanpun.” TITIK. Jadi jangan Anda pikir, pasangan barumu akan menghindarkanmu dari masalah. Ingat: Mobil baru hanya terasa baru di bulan pertama. Setelah itu ia tetap harus dibawa ke bengkel untuk dirawat & diperbaiki.

Akhirnya, dengan segala hormat dan kerendahan hati, saya memohon kepada setiap suami/istri, setiap ayah/ibu, mari kita menjadi orang-orang yang mencintai proses dalam sebuah hubungan. Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna. Do not judge your spouse just because he/she sinned differently than you. Adalah tanggung jawab kita sepenuhnya untuk membuat pasangan kita menjadi lebih baik; kamu terlihat lebih baik karena aku, dan aku terlihat lebih baik karena kamu. Let’s build each other and kill every problem with kindness, love, forgiveness, understanding & acceptance. This is an UNCOMPROMISED LEGACY yang wajib kita tinggalkan bagi anak-anak kita. Have a great journey together! (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA) #TogetherStronger #RelationshipMatters #LoveConquersAll

DATE WITH DAD – 2

image

Setiap anak berharga. Dan setiap ayah berhak diberi kesempatan kedua.”

Menyadari pentingnya peran seorang ayah dalam kehidupan dan perkembangan karakter putrinya menjadi dasar lahirnya event keluarga bertajuk DATE WITH DAD yang kami persembahkan khusus untuk ayah dan putrinya. Mengapa? Karena mayoritas hubungan para ayah dan anak perempuannya dewasa ini semakin jauh dan mengkhawatirkan. Banyak anak-anak perempuan yang bertumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang orangtua, khususnya ayah mereka.

Ayah beranggapan bahwa urusan merawat dan membesarkan anak adalah murni pekerjaan sang ibu. Sementara pada kenyataannya, anak perempuan yang bertumbuh tanpa figur ayah (entah karena si ayah sibuk bekerja sehingga jarang di rumah, atau karena perceraian) memiliki ketimpangan emosional yang serius. Tak sedikit dari putri-putri yang haus kasih sayang ini mencari bentuk kasih yang hilang itu di tempat-tempat yang salah. Padahal jika saja seorang ayah berkomitmen untuk menyediakan waktu bagi sang putri serta mempraktekkan 5 Bahasa Kasih yang mereka butuhkan (yaitu: Waktu berkualitas, kata-kata penegas, hadiah, layanan & sentuhan fisik) maka anak akan bertumbuh menjadi seorang yang berkarakter kuat, percaya diri serta memiliki gambar diri yang utuh dan positif, karena tangki emosi yang selalu terisi penuh.

image

Sabtu, 16 May 2015 yang lalu merupakan hari yang tidak terlupakan bagi dua belas pasang ayah dan putrinya. Dengan mengusung tema Great Gatsby, Rafflesia Ballroom di Hotel Gran Mahakam disulap layaknya restoran berkelas di pusat kota Paris. Satu persatu, pasangan ayah dan putrinya datang. Awalnya banyak putri-putri yang merasa canggung karena harus duduk berdampingan dengan sang ayah. Mungkin selama ini bahkan ada diantara mereka yang tak pernah duduk berdampingan. Hari itu mereka akan duduk berdampingan selama 5 (lima) jam! 🙂

image

Acara yang dipandu oleh MC Ms. Hadassah Maharanny ini dibuka dengan sambutan dari Direktur FOF Indonesia, Madam Valerie Mellanov, yang menjelaskan pentingnya program ini untuk diadakan secara berkelanjutan.

image

Lalu disusul dengan Bapak Daniel Runtuwene (seorang pakar Keluarga) yang berbagi pengalaman dan tips dalam mengasuh keempat anaknya dimana dua diantaranya kini sudah memasuki usia pemuda dan remaja.

image

Kesaksian Sdri. Vania Cristine menjadi awal dari keharuan event ini. Sebagai seorang remaja putri yang dibesarkan tanpa kehadiran sang ayah, Vania dengan terbuka berbagi kisah hidupnya yang penuh dengan kekecewaan, luka bathin dan airmata. Tetapi toh dengan tegas ia berkata: “Meskipun saya harus melalui semua itu, jika saya diberi kesempatan untuk mengulang kembali hidup saya dari awal, saya tetap akan memilih dia sebagai ayah saya. Karena seburuk apapun dia, dia adalah ayah saya. Dan saya bangga padanya.” Sungguh sebuah perjalanan panjang bagi Vania untuk keluar dari kekecewaan dan mampu mengatakan kalimat yang menguatkan semua pasangan ayah dan putrinya yang hadir pagi itu.

