THE ART OF RAISING TEENS

unnamed

Masa remaja adalah masa yang menakjubkan. Remaja diibratkan seperti sebuah pesawat ruang angkasa yang siap diluncurkan. Awalnya kita melihat dengan takjub, terutama mengingat mereka akan pergi menuju ruang angkasa. Segala sesuatunya terlihat menggetarkan.

Mari melihat kedalam pesawat luar angkasa tersebut. Setiap penumpang yang berada didalam pesawat sangat bergantung pada perisai panas yang terletak di dasar kapsul pesawat. Perisai panas ini berfungsi untuk melindungi penumpang dari suhu 537,8 derajat Celcius lebih. Jika perisai itu tidak ada atau tidak berfungsi dengan baik, maka seluruh penumpang didalam pesawat akan hangus terbakar.

Adapun ion-ion negatif yang berada di sekitar kapsul menyebabkan hambatan komunikasi dengan pihak bumi kurang lebih 7 menit lamanya. Semua orang di bumi menahan nafas menanti untuk mendapatkan kembali komunikasi yang jernih. Setelah melewati semua itu, komunikasi kembali jernih dan semua orang bersorak sorai lega dan bahagia.

Analogi apa yang kita peroleh dari kisah pesawat luar angkasa ini? Saat anak-anak kita memasuki usia remaja, saat itu pula kita merasa mereka berubah dan menjadi sosok remaja yang sulit dikenali. Setelah masa kanak-kanak lewat dan akil balik datang, kondisi mereka mirip seperti pesawat ruang angkasa yang berjalan menuju tempat peluncuran.

Para orangtua – layaknya penduduk bumi yang menonton detik-detik pesawat ruang angkasa itu akan terbang – mengamati anak-anak remaja mereka yang harus pergi dengan roketnya. Sebagai orangtua kita ingin ikut terbang pergi bersama mereka. Tetapi kenyataannya, hanya ada satu kursi dan satu ruang di pesawat tersebut. Dan saat ion-ion negatif mulai bermunculan mengitari anak-anak kita, para orang tua mulai bertanya-tanya: “Dimana anak saya? Aku tidak bisa melihat mereka. Mengapa dia tidak mau berbicara lagi dengan saya?”

Masa sulit ini dapat berlangsung bertahun-tahun. Remaja yang tadinya senang berbagi cerita, tiba-tiba hanya senang menjawab singkat. “Nggak tau!”. “Mungkin”. “Iya”. “Nggak”. Dan seterusnya. Kondisi ini mirip dengan keadaan didalam pesawat ruang angkasa, dimana mereka hanya dapat berbicara hal-hal penting karena toh mereka merasa untuk apa bicara banyak bila tak banyak orang yang akan mendengarkan.

Lalu orang-orang yang berada di bumi mulai khawatir, “Mengapa tak ada berita atau obrolan yang terjadi didalam pesawat ruang angkasa itu?” Tetapi tak berapa lama, setelah melalui penantian yang cukup panjang dalam ketakutan dan kekhawatiran, pesawat itu akhirnya kembali ke bumi. Penumpang didalam pesawat ruang angkasa itu merasa sudah cukup memperoleh pengetahuan tentang keadaan ruang angkasa. Lalu mereka kembali ke bumi untuk bertemu dengan keluarga, orang tua, saudara-saudara dan teman-temannya.

Pertanyaannya: Apakah ada cara untuk menghilangkan kecemasan serta stres yang bermunculan dalam pikiran orangtua saat anak remaja mereka melakukan ‘perjalanan ke ruang angkasa’ versi mereka masing-masing?

Sebagai orangtua, kita harus paham bahwa hal utama dalam diri seorang anak remaja yang memiliki kekuatan dahsyat adalah hormon remaja, yang seringkali menguasai kondisi emosi anak. Hal ini membuat anak kadang marah tanpa alasan, merajuk, melamun dan galau memikirkan hal sepele, dan sebagainya. Hormon ini menyerang remaja dari berbagai sisi, baik seksual, demotifasi dan sikap agresif.

Hal lain adalah, seorang anak remaja sangat takut tertolak dan dipermalukan oleh teman atau lingkungannya. Mungkin bagi kita para orangtua, sebuah kejadian kecil sifatnya biasa dan lumrah. Tapi tidak bagi anak remaja. Banyak hal-hal kecil yang tak terpikirkan oleh kita dianggap sebagai sebuah aib serius dalam dunia anak remaja. Aneh memang! Tetapi itulah kenyataannya. Harga diri seorang remaja sangat tergantung dari penerimaan teman-teman dan lingkungannya. Itu sebabnya seringkali remaja melakukan tindakan-tindakan tak masuk akal demi menuai pujian dan penerimaan dari lingkungannya. Dan hal ini seringkali sulit untuk dijelaskan kepada orangtua, sehingga timbullah konflik.

