IBU VS ISTRI: PILIH YANG MANA?

image

…dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

Sebuah masalah klasik yang terjadi di hampir setiap pernikahan, dimana seorang suami sering diperhadapkan pada keadaan: Membela ibu atau istri? Mengutamakan ibu atau istri?

Akan lebih baik dan lebih mulus jalannya bila seorang calon istri mengambil waktu untuk mengenal lebih dekat bakal calon ibu mertuanya. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang muncul di kemudian hari dapat lebih mudah teratasi. Begitu pula dengan sang anak lelaki, atau calon suami. Ada baiknya secara terbuka berbicara pada ibunya dari hati ke hati tentang seberapa jauh ia ingin sang ibu mensupport pernikahan dan hubungannya dengan istrinya.

Dengan demikian, hubungan ibu dan anak lelaki serta menantu perempuan akan lebih jelas dan terarah serta saling mengerti dan menghormati posisi masing-masing.

Dr. Sylvia L. Mikucki-Enyart, seorang asisten profesor bidang Komunikasi di Universitas Wisconsin melakukan penelitian terhadap 89 orang ibu mertua, dan ditemukan beberapa kekhawatiran mendasar (yang mirip satu sama lain) tentang pernikahan anak lelakinya. Ternyata, ibu yang memiliki anak lelaki jauh lebih khawatir untuk melepas anak lelakinya masuk dalam pernikahan, dibandingkan melepas anak perempuannya.

Kekhawatiran itu adalah:
1. Apakah hubungan IBU-ANAK akan berubah?
2. Apakah anak saya akan menjadi jarang berkunjung atau menelepon?
3. Apakah ia akan mengisi liburan bersama kami atau tidak?
4. Apakah ia akan tetap setia membela dan bergantung pada kami atau tidak?
5. Apakah dia akan cukup makan yang sehat dan bergizi?
6. Bagaimana istrinya akan memperlakukan dia nanti?

Dr. Mikucki-Enyart juga melakukan penelitian terhadap 133 menantu perempuan. Dan ternyata, mereka pun memiliki beberapa kekhawatiran, yaitu:

1. Apakah ibu mertua saya akan terlalu ikut campur dalam banyak hal di pernikahan kami?
2. Apakah ibu mertua saya mampu mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik? (Atau akan sering merongrong suami saya dan meminta bantuan keuangan).
3. Apakah ibu mertua saya akan menjelek-jelekkan saya pada suami saya?

Dalam pernikahan, sebab utama ketegangan antara ibu mertua dan menantu perempuan adalah: Adanya kompetisi dalam hal siapa yang lebih baik dalam merawat / melayani si anak lelaki; Ibunya kah? Atau sang istri?

Untuk itulah dibutuhkan sikap dewasa, kerendahan hati serta kebijaksanaan sang ibu untuk mundur dan membiarkan sang menantu perempuan berperan menjalankan tugasnya untuk melayani suami. Tentu ini BUKAN PERKARA MUDAH! Karena dibutuhkan pengertian yang besar diantara kedua wanita – ibu mertua dan mantu perempuan – untuk membuat semuanya berjalan dengan baik. Suami juga WAJIB berperan dalam menetapkan batasan-batasan dalam rumah tangganya, baik bagi sang ibu maupun istri.

Masalah yang paling sering muncul ke permukaan adalah: Saat suami (anak lelaki) terperangkap dalam pilihan sulit, membela ibunya atau istrinya? Berikut ini adalah beberapa anjuran untuk mengatasi situasi tersebut:

1. Jadikan istri Anda sebagai prioritas Anda, tetapi jangan meninggalkan dan tetaplah menunjukkan sikap peduli pada ibu Anda. Katakan bahwa Anda mencintai istri Anda, dan bahwa istri Anda membutuhkan dukungan ibu untuk membuat dia (istri Anda) merasa diterima dan dikasihi.

2. Saat istri Anda mengeluh tentang sesuatu, dengarkan keluhannya. Jangan bersikap lebih membela pihak lain, cobalah mengerti permasalahan yang ia hadapi. Jika masalahnya adalah bahwa ibu Anda terlalu mencampuri urusan pribadi rumah tangga Anda berdua, bicaralah empat mata (menegur dengan penuh hormat dan kasih) dengan ibu Anda.