image

Acara puncak DATE WITH DAD adalah aktifitas ayah-anak serta momen dimana ayah dan anak perempuan mereka menulis surat cinta untuk satu sama lain. Serta menuliskan impian mereka masing-masing untuk keluarga dan dirinya. There was no dry eyes in the room, saat satu persatu dari mereka diminta untuk membacakan isi surat atau mengucapkan sepatah dua patah kata pada putri dan pada ayahnya. Semua meneteskan airmata. Betapa setiap anak perempuan yang hadir memiliki kerinduan yang begitu dalam kepada ayahnya; kerinduan untuk dikasihi, dicintai, diperhatikan, dilindungi, diterima dan dimengerti.

image

Sementara para ayah, dengan dandanan gagah mereka, tak juga mampu menahan airmata saat harus mengucapkan sepatah dua kata kepada putri tercintanya. Para ayah ini juga memiliki penyesalan, ucapan syukur, keinginan untuk diampuni, diterima dan menjadi bagian dalam kehidupan putri-putri mereka.

Tentu saja tidak ada kata terlambat! Untuk itulah kami – Focus On The Family Indonesia, menggelar program ini. Karena kami percaya, seburuk apapun hubungan seorang ayah dengan putrinya, setiap anak perempuan dan setiap ayah berhak mendapatkan kesempatan baru serta memulai lembaran baru dalam hubungan mereka sebagai ayah dan anak. Kami berharap event ini akan mengembalikan figur ayah yang hilang, serta mengembalikan hati para anak perempuan kepada ayahnya. Dimana mereka dapat saling memaafkan, menerima, membuang kisah lama yang menyakitkan serta memulai hubungan yang lebih baik, positif, saling mendukung, saling menghargai, saling menyayangi dan saling melindungi. Sehingga tidak ada lagi generasi anak perempuan yang harus memburu kasih sayang diluar rumah dengan cara-cara yang salah dan tidak pada waktunya. Setiap anak berharga. Dan setiap ayah berhak diberi kesempatan kedua. Impian kami adalah agar anak-anak perempuan Indonesia kelak tumbuh menjadi sosok wanita yang kuat, istri yang lemah lembut dan ibu yang berdedikasi serta penuh kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya.

image

Event DATE WITH DAD ini diakhiri dengan berfoto bersama seluruh pasangan. Ada sesuatu yang berbeda saat kami melihat mereka berfoto bersama. Tidak ada lagi kecanggungan atau sikap dingin. Yang ada hanyalah senyum bahagia, kelegaan dan kedekatan yang menghangatkan kami semua, team Father Daughter Date yang bertugas hari itu. Bravo daddies and daughters! And we cannot wait to meet another daddies with their daughters on our next DATE WITH DAD event. (KB/FOF)

UJIAN YANG MENGUATKAN

Setiap pernikahan akan menghadapi ujian. Sekali lagi, SETIAP pernikahan akan menghadapi UJIAN. Jenisnya mungkin berbeda-beda. Tetapi semuanya sama-sama menuntut kesabaran, penerimaan, pengertian, usaha dan pengorbanan. Wujud dan dalamnya kesabaran serta penerimaan pada setiap orangpun berbeda-beda. Kedewasaan spiritual dan mental menjadi tolok ukur dalam menilai kemampuan setiap pasangan untuk bertahan dan berjuang, hingga akhirnya menang.

Satu hal yang harus kita ingat baik-baik, setiap masalah atau tantangan dalam pernikahan akan membawa kita pada dua posisi akhir, yaitu: menang atau kalah. Menang dalam arti kita tetap teguh berpegang pada janji pernikahan, serta berkomitmen untuk menghadapi, menjalani, bertahan serta memenangkan pertempuran melawan masalah. Atau kalah, dalam arti kita menyerah dan memilih untuk mengakhiri serta meninggalkan medan tempur.

