KETIKA CINTA HARUS MEMILIH

MENCINTAI ADALAH KOMITMEN TAK BERSYARAT PADA SESEORANG YANG TIDAK SEMPURNA. MENCINTAI SESEORANG BUKANLAH SEKEDAR PERASAAN YANG KUAT, TETAPI SEBUAH KEPUTUSAN, PERTIMBANGAN, DAN SEBUAH JANJI (Paul Coelho)

Judul di atas adalah judul film dan novel populer tentang percintaan. Tetapi sebenarnya, secara umum, cinta tidak boleh memilih.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH OBYEKNYA.

Cinta kasih yang sejati tidak bisa memilih siapa yang akan dikasihi dan siapa yang tidak dikasihi. Saya mengasihi yang ini, tetapi membenci yang itu. Itu namanya bukan kasih, tetapi pilih kasih. Tidak bisa seseorang berkata ia mengasihi Tuhannya, lalu menyakiti orang yang berbeda dengannya. Kasih mencintai melampaui segala perbedaan. Bahkan perintah dari salah satu tokoh spiritual yaitu Yesus adalah, "Kasihilah musuhmu, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu."

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH LAMANYA.

Apa jadinya kalau orangtua berkata, "Kami mengasihimu hingga usia 15 tahun saja ya." Atau suami berkata, “Aku mencintaimu selama kulitmu belum keriput.” Kasih yang sejati tidak memberi batasan waktu. Cinta sejati baru berhenti ketika waktu sendiri yang menghentikan, yaitu dengan kematian.

CINTA SEJATI TIDAK BOLEH MEMILIH HASILNYA.  

Kasih memberi tanpa mengharap balasan. Lalu percuma dong?  Agak menyakitkan juga bila kasih tak terbalas?  Ada kalanya kita merasa percuma mengasihi dan berbakti pada orangtua yang pilih kasih, mengasihi kakak/adik kita dan tidak mempedulikan kita.  Kadang kita sudah susah-susah menolong teman dalam kesulitan, ternyata bukan ucapan terima kasih yang kita terima, melainkan cemoohan. Atau kita ragu mengasihi dan berbuat baik pada tetangga, karena belum tentu juga dia akan berbuat yang sama pada kita.  Untuk kasus ini, jawaban Mother Teresa adalah, "Saya temukan paradoks, bahwa bila saya mencintai hingga saya merasa sakit, maka tidak lagi ada rasa sakit, tetapi hanya ada cinta yang lebih besar lagi." Cinta adalah memberi diri bagi orang lain.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH KONDISINYA.  

Saya mengasihimu, kalau… (isi sendiri). Itu kontrak bersyarat, bukan cinta sejati.  Seperti ungkapan, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Karena itu, saat pernikahan orang berjanji untuk saling mencintai tanpa tergantung kondisi: dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, susah maupun senang.

CINTA SEJATI DAN PERNIKAHAN

Sangat dangkal bila memikirkan Valentine’s day sebatas bunga, coklat atau romantika. Sebenarnya kita ditantang untuk merayakan cinta sejati, yaitu cinta yang kuat, bertahan dalam segala macam badai, dan tanpa syarat (“unconditional love”).

Seorang ibu langsung mencintai bayinya yang baru lahir, tidak peduli bagaimana kondisi bayi tersebut, cakep atau tidak, pandai atau tidak, nantinya nakal atau tidak.  Seorang ibu hanya mau mencintai dan memberi, walaupun bayi itu tidak bisa apa-apa dan sangat merepotkan: membuatnya bangun tengah malam, rewel, dan menghabiskan banyak uang serta energi.  
Orang bertepuk tangan melihat kasih seorang ibu yang tanpa syarat. Tetapi bila diminta untuk mengasihi pasangan (suami/isteri) mereka dengan kasih yang demikian, mereka berpikir, “Kok enak bener dia…”  Padahal satu-satunya cara supaya pernikahan bisa berjalan seumur hidup, harus ada kasih tanpa syarat. Kalau kasih bersyarat “tergantung bagaimana dia” maka pernikahan akan bubar di tengah jalan. “Kalau dia cinta, ya saya cinta. Kalau dia baik, ya saya baik. Tapi kalau dia menjengkelkan dan menyakitkan, ngapain dilanjutkan?”

