KETIKA CINTA HARUS MEMILIH

MENCINTAI ADALAH KOMITMEN TAK BERSYARAT PADA SESEORANG YANG TIDAK SEMPURNA. MENCINTAI SESEORANG BUKANLAH SEKEDAR PERASAAN YANG KUAT, TETAPI SEBUAH KEPUTUSAN, PERTIMBANGAN, DAN SEBUAH JANJI (Paul Coelho)

Judul di atas adalah judul film dan novel populer tentang percintaan. Tetapi sebenarnya, secara umum, cinta tidak boleh memilih.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH OBYEKNYA.

Cinta kasih yang sejati tidak bisa memilih siapa yang akan dikasihi dan siapa yang tidak dikasihi. Saya mengasihi yang ini, tetapi membenci yang itu. Itu namanya bukan kasih, tetapi pilih kasih. Tidak bisa seseorang berkata ia mengasihi Tuhannya, lalu menyakiti orang yang berbeda dengannya. Kasih mencintai melampaui segala perbedaan. Bahkan perintah dari salah satu tokoh spiritual yaitu Yesus adalah, "Kasihilah musuhmu, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu."

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH LAMANYA.

Apa jadinya kalau orangtua berkata, "Kami mengasihimu hingga usia 15 tahun saja ya." Atau suami berkata, “Aku mencintaimu selama kulitmu belum keriput.” Kasih yang sejati tidak memberi batasan waktu. Cinta sejati baru berhenti ketika waktu sendiri yang menghentikan, yaitu dengan kematian.

CINTA SEJATI TIDAK BOLEH MEMILIH HASILNYA.  

Kasih memberi tanpa mengharap balasan. Lalu percuma dong?  Agak menyakitkan juga bila kasih tak terbalas?  Ada kalanya kita merasa percuma mengasihi dan berbakti pada orangtua yang pilih kasih, mengasihi kakak/adik kita dan tidak mempedulikan kita.  Kadang kita sudah susah-susah menolong teman dalam kesulitan, ternyata bukan ucapan terima kasih yang kita terima, melainkan cemoohan. Atau kita ragu mengasihi dan berbuat baik pada tetangga, karena belum tentu juga dia akan berbuat yang sama pada kita.  Untuk kasus ini, jawaban Mother Teresa adalah, "Saya temukan paradoks, bahwa bila saya mencintai hingga saya merasa sakit, maka tidak lagi ada rasa sakit, tetapi hanya ada cinta yang lebih besar lagi." Cinta adalah memberi diri bagi orang lain.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH KONDISINYA.  

Saya mengasihimu, kalau… (isi sendiri). Itu kontrak bersyarat, bukan cinta sejati.  Seperti ungkapan, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Karena itu, saat pernikahan orang berjanji untuk saling mencintai tanpa tergantung kondisi: dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, susah maupun senang.

CINTA SEJATI DAN PERNIKAHAN

Sangat dangkal bila memikirkan Valentine’s day sebatas bunga, coklat atau romantika. Sebenarnya kita ditantang untuk merayakan cinta sejati, yaitu cinta yang kuat, bertahan dalam segala macam badai, dan tanpa syarat (“unconditional love”).

Seorang ibu langsung mencintai bayinya yang baru lahir, tidak peduli bagaimana kondisi bayi tersebut, cakep atau tidak, pandai atau tidak, nantinya nakal atau tidak.  Seorang ibu hanya mau mencintai dan memberi, walaupun bayi itu tidak bisa apa-apa dan sangat merepotkan: membuatnya bangun tengah malam, rewel, dan menghabiskan banyak uang serta energi.  
Orang bertepuk tangan melihat kasih seorang ibu yang tanpa syarat. Tetapi bila diminta untuk mengasihi pasangan (suami/isteri) mereka dengan kasih yang demikian, mereka berpikir, “Kok enak bener dia…”  Padahal satu-satunya cara supaya pernikahan bisa berjalan seumur hidup, harus ada kasih tanpa syarat. Kalau kasih bersyarat “tergantung bagaimana dia” maka pernikahan akan bubar di tengah jalan. “Kalau dia cinta, ya saya cinta. Kalau dia baik, ya saya baik. Tapi kalau dia menjengkelkan dan menyakitkan, ngapain dilanjutkan?”

