Family Gathering: SESPIMMEN POLRI 56 BATALYON WICAKSANA LAGHAWA

image

Lembang ,  5 November 2016 – KELUARGA. Tidak banyak orang benar-benar memahami makna kata keluarga dalam kehidupannya. Akhir pekan kemarin, FOFI – bekerjasama dengan keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56 Batalyon Wicaksana Laghawa – menggelar  Family Gathering yang bertujuan untuk mengembalikan kedekatan dalam keluarga. Keharmonisan keluarga bagi seorang SESPIMMEN POLRI sangatlah penting. Dan melalui event ini, FOFI berharap momen eksklusif dapat terbangun diantara pasangan serta anak dan orangtua. Berangkat dari pemikiran itulah, FOFI menyusun serangkaian acara menarik bagi keluarga SESPIMMEN POLRI 56.

Aktivitas pagi itu dibuka dengan senam pagi bersama keluarga dengan instruktur senam handal, Tawarikh. Aktifitas ini tidak saja bertujuan untuk mengajak seluruh keluarga untuk hidup bugar, tetapi juga membangun kedekatan antar anggota keluarga. Setiap gerakan yang dilakukan pada sesi Senam Pagi ini penuh dengan unsur membangun kekompakan keluarga. Karena kami percaya, cara kita memulai hari akan menentukan keadaan hati dan pikiran kita sepanjang hari itu. Dan olahraga bersama merupakan salah satu cara positif untuk memulai hari yang sehat dan bahagia.

Saat coffee break, seluruh peserta keluarga SESPIMMEN POLRI 56 terlihat bercengkrama dan menikmati waktu istirahat mereka dengan bertukar cerita bersama keluarga lainnya. Sharing merupakan poin penting dalam hidup berkeluarga. Karena dari situlah kita dapat memperoleh masukan serta mengerti isi hati anggota keluarga kita. Kami berharap aktifitas ini dapat sering dilakukan dengan menyesuaikan waktu yang ada dalam keluarga masing-masing, agar tercipta komunikasi yang baik dan hubungan yang akrab. Karena kebersamaan adalah sesuatu yang WAJIB dilakukan.

image

Selepas Coffee Break, acara permainan (games) pun dimulai. Sesi ini disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak. Rangkaian games memang kami rancang agar seluruh anggota keluarga turut ambil bagian didalamnya. Games seperti: Jaring laba laba, lompat tali, balap karung, bakiak dan membuat sandwich diadakan dengan agenda menanamkan nilai-nilai kerjasama, kekompakan dan saling support antar anggota keluarga. Ada pula games yang dirancang untuk mengasah kemampuan ayah dalam bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, dimana mereka diharapkan mampu membantu anggota keluarga dalam menghadapi rintangan hidup. Games ini juga mengajar setiap anggota untuk mengutamakan cinta kasih dalam keluarga. Praktek cinta kasih dalam bentuk sederhana adalah adanya pengertian antara suami istri serta orangtua dan anak akan peran masing-masing, sehingga dapat saling mendukung dan menolong.

Waktu makan siang pun tiba. Secara otomatis para istri dan ibu saling bantu dalam menyiapkan makanan bagi para suami dan anak-anak mereka. Wujud tenggang rasa serta-merta dapat terlihat, dimana para suami tak sungkan membantu pasangan mereka menyuapi anak-anak, agar sang istri dapat makan dengan tenang. “Makan” merupakan momen penting bagi anggota keluarga untuk mulai melakukan pendekatan pada pasangan, anak dan anggota keluarga lainnya. FOFI sangat menganjurkan agar keluarga selalu dapat mengusahakan waktu makan bersama. Karena ini merupakan salah satu cara mendasar dalam membangun waktu berkualitas. Dengan terbangunnya kebersamaan, maka komunikasi didalam keluarga akan semakin dalam, kuat dan harmonis.

