A CRANKY MAMA!

“Everyone, stop calling my name and stop asking mommy about anything, okay. I’m tired!” Setengah berteriak saya berkata kepada anak-anak saya dan seisi rumah. Hari itu saya merasa extra lelah dan bad mood. Entah mengapa. Beberapa menit setelah saya mengultimatum seisi rumah untuk berhenti ‘mengganggu’ saya, rumahpun sepi, dan… hati saya mulai diliputi rasa bersalah. Ah, jadi galau!

1457884400057

Berapa banyak isteri dan ibu yang mengalami dan merasa seperti saya? Disatu sisi kita ingin sekali menjadi isteri dan ibu teladan, tapi disisi lain kita (ternyata) hanya manusia biasa yang butuh istirahat, menarik nafas dan sekedar duduk diam tanpa melakukan apa-apa. We just want our quiet moment. And usually we want that at the busiest schedule of the day! HAHA…

Saya rasa masalah ini tidak hanya berhubungan dengan ibu rumah tangga saja. Tetapi ibu bekerja pun mengalami hal yang sama. Intinya, apapun karier dan kesibukan ibu, sekali waktu kita amat sangat membutuhkan momen berdiam diri – tidak melakukan apapun, tidak berkata apapun, tidak berpikir apapun. Kita. Ingin. Istirahat. Bahasa kerennya, hibernating moment. Pertanyaannya: Apakah bisa? Beberapa kali saya (dengan gaya sok idealis) berusaha melakukan momen hibernasi ini. Tetapi dalam waktu 10 menit, hati saya mulai diliputi rasa bersalah, lalu otak saya mulai memikirkan schedule esok hari, “Oh besok si adik harus bawa ini. Oh si kakak besok les, harus dijemput jam sekian, bla.. bla.. bla..” Momen hibernasi pun GAGAL TOTAL!

Bulan Maret 2016 ini, tema Social Media FOF INDONESIA adalah Getting to Know Your Spouse / Kids / Family. Dan saya merasa, topik ini cukup tepat untuk diangkat. Sebagai perempuan yang mewakili jutaan isteri dan ibu, saya ingin menyuarakan isi hati mereka juga. Bukan tentang hal berat serupa kesetaraan gender atau lainnya, tapi hal sederhana yang seringkali kita abaikan, padahal amat kita butuhkan: A quiet moment, a hibernating session, a moment to be alone and NOT doing things that WE HAVE TO, but doing things that WE WANT TO. 

Kepada para pria, selaku suami dan ayah, ada baiknya Anda mulai mencatat hal-hal yang akan saya ungkapkan berikut ini. Jangan khawatir, saya tidak bermaksud memprovokasi para isteri (HAHA..) justru saya ingin para suami dan ayah belajar memahami  isteri Anda dengan lebih baik lagi.