Mungkin bukan cinta yang kita cari, tetapi kesenangan hidup. Kita jatuh cinta supaya hidup menjadi ceria. Kita mencintai supaya dicintai. Kita mencari pasangan supaya tidak kesepian. Kita menikah supaya ada yang mengurus kita seumur hidup. Tapi kita tidak siap mencintai sampai menderita. Kita lupa bahwa mencintai adalah memberi dengan resiko tidak menerima kembali. Kita tidak sadar bahwa mencintai berarti mengampuni tanpa menghitung kesalahan, dan tetap mengasihi ketika orang tersebut sulit dicintai. Namun, bila Anda memiliki cinta tak bersyarat, sebenarnya Anda telah bebas. Bebas dari kekhawatiran cinta tak terbalas, bebas dari ketakutan disakiti, bebas dari segudang ekspektasi. Ini adalah jalan satu-satunya menuju kebahagiaan cinta. (Oleh Esther Idayanti Untuk FOF INDONESIA)

Advertisements

THE ART OF RAISING TEENS

unnamed

Masa remaja adalah masa yang menakjubkan. Remaja diibratkan seperti sebuah pesawat ruang angkasa yang siap diluncurkan. Awalnya kita melihat dengan takjub, terutama mengingat mereka akan pergi menuju ruang angkasa. Segala sesuatunya terlihat menggetarkan.

Mari melihat kedalam pesawat luar angkasa tersebut. Setiap penumpang yang berada didalam pesawat sangat bergantung pada perisai panas yang terletak di dasar kapsul pesawat. Perisai panas ini berfungsi untuk melindungi penumpang dari suhu 537,8 derajat Celcius lebih. Jika perisai itu tidak ada atau tidak berfungsi dengan baik, maka seluruh penumpang didalam pesawat akan hangus terbakar.

Adapun ion-ion negatif yang berada di sekitar kapsul menyebabkan hambatan komunikasi dengan pihak bumi kurang lebih 7 menit lamanya. Semua orang di bumi menahan nafas menanti untuk mendapatkan kembali komunikasi yang jernih. Setelah melewati semua itu, komunikasi kembali jernih dan semua orang bersorak sorai lega dan bahagia.

Analogi apa yang kita peroleh dari kisah pesawat luar angkasa ini? Saat anak-anak kita memasuki usia remaja, saat itu pula kita merasa mereka berubah dan menjadi sosok remaja yang sulit dikenali. Setelah masa kanak-kanak lewat dan akil balik datang, kondisi mereka mirip seperti pesawat ruang angkasa yang berjalan menuju tempat peluncuran.

Para orangtua – layaknya penduduk bumi yang menonton detik-detik pesawat ruang angkasa itu akan terbang – mengamati anak-anak remaja mereka yang harus pergi dengan roketnya. Sebagai orangtua kita ingin ikut terbang pergi bersama mereka. Tetapi kenyataannya, hanya ada satu kursi dan satu ruang di pesawat tersebut. Dan saat ion-ion negatif mulai bermunculan mengitari anak-anak kita, para orang tua mulai bertanya-tanya: “Dimana anak saya? Aku tidak bisa melihat mereka. Mengapa dia tidak mau berbicara lagi dengan saya?”

Masa sulit ini dapat berlangsung bertahun-tahun. Remaja yang tadinya senang berbagi cerita, tiba-tiba hanya senang menjawab singkat. “Nggak tau!”. “Mungkin”. “Iya”. “Nggak”. Dan seterusnya. Kondisi ini mirip dengan keadaan didalam pesawat ruang angkasa, dimana mereka hanya dapat berbicara hal-hal penting karena toh mereka merasa untuk apa bicara banyak bila tak banyak orang yang akan mendengarkan.

Lalu orang-orang yang berada di bumi mulai khawatir, “Mengapa tak ada berita atau obrolan yang terjadi didalam pesawat ruang angkasa itu?” Tetapi tak berapa lama, setelah melalui penantian yang cukup panjang dalam ketakutan dan kekhawatiran, pesawat itu akhirnya kembali ke bumi. Penumpang didalam pesawat ruang angkasa itu merasa sudah cukup memperoleh pengetahuan tentang keadaan ruang angkasa. Lalu mereka kembali ke bumi untuk bertemu dengan keluarga, orang tua, saudara-saudara dan teman-temannya.