Bila kita sedang mengalami kondisi seperti ini, 5 (lima) tips berikut ini mungkin dapat menolong Anda:

1. BERI KESIBUKAN.
Jangan biarkan seorang remaja menghabiskan banyak waktu yang sia-sia dan kurang produktif. Biarkan mereka aktif dalam komunitas positif seperti olahraga, organisasi sekolah, kerohanian, ekskul dan sebagainya.

2. MEMBANTU MEREKA MENGERTI.
Bantu anak memecahkan berbagai masalah yang mungkin tidak dapat ia tangani sendiri. Seperti mengajar anak untuk mulai bertanggung jawab terhadap keuangannya. “Ini ATM untuk kamu. Ibu punya M-banking untuk melihat segala transaksi yang kamu lakukan. Kamu dapat gunakan ATM ini untuk keperluan harian kamu.” Lalu ajarkan dia bagaimana menggunakan uang dengan bertanggung jawab.

Hindari larangan-larangan yang tak masuk akal, mengkritik berlebihan atau memberikan aturan-aturan yang terlalu mengekang. Biarkan anak bebas, selama apa yang mereka lakukan masih dalam batas wajar. Sesungguhnya mereka tidak ingin haknya diambil. Kedengarannya membebaskan mereka seperti sebuah gagasan buruk. Tetapi percayalah, hal ini sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter mereka.

3. SIAPKAN ENERGI CADANGAN.
Sebagai orang tua Anda harus mempersiapkan energi cadangan dengan beristirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan berdoa. Mengapa? Karena Anda akan melalui banyak hal yang menguras energi dan pikiran serta meningkatkan stress level Anda. Oleh karena itu BERSIAPLAH! 🙂

4. DAD, WE NEED YOU!
Diperlukan figur Ayah yang kuat bagi remaja putra. Hobi dan minat yang sama serta kerjasama ayah dan putranya akan menghilangkan segala pemberontakan. Adakan boys time bersama remaja putra Anda. Dibutuhkan pula Ayah yang romantis bagi remaja perempuan. Jika Ayah adalah seorang yang pemarah, penjudi, masa bodoh, meninggalkan dan sebagainya, maka remaja cenderung akan berusaha mencari pengganti figir ayah untuk mengisi kekosongan hati. Dan ini berbahaya. Ayah, hargai remaja putra dan putrimu. Agar mereka juga dapat melihat dirinya berharga.

5. THE ART OF TOUGH LOVE.
Orangtua dapat melakukan ‘tough love’ untuk menangani kasus-kasus berat secara benar. Sebagai contoh: Jika terjadi pelanggaran serius atau berat, katakan pada anak Anda, “Kamu tidak bisa melakukan hal ini. Ini sebuah pelanggaran berat. Jika kamu tidak mau memperbaikinya, kami terpaksa harus memanggil pihak yang berwajib.” Hal ini terdengar mengerikan. Tapi itulah kasih yang sebenarnya. Ajarkan anak Anda untuk bertanggung jawab. Jangan menjadi orangtua yang memohon-mohon apalagi merengek dengan tangisan pada anak remaja Anda, agar mereka kasihan dan berhenti melakukan hal buruk. Seorang anak yang memberontak harus diajarkan untuk berdiri teguh, berani bertanggung jawab dan dapat mengambil tindakan tepat.

Apapun yang terjadi pada remaja kita, lakukan tindakan yang benar untuk mengatasi setiap permasalahan, dan jangan pernah merasa bersalah karena harus memberikan konsekuensi serius pada mereka. Berhentilah melindungi mereka dari tindakan yang destruktif dan akan menghancurkan mereka. TOUGH LOVE amat dibutuhkan untuk menjadi orangtua yang percaya diri, tegas namun bertujuan baik lewat cara-cara yang benar. Semuanya demi masa depan mereka. (Oleh: Vallerie Mellanov | Sumber artikel: Dr. James Dobson – Founder Focus on the Family)

MEMAHAMI REMAJA

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa (misalnya perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki).

Selain aspek fisik, secara kognitif anak pun mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orangtua perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orangtua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi bantahan sebagai ekspresi pernyataan pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosioemosional remaja.
Secara sosioemosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orangtua.
Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orangtua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebayanya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.
Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya masih berproses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih dan menentukan nilai dan prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Oleh karena itu orangtua sering melihat bagaimana remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, tetapi bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-4 aspek tersebut: fisik, kognitif, sosioemosional dan moral, dapat disimpulkan bahwa si remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orangtua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami si remaja, akan membuat orangtua dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan si remaja.