image

Rangkaian acara Family Gathering ini ditutup dengan peresmian Majalah IKHAGAWA yang diluncurkan oleh keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56. Majalah ini memuat berbagai aktifitas dan tugas pekerjaan yang dilakukan para anggota POLRI 56 selama tujuh bulan mengemban tugas. Dengan kemunculan majalah ini, mereka berharap agar hubungan antar keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56 dapat senantiasa melekat dan akrab. Selain Family Gathering, event ini juga merupakan momen reuni bagi keluarga SESPIMMEN POLRI 56 Batalyon IKHAGAWA. Dimana mereka berharap agar kekompakan dan hubungan baik dapat terus terjaga, baik didalam anggota keluarga sendiri maupun dalam ikatan keluarga besar POLRI.

image

Melalui Family Gathering ini, FOFI ingin menjangkau seluruh peserta dan anggota keluarga SESPIMMEN POLRI 56 dengan harapan agar mereka dapat mengenal, memahami, melakukan dan mengedepankan nilai-nilai keluarga dalam seluruh aktifitas kehidupan mereka. Dalam event ini, FOFI juga memberikan ruang bagi anak-anak keluarga SESPIMMEN POLRI 56 untuk dapat menyalurkan minat dan mengekspresikan bakat mereka dengan pengadaan mini playground lengkap dengan berbagai macam food stall anak yang – tentu saja – menjadi penambah keceriaan bagi seluruh anak-anak SESPIMMEN POLRI 56. Apalagi ditambah dengan kehadiran badut serta sesi mewarnai. Semua ini kami lakukan sebagai bentuk dukungan FOFI bagi anak-anak dalam mengekspresikan bakat dan kreatifitas mereka.

Tentang Focus On The Family Indonesia
Focus On The Family Indonesia adalah yayasan nirlaba dan lembaga swadaya masyarakat yang  berfokus pada hubungan keluarga. Misi kami adalah merestorasi hubungan keluarga Indonesia melalui beberapa core activities seperti: family bonding events, seminar, live talkshow, workshop, training, konseling, maupun pendekatan melalui media (online maupun offline).

Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi :
SHINTYA
Telp: 087888564637
Email: shintya.fofi@gmail.com

IBU VS ISTRI: PILIH YANG MANA?

image

…dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

Sebuah masalah klasik yang terjadi di hampir setiap pernikahan, dimana seorang suami sering diperhadapkan pada keadaan: Membela ibu atau istri? Mengutamakan ibu atau istri?

Akan lebih baik dan lebih mulus jalannya bila seorang calon istri mengambil waktu untuk mengenal lebih dekat bakal calon ibu mertuanya. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang muncul di kemudian hari dapat lebih mudah teratasi. Begitu pula dengan sang anak lelaki, atau calon suami. Ada baiknya secara terbuka berbicara pada ibunya dari hati ke hati tentang seberapa jauh ia ingin sang ibu mensupport pernikahan dan hubungannya dengan istrinya.

Dengan demikian, hubungan ibu dan anak lelaki serta menantu perempuan akan lebih jelas dan terarah serta saling mengerti dan menghormati posisi masing-masing.

Dr. Sylvia L. Mikucki-Enyart, seorang asisten profesor bidang Komunikasi di Universitas Wisconsin melakukan penelitian terhadap 89 orang ibu mertua, dan ditemukan beberapa kekhawatiran mendasar (yang mirip satu sama lain) tentang pernikahan anak lelakinya. Ternyata, ibu yang memiliki anak lelaki jauh lebih khawatir untuk melepas anak lelakinya masuk dalam pernikahan, dibandingkan melepas anak perempuannya.

Kekhawatiran itu adalah:
1. Apakah hubungan IBU-ANAK akan berubah?
2. Apakah anak saya akan menjadi jarang berkunjung atau menelepon?
3. Apakah ia akan mengisi liburan bersama kami atau tidak?
4. Apakah ia akan tetap setia membela dan bergantung pada kami atau tidak?
5. Apakah dia akan cukup makan yang sehat dan bergizi?
6. Bagaimana istrinya akan memperlakukan dia nanti?