Pertanyaannya: Apakah ada cara untuk menghilangkan kecemasan serta stres yang bermunculan dalam pikiran orangtua saat anak remaja mereka melakukan ‘perjalanan ke ruang angkasa’ versi mereka masing-masing?

Sebagai orangtua, kita harus paham bahwa hal utama dalam diri seorang anak remaja yang memiliki kekuatan dahsyat adalah hormon remaja, yang seringkali menguasai kondisi emosi anak. Hal ini membuat anak kadang marah tanpa alasan, merajuk, melamun dan galau memikirkan hal sepele, dan sebagainya. Hormon ini menyerang remaja dari berbagai sisi, baik seksual, demotifasi dan sikap agresif.

Hal lain adalah, seorang anak remaja sangat takut tertolak dan dipermalukan oleh teman atau lingkungannya. Mungkin bagi kita para orangtua, sebuah kejadian kecil sifatnya biasa dan lumrah. Tapi tidak bagi anak remaja. Banyak hal-hal kecil yang tak terpikirkan oleh kita dianggap sebagai sebuah aib serius dalam dunia anak remaja. Aneh memang! Tetapi itulah kenyataannya. Harga diri seorang remaja sangat tergantung dari penerimaan teman-teman dan lingkungannya. Itu sebabnya seringkali remaja melakukan tindakan-tindakan tak masuk akal demi menuai pujian dan penerimaan dari lingkungannya. Dan hal ini seringkali sulit untuk dijelaskan kepada orangtua, sehingga timbullah konflik.

Bila kita sedang mengalami kondisi seperti ini, 5 (lima) tips berikut ini mungkin dapat menolong Anda:

1. BERI KESIBUKAN.
Jangan biarkan seorang remaja menghabiskan banyak waktu yang sia-sia dan kurang produktif. Biarkan mereka aktif dalam komunitas positif seperti olahraga, organisasi sekolah, kerohanian, ekskul dan sebagainya.

2. MEMBANTU MEREKA MENGERTI.
Bantu anak memecahkan berbagai masalah yang mungkin tidak dapat ia tangani sendiri. Seperti mengajar anak untuk mulai bertanggung jawab terhadap keuangannya. “Ini ATM untuk kamu. Ibu punya M-banking untuk melihat segala transaksi yang kamu lakukan. Kamu dapat gunakan ATM ini untuk keperluan harian kamu.” Lalu ajarkan dia bagaimana menggunakan uang dengan bertanggung jawab.

Hindari larangan-larangan yang tak masuk akal, mengkritik berlebihan atau memberikan aturan-aturan yang terlalu mengekang. Biarkan anak bebas, selama apa yang mereka lakukan masih dalam batas wajar. Sesungguhnya mereka tidak ingin haknya diambil. Kedengarannya membebaskan mereka seperti sebuah gagasan buruk. Tetapi percayalah, hal ini sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter mereka.

3. SIAPKAN ENERGI CADANGAN.
Sebagai orang tua Anda harus mempersiapkan energi cadangan dengan beristirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan berdoa. Mengapa? Karena Anda akan melalui banyak hal yang menguras energi dan pikiran serta meningkatkan stress level Anda. Oleh karena itu BERSIAPLAH! 🙂

4. DAD, WE NEED YOU!
Diperlukan figur Ayah yang kuat bagi remaja putra. Hobi dan minat yang sama serta kerjasama ayah dan putranya akan menghilangkan segala pemberontakan. Adakan boys time bersama remaja putra Anda. Dibutuhkan pula Ayah yang romantis bagi remaja perempuan. Jika Ayah adalah seorang yang pemarah, penjudi, masa bodoh, meninggalkan dan sebagainya, maka remaja cenderung akan berusaha mencari pengganti figir ayah untuk mengisi kekosongan hati. Dan ini berbahaya. Ayah, hargai remaja putra dan putrimu. Agar mereka juga dapat melihat dirinya berharga.