Misalnya terkait pubertas, orangtua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, berikut bagaimana menyikapinya. Tentang kemampuan berpikir, orangtua hendaknya tidak memaknai pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi memang konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orangtua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosioemosional remaja, diperlukan kebesaran hati orangtua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minatnya, tetapi tetap dalam batasan koridor norma aturan keluarga yang jelas. Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Pada dasarnya, yang dibutuhkan remaja ada penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. (Ibu Pinkan Margaretha Bolang untuk FOF Indonesia)

MOTHER & SON CONNECTION

image

Harapan kami adalah: Agar setiap ibu mau mengambil waktu untuk membangun hubungan dari hati ke hati dengan anak-anaknya, serta menyadari pentingnya menerapkan lima bahasa kasih bagi perkembangan jiwa, kestabilan emosi dan kepribadian yang kuat pada anak-anaknya.

Sekali lagi, Focus On The Family Indonesia sukses menggelar event keluarga bertajuk “Mother & Son Connection” yang diadakan pada Sabtu, 30 Mei 2015 yang lalu. Acara yang mengedepankan hubungan ibu dan anak lelakinya ini diikuti oleh 18 pasang ibu-anak yang datang dari berbagai kalangan dan latar belakang kepercayaan.

Tak seperti event FATHER & DAUGHTER DATE yang terkesan lebih formal, MOTHER & SON mengetengahkan suasana yang lebih relax dan laid back. Pernak pernik bernuansa bunga dan kotak-kotak menghiasi meja dan seluruh ruangan, dengan latar hijau dan orange sebagai warna utama. Setiap ibu dan anak lelaki yang hadir seperti tak sabar ingin segera memulai acara yang juga merupakan launching perdana FOF Indonesia untuk event MOTHER & SON.

Acara dibuka dengan sambutan dari direktur FOF INDONESIA, Madame Valerie Mellanov. Diikuti dengan sharing tentang hubungan IBU & ANAK yang disampaikan oleh pakar keluarga, Ibu Hanna Kristanto. Beliau menyampaikan betapa istimewanya hubungan seorang ibu dan anak lelaki. Sebagai seorang ibu dari tiga anak, dimana salah satunya adalah anak lelaki, Ibu Hanna merasakan bonding yang berbeda dengan anak lelaki. Seorang anak laki-laki yang memiliki hubungan yang baik dengan ibunya, akan tumbuh menjadi pria yang lebih pengertian, sabar dan tahu menghargai wanita. Dan adalah tugas sang ibu untuk mengajarkan hal ini kepada anak lelakinya.

Sharing kali ini menitik beratkan pada Lima Bahasa Kasih, sebuah ungkapan universal yang seharusnya menjadi bagian dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kita, baik itu laki-laki maupun perempuan. Beberapa hal perlu kita garis bawahi dalam mendidik dan membesarkan anak lelaki agarvterhindar dari perilaku yang menyimpang. Setiap orangtua wajib berkomitmen untuk menciptakan hubungan pernikahan yang sehat dan stabil, dengan pola yang benar. Anak-anak yang beranjak dewasa perlu mendapatkan informasi yang benar tentang perkembangan seksual dan hal-hal yang menyangkut relationship dengan lawan jenis. Ini penting, agar mereka memiliki gambaran yang positif dan benar tentang sebuah hubungan yang baik. Dan terakhir yang paling penting adalah, seorang anak lelaki harus diajarkan tentang konsep penilaian diri. Mengetahui dengan jelas bahwa dirinya berharga, dikasihi, diterima dan diakui. Sehingga ia mampu menilai dirinya sebagai pribadi yang utuh dan sehat secara jasmani, rohani dan kejiwaan. Hal ini akan mencegah anak-anak lelaki memiliki kepribadian atau perilaku seksual yang menyimpang.

Acara ditutup dengan membuat Sandwich bersama. Setiap pasang ibu dan anak berlomba menghasilkan sandwich terbaik mereka. Lalu para ibu dan anak saling membacakan surat dan menyatakan isi hati mereka masing-masing. Tentu ini menjadi momen hujan airmata bagi setiap yang hadir. Karena bagi beberapa ibu, ini adalah kali pertama mereka sungguh-sungguh memiliki waktu untuk mengungkapkan perasaan mereka kepada sang anak. Tak ada ibu yang tidak mengasihi anaknya. Tetapi seringkali kondisi kehidupanlah yang membuat kita lupa untuk mengekspresikan kasih kita kepada anak-anak kita.