  1. BE THOUGHTFULNothing is sexier than a thoughtful husband. Jadilah suami yang sensitif terhadap kebutuhan isteri untuk merasa dikasihi dan dimengerti. Bukan dengan materi (saja), tapi lebih daripada itu, dimengerti perasaan dan pikirannya. Caranya? Mudah sekali. Ambil waktu untuk mempelajari bahasa tubuh dan kebiasaan isteri Anda. Suami saya orang yang sangat pandai dalam hal ini. Hanya melihat saya naik ke tempat tidur diwaktu yang tidak biasa, ia langsung tahu bahwa saya lelah dan ingin istirahat. Ia lalu akan menutup pintu kamar dan membiarkan saya beristirahat.
  2. HELP YOUR WIFE. Tolonglah isteri Anda. Bentuk pertolongannya bisa bermacam-macam. Jika isteri Anda seorang ibu rumah tangga, bantulah ia dengan melakukan hal-hal simple seperti membereskan rumah yang berantakan, mencuci piring, mencuci kamar mandi, mengajak anak-anak keluar rumah, agar isteri dapat santai sejenak menikmati me time nya tanpa gangguan, atau hal lain yang menurut Anda dapat mengurangi beban isteri saat ia merasa kelelahan. Jika Anda kurang paham apa yang dapat Anda lakukan untuk menolong dia, JANGAN MALU BERTANYA.
  3. GIVE HER ASSURANCE.  Isteri yang Anda nikahi sekarang mungkin (menurut Anda) sudah tidak terlihat semenarik dulu, tetapi ingat: Ia masih dan selamanya akan menjadi isteri Anda, hingga maut memisahkan. Seorang isteri bukannya tidak tahu kalau suaminya mencintai dia. Tentu kami tahu. Tapi kami ingin mendengar para suami melontarkan pujian (bukan rayuan gombal!) yang dapat memberi energi dan mengembalikan rasa percaya diri, bahwa kami dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan dalam hidup suami kami. Kuncinya: Jangan gengsi memuji!
  4. I GOT THIS!  Sebuah kalimat dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih: Biar saya yang urus. Anda sadari atau tidak, saat ini semakin sedikit suami dan ayah yang mampu mengatakan dan melakukan hal ini. Banyak suami atau ayah yang ‘merasa’ isterinya sudah paham dan dapat melakukan hampir segala hal sendiri, termasuk mencuci mobil, service mobil bulanan ke bengkel, menelepon tukang untuk memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah, dan lain sebagainya. TENTU SAJA kami bisa! Tapi terkadang kami ingin menjadi istri yang terima beres dalam hal-hal seperti ini. Kami ingin para suami berkata: “It’s okay sayang, biar aku saja yang urus.” Perkataan seperti ini seperti air yang dituang diatas kepala yang panas karena terpanggang terik matahari.
  5. PHYSICAL TOUCH IS IMPORTANT. Hal terakhir yang mungkin ingin sekali saya sampaikan adalah untuk sering-sering memberi sentuhan sayang kepada isteri Anda. Sentuhan fisik bukan melulu soal aktifitas seksual. Tetapi sentuhan-sentuhan kecil namun hangat yang dilakukan suami kapan saja, dimana saja sebagai ekspresi rasa sayang. Untuk beberapa suami mungkin membutuhkan perjuangan atau latihan khusus dalam melakukan kebiasaan ini. Tetapi teruslah berusaha untuk melakukannya. Isteri Anda akan merasa seperti memiliki energi baru yang luar biasa saat mendapati suaminya mengelus punggungnya, memijit kakinya, mengusap kepalanya atau mencium lembut pipi atau bibirnya. Hal-hal sederhana yang mungkin sudah kita lupakan (saking sibuknya!), mari lakukan kembali.

Akhir kata, semoga tulisan saya ini dapat membantu para suami dan ayah untuk ‘mengerti’ keinginan dan kebutuhan isteri Anda untuk merasa dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan. Dan bagi para isteri, semoga tulisan ini dapat mewakili setidaknya sepersekian persen dari sekian banyak harapan Anda kepada sang suami. Mari berlomba dalam memberi dan melakukan kebaikan bagi pasangan Anda. Belajarlah untuk mencintai dan mengerti, mengasihi dan melindungi, mempraktekkan berbagai ilmu positif yang kita lihat, kita dengar dan kita baca demi kelanggengan hidup pernikahan kita. Selamat berjuang dan teruslah mencintai pasangan Anda. (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA)

1457883638257

 

 

 

MEMAHAMI REMAJA

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa (misalnya perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki).

Selain aspek fisik, secara kognitif anak pun mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orangtua perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orangtua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi bantahan sebagai ekspresi pernyataan pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosioemosional remaja.
Secara sosioemosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orangtua.
Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orangtua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebayanya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.
Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya masih berproses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih dan menentukan nilai dan prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Oleh karena itu orangtua sering melihat bagaimana remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, tetapi bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-4 aspek tersebut: fisik, kognitif, sosioemosional dan moral, dapat disimpulkan bahwa si remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orangtua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami si remaja, akan membuat orangtua dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan si remaja.

Misalnya terkait pubertas, orangtua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, berikut bagaimana menyikapinya. Tentang kemampuan berpikir, orangtua hendaknya tidak memaknai pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi memang konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orangtua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosioemosional remaja, diperlukan kebesaran hati orangtua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minatnya, tetapi tetap dalam batasan koridor norma aturan keluarga yang jelas. Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Pada dasarnya, yang dibutuhkan remaja ada penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. (Ibu Pinkan Margaretha Bolang untuk FOF Indonesia)

SERVING THE LOST: Melayani Mereka Yang Terhilang.

Pastikan kita adalah orang-orang yang senantiasa menggunakan potensi diri setiap saat untuk menciptakan, merubah, menyembuhkan, mempersatukan dan membangun kehidupan sesama. KITA BISA!