5. THE ART OF TOUGH LOVE.
Orangtua dapat melakukan ‘tough love’ untuk menangani kasus-kasus berat secara benar. Sebagai contoh: Jika terjadi pelanggaran serius atau berat, katakan pada anak Anda, “Kamu tidak bisa melakukan hal ini. Ini sebuah pelanggaran berat. Jika kamu tidak mau memperbaikinya, kami terpaksa harus memanggil pihak yang berwajib.” Hal ini terdengar mengerikan. Tapi itulah kasih yang sebenarnya. Ajarkan anak Anda untuk bertanggung jawab. Jangan menjadi orangtua yang memohon-mohon apalagi merengek dengan tangisan pada anak remaja Anda, agar mereka kasihan dan berhenti melakukan hal buruk. Seorang anak yang memberontak harus diajarkan untuk berdiri teguh, berani bertanggung jawab dan dapat mengambil tindakan tepat.

Apapun yang terjadi pada remaja kita, lakukan tindakan yang benar untuk mengatasi setiap permasalahan, dan jangan pernah merasa bersalah karena harus memberikan konsekuensi serius pada mereka. Berhentilah melindungi mereka dari tindakan yang destruktif dan akan menghancurkan mereka. TOUGH LOVE amat dibutuhkan untuk menjadi orangtua yang percaya diri, tegas namun bertujuan baik lewat cara-cara yang benar. Semuanya demi masa depan mereka. (Oleh: Vallerie Mellanov | Sumber artikel: Dr. James Dobson – Founder Focus on the Family)

MEMAHAMI REMAJA

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa (misalnya perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki).

Selain aspek fisik, secara kognitif anak pun mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orangtua perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orangtua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi bantahan sebagai ekspresi pernyataan pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosioemosional remaja.
Secara sosioemosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orangtua.
Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orangtua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebayanya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.
Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya masih berproses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih dan menentukan nilai dan prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Oleh karena itu orangtua sering melihat bagaimana remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, tetapi bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-4 aspek tersebut: fisik, kognitif, sosioemosional dan moral, dapat disimpulkan bahwa si remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orangtua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami si remaja, akan membuat orangtua dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan si remaja.

Misalnya terkait pubertas, orangtua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, berikut bagaimana menyikapinya. Tentang kemampuan berpikir, orangtua hendaknya tidak memaknai pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi memang konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orangtua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosioemosional remaja, diperlukan kebesaran hati orangtua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minatnya, tetapi tetap dalam batasan koridor norma aturan keluarga yang jelas. Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Pada dasarnya, yang dibutuhkan remaja ada penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. (Ibu Pinkan Margaretha Bolang untuk FOF Indonesia)

FOF INDONESIA AMBASSADOR

image

Hello family, melalui blog kali ini, kami ingin memperkenalkan sepuluh Ambassador FOF INDONESIA yang terdiri dari para istri dan ibu dengan berbagai macam latar belakang kehidupan, kepercayaan, pendidikan dan profesi. Satu hal yang mempersatukan kami adalah “Hati kami bagi keluarga Indonesia.”

Jika kita melihat sejenak keadaan sekeliling kita, rasanya hari-hari belakangan ini kita sedikit sulit menemukan keindahan dan kebaikan dalam hidup sehari-hari. Sifat individualisme menjadi bertambah nyata, kita seperti tidak punya (atau tidak rela meluangkan) cukup waktu untuk memperlihatkan kepedulian kepada sesama, ditambah dengan minimnya rasa ingin berbagi, apalagi menolong.

Sebuah gambar kenyataan yang menyedihkan. Dari situlah kami memutuskan untuk membuat program-program keluarga yang kami miliki menjadi LEBIH NYATA.

FOF INDONESIA Ambassador dibentuk dengan agenda utama untuk  merestorasi hubungan dalam keluarga. Berbeda dari NGO lain yang mayoritas berfokus pada penyediaan dana, kebutuhan pangan / SEMBAKO, pendidikan atau benda-benda ekonomi lainnya, FOF INDONESIA memiliki intangible focus yaitu  merestorasi hubungan suami istri, orangtua anak dalam keluarga serta membangun karakter dan mentalitas anak-anak Indonesia melalui tiga pilar utama FOF INDONESIA, yaitu: seminar, konseling dan media (TV/Radio). Kami berharap, melalui kegiatan ini kami dapat mengembalikan nilai-nilai dan tradisi keluarga Indonesia yang seharusnya.