3. Sebisa mungkin, ajak kedua pihak keluarga (anda dan istri Anda) dalam perayaan atau momen-momen penting Anda. Berhati-hatilah, jangan sampai ibu dari kedua pihak merasa tidak diikut sertakan. Jika salah satu pihak tidak dapat hadir, PASTIKAN Anda memberitahukan bahwa “Tiada kesan tanpa kehadiran mama.”

4. Dalam segala persoalan, kondisi dan situasi, utamakan istri dan keluarga inti Anda. Umumnya, jika ibu melihat bahwa anak-anaknya memiliki pernikahan yang bahagia dan saling mencintai, mereka akan melakukan yang terbaik untuk mendukung kesuksesan pernikahan Anda.

5. Jangan pernah menjelekkan istri Anda dihadapan ibumu, demikian pula sebaliknya. Karena ini dapat menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja.

Biasanya permasalahan keluarga diserahkan kepada pihak wanita atau istri. Tetapi jika itu menyangkut hubungan antara ibu, anak lelaki dan istrinya, permasalahan ini membutuhkan perlakuan dan tindakan khusus dari sang anak lelaki / suami.

Bagaimanapun juga, ibu adalah sosok wanita pertama yang hadir dalam hidup si anak lelaki. Ibu dan anak lelaki memiliki hubungan khusus yang rumit sekaligus istimewa. Oleh karena itu, dibutuhkan kebesaran hati dan pengertian yang dalam bagi seorang ibu untuk dengan rela melepaskan dan mempercayakan anak lelakinya untuk dilayani dan dirawat oleh sang istri. Percaya bahwa si anak mampu mengerti posisi mertua-menantu, serta dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

(KB/FOFI, Disadur dari Artikel “Guys, Your Mother Can Destroy Your Marriage” oleh Mary Jo Rapini, seorang Licensed Relationship and Family Therapist, http://www.chron.com).

YOU ARE VERY SPECIAL

image
Image from: http://www.boredpanda.com

Kelahiran seorang anak selalu memunculkan berbagai macam perasaan dalam hati orangtua. Senang, bahagia, sedikit rasa takut dan excited, semua beradu dalam hati kita. Tetapi lain cerita jika anak yang kita lahirkan ternyata memiliki keterbatasan fisik atau kebutuhan khusus. Serta-merta perasaan kita berubah menjadi keterkejutan, kesedihan, kemarahan, kecewa, khawatir dan sebagainya.

Apa yang harus kita lakukan jika emosi dan perasaan seperti ini muncul tak terkendali dalam hati dan pikiran kita sebagai orangtua? Bagaimana mengatur emosi saat kita mendengar berita yang tidak diinginkan ini? Dan bagaimana kita menghadapi kenyataan bahwa kita memiliki anak dengan kebutuhan khusus?

MENGIDENTIFIKASI APA YANG TELAH MATI

Bayi Anda hidup dan lahir dengan selamat, serta Anda menyambut kelahirannya dengan penuh ucapan syukur. Tetapi tetap saja ada hal-hal lain yang mati; impian, ekspektasi, harapan. Disadari atau tidak, setiap orangtua yang menantikan kelahiran anaknya pasti dipenuhi dengan tiga hal tersebut. Tetapi kenyataannya, impian dan harapan kita sirna terhapus oleh kenyataan yang ada. Kenyataan yang kita hadapi ini ibarat kematian yang tak terlihat oleh mata. Dan seringkali hal ini sulit diidentifikasi oleh akal sehat dan perasaan kita. Tetapi kita perlu secara sadar menerima dan menyadari bahwa INI TELAH TERJADI.

WAKTU BERDUKA

Jangan pernah menyangkali kesedihan Anda. Berikan waktu untuk berdukacita atas ‘kematian’ ini. Rasa duka itu dapat muncul dalam berbagai bentuk, tetapi tingkatannya biasanya terdiri dari:

1.     Shock dan penyangkalan.
2.     Marah.
3.     Melakukan sesi tawar-menawar dengan Tuhan.
4.     Depresi.
5.     Penerimaan.