Sebagai launching perdana MOTHER & SON CONNECTION, acara ini terbilang cukup sukses. Dan kami tidak sabar untuk menggelar kembali acara yang sama, bagi pasangan ibu anak lainnya. Karena merupakan kebahagiaan dan suatu kehormatan bagi  jika kami bisa turut ambil bagian dalam perubahan, perkembangan dan keutuhan sebuah hubungan keluarga.

Harapan kami adalah: Agar setiap ibu mau mengambil waktu untuk membangun hubungan dari hati ke hati dengan anak-anaknya, serta menyadari pentingnya menerapkan lima bahasa kasih bagi perkembangan jiwa, kestabilan emosi dan kepribadian yang kuat pada anak-anaknya. Salam hormat dari kami FOF INDONESIA dan sampai jumpa dalam program keluarga berikutnya! (KB/FOF)

DATE WITH DAD – 2

image

Setiap anak berharga. Dan setiap ayah berhak diberi kesempatan kedua.”

Menyadari pentingnya peran seorang ayah dalam kehidupan dan perkembangan karakter putrinya menjadi dasar lahirnya event keluarga bertajuk DATE WITH DAD yang kami persembahkan khusus untuk ayah dan putrinya. Mengapa? Karena mayoritas hubungan para ayah dan anak perempuannya dewasa ini semakin jauh dan mengkhawatirkan. Banyak anak-anak perempuan yang bertumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang orangtua, khususnya ayah mereka.

Ayah beranggapan bahwa urusan merawat dan membesarkan anak adalah murni pekerjaan sang ibu. Sementara pada kenyataannya, anak perempuan yang bertumbuh tanpa figur ayah (entah karena si ayah sibuk bekerja sehingga jarang di rumah, atau karena perceraian) memiliki ketimpangan emosional yang serius. Tak sedikit dari putri-putri yang haus kasih sayang ini mencari bentuk kasih yang hilang itu di tempat-tempat yang salah. Padahal jika saja seorang ayah berkomitmen untuk menyediakan waktu bagi sang putri serta mempraktekkan 5 Bahasa Kasih yang mereka butuhkan (yaitu: Waktu berkualitas, kata-kata penegas, hadiah, layanan & sentuhan fisik) maka anak akan bertumbuh menjadi seorang yang berkarakter kuat, percaya diri serta memiliki gambar diri yang utuh dan positif, karena tangki emosi yang selalu terisi penuh.

image

Sabtu, 16 May 2015 yang lalu merupakan hari yang tidak terlupakan bagi dua belas pasang ayah dan putrinya. Dengan mengusung tema Great Gatsby, Rafflesia Ballroom di Hotel Gran Mahakam disulap layaknya restoran berkelas di pusat kota Paris. Satu persatu, pasangan ayah dan putrinya datang. Awalnya banyak putri-putri yang merasa canggung karena harus duduk berdampingan dengan sang ayah. Mungkin selama ini bahkan ada diantara mereka yang tak pernah duduk berdampingan. Hari itu mereka akan duduk berdampingan selama 5 (lima) jam! 🙂

image

Acara yang dipandu oleh MC Ms. Hadassah Maharanny ini dibuka dengan sambutan dari Direktur FOF Indonesia, Madam Valerie Mellanov, yang menjelaskan pentingnya program ini untuk diadakan secara berkelanjutan.

image

Lalu disusul dengan Bapak Daniel Runtuwene (seorang pakar Keluarga) yang berbagi pengalaman dan tips dalam mengasuh keempat anaknya dimana dua diantaranya kini sudah memasuki usia pemuda dan remaja.

image

Kesaksian Sdri. Vania Cristine menjadi awal dari keharuan event ini. Sebagai seorang remaja putri yang dibesarkan tanpa kehadiran sang ayah, Vania dengan terbuka berbagi kisah hidupnya yang penuh dengan kekecewaan, luka bathin dan airmata. Tetapi toh dengan tegas ia berkata: “Meskipun saya harus melalui semua itu, jika saya diberi kesempatan untuk mengulang kembali hidup saya dari awal, saya tetap akan memilih dia sebagai ayah saya. Karena seburuk apapun dia, dia adalah ayah saya. Dan saya bangga padanya.” Sungguh sebuah perjalanan panjang bagi Vania untuk keluar dari kekecewaan dan mampu mengatakan kalimat yang menguatkan semua pasangan ayah dan putrinya yang hadir pagi itu.

image

Acara puncak DATE WITH DAD adalah aktifitas ayah-anak serta momen dimana ayah dan anak perempuan mereka menulis surat cinta untuk satu sama lain. Serta menuliskan impian mereka masing-masing untuk keluarga dan dirinya. There was no dry eyes in the room, saat satu persatu dari mereka diminta untuk membacakan isi surat atau mengucapkan sepatah dua patah kata pada putri dan pada ayahnya. Semua meneteskan airmata. Betapa setiap anak perempuan yang hadir memiliki kerinduan yang begitu dalam kepada ayahnya; kerinduan untuk dikasihi, dicintai, diperhatikan, dilindungi, diterima dan dimengerti.

image

Sementara para ayah, dengan dandanan gagah mereka, tak juga mampu menahan airmata saat harus mengucapkan sepatah dua kata kepada putri tercintanya. Para ayah ini juga memiliki penyesalan, ucapan syukur, keinginan untuk diampuni, diterima dan menjadi bagian dalam kehidupan putri-putri mereka.