Dr. Mikucki-Enyart juga melakukan penelitian terhadap 133 menantu perempuan. Dan ternyata, mereka pun memiliki beberapa kekhawatiran, yaitu:

1. Apakah ibu mertua saya akan terlalu ikut campur dalam banyak hal di pernikahan kami?
2. Apakah ibu mertua saya mampu mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik? (Atau akan sering merongrong suami saya dan meminta bantuan keuangan).
3. Apakah ibu mertua saya akan menjelek-jelekkan saya pada suami saya?

Dalam pernikahan, sebab utama ketegangan antara ibu mertua dan menantu perempuan adalah: Adanya kompetisi dalam hal siapa yang lebih baik dalam merawat / melayani si anak lelaki; Ibunya kah? Atau sang istri?

Untuk itulah dibutuhkan sikap dewasa, kerendahan hati serta kebijaksanaan sang ibu untuk mundur dan membiarkan sang menantu perempuan berperan menjalankan tugasnya untuk melayani suami. Tentu ini BUKAN PERKARA MUDAH! Karena dibutuhkan pengertian yang besar diantara kedua wanita – ibu mertua dan mantu perempuan – untuk membuat semuanya berjalan dengan baik. Suami juga WAJIB berperan dalam menetapkan batasan-batasan dalam rumah tangganya, baik bagi sang ibu maupun istri.

Masalah yang paling sering muncul ke permukaan adalah: Saat suami (anak lelaki) terperangkap dalam pilihan sulit, membela ibunya atau istrinya? Berikut ini adalah beberapa anjuran untuk mengatasi situasi tersebut:

1. Jadikan istri Anda sebagai prioritas Anda, tetapi jangan meninggalkan dan tetaplah menunjukkan sikap peduli pada ibu Anda. Katakan bahwa Anda mencintai istri Anda, dan bahwa istri Anda membutuhkan dukungan ibu untuk membuat dia (istri Anda) merasa diterima dan dikasihi.

2. Saat istri Anda mengeluh tentang sesuatu, dengarkan keluhannya. Jangan bersikap lebih membela pihak lain, cobalah mengerti permasalahan yang ia hadapi. Jika masalahnya adalah bahwa ibu Anda terlalu mencampuri urusan pribadi rumah tangga Anda berdua, bicaralah empat mata (menegur dengan penuh hormat dan kasih) dengan ibu Anda.

3. Sebisa mungkin, ajak kedua pihak keluarga (anda dan istri Anda) dalam perayaan atau momen-momen penting Anda. Berhati-hatilah, jangan sampai ibu dari kedua pihak merasa tidak diikut sertakan. Jika salah satu pihak tidak dapat hadir, PASTIKAN Anda memberitahukan bahwa “Tiada kesan tanpa kehadiran mama.”

4. Dalam segala persoalan, kondisi dan situasi, utamakan istri dan keluarga inti Anda. Umumnya, jika ibu melihat bahwa anak-anaknya memiliki pernikahan yang bahagia dan saling mencintai, mereka akan melakukan yang terbaik untuk mendukung kesuksesan pernikahan Anda.

5. Jangan pernah menjelekkan istri Anda dihadapan ibumu, demikian pula sebaliknya. Karena ini dapat menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja.

Biasanya permasalahan keluarga diserahkan kepada pihak wanita atau istri. Tetapi jika itu menyangkut hubungan antara ibu, anak lelaki dan istrinya, permasalahan ini membutuhkan perlakuan dan tindakan khusus dari sang anak lelaki / suami.

Bagaimanapun juga, ibu adalah sosok wanita pertama yang hadir dalam hidup si anak lelaki. Ibu dan anak lelaki memiliki hubungan khusus yang rumit sekaligus istimewa. Oleh karena itu, dibutuhkan kebesaran hati dan pengertian yang dalam bagi seorang ibu untuk dengan rela melepaskan dan mempercayakan anak lelakinya untuk dilayani dan dirawat oleh sang istri. Percaya bahwa si anak mampu mengerti posisi mertua-menantu, serta dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

(KB/FOFI, Disadur dari Artikel “Guys, Your Mother Can Destroy Your Marriage” oleh Mary Jo Rapini, seorang Licensed Relationship and Family Therapist, http://www.chron.com).