Mungkin bukan cinta yang kita cari, tetapi kesenangan hidup. Kita jatuh cinta supaya hidup menjadi ceria. Kita mencintai supaya dicintai. Kita mencari pasangan supaya tidak kesepian. Kita menikah supaya ada yang mengurus kita seumur hidup. Tapi kita tidak siap mencintai sampai menderita. Kita lupa bahwa mencintai adalah memberi dengan resiko tidak menerima kembali. Kita tidak sadar bahwa mencintai berarti mengampuni tanpa menghitung kesalahan, dan tetap mengasihi ketika orang tersebut sulit dicintai. Namun, bila Anda memiliki cinta tak bersyarat, sebenarnya Anda telah bebas. Bebas dari kekhawatiran cinta tak terbalas, bebas dari ketakutan disakiti, bebas dari segudang ekspektasi. Ini adalah jalan satu-satunya menuju kebahagiaan cinta. (Oleh Esther Idayanti Untuk FOF INDONESIA)

Family Gathering: SESPIMMEN POLRI 56 BATALYON WICAKSANA LAGHAWA

image

Lembang ,  5 November 2016 – KELUARGA. Tidak banyak orang benar-benar memahami makna kata keluarga dalam kehidupannya. Akhir pekan kemarin, FOFI – bekerjasama dengan keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56 Batalyon Wicaksana Laghawa – menggelar  Family Gathering yang bertujuan untuk mengembalikan kedekatan dalam keluarga. Keharmonisan keluarga bagi seorang SESPIMMEN POLRI sangatlah penting. Dan melalui event ini, FOFI berharap momen eksklusif dapat terbangun diantara pasangan serta anak dan orangtua. Berangkat dari pemikiran itulah, FOFI menyusun serangkaian acara menarik bagi keluarga SESPIMMEN POLRI 56.

Aktivitas pagi itu dibuka dengan senam pagi bersama keluarga dengan instruktur senam handal, Tawarikh. Aktifitas ini tidak saja bertujuan untuk mengajak seluruh keluarga untuk hidup bugar, tetapi juga membangun kedekatan antar anggota keluarga. Setiap gerakan yang dilakukan pada sesi Senam Pagi ini penuh dengan unsur membangun kekompakan keluarga. Karena kami percaya, cara kita memulai hari akan menentukan keadaan hati dan pikiran kita sepanjang hari itu. Dan olahraga bersama merupakan salah satu cara positif untuk memulai hari yang sehat dan bahagia.

Saat coffee break, seluruh peserta keluarga SESPIMMEN POLRI 56 terlihat bercengkrama dan menikmati waktu istirahat mereka dengan bertukar cerita bersama keluarga lainnya. Sharing merupakan poin penting dalam hidup berkeluarga. Karena dari situlah kita dapat memperoleh masukan serta mengerti isi hati anggota keluarga kita. Kami berharap aktifitas ini dapat sering dilakukan dengan menyesuaikan waktu yang ada dalam keluarga masing-masing, agar tercipta komunikasi yang baik dan hubungan yang akrab. Karena kebersamaan adalah sesuatu yang WAJIB dilakukan.

image

Selepas Coffee Break, acara permainan (games) pun dimulai. Sesi ini disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak. Rangkaian games memang kami rancang agar seluruh anggota keluarga turut ambil bagian didalamnya. Games seperti: Jaring laba laba, lompat tali, balap karung, bakiak dan membuat sandwich diadakan dengan agenda menanamkan nilai-nilai kerjasama, kekompakan dan saling support antar anggota keluarga. Ada pula games yang dirancang untuk mengasah kemampuan ayah dalam bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, dimana mereka diharapkan mampu membantu anggota keluarga dalam menghadapi rintangan hidup. Games ini juga mengajar setiap anggota untuk mengutamakan cinta kasih dalam keluarga. Praktek cinta kasih dalam bentuk sederhana adalah adanya pengertian antara suami istri serta orangtua dan anak akan peran masing-masing, sehingga dapat saling mendukung dan menolong.

Waktu makan siang pun tiba. Secara otomatis para istri dan ibu saling bantu dalam menyiapkan makanan bagi para suami dan anak-anak mereka. Wujud tenggang rasa serta-merta dapat terlihat, dimana para suami tak sungkan membantu pasangan mereka menyuapi anak-anak, agar sang istri dapat makan dengan tenang. “Makan” merupakan momen penting bagi anggota keluarga untuk mulai melakukan pendekatan pada pasangan, anak dan anggota keluarga lainnya. FOFI sangat menganjurkan agar keluarga selalu dapat mengusahakan waktu makan bersama. Karena ini merupakan salah satu cara mendasar dalam membangun waktu berkualitas. Dengan terbangunnya kebersamaan, maka komunikasi didalam keluarga akan semakin dalam, kuat dan harmonis.

image

Rangkaian acara Family Gathering ini ditutup dengan peresmian Majalah IKHAGAWA yang diluncurkan oleh keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56. Majalah ini memuat berbagai aktifitas dan tugas pekerjaan yang dilakukan para anggota POLRI 56 selama tujuh bulan mengemban tugas. Dengan kemunculan majalah ini, mereka berharap agar hubungan antar keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56 dapat senantiasa melekat dan akrab. Selain Family Gathering, event ini juga merupakan momen reuni bagi keluarga SESPIMMEN POLRI 56 Batalyon IKHAGAWA. Dimana mereka berharap agar kekompakan dan hubungan baik dapat terus terjaga, baik didalam anggota keluarga sendiri maupun dalam ikatan keluarga besar POLRI.