Tentu saja tidak ada kata terlambat! Untuk itulah kami – Focus On The Family Indonesia, menggelar program ini. Karena kami percaya, seburuk apapun hubungan seorang ayah dengan putrinya, setiap anak perempuan dan setiap ayah berhak mendapatkan kesempatan baru serta memulai lembaran baru dalam hubungan mereka sebagai ayah dan anak. Kami berharap event ini akan mengembalikan figur ayah yang hilang, serta mengembalikan hati para anak perempuan kepada ayahnya. Dimana mereka dapat saling memaafkan, menerima, membuang kisah lama yang menyakitkan serta memulai hubungan yang lebih baik, positif, saling mendukung, saling menghargai, saling menyayangi dan saling melindungi. Sehingga tidak ada lagi generasi anak perempuan yang harus memburu kasih sayang diluar rumah dengan cara-cara yang salah dan tidak pada waktunya. Setiap anak berharga. Dan setiap ayah berhak diberi kesempatan kedua. Impian kami adalah agar anak-anak perempuan Indonesia kelak tumbuh menjadi sosok wanita yang kuat, istri yang lemah lembut dan ibu yang berdedikasi serta penuh kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya.

image

Event DATE WITH DAD ini diakhiri dengan berfoto bersama seluruh pasangan. Ada sesuatu yang berbeda saat kami melihat mereka berfoto bersama. Tidak ada lagi kecanggungan atau sikap dingin. Yang ada hanyalah senyum bahagia, kelegaan dan kedekatan yang menghangatkan kami semua, team Father Daughter Date yang bertugas hari itu. Bravo daddies and daughters! And we cannot wait to meet another daddies with their daughters on our next DATE WITH DAD event. (KB/FOF)

KAMI INGIN DIMENGERTI

image

Perihal mendidik anak merupakan salah satu topik hangat yang hampir selalu mewarnai perbincangan para ibu dan ayah. Sepertinya butuh seni TERSENDIRI untuk menjadikan momen ‘mendidik dan merawat’ ini berhasil. Tak sedikit orangtua yang mengeluh dan kewalahan menghadapi anak remajanya. “Wah, kalau minta sesuatu ngotot! Nggak boleh dilarang.” Ujar seorang ibu dari remaja putri. “Tiap hari adaaaa… saja momen ngambeknya. Kadang kita nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba ngambek.” Tambah ibu lainnya yang kelihatan sedikit frustasi menghadapi mood anak remajanya.

Well, suka atau tidak suka, setiap anak akan dan pasti melalui fase ini. MASA REMAJA yang oleh banyak orang disebut sebagai masa terindah (buat si anak), sekaligus masa terseram dan terlelah (bagi si ayah dan ibu) jika kita tak mencoba mengerti ‘bagaimana’ menyiasatinya. Masa remaja memang masa yang penuh tantangan bagi kedua pihak – anak dan orangtua. Disatu sisi, si anak merasa sudah dewasa dan ingin mulai mencoba banyak hal SENDIRI. Sementara orangtua berpikir, anak remajanya ini belum paham dunia nyata dan masih harus dijaga serta diberitahu tentang banyak hal.

Tak sedikit orangtua dan anak yang memiliki pengalaman buruk saat melalui masa-masa ini. Orangtua merasa bahwa anaknya berubah menjadi sosok yang sulit dimengerti. Sementara anak merasa orangtuanya terlalu ingin mengatur dan tidak bisa mempercayai apapun yang mereka lakukan.

Sesi curhat atau ngobrol-ngobrol yang dulu diwarnai canda tawa, kini seringkali berakhir dramatis disertai perbantahan. Ada apa ini? Pikir si ayah. Anak remajanya seolah ANTI terhadap aturan, disiplin dan kata TIDAK yang dilontarkan orangtuanya. Apakah kami telah salah mendidik dia? Ujar sang ibu penuh kekhawatiran.