Dalam sebuah kesempatan, seorang wartawan bertanya pada Mother Theresa, “Mengapa Anda begitu semangat melayani para pengemis dan gelandangan ini setiap hari? Toh jumlah mereka dari tahun ke tahun tak pernah berkurang? Anda rela meninggalkan kedudukan sebagai Kepala Sekolah (sebuah kedudukan yang terpandang dan tidak mudah untuk diperoleh saat itu) demi pengemis dan gelandangan, apa alasan Anda?“ Lalu Mother Theresa menjawab: “ Saya dipanggil Tuhan bukan untuk sukses secara jabatan. Saya dipanggil Tuhan untuk melayani orang-orang yang terhilang.” Sebuah jawaban yang membuat saya merinding, terharu dan tersentuh. Mother Theresa telah menginspirasi saya untuk melayani orang-orang yang tersingkir, dilupakan bahkan dicap sebagai “sampah masyarakat”.

Tak terasa, hampir dua tahun saya melayani mereka melalui Lembaga Pemasyarakatan Wanita Dewasa di Tangerang. Sebuah pelayanan yang membutuhkan komitmen dan kesediaan hati untuk menampung air mata warga binaan di LAPAS. Pelayanan ini menuntut ketulusan dan kerendahan hati, sikap ramah dan kemampuan untuk menangkap, menganalisa, dan mengeksplorasi kisah yang diungkapkan mereka. Dan pada akhirnya, kita diharapkan dapat menopang, membimbing dan membantu proses kesembuhan luka bathin mereka, serta memberi harapan untuk bangkit dari keterpurukan. Kasus yang saya tangani bermacam-macam. Mulai dari keinginan bunuh diri dengan minum cairan pembersih lantai, mencoba melarikan diri dengan melompat tembok yang akhirnya terjatuh dan terluka, kasus depresi sehingga setiap hari berteriak dan menangis ketakutan, ada yang kesulitan bicara dan hanya bisa menangis karena rindu pada anak-anaknya, ada sulit makan dan mengidap insomnia (tidak bisa tidur) karena menyesali perbuatannya, dan masih banyak lagi.

Disana saya hadir secara jasmani dan rohani untuk menguatkan mereka. Saya paham perasaan mereka yang kesepian, merasa tidak berharga dan kebingungan. Mereka membutuhkan kasih serta perhatian kita. FOF Indonesia Ambasador hadir dengan agenda restorasi, dimana melayani orang-orang terhilang adalah salah satunya. Dan para ambassador dari Focus On The Family Indonesia ini siap untuk menjadi perpanjangan tangan dalam membantu proses pemulihan jiwa mereka. Kitapun sebagai wanita, istri dan ibu, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi alat restorasi bagi orang-orang sekitar kita. Dan kita dapat memulai kapan saja, dimana saja, dengan apa yang kita miliki. Adakan waktu untuk melihat dan memperhatikan lingkungan sekitar kita, karena PASTI ada saja orang atau keluarga yang membutuhkan pertolongan kita. Menjadi agen perubah tidak harus melakukan hal-hal fantastis dalam jumlah besar. Tetapi inti dari keberadaan kita didunia ini adalah untuk berkarya. Berkaryalah sebaik-baiknya bagi orang yang membutuhkan sentuhan tangan, pikiran dan juga perasaan kita. Jangan hidup tanpa menggali potensi-potensi besar dalam diri. Pastikan kita adalah orang yang senantiasa berusaha setiap saat untuk menggunakan potensi kita untuk menciptakan, merubah, menyembuhkan, mempersatukan dan membangun kehidupan sesama. KITA BISA! (Ibu Krisna Dewi Maharti Untuk FOF INDONESIA)

image

FOF INDONESIA AMBASSADOR

image

Hello family, melalui blog kali ini, kami ingin memperkenalkan sepuluh Ambassador FOF INDONESIA yang terdiri dari para istri dan ibu dengan berbagai macam latar belakang kehidupan, kepercayaan, pendidikan dan profesi. Satu hal yang mempersatukan kami adalah “Hati kami bagi keluarga Indonesia.”

Jika kita melihat sejenak keadaan sekeliling kita, rasanya hari-hari belakangan ini kita sedikit sulit menemukan keindahan dan kebaikan dalam hidup sehari-hari. Sifat individualisme menjadi bertambah nyata, kita seperti tidak punya (atau tidak rela meluangkan) cukup waktu untuk memperlihatkan kepedulian kepada sesama, ditambah dengan minimnya rasa ingin berbagi, apalagi menolong.