Ada dua proses berlawanan yang juga terjadi pada masa ini, yaitu:

1.     Keberadaan anak Anda ini akan menolong Anda untuk menghadapi rasa duka dan kecewa, karena hati Anda tersentuh oleh si anak yang kemudian mengembalikan kesadaran Anda untuk menerima kenyataan dan mulai berjuang.

2.     Kesibukan Anda sebagai orangtua dari anak berkebutuhan khusus membuat Anda tak memiliki banyak waktu menyadari bahwa Anda berduka. Sehingga rasa duka itu justru lebih lama pergi. Karena ketiadaan momen khusus yang Anda lakukan untuk benar-benar menyadari dan mengambil tindakan  penyembuhan.

INGATLAH, ANDA SANGAT MEMBUTUHKAN TUHAN DAN KASIH KARUNIA-NYA.

Masa berduka biasanya memunculkan pertanyaan: “Mengapa Tuhan?” Tidak apa-apa. Anda berhak untuk bergumul dengan pertanyaan itu. Jika dibutuhkan, carilah pemimpin rohani yang dapat membimbing Anda. Bagaimanapun juga, akan ada waktu dimana pertanyaan: “Mengapa Tuhan?” harus diakhir dengan pernyataan: “Lalu apa yang Engkau ingin aku lakukan sekarang, Tuhan?”

Ingatlah, bahwa Anda bukan saja orangtua dari anak Anda ini, tetapi Anda juga merupakan anak dari Tuhan yang Maha Mengerti dan penuh belas kasih kepada Anda. Mintalah kepadaNya untuk memberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi masa-masa yang berat ini. Meskipun hari-hari Anda demikian sibuk, selalu adakan waktu semenit dua menit untuk berbincang denganNya, memohon kekuatan dan hikmat. Ambil waktu untuk berdiam diri agar IA dapat bekerja menyembuhkan luka dan kepedihan serta kekecewaan Anda.

FOKUSLAH PADA APA YANG ADA, DAN BUKAN PADA APA YANG TIDAK ADA.

“Apakah gelas ini setengah kosong, atau setengah penuh?” pertanyaan ini sering dilontarkan untuk menguji apakah kita seorang yang optimis atau pesimis. Kenyataannya, kedua jawaban itu terasa benar jika dipakai untuk melihat kondisi hati Anda saat ini. Akui saja bahwa memang gelas itu dapat juga terlihat ‘setengah kosong’. Terimalah kenyataan bahwa dengan segala keterbatasan yang dimiliki anak Anda, ia tak akan dapat melakukan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh anak-anak normal lainnya. Anda berhak untuk merasa berduka akan hal ini. Tetapi disisi lain, Anda juga harus dengan sengaja mengarahkan focus dan perhatian Anda kepada hal-hal yang DAPAT DILAKUKAN oleh anak Anda. Bangun kembali impian dan harapan baru bagi si anak. Ini adalah bagian dimana Anda melihat bahwa gelas itu ternyata ‘setengah terisi’.

“Lakukan apa yang Anda mampu, dan bukan apa yang tidak.” Rasanya frase ini lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan. Tetapi toh kita tetap harus mampu bersikap optimis dengan melihat bahwa gelas itu sebenarnya setengah penuh, dan bukan setengah kosong.” Saat kita berfokus pada apa yang DAPAT KITA LAKUKAN, kita dilatih untuk mampu mengendalikan diri dan keadaan kita. Tetapi jika kita berfokus pada hal-hal yang tidak mampu kita lakukan, maka kita akan merasa seperti seorang yang lepas kendali. Dan perasaan negative ini secara tidak sadar akan Anda tularkan kepada anak Anda.