A CRANKY MAMA!

“Everyone, stop calling my name and stop asking mommy about anything, okay. I’m tired!” Setengah berteriak saya berkata kepada anak-anak saya dan seisi rumah. Hari itu saya merasa extra lelah dan bad mood. Entah mengapa. Beberapa menit setelah saya mengultimatum seisi rumah untuk berhenti ‘mengganggu’ saya, rumahpun sepi, dan… hati saya mulai diliputi rasa bersalah. Ah, jadi galau!

1457884400057

Berapa banyak isteri dan ibu yang mengalami dan merasa seperti saya? Disatu sisi kita ingin sekali menjadi isteri dan ibu teladan, tapi disisi lain kita (ternyata) hanya manusia biasa yang butuh istirahat, menarik nafas dan sekedar duduk diam tanpa melakukan apa-apa. We just want our quiet moment. And usually we want that at the busiest schedule of the day! HAHA…

Saya rasa masalah ini tidak hanya berhubungan dengan ibu rumah tangga saja. Tetapi ibu bekerja pun mengalami hal yang sama. Intinya, apapun karier dan kesibukan ibu, sekali waktu kita amat sangat membutuhkan momen berdiam diri – tidak melakukan apapun, tidak berkata apapun, tidak berpikir apapun. Kita. Ingin. Istirahat. Bahasa kerennya, hibernating moment. Pertanyaannya: Apakah bisa? Beberapa kali saya (dengan gaya sok idealis) berusaha melakukan momen hibernasi ini. Tetapi dalam waktu 10 menit, hati saya mulai diliputi rasa bersalah, lalu otak saya mulai memikirkan schedule esok hari, “Oh besok si adik harus bawa ini. Oh si kakak besok les, harus dijemput jam sekian, bla.. bla.. bla..” Momen hibernasi pun GAGAL TOTAL!

Bulan Maret 2016 ini, tema Social Media FOF INDONESIA adalah Getting to Know Your Spouse / Kids / Family. Dan saya merasa, topik ini cukup tepat untuk diangkat. Sebagai perempuan yang mewakili jutaan isteri dan ibu, saya ingin menyuarakan isi hati mereka juga. Bukan tentang hal berat serupa kesetaraan gender atau lainnya, tapi hal sederhana yang seringkali kita abaikan, padahal amat kita butuhkan: A quiet moment, a hibernating session, a moment to be alone and NOT doing things that WE HAVE TO, but doing things that WE WANT TO. 

Kepada para pria, selaku suami dan ayah, ada baiknya Anda mulai mencatat hal-hal yang akan saya ungkapkan berikut ini. Jangan khawatir, saya tidak bermaksud memprovokasi para isteri (HAHA..) justru saya ingin para suami dan ayah belajar memahami  isteri Anda dengan lebih baik lagi.