Sebuah gambar kenyataan yang menyedihkan. Dari situlah kami memutuskan untuk membuat program-program keluarga yang kami miliki menjadi LEBIH NYATA.

FOF INDONESIA Ambassador dibentuk dengan agenda utama untuk  merestorasi hubungan dalam keluarga. Berbeda dari NGO lain yang mayoritas berfokus pada penyediaan dana, kebutuhan pangan / SEMBAKO, pendidikan atau benda-benda ekonomi lainnya, FOF INDONESIA memiliki intangible focus yaitu  merestorasi hubungan suami istri, orangtua anak dalam keluarga serta membangun karakter dan mentalitas anak-anak Indonesia melalui tiga pilar utama FOF INDONESIA, yaitu: seminar, konseling dan media (TV/Radio). Kami berharap, melalui kegiatan ini kami dapat mengembalikan nilai-nilai dan tradisi keluarga Indonesia yang seharusnya.

Kesepuluh ambassador kami ini nantinya akan terjun langsung dalam mewujud nyatakan berbagai program FOF INDONESIA berdasarkan tiga pilar utama tadi. Kami akan melakukan berbagai seminar, pelatihan, berbagi tips tentang keluarga, konsultasi, mengajarkan berbagai ketrampilan, dan sebagainya.

Selain itu, kami juga akan  melakukan kunjungan ke Lapas, komunitas keluarga pra-sejahtera dan berkomitmen untuk lebih terlibat dalam dunia sosial, politik, kewanitaan, anak, pendidikan dan – tentunya – keluarga.

Adapun official gatherings (pertemuan resmi) yang akan kami lakukan setiap tahunnya meliputi: FOF INDONESIA High Tea Gatherings (dua kali setahun), kunjungan ke KEMENTRIAN, KEMENKUMHAM, Pemberdayaan Wanita, Kementerian Sosial, BKKBN, company visitation, kunjungan ke berbagai institusi Pemerintahan Daerah, serta liputan apresiasi kepada pihak media.

Struktur organisasi FOF INDONESIA AMBASSADOR terdiri dari:

1. Valerie Mellanov (Ketua Umum)
2. Vera Suriasubrata (Ketua)
3. Krisna Dewi (Sekjen)

Yang beranggotakan sepuluh wanita:

1. Dewi Chandra
2. Esther Idayanti
3. Famela Frospenta
4. Ivone Kambey
5. Karina Budiman
6. Nenden Fleischmann
7. Pingkan Margaretha
8. Windy Tirayoh
9. Sylvana Juita
10. Marlienna Suwito

Dengan demikian, kami memohon doa restu serta dukungan dari seluruh keluarga Indonesia, agar setiap program dan rencana kerja yang telah kami susun rapih ini dapat terlaksana dengan baik, sehingga impian kami untuk membangun, merestorasi dan menanamkan nilai-nilai tradisi dalam keluarga Indonesia dapat terwujud. (KB/FOF INDONESIA)

SEDIKIT CATATAN TENTANG CINTA

Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna.

image

Saya bukan pakar pernikahan. Bukan pula seorang istri atau ibu yang sempurna. Sama seperti kalian, saya juga memiliki banyak impian, harapan dan – sedang berjuang tiada henti – demi menciptakan kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Mengamati serta mendengar kisah pernikahan dari banyak kawan, sahabat dan saudara, selalu menambah ‘sesuatu’ dalam pikiran dan hati saya. Dua hal yang bisa saya simpulkan setelah berbincang dengan mereka:

1. Tak ada pernikahan yang sempurna.
2. Bahwa tiap kita selalu memiliki 3 pilihan dalam menjalaninya: melanjutkan, menyerah, atau berusaha sekuat dan sebaik yang kita mampu, setiap saat. (Give up, give in or give all we got!).

Saya semakin sadar, dunia saat ini berputar terlalu cepat. Seingat saya semua itu terjadi sejak segala sesuatu diberi label FAST. Fast food, fast communication, fast interaction, fast information, fast result dan berbagai macam ‘fast’ lainnya. Dunia semakin tak bisa menikmati proses alami dari banyak hal. Orang lebih memilih membeli makanan kaleng atau makan fastfood. Alasannya: biar cepat!