image

Melalui Family Gathering ini, FOFI ingin menjangkau seluruh peserta dan anggota keluarga SESPIMMEN POLRI 56 dengan harapan agar mereka dapat mengenal, memahami, melakukan dan mengedepankan nilai-nilai keluarga dalam seluruh aktifitas kehidupan mereka. Dalam event ini, FOFI juga memberikan ruang bagi anak-anak keluarga SESPIMMEN POLRI 56 untuk dapat menyalurkan minat dan mengekspresikan bakat mereka dengan pengadaan mini playground lengkap dengan berbagai macam food stall anak yang – tentu saja – menjadi penambah keceriaan bagi seluruh anak-anak SESPIMMEN POLRI 56. Apalagi ditambah dengan kehadiran badut serta sesi mewarnai. Semua ini kami lakukan sebagai bentuk dukungan FOFI bagi anak-anak dalam mengekspresikan bakat dan kreatifitas mereka.

Tentang Focus On The Family Indonesia
Focus On The Family Indonesia adalah yayasan nirlaba dan lembaga swadaya masyarakat yang  berfokus pada hubungan keluarga. Misi kami adalah merestorasi hubungan keluarga Indonesia melalui beberapa core activities seperti: family bonding events, seminar, live talkshow, workshop, training, konseling, maupun pendekatan melalui media (online maupun offline).

Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi :
SHINTYA
Telp: 087888564637
Email: shintya.fofi@gmail.com

IBU VS ISTRI: PILIH YANG MANA?

image

…dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

Sebuah masalah klasik yang terjadi di hampir setiap pernikahan, dimana seorang suami sering diperhadapkan pada keadaan: Membela ibu atau istri? Mengutamakan ibu atau istri?

Akan lebih baik dan lebih mulus jalannya bila seorang calon istri mengambil waktu untuk mengenal lebih dekat bakal calon ibu mertuanya. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang muncul di kemudian hari dapat lebih mudah teratasi. Begitu pula dengan sang anak lelaki, atau calon suami. Ada baiknya secara terbuka berbicara pada ibunya dari hati ke hati tentang seberapa jauh ia ingin sang ibu mensupport pernikahan dan hubungannya dengan istrinya.

Dengan demikian, hubungan ibu dan anak lelaki serta menantu perempuan akan lebih jelas dan terarah serta saling mengerti dan menghormati posisi masing-masing.

Dr. Sylvia L. Mikucki-Enyart, seorang asisten profesor bidang Komunikasi di Universitas Wisconsin melakukan penelitian terhadap 89 orang ibu mertua, dan ditemukan beberapa kekhawatiran mendasar (yang mirip satu sama lain) tentang pernikahan anak lelakinya. Ternyata, ibu yang memiliki anak lelaki jauh lebih khawatir untuk melepas anak lelakinya masuk dalam pernikahan, dibandingkan melepas anak perempuannya.

Kekhawatiran itu adalah:
1. Apakah hubungan IBU-ANAK akan berubah?
2. Apakah anak saya akan menjadi jarang berkunjung atau menelepon?
3. Apakah ia akan mengisi liburan bersama kami atau tidak?
4. Apakah ia akan tetap setia membela dan bergantung pada kami atau tidak?
5. Apakah dia akan cukup makan yang sehat dan bergizi?
6. Bagaimana istrinya akan memperlakukan dia nanti?

Dr. Mikucki-Enyart juga melakukan penelitian terhadap 133 menantu perempuan. Dan ternyata, mereka pun memiliki beberapa kekhawatiran, yaitu:

1. Apakah ibu mertua saya akan terlalu ikut campur dalam banyak hal di pernikahan kami?
2. Apakah ibu mertua saya mampu mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik? (Atau akan sering merongrong suami saya dan meminta bantuan keuangan).
3. Apakah ibu mertua saya akan menjelek-jelekkan saya pada suami saya?

Dalam pernikahan, sebab utama ketegangan antara ibu mertua dan menantu perempuan adalah: Adanya kompetisi dalam hal siapa yang lebih baik dalam merawat / melayani si anak lelaki; Ibunya kah? Atau sang istri?

Untuk itulah dibutuhkan sikap dewasa, kerendahan hati serta kebijaksanaan sang ibu untuk mundur dan membiarkan sang menantu perempuan berperan menjalankan tugasnya untuk melayani suami. Tentu ini BUKAN PERKARA MUDAH! Karena dibutuhkan pengertian yang besar diantara kedua wanita – ibu mertua dan mantu perempuan – untuk membuat semuanya berjalan dengan baik. Suami juga WAJIB berperan dalam menetapkan batasan-batasan dalam rumah tangganya, baik bagi sang ibu maupun istri.