SATU HARI SATU

Hiduplah berfokus pada ‘satu hari, satu langkah baru’. Ini bukan sebuah hal klise. Tetapi satu langkah sehat untuk dilakukan siapa saja, terutama mereka yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Jangan terlalu jauh memikirkan masa depan atau apa yang akan terjadi nanti. Ini hanya akan membuat Anda lebih khawatir dan ketakutan. Fokuslah pada kemajuan hari ini dan pada apa yang dapat Anda atau anak Anda lakukan hari ini. Belajarlah untuk tenang dan santai menghadapi hari-hari Anda. Live in the moment! Dan nikmati setiap kemajuan-kemajuan kecil yang Anda lihat. Bersikaplah sabar terhadap anak Anda, pasangan dan terhadap proses yang dijalani bersama. Maka tanpa disadari, Anda akan mampu tertawa dan bersukacita menghadapi rutinitas ‘normal’ yang istimewa ini, yang Anda jalani bersama orang-orang yang mensupport dan mencintai Anda dan keluarga Anda.

(Artikel disadur dari: http://www.focusonthefamily.com/parenting/parenting-challenges/parenting-a-special-needs-child/how-to-cope)

A CRANKY MAMA!

“Everyone, stop calling my name and stop asking mommy about anything, okay. I’m tired!” Setengah berteriak saya berkata kepada anak-anak saya dan seisi rumah. Hari itu saya merasa extra lelah dan bad mood. Entah mengapa. Beberapa menit setelah saya mengultimatum seisi rumah untuk berhenti ‘mengganggu’ saya, rumahpun sepi, dan… hati saya mulai diliputi rasa bersalah. Ah, jadi galau!

1457884400057

Berapa banyak isteri dan ibu yang mengalami dan merasa seperti saya? Disatu sisi kita ingin sekali menjadi isteri dan ibu teladan, tapi disisi lain kita (ternyata) hanya manusia biasa yang butuh istirahat, menarik nafas dan sekedar duduk diam tanpa melakukan apa-apa. We just want our quiet moment. And usually we want that at the busiest schedule of the day! HAHA…

Saya rasa masalah ini tidak hanya berhubungan dengan ibu rumah tangga saja. Tetapi ibu bekerja pun mengalami hal yang sama. Intinya, apapun karier dan kesibukan ibu, sekali waktu kita amat sangat membutuhkan momen berdiam diri – tidak melakukan apapun, tidak berkata apapun, tidak berpikir apapun. Kita. Ingin. Istirahat. Bahasa kerennya, hibernating moment. Pertanyaannya: Apakah bisa? Beberapa kali saya (dengan gaya sok idealis) berusaha melakukan momen hibernasi ini. Tetapi dalam waktu 10 menit, hati saya mulai diliputi rasa bersalah, lalu otak saya mulai memikirkan schedule esok hari, “Oh besok si adik harus bawa ini. Oh si kakak besok les, harus dijemput jam sekian, bla.. bla.. bla..” Momen hibernasi pun GAGAL TOTAL!

Bulan Maret 2016 ini, tema Social Media FOF INDONESIA adalah Getting to Know Your Spouse / Kids / Family. Dan saya merasa, topik ini cukup tepat untuk diangkat. Sebagai perempuan yang mewakili jutaan isteri dan ibu, saya ingin menyuarakan isi hati mereka juga. Bukan tentang hal berat serupa kesetaraan gender atau lainnya, tapi hal sederhana yang seringkali kita abaikan, padahal amat kita butuhkan: A quiet moment, a hibernating session, a moment to be alone and NOT doing things that WE HAVE TO, but doing things that WE WANT TO. 

Kepada para pria, selaku suami dan ayah, ada baiknya Anda mulai mencatat hal-hal yang akan saya ungkapkan berikut ini. Jangan khawatir, saya tidak bermaksud memprovokasi para isteri (HAHA..) justru saya ingin para suami dan ayah belajar memahami  isteri Anda dengan lebih baik lagi.