Orang lebih suka bertegur sapa dengan chat apps daripada bertemu muka dan berbincang. Alasannya: biar cepat! Orang lebih suka mencari info dari internet atau berkirim ‘kartu digital’ kepada teman dan keluarga, karena (guess what?) LEBIH CEPAT sampai dan langsung dibaca. Tak ada lagi rasa deg2an menanti pak pos mengantar surat pacar. Atau silaturahmi kepada sanak keluarga (karena merasa toh tiap hari sudah berbincang lewat chat apps).

TAK ADA YANG SALAH DENGAN SEMUA ITU. Asal digunakan sesuai porsinya. Yang salah adalah, jika gaya hidup serba cepat itu lalu mempengaruhi karakter dan cara pandang kita terhadap kehidupan. Kita lebih suka MENGGANTI daripada MEMPERBAIKI. Kita lebih suka HASIL daripada PROSES. Dan gawatnya, hal itu diimplementasikan dalam segala segi kehidupan, termasuk PERNIKAHAN. Semakin jarang pasangan yang memilih untuk ‘memperbaiki’, apalagi mencintai ‘proses’. Dan semakin banyak pasangan yang lebih suka ‘mengganti’ dan berfokus pada ‘hasil’ tapi tidak pada proses & perbaikannya.

Saya adalah salah satu dari banyak wanita  istri dan ibu yang masih & (mudah2an dengan kasih karunia Tuhan) akan selalu memposisikan PERNIKAHAN sebagai sebuah ‘lahan kudus’ yang harus dijaga, ditanami, dirawat dan diberi ‘makan’. Saya MASIH PERCAYA, bahwa sebuah pernikahan memang sejatinya harus dijalani ‘hingga maut memisahkan’. Dan proses mencintai seseorang tidak cukup hanya dengan masa-masa bahagia saja. Tetapi yang lebih penting adalah: dimasa sulit. Dimana semuanya seperti tak termaafkan. Disitulah kita perlu menabur lebih banyak pengampunan, kasih, pengertian dan penerimaan.

Usia pernikahan kami baru 18 tahun. Masih ABG memang. Mangkanya saya segan menulis dengan “udara menasehati”. Mungkin lebih tepat kalo disebut “berbagi untuk memberkati”. Jika boleh saya berbagi beberapa hal untuk sahabat-sahabat yang single (dan sedang mencari jodohnya), yang menikah, yang tidak menikah, yang duda/janda atau juga mereka yang telah menikah lagi (dan lagi! Hehehe…). Berikut pemikiran saya (mohon maaf kalau TIDAK SEMPURNA):

1. Jika kamu masih single, fokuslah membangun dirimu menjadi seorang pria/wanita yang baik dan bertanggung jawab (kepada Tuhan, orangtua dan sesama). Orang yang fokus membangun karakter dirinya sesuai dengan KEBENARAN, tentu tak akan dengan mudah memutuskan untuk menikah dengan sembarang orang. Focus on being a Godly man/woman. And you will find the one that attract your Godly  character as well.

2. Jika kamu adalah seorang yang sudah menikah, ingatlah: pernikahan bukan didesign untuk memudahkan hidupmu, tetapi dirancang bagi para pejuang dan pemberani, yang tidak mudah putus asa dan mau terus melakukan yang terbaik, berapapun harganya, hingga maut memisahkan. Pernikahan tidak dirancang untuk orang-orang egois, yang menikah demi harta, tahta, wanita atau kerakusan pribadi semata. Karena pada dasarnya: pernikahan adalah tempatnya berbagi tanpa pamrih dan tanpa ada batasan waktu.

3. Kalau kamu adalah seorang yang sedang memutuskan untuk berpisah atau meninggalkan pasanganmu, ingatlah: Jangan selalu mengakhiri segala sesuatu dengan perpisahan. Karena berpisah bukan selalu jawaban terbaik. Berusahalah dahulu. Belajarlah mencintai proses. Mundurlah dari ranah keegoisan dan mulailah mementingkan kebahagiaan pasanganmu lebih daripada kepentinganmu sendiri. Berikan waktu pada CINTA untuk bangkit kembali. Seorang yang peduli pada kebahagiaan orang lain UMUMNYA akan merasakan kebahagiaan yang LEBIH BANYAK dari yang dia harapkan. Ingat: memberi selalu lebih baik daripada menerima. Sementara bercerai itu seperti bom waktu yang meninggalkan tapi tidak menyelesaikan masalah. Hanya menguburnya, dan suatu saat akan naik ke permukaan lalu MELEDAK dan mengacaukan kehidupan baru Anda.