Masalah yang paling sering muncul ke permukaan adalah: Saat suami (anak lelaki) terperangkap dalam pilihan sulit, membela ibunya atau istrinya? Berikut ini adalah beberapa anjuran untuk mengatasi situasi tersebut:

1. Jadikan istri Anda sebagai prioritas Anda, tetapi jangan meninggalkan dan tetaplah menunjukkan sikap peduli pada ibu Anda. Katakan bahwa Anda mencintai istri Anda, dan bahwa istri Anda membutuhkan dukungan ibu untuk membuat dia (istri Anda) merasa diterima dan dikasihi.

2. Saat istri Anda mengeluh tentang sesuatu, dengarkan keluhannya. Jangan bersikap lebih membela pihak lain, cobalah mengerti permasalahan yang ia hadapi. Jika masalahnya adalah bahwa ibu Anda terlalu mencampuri urusan pribadi rumah tangga Anda berdua, bicaralah empat mata (menegur dengan penuh hormat dan kasih) dengan ibu Anda.

3. Sebisa mungkin, ajak kedua pihak keluarga (anda dan istri Anda) dalam perayaan atau momen-momen penting Anda. Berhati-hatilah, jangan sampai ibu dari kedua pihak merasa tidak diikut sertakan. Jika salah satu pihak tidak dapat hadir, PASTIKAN Anda memberitahukan bahwa “Tiada kesan tanpa kehadiran mama.”

4. Dalam segala persoalan, kondisi dan situasi, utamakan istri dan keluarga inti Anda. Umumnya, jika ibu melihat bahwa anak-anaknya memiliki pernikahan yang bahagia dan saling mencintai, mereka akan melakukan yang terbaik untuk mendukung kesuksesan pernikahan Anda.

5. Jangan pernah menjelekkan istri Anda dihadapan ibumu, demikian pula sebaliknya. Karena ini dapat menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja.

Biasanya permasalahan keluarga diserahkan kepada pihak wanita atau istri. Tetapi jika itu menyangkut hubungan antara ibu, anak lelaki dan istrinya, permasalahan ini membutuhkan perlakuan dan tindakan khusus dari sang anak lelaki / suami.

Bagaimanapun juga, ibu adalah sosok wanita pertama yang hadir dalam hidup si anak lelaki. Ibu dan anak lelaki memiliki hubungan khusus yang rumit sekaligus istimewa. Oleh karena itu, dibutuhkan kebesaran hati dan pengertian yang dalam bagi seorang ibu untuk dengan rela melepaskan dan mempercayakan anak lelakinya untuk dilayani dan dirawat oleh sang istri. Percaya bahwa si anak mampu mengerti posisi mertua-menantu, serta dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

(KB/FOFI, Disadur dari Artikel “Guys, Your Mother Can Destroy Your Marriage” oleh Mary Jo Rapini, seorang Licensed Relationship and Family Therapist, http://www.chron.com).

A CRANKY MAMA!

“Everyone, stop calling my name and stop asking mommy about anything, okay. I’m tired!” Setengah berteriak saya berkata kepada anak-anak saya dan seisi rumah. Hari itu saya merasa extra lelah dan bad mood. Entah mengapa. Beberapa menit setelah saya mengultimatum seisi rumah untuk berhenti ‘mengganggu’ saya, rumahpun sepi, dan… hati saya mulai diliputi rasa bersalah. Ah, jadi galau!

1457884400057

Berapa banyak isteri dan ibu yang mengalami dan merasa seperti saya? Disatu sisi kita ingin sekali menjadi isteri dan ibu teladan, tapi disisi lain kita (ternyata) hanya manusia biasa yang butuh istirahat, menarik nafas dan sekedar duduk diam tanpa melakukan apa-apa. We just want our quiet moment. And usually we want that at the busiest schedule of the day! HAHA…

Saya rasa masalah ini tidak hanya berhubungan dengan ibu rumah tangga saja. Tetapi ibu bekerja pun mengalami hal yang sama. Intinya, apapun karier dan kesibukan ibu, sekali waktu kita amat sangat membutuhkan momen berdiam diri – tidak melakukan apapun, tidak berkata apapun, tidak berpikir apapun. Kita. Ingin. Istirahat. Bahasa kerennya, hibernating moment. Pertanyaannya: Apakah bisa? Beberapa kali saya (dengan gaya sok idealis) berusaha melakukan momen hibernasi ini. Tetapi dalam waktu 10 menit, hati saya mulai diliputi rasa bersalah, lalu otak saya mulai memikirkan schedule esok hari, “Oh besok si adik harus bawa ini. Oh si kakak besok les, harus dijemput jam sekian, bla.. bla.. bla..” Momen hibernasi pun GAGAL TOTAL!