Kedua pilihan itu memang tidak mudah untuk dijalani. Masing-masing memiliki resiko yang harus kita tanggung dan hadapi. Yang tepenting adalah, “Apakah kita mau membayar harga untuk meraih kemenangan itu?” Perjuangan yang kita hadapi menuju pada kemenangan akan menuntut banyak pengorbanan, terutama dalam hal penyesuaian sikap dan pemikiran yang tentu tidak mudah untuk dilakukan. Tak perlu dirinci pengorbanan apa saja yang harus kita lakukan. Tetapi kita semua tahu, sesuatu yang berharga pastilah menuntut pengorbanan yang mahal harganya. Sekarang, apakah kita bersedia membayarnya?

Yang jelas, saat kita dihadapkan pada ujian pernikahan – jika kita tidak menyerah dan mau berusaha demi kepentingan bersama – maka ujian yang kita hadapi akan berakhir pada kemenangan, kedekatan (satu sama lain) dan kesembuhan (jiwa dan roh) pada  kedua belah pihak. Sebaliknya, bila kita memilih untuk menyerah pada ujian ini, maka kita akan berhadapan dengan kekalahan, perpisahan dan luka hati di kedua pihak. Pilihan ada di tangan Anda berdua.

Mungkin beberapa dari kita sedang menghadapi ujian dalam rumah tangga. Resep lulus ujian tentulah “belajar” dan “mempersiapkan diri” dengan sungguh-sungguh:

BELAJAR menerima, memaafkan & mengerti. Serta saling menolong agar pasangan kita dapat kembali pada panggilan awalnya sebagai suami atau istri yang baik.

MEMPERSIAPKAN DIRI meliputi pembenahan hubungan serta kedekatan kita pada Yang Maha Kuasa (karena memenangkan ujian tanpa hikmat dari Tuhan adalah usaha yang sia-sia). Siapkan diri untuk berkomunikasi dengan kerendahan hati, keinginan untuk mendengar serta berfokus pada jalan keluar, bukan pada siapa yang benar atau salah. Siap untuk berkomitmen menjalankan langkah-langkah positif yang telah didiskusikan bersama pasangan agar ujian dapat diselesaikan dengan nilai yang baik. Pada akhirnya, tentukan tujuan baru yang lebih baik bagi pernikahan Anda berdua. Apa serta bagaimana mewujudkannya, sehingga pernikahan Anda akan terus berjalan semakin kuat, semakin indah, semakin melekat dan semakin mesra. (KB/FOF)

KAMI INGIN DIMENGERTI

image

Perihal mendidik anak merupakan salah satu topik hangat yang hampir selalu mewarnai perbincangan para ibu dan ayah. Sepertinya butuh seni TERSENDIRI untuk menjadikan momen ‘mendidik dan merawat’ ini berhasil. Tak sedikit orangtua yang mengeluh dan kewalahan menghadapi anak remajanya. “Wah, kalau minta sesuatu ngotot! Nggak boleh dilarang.” Ujar seorang ibu dari remaja putri. “Tiap hari adaaaa… saja momen ngambeknya. Kadang kita nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba ngambek.” Tambah ibu lainnya yang kelihatan sedikit frustasi menghadapi mood anak remajanya.

Well, suka atau tidak suka, setiap anak akan dan pasti melalui fase ini. MASA REMAJA yang oleh banyak orang disebut sebagai masa terindah (buat si anak), sekaligus masa terseram dan terlelah (bagi si ayah dan ibu) jika kita tak mencoba mengerti ‘bagaimana’ menyiasatinya. Masa remaja memang masa yang penuh tantangan bagi kedua pihak – anak dan orangtua. Disatu sisi, si anak merasa sudah dewasa dan ingin mulai mencoba banyak hal SENDIRI. Sementara orangtua berpikir, anak remajanya ini belum paham dunia nyata dan masih harus dijaga serta diberitahu tentang banyak hal.

Tak sedikit orangtua dan anak yang memiliki pengalaman buruk saat melalui masa-masa ini. Orangtua merasa bahwa anaknya berubah menjadi sosok yang sulit dimengerti. Sementara anak merasa orangtuanya terlalu ingin mengatur dan tidak bisa mempercayai apapun yang mereka lakukan.

Sesi curhat atau ngobrol-ngobrol yang dulu diwarnai canda tawa, kini seringkali berakhir dramatis disertai perbantahan. Ada apa ini? Pikir si ayah. Anak remajanya seolah ANTI terhadap aturan, disiplin dan kata TIDAK yang dilontarkan orangtuanya. Apakah kami telah salah mendidik dia? Ujar sang ibu penuh kekhawatiran.