4. Jika Anda adalah duda/janda yang merindukan kesempatan kedua, saya berharap Anda memulai lagi dengan pemikiran yang bijaksana. Bahwa pernikahan adalah seperti yang saya katakan di nomor 2. Secantik apapun istri barumu, sekaya apapun suami barumu, masalah dalam pernikahan akan selalu ada. Mungkin beda bentuknya. Tapi semua selalu tentang “ujian terhadap kemampuan kita untuk mencintai, mengampuni, mengerti dan menerima, apapun, bagaimanapun & sampai kapanpun.” TITIK. Jadi jangan Anda pikir, pasangan barumu akan menghindarkanmu dari masalah. Ingat: Mobil baru hanya terasa baru di bulan pertama. Setelah itu ia tetap harus dibawa ke bengkel untuk dirawat & diperbaiki.

Akhirnya, dengan segala hormat dan kerendahan hati, saya memohon kepada setiap suami/istri, setiap ayah/ibu, mari kita menjadi orang-orang yang mencintai proses dalam sebuah hubungan. Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna. Do not judge your spouse just because he/she sinned differently than you. Adalah tanggung jawab kita sepenuhnya untuk membuat pasangan kita menjadi lebih baik; kamu terlihat lebih baik karena aku, dan aku terlihat lebih baik karena kamu. Let’s build each other and kill every problem with kindness, love, forgiveness, understanding & acceptance. This is an UNCOMPROMISED LEGACY yang wajib kita tinggalkan bagi anak-anak kita. Have a great journey together! (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA) #TogetherStronger #RelationshipMatters #LoveConquersAll

MOTHER & SON CONNECTION

image

Harapan kami adalah: Agar setiap ibu mau mengambil waktu untuk membangun hubungan dari hati ke hati dengan anak-anaknya, serta menyadari pentingnya menerapkan lima bahasa kasih bagi perkembangan jiwa, kestabilan emosi dan kepribadian yang kuat pada anak-anaknya.

Sekali lagi, Focus On The Family Indonesia sukses menggelar event keluarga bertajuk “Mother & Son Connection” yang diadakan pada Sabtu, 30 Mei 2015 yang lalu. Acara yang mengedepankan hubungan ibu dan anak lelakinya ini diikuti oleh 18 pasang ibu-anak yang datang dari berbagai kalangan dan latar belakang kepercayaan.

Tak seperti event FATHER & DAUGHTER DATE yang terkesan lebih formal, MOTHER & SON mengetengahkan suasana yang lebih relax dan laid back. Pernak pernik bernuansa bunga dan kotak-kotak menghiasi meja dan seluruh ruangan, dengan latar hijau dan orange sebagai warna utama. Setiap ibu dan anak lelaki yang hadir seperti tak sabar ingin segera memulai acara yang juga merupakan launching perdana FOF Indonesia untuk event MOTHER & SON.

Acara dibuka dengan sambutan dari direktur FOF INDONESIA, Madame Valerie Mellanov. Diikuti dengan sharing tentang hubungan IBU & ANAK yang disampaikan oleh pakar keluarga, Ibu Hanna Kristanto. Beliau menyampaikan betapa istimewanya hubungan seorang ibu dan anak lelaki. Sebagai seorang ibu dari tiga anak, dimana salah satunya adalah anak lelaki, Ibu Hanna merasakan bonding yang berbeda dengan anak lelaki. Seorang anak laki-laki yang memiliki hubungan yang baik dengan ibunya, akan tumbuh menjadi pria yang lebih pengertian, sabar dan tahu menghargai wanita. Dan adalah tugas sang ibu untuk mengajarkan hal ini kepada anak lelakinya.