Firstable, you are not alone! Ada jutaan orangtua di dunia yang sedang menghadapi musim yang sama dengan Anda. Jangan panik! Karena ketenangan adalah kunci dalam menyelesaikan masalah dengan anak remaja. Berbincang dengan sesama orangtua lain yang memiliki anak remaja akan sangat menolong menenangkan Anda, sekaligus menjadi ajang bertukar ilmu.

Dari berbagai obrolan dan keluhan yang muncul di dunia parenting, kami berkesimpulan ada tiga hal dasar yang perlu kita ingat setiap kali kita berhadapan dengan anak remaja:

1. ANDALAH YANG MEMEGANG KENDALI.
Bukan berarti Anda berhak menjadi seorang yang otoriter dan kejam. Tetapi ingatlah, sebagai orang yang sudah lebih dewasa dan (kami harap) lebih bijaksana dalam berpikir, Anda adalah pihak yang memegang kendali serta memiliki kuasa untuk memutuskan. Tentu saja keputusan yang Anda buat haruslah berdasarkan pertimbangan yang matang serta adil bagi kedua belah pihak. Jangan terbawa emosi. Kendalikan diri Anda dan ingatlah: Anak Anda sebenarnya juga sedang menilai kemampuan parenting Anda, apakah ayah atau ibuku ini seorang yang tegas atau dapat kupengaruhi dalam membuat keputusan?

2. PENJELASAN YANG MASUK AKAL.
Orangtua dengan ribuan keluhannya selalu mengalami ‘drama’ saat harus berkata TIDAK kepada anak remajanya. Payahnya, si anak dengan keras kepala tetap meminta orangtua untuk menuruti keinginan mereka. Banyak orangtua tak cukup sabar untuk menjelaskan kepada si anak mengapa keinginannya ditolak! Berikan penjelasan yang masuk akal dan tegas padanya. Beri contoh-contoh relevan yang dapat dimengerti oleh si anak.

Contoh: Daripada Anda berkata, “Tidak boleh. Karena pulang tengah malam itu tidak baik.” Akan lebih masuk akal jika Anda berkata: “Kamu harus pulang pukul 10.00 malam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.” Lalu beri penjelasan tentang keberatan Anda.

3. INGAT, ANDA JUGA PERNAH MUDA.
Saat libur akhir pekan, sesekali ajak anak remaja Anda untuk hangout ke tempat-tempat andalan Anda sewaktu remaja, jika memungkinkan. Ajaklah ia berdiskusi dan tanyakan pendapatnya. “Menurutmu bagaimana? Bagus nggak tempat hangout papa/mama?” Ajak dia mengunjungi tempat-tempat yang sedang ‘happening’ bersama Anda. Beri kesan bahwa Anda juga mengerti dunianya dan keinginan-keinginannya. Hindari sikap ‘menyerang dan menyudutkan sewaktu anak mengutarakan keinginan yang mungkin kurang Anda setujui.

Mulailah mempercayakan mereka untuk melakukan satu dua hal penting sendiri. Jika kita mengijinkan mereka untuk belajar bertanggung jawab, mereka juga akan berusaha menjaga kepercayaan Anda. Dan untuk sesuatu yang berbahaya, Anda perlu menjelaskan alasan Anda berkata tidak pada keinginannya.

Pada akhirnya, akumulasi didikan dan nasehat-nasehat positif yang telah Anda berikan kepada seorang anak sejak ia kecil, pastilah akan mempengaruhi setiap keputusan yang ia ambil. Jangan terlalu khawatir terhadap segala hal. Anak-anak Anda pasti tahu, apa yang Anda sukai atau tidak, apa yang Anda ijinkan atau tidak.

Hal terpenting bagi seorang remaja adalah mengetahui bahwa kedua orangtuanya selalu mendukung, melindungi, mengerti, mengasihi dan dapat diandalkan. Penting bagi mereka untuk memiliki keyakinan bahwa: “My parents is my rock!” Sehingga mereka tidak perlu mencari perlindungan dan kenyamanan di tempat-tempat lain, yang belum tentu benar. Mari belajar memahami kebutuhan remaja Anda untuk dipercaya, diperlakukan seperti seorang yang dewasa dan diberi tanggung jawab lebih untuk mengatur dirinya sendiri. (KB/FOF)

PENTINGNYA SEBUAH KEBERSAMAAN

family

“We may not have it altogether, but together we have it all.”

Kebersamaan adalah sebuah kata sederhana yang ternyata sulit untuk dilakukan, terutama jika melihat kondisi masyarakat kota besar saat ini. Seorang ibu mengaku, ia hanya sempat bertemu dengan anak-anaknya pada hari Sabtu dan Minggu saja. Karena di hari-hari lain, seluruh anggota keluarga sibuk dengan aktifitas masing-masing.