Firstable, you are not alone! Ada jutaan orangtua di dunia yang sedang menghadapi musim yang sama dengan Anda. Jangan panik! Karena ketenangan adalah kunci dalam menyelesaikan masalah dengan anak remaja. Berbincang dengan sesama orangtua lain yang memiliki anak remaja akan sangat menolong menenangkan Anda, sekaligus menjadi ajang bertukar ilmu.

Dari berbagai obrolan dan keluhan yang muncul di dunia parenting, kami berkesimpulan ada tiga hal dasar yang perlu kita ingat setiap kali kita berhadapan dengan anak remaja:

1. ANDALAH YANG MEMEGANG KENDALI.
Bukan berarti Anda berhak menjadi seorang yang otoriter dan kejam. Tetapi ingatlah, sebagai orang yang sudah lebih dewasa dan (kami harap) lebih bijaksana dalam berpikir, Anda adalah pihak yang memegang kendali serta memiliki kuasa untuk memutuskan. Tentu saja keputusan yang Anda buat haruslah berdasarkan pertimbangan yang matang serta adil bagi kedua belah pihak. Jangan terbawa emosi. Kendalikan diri Anda dan ingatlah: Anak Anda sebenarnya juga sedang menilai kemampuan parenting Anda, apakah ayah atau ibuku ini seorang yang tegas atau dapat kupengaruhi dalam membuat keputusan?

2. PENJELASAN YANG MASUK AKAL.
Orangtua dengan ribuan keluhannya selalu mengalami ‘drama’ saat harus berkata TIDAK kepada anak remajanya. Payahnya, si anak dengan keras kepala tetap meminta orangtua untuk menuruti keinginan mereka. Banyak orangtua tak cukup sabar untuk menjelaskan kepada si anak mengapa keinginannya ditolak! Berikan penjelasan yang masuk akal dan tegas padanya. Beri contoh-contoh relevan yang dapat dimengerti oleh si anak.

Contoh: Daripada Anda berkata, “Tidak boleh. Karena pulang tengah malam itu tidak baik.” Akan lebih masuk akal jika Anda berkata: “Kamu harus pulang pukul 10.00 malam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.” Lalu beri penjelasan tentang keberatan Anda.

3. INGAT, ANDA JUGA PERNAH MUDA.
Saat libur akhir pekan, sesekali ajak anak remaja Anda untuk hangout ke tempat-tempat andalan Anda sewaktu remaja, jika memungkinkan. Ajaklah ia berdiskusi dan tanyakan pendapatnya. “Menurutmu bagaimana? Bagus nggak tempat hangout papa/mama?” Ajak dia mengunjungi tempat-tempat yang sedang ‘happening’ bersama Anda. Beri kesan bahwa Anda juga mengerti dunianya dan keinginan-keinginannya. Hindari sikap ‘menyerang dan menyudutkan sewaktu anak mengutarakan keinginan yang mungkin kurang Anda setujui.

Mulailah mempercayakan mereka untuk melakukan satu dua hal penting sendiri. Jika kita mengijinkan mereka untuk belajar bertanggung jawab, mereka juga akan berusaha menjaga kepercayaan Anda. Dan untuk sesuatu yang berbahaya, Anda perlu menjelaskan alasan Anda berkata tidak pada keinginannya.

Pada akhirnya, akumulasi didikan dan nasehat-nasehat positif yang telah Anda berikan kepada seorang anak sejak ia kecil, pastilah akan mempengaruhi setiap keputusan yang ia ambil. Jangan terlalu khawatir terhadap segala hal. Anak-anak Anda pasti tahu, apa yang Anda sukai atau tidak, apa yang Anda ijinkan atau tidak.

Hal terpenting bagi seorang remaja adalah mengetahui bahwa kedua orangtuanya selalu mendukung, melindungi, mengerti, mengasihi dan dapat diandalkan. Penting bagi mereka untuk memiliki keyakinan bahwa: “My parents is my rock!” Sehingga mereka tidak perlu mencari perlindungan dan kenyamanan di tempat-tempat lain, yang belum tentu benar. Mari belajar memahami kebutuhan remaja Anda untuk dipercaya, diperlakukan seperti seorang yang dewasa dan diberi tanggung jawab lebih untuk mengatur dirinya sendiri. (KB/FOF)