  1. BE THOUGHTFULNothing is sexier than a thoughtful husband. Jadilah suami yang sensitif terhadap kebutuhan isteri untuk merasa dikasihi dan dimengerti. Bukan dengan materi (saja), tapi lebih daripada itu, dimengerti perasaan dan pikirannya. Caranya? Mudah sekali. Ambil waktu untuk mempelajari bahasa tubuh dan kebiasaan isteri Anda. Suami saya orang yang sangat pandai dalam hal ini. Hanya melihat saya naik ke tempat tidur diwaktu yang tidak biasa, ia langsung tahu bahwa saya lelah dan ingin istirahat. Ia lalu akan menutup pintu kamar dan membiarkan saya beristirahat.
  2. HELP YOUR WIFE. Tolonglah isteri Anda. Bentuk pertolongannya bisa bermacam-macam. Jika isteri Anda seorang ibu rumah tangga, bantulah ia dengan melakukan hal-hal simple seperti membereskan rumah yang berantakan, mencuci piring, mencuci kamar mandi, mengajak anak-anak keluar rumah, agar isteri dapat santai sejenak menikmati me time nya tanpa gangguan, atau hal lain yang menurut Anda dapat mengurangi beban isteri saat ia merasa kelelahan. Jika Anda kurang paham apa yang dapat Anda lakukan untuk menolong dia, JANGAN MALU BERTANYA.
  3. GIVE HER ASSURANCE.  Isteri yang Anda nikahi sekarang mungkin (menurut Anda) sudah tidak terlihat semenarik dulu, tetapi ingat: Ia masih dan selamanya akan menjadi isteri Anda, hingga maut memisahkan. Seorang isteri bukannya tidak tahu kalau suaminya mencintai dia. Tentu kami tahu. Tapi kami ingin mendengar para suami melontarkan pujian (bukan rayuan gombal!) yang dapat memberi energi dan mengembalikan rasa percaya diri, bahwa kami dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan dalam hidup suami kami. Kuncinya: Jangan gengsi memuji!
  4. I GOT THIS!  Sebuah kalimat dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih: Biar saya yang urus. Anda sadari atau tidak, saat ini semakin sedikit suami dan ayah yang mampu mengatakan dan melakukan hal ini. Banyak suami atau ayah yang ‘merasa’ isterinya sudah paham dan dapat melakukan hampir segala hal sendiri, termasuk mencuci mobil, service mobil bulanan ke bengkel, menelepon tukang untuk memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah, dan lain sebagainya. TENTU SAJA kami bisa! Tapi terkadang kami ingin menjadi istri yang terima beres dalam hal-hal seperti ini. Kami ingin para suami berkata: “It’s okay sayang, biar aku saja yang urus.” Perkataan seperti ini seperti air yang dituang diatas kepala yang panas karena terpanggang terik matahari.
  5. PHYSICAL TOUCH IS IMPORTANT. Hal terakhir yang mungkin ingin sekali saya sampaikan adalah untuk sering-sering memberi sentuhan sayang kepada isteri Anda. Sentuhan fisik bukan melulu soal aktifitas seksual. Tetapi sentuhan-sentuhan kecil namun hangat yang dilakukan suami kapan saja, dimana saja sebagai ekspresi rasa sayang. Untuk beberapa suami mungkin membutuhkan perjuangan atau latihan khusus dalam melakukan kebiasaan ini. Tetapi teruslah berusaha untuk melakukannya. Isteri Anda akan merasa seperti memiliki energi baru yang luar biasa saat mendapati suaminya mengelus punggungnya, memijit kakinya, mengusap kepalanya atau mencium lembut pipi atau bibirnya. Hal-hal sederhana yang mungkin sudah kita lupakan (saking sibuknya!), mari lakukan kembali.

Akhir kata, semoga tulisan saya ini dapat membantu para suami dan ayah untuk ‘mengerti’ keinginan dan kebutuhan isteri Anda untuk merasa dikasihi, dibutuhkan dan diutamakan. Dan bagi para isteri, semoga tulisan ini dapat mewakili setidaknya sepersekian persen dari sekian banyak harapan Anda kepada sang suami. Mari berlomba dalam memberi dan melakukan kebaikan bagi pasangan Anda. Belajarlah untuk mencintai dan mengerti, mengasihi dan melindungi, mempraktekkan berbagai ilmu positif yang kita lihat, kita dengar dan kita baca demi kelanggengan hidup pernikahan kita. Selamat berjuang dan teruslah mencintai pasangan Anda. (Karina Budiman untuk FOF INDONESIA)

1457883638257

 

 

 

MEMAHAMI REMAJA

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa (misalnya perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki).