  1. BE THOUGHTFULNothing is sexier than a thoughtful husband. Jadilah suami yang sensitif terhadap kebutuhan isteri untuk merasa dikasihi dan dimengerti. Bukan dengan materi (saja), tapi lebih daripada itu, dimengerti perasaan dan pikirannya. Caranya? Mudah sekali. Ambil waktu untuk mempelajari bahasa tubuh dan kebiasaan isteri Anda. Suami saya orang yang sangat pandai dalam hal ini. Hanya melihat saya naik ke tempat tidur diwaktu yang tidak biasa, ia langsung tahu bahwa saya lelah dan ingin istirahat. Ia lalu akan menutup pintu kamar dan membiarkan saya beristirahat.
  2. HELP YOUR WIFE. Tolonglah isteri Anda. Bentuk pertolongannya bisa bermacam-macam. Jika isteri Anda seorang ibu rumah tangga, bantulah ia dengan melakukan hal-hal simple seperti membereskan rumah yang berantakan, mencuci piring, mencuci kamar mandi, mengajak anak-anak keluar rumah, agar isteri dapat santai sejenak menikmati me time nya tanpa gangguan, atau hal lain yang menurut Anda dapat mengurangi beban isteri saat ia merasa kelelahan. Jika Anda kurang paham apa yang dapat Anda lakukan untuk menolong dia, JANGAN MALU BERTANYA.
  3. GIVE HER ASSURANCE.  Isteri yang Anda nikahi sekarang mungkin (menurut Anda) sudah tidak terlihat semenarik dulu, tetapi ingat: Ia masih dan selamanya akan menjadi isteri Anda, hingga maut memisahkan. Seorang isteri bukannya tidak tahu kalau suaminya mencintai dia. Tentu kami tahu. Tapi kami ingin mendengar para suami melontarkan pujian (bukan rayuan gombal!) yang dapat memberi energi dan mengembalikan rasa percaya diri, bahwa kami dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan dalam hidup suami kami. Kuncinya: Jangan gengsi memuji!
  4. I GOT THIS!  Sebuah kalimat dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih: Biar saya yang urus. Anda sadari atau tidak, saat ini semakin sedikit suami dan ayah yang mampu mengatakan dan melakukan hal ini. Banyak suami atau ayah yang ‘merasa’ isterinya sudah paham dan dapat melakukan hampir segala hal sendiri, termasuk mencuci mobil, service mobil bulanan ke bengkel, menelepon tukang untuk memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah, dan lain sebagainya. TENTU SAJA kami bisa! Tapi terkadang kami ingin menjadi istri yang terima beres dalam hal-hal seperti ini. Kami ingin para suami berkata: “It’s okay sayang, biar aku saja yang urus.” Perkataan seperti ini seperti air yang dituang diatas kepala yang panas karena terpanggang terik matahari.
  5. PHYSICAL TOUCH IS IMPORTANT. Hal terakhir yang mungkin ingin sekali saya sampaikan adalah untuk sering-sering memberi sentuhan sayang kepada isteri Anda. Sentuhan fisik bukan melulu soal aktifitas seksual. Tetapi sentuhan-sentuhan kecil namun hangat yang dilakukan suami kapan saja, dimana saja sebagai ekspresi rasa sayang. Untuk beberapa suami mungkin membutuhkan perjuangan atau latihan khusus dalam melakukan kebiasaan ini. Tetapi teruslah berusaha untuk melakukannya. Isteri Anda akan merasa seperti memiliki energi baru yang luar biasa saat mendapati suaminya mengelus punggungnya, memijit kakinya, mengusap kepalanya atau mencium lembut pipi atau bibirnya. Hal-hal sederhana yang mungkin sudah kita lupakan (saking sibuknya!), mari lakukan kembali.

Akhir kata, semoga tulisan saya ini dapat membantu para suami dan ayah untuk ‘mengerti’ keinginan dan kebutuhan isteri Anda untuk merasa dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan. Dan bagi para isteri, semoga tulisan ini dapat mewakili setidaknya sepersekian persen dari sekian banyak harapan Anda kepada sang suami. Mari berlomba dalam memberi dan melakukan kebaikan bagi pasangan Anda. Belajarlah untuk mencintai dan mengerti, mengasihi dan melindungi, mempraktekkan berbagai ilmu positif yang kita lihat, kita dengar dan kita baca demi kelanggengan hidup pernikahan kita. Selamat berjuang dan teruslah mencintai pasangan Anda. (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA)

1457883638257

 

 

 

MEMAHAMI REMAJA

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa (misalnya perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki).