Kesepuluh ambassador kami ini nantinya akan terjun langsung dalam mewujud nyatakan berbagai program FOF INDONESIA berdasarkan tiga pilar utama tadi. Kami akan melakukan berbagai seminar, pelatihan, berbagi tips tentang keluarga, konsultasi, mengajarkan berbagai ketrampilan, dan sebagainya.

Selain itu, kami juga akan  melakukan kunjungan ke Lapas, komunitas keluarga pra-sejahtera dan berkomitmen untuk lebih terlibat dalam dunia sosial, politik, kewanitaan, anak, pendidikan dan – tentunya – keluarga.

Adapun official gatherings (pertemuan resmi) yang akan kami lakukan setiap tahunnya meliputi: FOF INDONESIA High Tea Gatherings (dua kali setahun), kunjungan ke KEMENTRIAN, KEMENKUMHAM, Pemberdayaan Wanita, Kementerian Sosial, BKKBN, company visitation, kunjungan ke berbagai institusi Pemerintahan Daerah, serta liputan apresiasi kepada pihak media.

Struktur organisasi FOF INDONESIA AMBASSADOR terdiri dari:

1. Valerie Mellanov (Ketua Umum)
2. Vera Suriasubrata (Ketua)
3. Krisna Dewi (Sekjen)

Yang beranggotakan sepuluh wanita:

1. Dewi Chandra
2. Esther Idayanti
3. Famela Frospenta
4. Ivone Kambey
5. Karina Budiman
6. Nenden Fleischmann
7. Pingkan Margaretha
8. Windy Tirayoh
9. Sylvana Juita
10. Marlienna Suwito

Dengan demikian, kami memohon doa restu serta dukungan dari seluruh keluarga Indonesia, agar setiap program dan rencana kerja yang telah kami susun rapih ini dapat terlaksana dengan baik, sehingga impian kami untuk membangun, merestorasi dan menanamkan nilai-nilai tradisi dalam keluarga Indonesia dapat terwujud. (KB/FOF INDONESIA)

HAPPY MOTHER’S DAY!

image

Kepada semua ibu, hanya hormat dan ucapan terimakasih lah yang dapat kami haturkan. Tidak ada kekuatan yang mampu menyamai ketabahan seorang ibu dalam melahirkan dan membesarkan anak-anaknya.

Ada banyak hal yang membuat kehadiran seorang ibu menjadi sangat istimewa. Kehangatan, cinta dan dedikasi seorang ibu bahkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin hebat yang mengubah dunia!

“Motherhood: 24/7 on the frontlines of humanity. Are you man enough to try it?” Let’s start by taking more pride in what we do as mothers, strengthen motherhood from the bottom up, and not allowing others to disparage or belittle it. HAPPY MOTHER’S DAY!

UJIAN YANG MENGUATKAN

Setiap pernikahan akan menghadapi ujian. Sekali lagi, SETIAP pernikahan akan menghadapi UJIAN. Jenisnya mungkin berbeda-beda. Tetapi semuanya sama-sama menuntut kesabaran, penerimaan, pengertian, usaha dan pengorbanan. Wujud dan dalamnya kesabaran serta penerimaan pada setiap orangpun berbeda-beda. Kedewasaan spiritual dan mental menjadi tolok ukur dalam menilai kemampuan setiap pasangan untuk bertahan dan berjuang, hingga akhirnya menang.

Satu hal yang harus kita ingat baik-baik, setiap masalah atau tantangan dalam pernikahan akan membawa kita pada dua posisi akhir, yaitu: menang atau kalah. Menang dalam arti kita tetap teguh berpegang pada janji pernikahan, serta berkomitmen untuk menghadapi, menjalani, bertahan serta memenangkan pertempuran melawan masalah. Atau kalah, dalam arti kita menyerah dan memilih untuk mengakhiri serta meninggalkan medan tempur.

Kedua pilihan itu memang tidak mudah untuk dijalani. Masing-masing memiliki resiko yang harus kita tanggung dan hadapi. Yang tepenting adalah, “Apakah kita mau membayar harga untuk meraih kemenangan itu?” Perjuangan yang kita hadapi menuju pada kemenangan akan menuntut banyak pengorbanan, terutama dalam hal penyesuaian sikap dan pemikiran yang tentu tidak mudah untuk dilakukan. Tak perlu dirinci pengorbanan apa saja yang harus kita lakukan. Tetapi kita semua tahu, sesuatu yang berharga pastilah menuntut pengorbanan yang mahal harganya. Sekarang, apakah kita bersedia membayarnya?