Selain aspek fisik, secara kognitif anak pun mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orangtua perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orangtua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi bantahan sebagai ekspresi pernyataan pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosioemosional remaja.
Secara sosioemosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orangtua.
Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orangtua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebayanya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.
Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya masih berproses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih dan menentukan nilai dan prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Oleh karena itu orangtua sering melihat bagaimana remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, tetapi bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-4 aspek tersebut: fisik, kognitif, sosioemosional dan moral, dapat disimpulkan bahwa si remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orangtua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami si remaja, akan membuat orangtua dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan si remaja.

Misalnya terkait pubertas, orangtua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, berikut bagaimana menyikapinya. Tentang kemampuan berpikir, orangtua hendaknya tidak memaknai pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi memang konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orangtua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosioemosional remaja, diperlukan kebesaran hati orangtua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minatnya, tetapi tetap dalam batasan koridor norma aturan keluarga yang jelas. Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Pada dasarnya, yang dibutuhkan remaja ada penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. (Ibu Pinkan Margaretha Bolang untuk FOF Indonesia)

SERVING THE LOST: Melayani Mereka Yang Terhilang.

Pastikan kita adalah orang-orang yang senantiasa menggunakan potensi diri setiap saat untuk menciptakan, merubah, menyembuhkan, mempersatukan dan membangun kehidupan sesama. KITA BISA!

Dalam sebuah kesempatan, seorang wartawan bertanya pada Mother Theresa, “Mengapa Anda begitu semangat melayani para pengemis dan gelandangan ini setiap hari? Toh jumlah mereka dari tahun ke tahun tak pernah berkurang? Anda rela meninggalkan kedudukan sebagai Kepala Sekolah (sebuah kedudukan yang terpandang dan tidak mudah untuk diperoleh saat itu) demi pengemis dan gelandangan, apa alasan Anda?“ Lalu Mother Theresa menjawab: “ Saya dipanggil Tuhan bukan untuk sukses secara jabatan. Saya dipanggil Tuhan untuk melayani orang-orang yang terhilang.” Sebuah jawaban yang membuat saya merinding, terharu dan tersentuh. Mother Theresa telah menginspirasi saya untuk melayani orang-orang yang tersingkir, dilupakan bahkan dicap sebagai “sampah masyarakat”.

Tak terasa, hampir dua tahun saya melayani mereka melalui Lembaga Pemasyarakatan Wanita Dewasa di Tangerang. Sebuah pelayanan yang membutuhkan komitmen dan kesediaan hati untuk menampung air mata warga binaan di LAPAS. Pelayanan ini menuntut ketulusan dan kerendahan hati, sikap ramah dan kemampuan untuk menangkap, menganalisa, dan mengeksplorasi kisah yang diungkapkan mereka. Dan pada akhirnya, kita diharapkan dapat menopang, membimbing dan membantu proses kesembuhan luka bathin mereka, serta memberi harapan untuk bangkit dari keterpurukan. Kasus yang saya tangani bermacam-macam. Mulai dari keinginan bunuh diri dengan minum cairan pembersih lantai, mencoba melarikan diri dengan melompat tembok yang akhirnya terjatuh dan terluka, kasus depresi sehingga setiap hari berteriak dan menangis ketakutan, ada yang kesulitan bicara dan hanya bisa menangis karena rindu pada anak-anaknya, ada sulit makan dan mengidap insomnia (tidak bisa tidur) karena menyesali perbuatannya, dan masih banyak lagi.