Bulan Maret 2016 ini, tema Social Media FOF INDONESIA adalah Getting to Know Your Spouse / Kids / Family. Dan saya merasa, topik ini cukup tepat untuk diangkat. Sebagai perempuan yang mewakili jutaan isteri dan ibu, saya ingin menyuarakan isi hati mereka juga. Bukan tentang hal berat serupa kesetaraan gender atau lainnya, tapi hal sederhana yang seringkali kita abaikan, padahal amat kita butuhkan: A quiet moment, a hibernating session, a moment to be alone and NOT doing things that WE HAVE TO, but doing things that WE WANT TO. 

Kepada para pria, selaku suami dan ayah, ada baiknya Anda mulai mencatat hal-hal yang akan saya ungkapkan berikut ini. Jangan khawatir, saya tidak bermaksud memprovokasi para isteri (HAHA..) justru saya ingin para suami dan ayah belajar memahami  isteri Anda dengan lebih baik lagi.

  1. BE THOUGHTFULNothing is sexier than a thoughtful husband. Jadilah suami yang sensitif terhadap kebutuhan isteri untuk merasa dikasihi dan dimengerti. Bukan dengan materi (saja), tapi lebih daripada itu, dimengerti perasaan dan pikirannya. Caranya? Mudah sekali. Ambil waktu untuk mempelajari bahasa tubuh dan kebiasaan isteri Anda. Suami saya orang yang sangat pandai dalam hal ini. Hanya melihat saya naik ke tempat tidur diwaktu yang tidak biasa, ia langsung tahu bahwa saya lelah dan ingin istirahat. Ia lalu akan menutup pintu kamar dan membiarkan saya beristirahat.
  2. HELP YOUR WIFE. Tolonglah isteri Anda. Bentuk pertolongannya bisa bermacam-macam. Jika isteri Anda seorang ibu rumah tangga, bantulah ia dengan melakukan hal-hal simple seperti membereskan rumah yang berantakan, mencuci piring, mencuci kamar mandi, mengajak anak-anak keluar rumah, agar isteri dapat santai sejenak menikmati me time nya tanpa gangguan, atau hal lain yang menurut Anda dapat mengurangi beban isteri saat ia merasa kelelahan. Jika Anda kurang paham apa yang dapat Anda lakukan untuk menolong dia, JANGAN MALU BERTANYA.
  3. GIVE HER ASSURANCE.  Isteri yang Anda nikahi sekarang mungkin (menurut Anda) sudah tidak terlihat semenarik dulu, tetapi ingat: Ia masih dan selamanya akan menjadi isteri Anda, hingga maut memisahkan. Seorang isteri bukannya tidak tahu kalau suaminya mencintai dia. Tentu kami tahu. Tapi kami ingin mendengar para suami melontarkan pujian (bukan rayuan gombal!) yang dapat memberi energi dan mengembalikan rasa percaya diri, bahwa kami dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan dalam hidup suami kami. Kuncinya: Jangan gengsi memuji!
  4. I GOT THIS!  Sebuah kalimat dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih: Biar saya yang urus. Anda sadari atau tidak, saat ini semakin sedikit suami dan ayah yang mampu mengatakan dan melakukan hal ini. Banyak suami atau ayah yang ‘merasa’ isterinya sudah paham dan dapat melakukan hampir segala hal sendiri, termasuk mencuci mobil, service mobil bulanan ke bengkel, menelepon tukang untuk memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah, dan lain sebagainya. TENTU SAJA kami bisa! Tapi terkadang kami ingin menjadi istri yang terima beres dalam hal-hal seperti ini. Kami ingin para suami berkata: “It’s okay sayang, biar aku saja yang urus.” Perkataan seperti ini seperti air yang dituang diatas kepala yang panas karena terpanggang terik matahari.
  5. PHYSICAL TOUCH IS IMPORTANT. Hal terakhir yang mungkin ingin sekali saya sampaikan adalah untuk sering-sering memberi sentuhan sayang kepada isteri Anda. Sentuhan fisik bukan melulu soal aktifitas seksual. Tetapi sentuhan-sentuhan kecil namun hangat yang dilakukan suami kapan saja, dimana saja sebagai ekspresi rasa sayang. Untuk beberapa suami mungkin membutuhkan perjuangan atau latihan khusus dalam melakukan kebiasaan ini. Tetapi teruslah berusaha untuk melakukannya. Isteri Anda akan merasa seperti memiliki energi baru yang luar biasa saat mendapati suaminya mengelus punggungnya, memijit kakinya, mengusap kepalanya atau mencium lembut pipi atau bibirnya. Hal-hal sederhana yang mungkin sudah kita lupakan (saking sibuknya!), mari lakukan kembali.