Sharing kali ini menitik beratkan pada Lima Bahasa Kasih, sebuah ungkapan universal yang seharusnya menjadi bagian dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kita, baik itu laki-laki maupun perempuan. Beberapa hal perlu kita garis bawahi dalam mendidik dan membesarkan anak lelaki agarvterhindar dari perilaku yang menyimpang. Setiap orangtua wajib berkomitmen untuk menciptakan hubungan pernikahan yang sehat dan stabil, dengan pola yang benar. Anak-anak yang beranjak dewasa perlu mendapatkan informasi yang benar tentang perkembangan seksual dan hal-hal yang menyangkut relationship dengan lawan jenis. Ini penting, agar mereka memiliki gambaran yang positif dan benar tentang sebuah hubungan yang baik. Dan terakhir yang paling penting adalah, seorang anak lelaki harus diajarkan tentang konsep penilaian diri. Mengetahui dengan jelas bahwa dirinya berharga, dikasihi, diterima dan diakui. Sehingga ia mampu menilai dirinya sebagai pribadi yang utuh dan sehat secara jasmani, rohani dan kejiwaan. Hal ini akan mencegah anak-anak lelaki memiliki kepribadian atau perilaku seksual yang menyimpang.

Acara ditutup dengan membuat Sandwich bersama. Setiap pasang ibu dan anak berlomba menghasilkan sandwich terbaik mereka. Lalu para ibu dan anak saling membacakan surat dan menyatakan isi hati mereka masing-masing. Tentu ini menjadi momen hujan airmata bagi setiap yang hadir. Karena bagi beberapa ibu, ini adalah kali pertama mereka sungguh-sungguh memiliki waktu untuk mengungkapkan perasaan mereka kepada sang anak. Tak ada ibu yang tidak mengasihi anaknya. Tetapi seringkali kondisi kehidupanlah yang membuat kita lupa untuk mengekspresikan kasih kita kepada anak-anak kita.

Sebagai launching perdana MOTHER & SON CONNECTION, acara ini terbilang cukup sukses. Dan kami tidak sabar untuk menggelar kembali acara yang sama, bagi pasangan ibu anak lainnya. Karena merupakan kebahagiaan dan suatu kehormatan bagi  jika kami bisa turut ambil bagian dalam perubahan, perkembangan dan keutuhan sebuah hubungan keluarga.

Harapan kami adalah: Agar setiap ibu mau mengambil waktu untuk membangun hubungan dari hati ke hati dengan anak-anaknya, serta menyadari pentingnya menerapkan lima bahasa kasih bagi perkembangan jiwa, kestabilan emosi dan kepribadian yang kuat pada anak-anaknya. Salam hormat dari kami FOF INDONESIA dan sampai jumpa dalam program keluarga berikutnya! (KB/FOF)

DATE WITH DAD – 2

image

Setiap anak berharga. Dan setiap ayah berhak diberi kesempatan kedua.”

Menyadari pentingnya peran seorang ayah dalam kehidupan dan perkembangan karakter putrinya menjadi dasar lahirnya event keluarga bertajuk DATE WITH DAD yang kami persembahkan khusus untuk ayah dan putrinya. Mengapa? Karena mayoritas hubungan para ayah dan anak perempuannya dewasa ini semakin jauh dan mengkhawatirkan. Banyak anak-anak perempuan yang bertumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang orangtua, khususnya ayah mereka.

Ayah beranggapan bahwa urusan merawat dan membesarkan anak adalah murni pekerjaan sang ibu. Sementara pada kenyataannya, anak perempuan yang bertumbuh tanpa figur ayah (entah karena si ayah sibuk bekerja sehingga jarang di rumah, atau karena perceraian) memiliki ketimpangan emosional yang serius. Tak sedikit dari putri-putri yang haus kasih sayang ini mencari bentuk kasih yang hilang itu di tempat-tempat yang salah. Padahal jika saja seorang ayah berkomitmen untuk menyediakan waktu bagi sang putri serta mempraktekkan 5 Bahasa Kasih yang mereka butuhkan (yaitu: Waktu berkualitas, kata-kata penegas, hadiah, layanan & sentuhan fisik) maka anak akan bertumbuh menjadi seorang yang berkarakter kuat, percaya diri serta memiliki gambar diri yang utuh dan positif, karena tangki emosi yang selalu terisi penuh.