Disana saya hadir secara jasmani dan rohani untuk menguatkan mereka. Saya paham perasaan mereka yang kesepian, merasa tidak berharga dan kebingungan. Mereka membutuhkan kasih serta perhatian kita. FOF Indonesia Ambasador hadir dengan agenda restorasi, dimana melayani orang-orang terhilang adalah salah satunya. Dan para ambassador dari Focus On The Family Indonesia ini siap untuk menjadi perpanjangan tangan dalam membantu proses pemulihan jiwa mereka. Kitapun sebagai wanita, istri dan ibu, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi alat restorasi bagi orang-orang sekitar kita. Dan kita dapat memulai kapan saja, dimana saja, dengan apa yang kita miliki. Adakan waktu untuk melihat dan memperhatikan lingkungan sekitar kita, karena PASTI ada saja orang atau keluarga yang membutuhkan pertolongan kita. Menjadi agen perubah tidak harus melakukan hal-hal fantastis dalam jumlah besar. Tetapi inti dari keberadaan kita didunia ini adalah untuk berkarya. Berkaryalah sebaik-baiknya bagi orang yang membutuhkan sentuhan tangan, pikiran dan juga perasaan kita. Jangan hidup tanpa menggali potensi-potensi besar dalam diri. Pastikan kita adalah orang yang senantiasa berusaha setiap saat untuk menggunakan potensi kita untuk menciptakan, merubah, menyembuhkan, mempersatukan dan membangun kehidupan sesama. KITA BISA! (Ibu Krisna Dewi Maharti Untuk FOF INDONESIA)

image

NEW YEAR RESOLUTION

imageTahun baru menjadi momentum untuk berubah ke arah yang lebih baik. Orang membuat resolusi tahun baru, beberapa yang paling populer di antaranya adalah berhenti merokok, menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga, menurunkan berat badan, hidup lebih sehat dan seterusnya.

Beberapa berhasil dilakukan, tetapi yang lain menjadi resolusi di tahun berikutnya! Mengapa gagal? Pikirkan beberapa hal ini:

1. APAKAH ANDA PUNYA PENGETAHUAN & SUMBER DAYA UTK MELAKUKAN PERUBAHAN YANG MENETAP?

Contohnya, bila Anda ingin hidup lebih sehat, apakah Anda punya pengetahuan tentang pola makan yang benar? Bila Anda ingin bebas dari hutang, mungkin Anda perlu bantuan seorang Financial Planner. Jadi butuh PENGETAHUAN & SUMBER DAYA untuk berubah.

2. APAKAH ADA PENGHALANG UNTUK BERUBAH?

Hal ini harus dihilangkan, bila tidak usaha Anda akan sia-sia. Contohnya: bila ingin berhenti merokok, penghalang terbesar adalah berkumpul dengan teman-teman perokok. Jadi Anda harus bersedia mengubah gaya hidup, atau apapun yang menghalangi.

3. APAKAH RESOLUSI SAYA CUKUP SPESIFIK?

Resolusi “enjoy life” atau “lebih positif” sulit untuk dilakukan karena terlalu luas/umum. Anda harus buat resolusi Anda “measurable” atau dapat dilakukan dan diukur. Contoh: saya akan membaca satu buku motivasi positif tiap bulan.

4. APAKAH SAYA MULAI DENGAN HAL KECIL?

Resolusi yang terlalu ambisius biasanya tidak akan tercapai, lalu Anda merasa kalah sebelum tahun ini berakhir! Bila Anda ingin hidup lebih sehat dengan mulai berolah raga, jangan buat resolusi “berolah raga seminggu 2x di gym” tetapi mulai dengan 10 menit aerobik di depan TV dua kali seminggu. Setelah itu tercapai, Anda bisa meningkatkan target.

5. APAKAH RESOLUSI ANDA TIDAK TERLALU BANYAK?

Bila Anda membuat 10 resolusi yang menyangkut perubahan-perubahan yang mendasar, kemungkinan besar Anda tidak dapat mencapai semuanya. Bisa jadi di tengah-tengah Anda merasa gagal lalu berhenti karena ada beberapa resolusi yang tidak sempat dilakukan. Pilih satu atau dua resolusi saja. Menurut penelitian, dibutuhkan 21 hari berturut-turut untuk membuat suatu hal menjadi sebuah kebiasaan.

6. KEPADA SIAPA SAYA AKAN “ACCOUNTABLE”?

Anda perlu seseorang yang akan cek secara teratur apakah Anda telah melakukan perubahan itu. Tanpa rasa tanggung jawab, resolusi hanya sekedar ide baik semata!