Akhir kata, semoga tulisan saya ini dapat membantu para suami dan ayah untuk ‘mengerti’ keinginan dan kebutuhan isteri Anda untuk merasa dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan. Dan bagi para isteri, semoga tulisan ini dapat mewakili setidaknya sepersekian persen dari sekian banyak harapan Anda kepada sang suami. Mari berlomba dalam memberi dan melakukan kebaikan bagi pasangan Anda. Belajarlah untuk mencintai dan mengerti, mengasihi dan melindungi, mempraktekkan berbagai ilmu positif yang kita lihat, kita dengar dan kita baca demi kelanggengan hidup pernikahan kita. Selamat berjuang dan teruslah mencintai pasangan Anda. (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA)

1457883638257

 

 

 

SEDIKIT CATATAN TENTANG CINTA

Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna.

image

Saya bukan pakar pernikahan. Bukan pula seorang istri atau ibu yang sempurna. Sama seperti kalian, saya juga memiliki banyak impian, harapan dan – sedang berjuang tiada henti – demi menciptakan kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Mengamati serta mendengar kisah pernikahan dari banyak kawan, sahabat dan saudara, selalu menambah ‘sesuatu’ dalam pikiran dan hati saya. Dua hal yang bisa saya simpulkan setelah berbincang dengan mereka:

1. Tak ada pernikahan yang sempurna.
2. Bahwa tiap kita selalu memiliki 3 pilihan dalam menjalaninya: melanjutkan, menyerah, atau berusaha sekuat dan sebaik yang kita mampu, setiap saat. (Give up, give in or give all we got!).

Saya semakin sadar, dunia saat ini berputar terlalu cepat. Seingat saya semua itu terjadi sejak segala sesuatu diberi label FAST. Fast food, fast communication, fast interaction, fast information, fast result dan berbagai macam ‘fast’ lainnya. Dunia semakin tak bisa menikmati proses alami dari banyak hal. Orang lebih memilih membeli makanan kaleng atau makan fastfood. Alasannya: biar cepat!

Orang lebih suka bertegur sapa dengan chat apps daripada bertemu muka dan berbincang. Alasannya: biar cepat! Orang lebih suka mencari info dari internet atau berkirim ‘kartu digital’ kepada teman dan keluarga, karena (guess what?) LEBIH CEPAT sampai dan langsung dibaca. Tak ada lagi rasa deg2an menanti pak pos mengantar surat pacar. Atau silaturahmi kepada sanak keluarga (karena merasa toh tiap hari sudah berbincang lewat chat apps).

TAK ADA YANG SALAH DENGAN SEMUA ITU. Asal digunakan sesuai porsinya. Yang salah adalah, jika gaya hidup serba cepat itu lalu mempengaruhi karakter dan cara pandang kita terhadap kehidupan. Kita lebih suka MENGGANTI daripada MEMPERBAIKI. Kita lebih suka HASIL daripada PROSES. Dan gawatnya, hal itu diimplementasikan dalam segala segi kehidupan, termasuk PERNIKAHAN. Semakin jarang pasangan yang memilih untuk ‘memperbaiki’, apalagi mencintai ‘proses’. Dan semakin banyak pasangan yang lebih suka ‘mengganti’ dan berfokus pada ‘hasil’ tapi tidak pada proses & perbaikannya.

Saya adalah salah satu dari banyak wanita  istri dan ibu yang masih & (mudah2an dengan kasih karunia Tuhan) akan selalu memposisikan PERNIKAHAN sebagai sebuah ‘lahan kudus’ yang harus dijaga, ditanami, dirawat dan diberi ‘makan’. Saya MASIH PERCAYA, bahwa sebuah pernikahan memang sejatinya harus dijalani ‘hingga maut memisahkan’. Dan proses mencintai seseorang tidak cukup hanya dengan masa-masa bahagia saja. Tetapi yang lebih penting adalah: dimasa sulit. Dimana semuanya seperti tak termaafkan. Disitulah kita perlu menabur lebih banyak pengampunan, kasih, pengertian dan penerimaan.

Usia pernikahan kami baru 18 tahun. Masih ABG memang. Mangkanya saya segan menulis dengan “udara menasehati”. Mungkin lebih tepat kalo disebut “berbagi untuk memberkati”. Jika boleh saya berbagi beberapa hal untuk sahabat-sahabat yang single (dan sedang mencari jodohnya), yang menikah, yang tidak menikah, yang duda/janda atau juga mereka yang telah menikah lagi (dan lagi! Hehehe…). Berikut pemikiran saya (mohon maaf kalau TIDAK SEMPURNA):

1. Jika kamu masih single, fokuslah membangun dirimu menjadi seorang pria/wanita yang baik dan bertanggung jawab (kepada Tuhan, orangtua dan sesama). Orang yang fokus membangun karakter dirinya sesuai dengan KEBENARAN, tentu tak akan dengan mudah memutuskan untuk menikah dengan sembarang orang. Focus on being a Godly man/woman. And you will find the one that attract your Godly  character as well.