Setiap pagi si ibu (yang adalah seorang single mother) harus berangkat ke kantor pukul 5 pagi, demi menghindari kemacetan ibukota. Tentu saja saat ia pergi, ketiga anaknya masih tidur lelap. Dan ia baru kembali ke rumah sekitar pukul 12 tengah malam, saat anak-anaknya sudah tertidur lelap (lagi). “Kami sudah biasa seperti ini.” Ucapnya. “Sejak bercerai saya harus bekerja untuk menopang kehidupan tiga anak yang semuanya ikut dengan saya. I have no choice!”

Kisah ibu tiga anak ini hanyalah segelintir dari jutaan kisah keluarga yang mengalami kesulitan untuk mempraktekkan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sebuah keluarga. Coba kita cari tahu, ada berapa keluarga yang masih mempraktekkan makan malam bersama? Membantu anak-anak mengerjakan PR? Makan siang bersama? atau ngobrol santai di rumah setiap sore? Rasanya aktifitas sederhana ini sudah agak sulit ditemukan sekarang.

Seberapa pentingkah sebuah kebersamaan? Jawabannya adalah: SANGAT PENTING! Sebagai sebuah keluarga, ayah ibu harus dapat mengambil keputusan untuk meletakkan kebersamaan sebagai sebuah prioritas dalam kegiatan sehari-hari. Setiap kita memiliki 24 jam sehari untuk melakukan, mengelola dan menjalani aktifitas apapun. Dan sudah seharusnya kita mengelola waktu ini dengan sebaik-baiknya.

Manajemen waktu bukanlah sesuatu yang mudah, dan harus dikelola secara serius. Terutama bagi keluarga-keluarga yang memiliki jadwal harian yang cukup padat. Bekerja, sekolah, les, meeting, olahraga dan masih banyak lagi. Semua itu membutuhkan pengaturan waktu yang tidak mudah.

Disinilah perlunya kita bernegosiasi dengan pasangan kita, agar ada kesepakatan dalam menetapkan waktu bersama. Akan selalu ada hal yang perlu dan harus dikorbankan. Dan kami berharap, yang dikorbankan bukanlah anak-anak atau keluarga Anda. Menjadikan kepentingan keluarga sebagai tolok ukur kebersamaan adalah sebuah keharusan. Buatlah komitmen untuk menginvestasikan waktu harian kita agar dapat melakukan satu atau dua hal bersama.

Banyak orang menganggap bahwa dalam kebersamaan yang penting adalah kualitas, bukan kuantitas. Tetapi jika kita telah memiliki sebuah keluarga, kuantitas sama pentingnya dengan kualitas. Karena kuantitas akan menentukan kedekatan satu sama lain, sementara kualitas pertemuan akan membantu kita mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

Ada begitu banyak bencana yang dapat dihindari, bila kita mampu memprioritaskan kebersamaan dalam kehidupan berkeluarga. Seks bebas, penggunaan Narkoba, pergaulan yang merusak, kebiasaan-kebiasaan buruk serta kerapuhan karakter anak adalah beberapa hal dari ribuan hal lain yang dapat kita hindari, jika kita memutuskan untuk membuat kebersamaan sebagai prioritas dalam kehidupan keluarga kita.

Mulailah dengan membuat catatan kegiatan apa saja yang kita lakukan sehari-hari, untuk kemudian menyortir hal-hal yang tidak begitu penting dan menggantinya dengan kebersamaan keluarga.

Dengan mengorbankan beberapa hal, kita telah menyelamatkan lebih banyak hal lain yang berharga, yaitu kelangsungan dan kebahagiaan hidup keluarga kita. Selamat mengatur waktu bersama! (KB/FOF)

SEMUA DIMULAI DARI RUMAH

Parenting with Wisdom

“Right is right even if no one is doing it; wrong is wrong even if everyone is doing it.” –  Augustine of Hippo

Bicara tentang moralitas memang sebuah hal yang lumayan sulit. Karena masyarakat urban abad ini sepertinya sedang meraba-raba, manakah kebenaran dan apa yang salah? Tidak ada lagi hitam atau putih. Yang ada hanyalah area abu-abu. Banyak orang akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu (yang salah menurut ukuran etika, moral dan agama) karena mendapati bahwa sekelilingnya toh juga melakukan hal yang sama.

Contohnya? Sepasang kekasih yang memiliki karier gemilang memutuskan untuk berpacaran. Tak berapa lama merekapun bertunangan. Beberapa hari usai acara pertunangan mereka berlibur ke sebuah pulau berdua saja, dan dengan bangga memamerkan perjalanan ‘honeymoon premature’ itu di media sosial. Teman-teman yang melihat kemudian mengungkapkan rasa turut bahagia, seolah hal yang mereka lakukan itu sesuatu yang wajar, sewajar makan tiga kali sehari.