Bila Anda sungguh-sungguh dengan merapkan hal ini, mudah-mudahan resolusi Anda bisa terlaksana dan tahun mendatang menjadi tahun dengan perubahan dan kebiasaan baru yang positif. Selamat membuat resolusi! (Esther Idayanti Untuk FOF INDONESIA)

image

FOF INDONESIA AMBASSADOR

image

Hello family, melalui blog kali ini, kami ingin memperkenalkan sepuluh Ambassador FOF INDONESIA yang terdiri dari para istri dan ibu dengan berbagai macam latar belakang kehidupan, kepercayaan, pendidikan dan profesi. Satu hal yang mempersatukan kami adalah “Hati kami bagi keluarga Indonesia.”

Jika kita melihat sejenak keadaan sekeliling kita, rasanya hari-hari belakangan ini kita sedikit sulit menemukan keindahan dan kebaikan dalam hidup sehari-hari. Sifat individualisme menjadi bertambah nyata, kita seperti tidak punya (atau tidak rela meluangkan) cukup waktu untuk memperlihatkan kepedulian kepada sesama, ditambah dengan minimnya rasa ingin berbagi, apalagi menolong.

Sebuah gambar kenyataan yang menyedihkan. Dari situlah kami memutuskan untuk membuat program-program keluarga yang kami miliki menjadi LEBIH NYATA.

FOF INDONESIA Ambassador dibentuk dengan agenda utama untuk  merestorasi hubungan dalam keluarga. Berbeda dari NGO lain yang mayoritas berfokus pada penyediaan dana, kebutuhan pangan / SEMBAKO, pendidikan atau benda-benda ekonomi lainnya, FOF INDONESIA memiliki intangible focus yaitu  merestorasi hubungan suami istri, orangtua anak dalam keluarga serta membangun karakter dan mentalitas anak-anak Indonesia melalui tiga pilar utama FOF INDONESIA, yaitu: seminar, konseling dan media (TV/Radio). Kami berharap, melalui kegiatan ini kami dapat mengembalikan nilai-nilai dan tradisi keluarga Indonesia yang seharusnya.

Kesepuluh ambassador kami ini nantinya akan terjun langsung dalam mewujud nyatakan berbagai program FOF INDONESIA berdasarkan tiga pilar utama tadi. Kami akan melakukan berbagai seminar, pelatihan, berbagi tips tentang keluarga, konsultasi, mengajarkan berbagai ketrampilan, dan sebagainya.

Selain itu, kami juga akan  melakukan kunjungan ke Lapas, komunitas keluarga pra-sejahtera dan berkomitmen untuk lebih terlibat dalam dunia sosial, politik, kewanitaan, anak, pendidikan dan – tentunya – keluarga.

Adapun official gatherings (pertemuan resmi) yang akan kami lakukan setiap tahunnya meliputi: FOF INDONESIA High Tea Gatherings (dua kali setahun), kunjungan ke KEMENTRIAN, KEMENKUMHAM, Pemberdayaan Wanita, Kementerian Sosial, BKKBN, company visitation, kunjungan ke berbagai institusi Pemerintahan Daerah, serta liputan apresiasi kepada pihak media.

Struktur organisasi FOF INDONESIA AMBASSADOR terdiri dari:

1. Valerie Mellanov (Ketua Umum)
2. Vera Suriasubrata (Ketua)
3. Krisna Dewi (Sekjen)

Yang beranggotakan sepuluh wanita:

1. Dewi Chandra
2. Esther Idayanti
3. Famela Frospenta
4. Ivone Kambey
5. Karina Budiman
6. Nenden Fleischmann
7. Pingkan Margaretha
8. Windy Tirayoh
9. Sylvana Juita
10. Marlienna Suwito

Dengan demikian, kami memohon doa restu serta dukungan dari seluruh keluarga Indonesia, agar setiap program dan rencana kerja yang telah kami susun rapih ini dapat terlaksana dengan baik, sehingga impian kami untuk membangun, merestorasi dan menanamkan nilai-nilai tradisi dalam keluarga Indonesia dapat terwujud. (KB/FOF INDONESIA)