2. Jika kamu adalah seorang yang sudah menikah, ingatlah: pernikahan bukan didesign untuk memudahkan hidupmu, tetapi dirancang bagi para pejuang dan pemberani, yang tidak mudah putus asa dan mau terus melakukan yang terbaik, berapapun harganya, hingga maut memisahkan. Pernikahan tidak dirancang untuk orang-orang egois, yang menikah demi harta, tahta, wanita atau kerakusan pribadi semata. Karena pada dasarnya: pernikahan adalah tempatnya berbagi tanpa pamrih dan tanpa ada batasan waktu.

3. Kalau kamu adalah seorang yang sedang memutuskan untuk berpisah atau meninggalkan pasanganmu, ingatlah: Jangan selalu mengakhiri segala sesuatu dengan perpisahan. Karena berpisah bukan selalu jawaban terbaik. Berusahalah dahulu. Belajarlah mencintai proses. Mundurlah dari ranah keegoisan dan mulailah mementingkan kebahagiaan pasanganmu lebih daripada kepentinganmu sendiri. Berikan waktu pada CINTA untuk bangkit kembali. Seorang yang peduli pada kebahagiaan orang lain UMUMNYA akan merasakan kebahagiaan yang LEBIH BANYAK dari yang dia harapkan. Ingat: memberi selalu lebih baik daripada menerima. Sementara bercerai itu seperti bom waktu yang meninggalkan tapi tidak menyelesaikan masalah. Hanya menguburnya, dan suatu saat akan naik ke permukaan lalu MELEDAK dan mengacaukan kehidupan baru Anda.

4. Jika Anda adalah duda/janda yang merindukan kesempatan kedua, saya berharap Anda memulai lagi dengan pemikiran yang bijaksana. Bahwa pernikahan adalah seperti yang saya katakan di nomor 2. Secantik apapun istri barumu, sekaya apapun suami barumu, masalah dalam pernikahan akan selalu ada. Mungkin beda bentuknya. Tapi semua selalu tentang “ujian terhadap kemampuan kita untuk mencintai, mengampuni, mengerti dan menerima, apapun, bagaimanapun & sampai kapanpun.” TITIK. Jadi jangan Anda pikir, pasangan barumu akan menghindarkanmu dari masalah. Ingat: Mobil baru hanya terasa baru di bulan pertama. Setelah itu ia tetap harus dibawa ke bengkel untuk dirawat & diperbaiki.

Akhirnya, dengan segala hormat dan kerendahan hati, saya memohon kepada setiap suami/istri, setiap ayah/ibu, mari kita menjadi orang-orang yang mencintai proses dalam sebuah hubungan. Melihat masalah sebagai kesempatan untuk menguji kekuatan cinta, dan bukan malah melepaskannya. Menghadapi tantangan sebagai kesempatan untuk memaafkan, mengerti dan menerima. Karena toh kita juga tak sempurna. Do not judge your spouse just because he/she sinned differently than you. Adalah tanggung jawab kita sepenuhnya untuk membuat pasangan kita menjadi lebih baik; kamu terlihat lebih baik karena aku, dan aku terlihat lebih baik karena kamu. Let’s build each other and kill every problem with kindness, love, forgiveness, understanding & acceptance. This is an UNCOMPROMISED LEGACY yang wajib kita tinggalkan bagi anak-anak kita. Have a great journey together! (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA) #TogetherStronger #RelationshipMatters #LoveConquersAll

UJIAN YANG MENGUATKAN

Setiap pernikahan akan menghadapi ujian. Sekali lagi, SETIAP pernikahan akan menghadapi UJIAN. Jenisnya mungkin berbeda-beda. Tetapi semuanya sama-sama menuntut kesabaran, penerimaan, pengertian, usaha dan pengorbanan. Wujud dan dalamnya kesabaran serta penerimaan pada setiap orangpun berbeda-beda. Kedewasaan spiritual dan mental menjadi tolok ukur dalam menilai kemampuan setiap pasangan untuk bertahan dan berjuang, hingga akhirnya menang.

Satu hal yang harus kita ingat baik-baik, setiap masalah atau tantangan dalam pernikahan akan membawa kita pada dua posisi akhir, yaitu: menang atau kalah. Menang dalam arti kita tetap teguh berpegang pada janji pernikahan, serta berkomitmen untuk menghadapi, menjalani, bertahan serta memenangkan pertempuran melawan masalah. Atau kalah, dalam arti kita menyerah dan memilih untuk mengakhiri serta meninggalkan medan tempur.