Selain aspek fisik, secara kognitif anak pun mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orangtua perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orangtua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi bantahan sebagai ekspresi pernyataan pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosioemosional remaja.
Secara sosioemosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orangtua.
Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orangtua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebayanya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.
Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya masih berproses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih dan menentukan nilai dan prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Oleh karena itu orangtua sering melihat bagaimana remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, tetapi bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-4 aspek tersebut: fisik, kognitif, sosioemosional dan moral, dapat disimpulkan bahwa si remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orangtua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami si remaja, akan membuat orangtua dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan si remaja.

Misalnya terkait pubertas, orangtua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, berikut bagaimana menyikapinya. Tentang kemampuan berpikir, orangtua hendaknya tidak memaknai pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi memang konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orangtua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosioemosional remaja, diperlukan kebesaran hati orangtua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minatnya, tetapi tetap dalam batasan koridor norma aturan keluarga yang jelas. Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Pada dasarnya, yang dibutuhkan remaja ada penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. (Ibu Pinkan Margaretha Bolang untuk FOF Indonesia)

SERVING THE LOST: Melayani Mereka Yang Terhilang.

Pastikan kita adalah orang-orang yang senantiasa menggunakan potensi diri setiap saat untuk menciptakan, merubah, menyembuhkan, mempersatukan dan membangun kehidupan sesama. KITA BISA!

Dalam sebuah kesempatan, seorang wartawan bertanya pada Mother Theresa, “Mengapa Anda begitu semangat melayani para pengemis dan gelandangan ini setiap hari? Toh jumlah mereka dari tahun ke tahun tak pernah berkurang? Anda rela meninggalkan kedudukan sebagai Kepala Sekolah (sebuah kedudukan yang terpandang dan tidak mudah untuk diperoleh saat itu) demi pengemis dan gelandangan, apa alasan Anda?“ Lalu Mother Theresa menjawab: “ Saya dipanggil Tuhan bukan untuk sukses secara jabatan. Saya dipanggil Tuhan untuk melayani orang-orang yang terhilang.” Sebuah jawaban yang membuat saya merinding, terharu dan tersentuh. Mother Theresa telah menginspirasi saya untuk melayani orang-orang yang tersingkir, dilupakan bahkan dicap sebagai “sampah masyarakat”.

Tak terasa, hampir dua tahun saya melayani mereka melalui Lembaga Pemasyarakatan Wanita Dewasa di Tangerang. Sebuah pelayanan yang membutuhkan komitmen dan kesediaan hati untuk menampung air mata warga binaan di LAPAS. Pelayanan ini menuntut ketulusan dan kerendahan hati, sikap ramah dan kemampuan untuk menangkap, menganalisa, dan mengeksplorasi kisah yang diungkapkan mereka. Dan pada akhirnya, kita diharapkan dapat menopang, membimbing dan membantu proses kesembuhan luka bathin mereka, serta memberi harapan untuk bangkit dari keterpurukan. Kasus yang saya tangani bermacam-macam. Mulai dari keinginan bunuh diri dengan minum cairan pembersih lantai, mencoba melarikan diri dengan melompat tembok yang akhirnya terjatuh dan terluka, kasus depresi sehingga setiap hari berteriak dan menangis ketakutan, ada yang kesulitan bicara dan hanya bisa menangis karena rindu pada anak-anaknya, ada sulit makan dan mengidap insomnia (tidak bisa tidur) karena menyesali perbuatannya, dan masih banyak lagi.

Disana saya hadir secara jasmani dan rohani untuk menguatkan mereka. Saya paham perasaan mereka yang kesepian, merasa tidak berharga dan kebingungan. Mereka membutuhkan kasih serta perhatian kita. FOF Indonesia Ambasador hadir dengan agenda restorasi, dimana melayani orang-orang terhilang adalah salah satunya. Dan para ambassador dari Focus On The Family Indonesia ini siap untuk menjadi perpanjangan tangan dalam membantu proses pemulihan jiwa mereka. Kitapun sebagai wanita, istri dan ibu, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi alat restorasi bagi orang-orang sekitar kita. Dan kita dapat memulai kapan saja, dimana saja, dengan apa yang kita miliki. Adakan waktu untuk melihat dan memperhatikan lingkungan sekitar kita, karena PASTI ada saja orang atau keluarga yang membutuhkan pertolongan kita. Menjadi agen perubah tidak harus melakukan hal-hal fantastis dalam jumlah besar. Tetapi inti dari keberadaan kita didunia ini adalah untuk berkarya. Berkaryalah sebaik-baiknya bagi orang yang membutuhkan sentuhan tangan, pikiran dan juga perasaan kita. Jangan hidup tanpa menggali potensi-potensi besar dalam diri. Pastikan kita adalah orang yang senantiasa berusaha setiap saat untuk menggunakan potensi kita untuk menciptakan, merubah, menyembuhkan, mempersatukan dan membangun kehidupan sesama. KITA BISA! (Ibu Krisna Dewi Maharti Untuk FOF INDONESIA)