Yang jelas, saat kita dihadapkan pada ujian pernikahan – jika kita tidak menyerah dan mau berusaha demi kepentingan bersama – maka ujian yang kita hadapi akan berakhir pada kemenangan, kedekatan (satu sama lain) dan kesembuhan (jiwa dan roh) pada  kedua belah pihak. Sebaliknya, bila kita memilih untuk menyerah pada ujian ini, maka kita akan berhadapan dengan kekalahan, perpisahan dan luka hati di kedua pihak. Pilihan ada di tangan Anda berdua.

Mungkin beberapa dari kita sedang menghadapi ujian dalam rumah tangga. Resep lulus ujian tentulah “belajar” dan “mempersiapkan diri” dengan sungguh-sungguh:

BELAJAR menerima, memaafkan & mengerti. Serta saling menolong agar pasangan kita dapat kembali pada panggilan awalnya sebagai suami atau istri yang baik.

MEMPERSIAPKAN DIRI meliputi pembenahan hubungan serta kedekatan kita pada Yang Maha Kuasa (karena memenangkan ujian tanpa hikmat dari Tuhan adalah usaha yang sia-sia). Siapkan diri untuk berkomunikasi dengan kerendahan hati, keinginan untuk mendengar serta berfokus pada jalan keluar, bukan pada siapa yang benar atau salah. Siap untuk berkomitmen menjalankan langkah-langkah positif yang telah didiskusikan bersama pasangan agar ujian dapat diselesaikan dengan nilai yang baik. Pada akhirnya, tentukan tujuan baru yang lebih baik bagi pernikahan Anda berdua. Apa serta bagaimana mewujudkannya, sehingga pernikahan Anda akan terus berjalan semakin kuat, semakin indah, semakin melekat dan semakin mesra. (KB/FOF)

SPEECHLESS

image

Daily Mirror di London memuat bahwa ternyata pasangan suami isteri tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan setelah menikah selama 8 tahun. Profesor Hans Jurgens bertanya pada 5000 suami dan isteri di Jerman tentang berapa sering mereka mengobrol. Setelah 2 th menikah mereka berbicara 2-3 menit saat makan pagi, 20 menit saat makan malam, dan beberapa menit lagi di tempat tidur. Menginjak tahun ke-6 mereka mengobrol 10 menit per hari.

Menjelang 8 th pernikahan, ternyata mereka tidak lagi mengobrol. Mungkin orang Indonesia lebih banyak bicara dari pada orang Jerman. Tetapi mudah-mudahan bukan bicara satu arah saja, atau kehabisan topik setelah menikah bertahun-tahun. Beberapa topik supaya mengobrol memperdalam hubungan Anda:

IMPIAN: Tanyakan impiannya dan bagaimana Anda bisa membantunya mencapai impian itu.  Bisa juga tanyakan pengandaian, “Kalau kamu dapat Rp. 1 milyar, akan kamu gunakan untuk apa uang itu?”

TV DAN FILM: menjadi topik menarik, karena banyak hal yang bisa digali: pelajaran yang ditarik dari film itu, motivasi tiap karakter, dll. Obrolan yang sedikit “mendalam” jauh lebih menarik dari pada sekedar komentar betapa kerennya aktor yang membintangi film tersebut.

TUHAN: Tanyakan apa yang menjadi bebannya untuk didoakan. Bicarakan kebaikan Tuhan yang Anda rasakan hari itu. Bicarakan apa yang Anda berdua bisa lakukan dalam kegiatan sosial kemanusiaan.
Masih banyak topik lainnya, yang penting gunakan pembicaraan itu untuk lebih mengerti pasangan Anda, menggali keinginannya, membuat ia merasa didengarkan, selain mengarahkan Anda berdua pada tujuan yang sama. Eleanor Roosevelt berkata, “Pikiran yang besar berbicara tentang ide. Pikiran yang kecil berbicara tentang orang.” Apa yang Anda dan pasangan bicarakan? Menggosipkan tetangga/rekan kerja, atau bicara hal-hal yang berarti? (EI / FOF)