Kedua pilihan itu memang tidak mudah untuk dijalani. Masing-masing memiliki resiko yang harus kita tanggung dan hadapi. Yang tepenting adalah, “Apakah kita mau membayar harga untuk meraih kemenangan itu?” Perjuangan yang kita hadapi menuju pada kemenangan akan menuntut banyak pengorbanan, terutama dalam hal penyesuaian sikap dan pemikiran yang tentu tidak mudah untuk dilakukan. Tak perlu dirinci pengorbanan apa saja yang harus kita lakukan. Tetapi kita semua tahu, sesuatu yang berharga pastilah menuntut pengorbanan yang mahal harganya. Sekarang, apakah kita bersedia membayarnya?

Yang jelas, saat kita dihadapkan pada ujian pernikahan – jika kita tidak menyerah dan mau berusaha demi kepentingan bersama – maka ujian yang kita hadapi akan berakhir pada kemenangan, kedekatan (satu sama lain) dan kesembuhan (jiwa dan roh) pada  kedua belah pihak. Sebaliknya, bila kita memilih untuk menyerah pada ujian ini, maka kita akan berhadapan dengan kekalahan, perpisahan dan luka hati di kedua pihak. Pilihan ada di tangan Anda berdua.

Mungkin beberapa dari kita sedang menghadapi ujian dalam rumah tangga. Resep lulus ujian tentulah “belajar” dan “mempersiapkan diri” dengan sungguh-sungguh:

BELAJAR menerima, memaafkan & mengerti. Serta saling menolong agar pasangan kita dapat kembali pada panggilan awalnya sebagai suami atau istri yang baik.

MEMPERSIAPKAN DIRI meliputi pembenahan hubungan serta kedekatan kita pada Yang Maha Kuasa (karena memenangkan ujian tanpa hikmat dari Tuhan adalah usaha yang sia-sia). Siapkan diri untuk berkomunikasi dengan kerendahan hati, keinginan untuk mendengar serta berfokus pada jalan keluar, bukan pada siapa yang benar atau salah. Siap untuk berkomitmen menjalankan langkah-langkah positif yang telah didiskusikan bersama pasangan agar ujian dapat diselesaikan dengan nilai yang baik. Pada akhirnya, tentukan tujuan baru yang lebih baik bagi pernikahan Anda berdua. Apa serta bagaimana mewujudkannya, sehingga pernikahan Anda akan terus berjalan semakin kuat, semakin indah, semakin melekat dan semakin mesra. (KB/FOF)

SPEECHLESS

image

Daily Mirror di London memuat bahwa ternyata pasangan suami isteri tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan setelah menikah selama 8 tahun. Profesor Hans Jurgens bertanya pada 5000 suami dan isteri di Jerman tentang berapa sering mereka mengobrol. Setelah 2 th menikah mereka berbicara 2-3 menit saat makan pagi, 20 menit saat makan malam, dan beberapa menit lagi di tempat tidur. Menginjak tahun ke-6 mereka mengobrol 10 menit per hari.

Menjelang 8 th pernikahan, ternyata mereka tidak lagi mengobrol. Mungkin orang Indonesia lebih banyak bicara dari pada orang Jerman. Tetapi mudah-mudahan bukan bicara satu arah saja, atau kehabisan topik setelah menikah bertahun-tahun. Beberapa topik supaya mengobrol memperdalam hubungan Anda:

IMPIAN: Tanyakan impiannya dan bagaimana Anda bisa membantunya mencapai impian itu.  Bisa juga tanyakan pengandaian, “Kalau kamu dapat Rp. 1 milyar, akan kamu gunakan untuk apa uang itu?”

TV DAN FILM: menjadi topik menarik, karena banyak hal yang bisa digali: pelajaran yang ditarik dari film itu, motivasi tiap karakter, dll. Obrolan yang sedikit “mendalam” jauh lebih menarik dari pada sekedar komentar betapa kerennya aktor yang membintangi film tersebut.

TUHAN: Tanyakan apa yang menjadi bebannya untuk didoakan. Bicarakan kebaikan Tuhan yang Anda rasakan hari itu. Bicarakan apa yang Anda berdua bisa lakukan dalam kegiatan sosial kemanusiaan.
Masih banyak topik lainnya, yang penting gunakan pembicaraan itu untuk lebih mengerti pasangan Anda, menggali keinginannya, membuat ia merasa didengarkan, selain mengarahkan Anda berdua pada tujuan yang sama. Eleanor Roosevelt berkata, “Pikiran yang besar berbicara tentang ide. Pikiran yang kecil berbicara tentang orang.” Apa yang Anda dan pasangan bicarakan? Menggosipkan tetangga/rekan kerja, atau bicara hal-hal yang berarti? (EI / FOF)