image

WANITA INSPIRASI

Wanita yang menginspirasi adalah wanita yang secara total menyerahkan dirinya untuk diubah secara positif, bersedia dipakai lebih lagi dan percaya diri bahwa kita dapat mengerjakan hal-hal mulia dan bermanfaat bagi kehidupan orang banyak, apapun dan bagaimanapun keadaan kita.

image

Setiap kita pasti memiliki seseorang yang menjadi sumber inspirasi dalam hidup. Entah itu dalam lingkungan keluarga, pertemanan bahkan idola. Kitab suci mencatat nama-nama beberapa wanita yang menjadi inspirasi bagi banyak orang hingga kini. Sebut saja Esther, seorang wanita biasa keturunan Yahudi yang kemudian menjadi ratu Kerajaan Persia. Atau Hana,  Ibu Nabi Samuel yang harus berbagi suami dengan wanita lain. Ada pula Ruth, seorang perempuan Moab yang menikah dengan Mahlon, salah seorang putra Naomi dan Elimelekh. Dan saat suaminya meninggal dunia, Ruth memilih untuk berbakti pada ibu mertuanya dan kembali ke kampung halaman Naomi.

Kisah tiga wanita ini menjadi legenda nyata yang tak lekang oleh waktu. Karena buah yang dihasilkan dari kisah mereka memberi dampak bagi lingkungan dan orang lain yang mendengar atau belajar tentang kehidupan mereka. Esther akhirnya berhasil menyelamatkan sebuah bangsa, Hana melahirkan Samuel, yang kemudian menjadi nabi besar. Sementara kisah Ruth berakhir happy ending saat Ruth bertemu dengan Boaz.

Masing-masing mereka adalah sosok perempuan yang memiliki latar belakang dan perjalanan hidup berbeda. Tetapi para wanita ini dihadapkan pada dua pilihan yang sama: bertahan lalu memberi dampak, atau menyerah dan tinggal sejarah. Untunglah mereka memilih untuk bertahan sehingga menghasilkan dampak. Karena dampak memang hanya dapat ditimbulkan dengan bertahan, bertekun dan terus berjalan.

Saya teringat saat kami (FOF INDONESIA bersama team) berdiskusi seputar pembentukan para ambassador. Banyak pro dan kontra bermunculan. Setiap nama yang kami pilih tentu mengandung resiko. Karena tiap pribadi ini memiliki masa lalu dan kisahnya sendiri. Tetapi kami memutuskan bahwa, jika kita ingin menginspirasi, kita tidak bisa selalu melihat ke belakang. Karena melihat masa lalu hanya diperuntukkan bagi pembelajaran, bukan penyesalan atau membanding-bandingkan.

Sama dengan ketiga wanita diatas, kita semua bukanlah sosok wanita sempurna. Tetapi apapun dan bagaimanapun keadaan kita, jangan pernah menyerah. Teruslah berusaha, mengasah diri dan mengembangkan point-point positif serta kelebihan dan kekuatan yang kita miliki. Semakin banyak kita berbagi, bertambah pulalah jam terbang, kepercayaan diri dan potensi kita.

Akhir kata, wanita yang menginspirasi adalah wanita yang secara total menyerahkan dirinya untuk diubah secara positif, bersedia dipakai lebih lagi dan percaya diri bahwa kita dapat mengerjakan hal-hal mulia dan bermanfaat bagi kehidupan orang banyak, apapun dan bagaimanapun keadaan kita. (Valerie Mellanov Gan untuk FOF INDONESIA)

image