Saat ini, semua yang salah dianggap benar, apabila mendatangkan kesenangan. Dan semua yang benar dianggap kuno, karena merasa “Sudah tidak ada lagi orang yang melakukan hal itu, jaman sekarang ini.”

Dapat dipastikan, saat sepasang kekasih diatas membangun keluarga dalam pernikahan yang sesungguhnya, mereka akan menjadi orangtua paling paranoid yang memiliki ketakutan besar dalam menjaga anak-anaknya.

Mengapa? Karena sesungguhnya, jauh didalam hati mereka, mereka tahu betul, bahwa apa yang dulu mereka lakukan adalah sebuah pelanggaran terhadap nilai-nilai moral, etika dan agama. Dan mereka sangat khawatir bila anak-anaknya melakukan hal yang sama. Setiap gerak-gerik anak-anak selalu dipandang dengan penuh curiga. Rajin menyelidiki dan tak mudah percaya.

Lalu bagaimana cara membangun sebuah keluarga agar suami, istri dan anak-anak menjadi sosok yang menghormati nilai-nilai moral dan etika? It’s time to go back to the basic principle. Everything starts from our home.

Rumah haruslah menjadi awal dan sumber segala hikmat dan pengetahuan akan nilai-nilai kebenaran. Apapun latar belakang kepercayaan setiap orang, pasti memiliki aturan-aturan dan nilai-nilai kesucian yang dijunjung tinggi.

Menjadi orangtua di jaman globalisasi tanpa batas seperti ini memang bukan pekerjaan mudah dan menyisakan PR yang amat banyak dan rumit. Tetapi keputusan ada ditangan kita, para orangtua. Apakah Anda dengan sungguh-sungguh mau menyediakan waktu untuk mengajar dan mendidik anak-anak Anda tentang nilai-nilai itu? Ataukah kita memilih untuk menyerahkan semua itu kepada lingkungan (yang akan dengan senang hati mengajarkan SEGALA HAL kepada anak-anak kita without any filter!) That is scary.

Kita harus mulai mengubah pola pikir dalam menilai sebuah kesuksesan. Membekali anak dengan kebutuhan jasmani tak lantas membuat kita menjadi orangtua yang sukses. Kesuksesan menjadi orangtua di jaman ini seringkali dinilai dari sudut-sudut yang kurang tepat. Seperti:  Dimana anak-anak bersekolah, les apa yang mereka ambil, dengan kalangan mana mereka berteman, prestasi apa yang mereka peroleh di sekolah, tanpa peduli pada pertumbuhan rohani dan kedewasaan moral mereka.

Kesuksesan jasmani dan materi tentulah sebuah pencapaian yang baik dan membanggakan. Tetapi jika hanya itu yang menjadi tujuan dan acuan kita sebagai orangtua, maka celakalah kita!

Apakah mereka menjadi remaja yang dapat berkata tidak pada seks bebas? Menolak NARKOBA? Hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kesucian? serta menjadi contoh bagi teman-temannya yang tersesat dan salah pergaulan? Ini merupakan kesuksesan yang sejati dan utama. Sementara kesuksesan jasmani dan materi yang diperoleh anak-anak itu hanyalah pendukung (walaupun tak kalah pentingnya).

Kesuksesan yang terlihat oleh mata dapat hilang kapan saja. tetapi mental dan karakter yang kuat, kedewasaan rohani serta pengertian yang dalam akan pentingnya nilai-nilai etika dan moral adalah kesuksesan yang tak dapat dicuri oleh siapapun dan apapun juga!

Sebuah bahan perenungan yang dalam bagi setiap kita, para orangtua. Ingatlah bahwa semua dimulai dari ayah dan ibu. Mungkin masa lalu Anda tak terlalu gemilang untuk dijadikan contoh bagi anak-anak Anda. Tetapi justru dari situlah kita belajar, bahwa mengajarkan hikmat dan nilai-nilai kebenaran kepada anak-anak kita merupakan harta abadi serta warisan terbesar yang harus kita berikan, jaga dan lakukan kepada mereka tanpa batas waktu.

Mari ambil alih kendali dalam mendidik anak-anak kita. Jangan biarkan mereka terombang-ambing mencari-cari dari sumber yang salah. Mari berkomitmen menjadi orangtua yang peduli terhadap pendidikan moral dan mental anak-anak kita. Dan semua itu dimulai dari satu tempat yang tidak jauh, yaitu rumah kita sendiri! (KB/FOF)