image

Sabtu, 16 May 2015 yang lalu merupakan hari yang tidak terlupakan bagi dua belas pasang ayah dan putrinya. Dengan mengusung tema Great Gatsby, Rafflesia Ballroom di Hotel Gran Mahakam disulap layaknya restoran berkelas di pusat kota Paris. Satu persatu, pasangan ayah dan putrinya datang. Awalnya banyak putri-putri yang merasa canggung karena harus duduk berdampingan dengan sang ayah. Mungkin selama ini bahkan ada diantara mereka yang tak pernah duduk berdampingan. Hari itu mereka akan duduk berdampingan selama 5 (lima) jam! 🙂

image

Acara yang dipandu oleh MC Ms. Hadassah Maharanny ini dibuka dengan sambutan dari Direktur FOF Indonesia, Madam Valerie Mellanov, yang menjelaskan pentingnya program ini untuk diadakan secara berkelanjutan.

image

Lalu disusul dengan Bapak Daniel Runtuwene (seorang pakar Keluarga) yang berbagi pengalaman dan tips dalam mengasuh keempat anaknya dimana dua diantaranya kini sudah memasuki usia pemuda dan remaja.

image

Kesaksian Sdri. Vania Cristine menjadi awal dari keharuan event ini. Sebagai seorang remaja putri yang dibesarkan tanpa kehadiran sang ayah, Vania dengan terbuka berbagi kisah hidupnya yang penuh dengan kekecewaan, luka bathin dan airmata. Tetapi toh dengan tegas ia berkata: “Meskipun saya harus melalui semua itu, jika saya diberi kesempatan untuk mengulang kembali hidup saya dari awal, saya tetap akan memilih dia sebagai ayah saya. Karena seburuk apapun dia, dia adalah ayah saya. Dan saya bangga padanya.” Sungguh sebuah perjalanan panjang bagi Vania untuk keluar dari kekecewaan dan mampu mengatakan kalimat yang menguatkan semua pasangan ayah dan putrinya yang hadir pagi itu.

image

Acara puncak DATE WITH DAD adalah aktifitas ayah-anak serta momen dimana ayah dan anak perempuan mereka menulis surat cinta untuk satu sama lain. Serta menuliskan impian mereka masing-masing untuk keluarga dan dirinya. There was no dry eyes in the room, saat satu persatu dari mereka diminta untuk membacakan isi surat atau mengucapkan sepatah dua patah kata pada putri dan pada ayahnya. Semua meneteskan airmata. Betapa setiap anak perempuan yang hadir memiliki kerinduan yang begitu dalam kepada ayahnya; kerinduan untuk dikasihi, dicintai, diperhatikan, dilindungi, diterima dan dimengerti.

image

Sementara para ayah, dengan dandanan gagah mereka, tak juga mampu menahan airmata saat harus mengucapkan sepatah dua kata kepada putri tercintanya. Para ayah ini juga memiliki penyesalan, ucapan syukur, keinginan untuk diampuni, diterima dan menjadi bagian dalam kehidupan putri-putri mereka.

Tentu saja tidak ada kata terlambat! Untuk itulah kami – Focus On The Family Indonesia, menggelar program ini. Karena kami percaya, seburuk apapun hubungan seorang ayah dengan putrinya, setiap anak perempuan dan setiap ayah berhak mendapatkan kesempatan baru serta memulai lembaran baru dalam hubungan mereka sebagai ayah dan anak. Kami berharap event ini akan mengembalikan figur ayah yang hilang, serta mengembalikan hati para anak perempuan kepada ayahnya. Dimana mereka dapat saling memaafkan, menerima, membuang kisah lama yang menyakitkan serta memulai hubungan yang lebih baik, positif, saling mendukung, saling menghargai, saling menyayangi dan saling melindungi. Sehingga tidak ada lagi generasi anak perempuan yang harus memburu kasih sayang diluar rumah dengan cara-cara yang salah dan tidak pada waktunya. Setiap anak berharga. Dan setiap ayah berhak diberi kesempatan kedua. Impian kami adalah agar anak-anak perempuan Indonesia kelak tumbuh menjadi sosok wanita yang kuat, istri yang lemah lembut dan ibu yang berdedikasi serta penuh kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya.

image

Event DATE WITH DAD ini diakhiri dengan berfoto bersama seluruh pasangan. Ada sesuatu yang berbeda saat kami melihat mereka berfoto bersama. Tidak ada lagi kecanggungan atau sikap dingin. Yang ada hanyalah senyum bahagia, kelegaan dan kedekatan yang menghangatkan kami semua, team Father Daughter Date yang bertugas hari itu. Bravo daddies and daughters! And we cannot wait to meet another daddies with their daughters on our next DATE WITH DAD event. (KB/FOF)