IBU VS ISTRI: PILIH YANG MANA?

image

…dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

Sebuah masalah klasik yang terjadi di hampir setiap pernikahan, dimana seorang suami sering diperhadapkan pada keadaan: Membela ibu atau istri? Mengutamakan ibu atau istri?

Akan lebih baik dan lebih mulus jalannya bila seorang calon istri mengambil waktu untuk mengenal lebih dekat bakal calon ibu mertuanya. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang muncul di kemudian hari dapat lebih mudah teratasi. Begitu pula dengan sang anak lelaki, atau calon suami. Ada baiknya secara terbuka berbicara pada ibunya dari hati ke hati tentang seberapa jauh ia ingin sang ibu mensupport pernikahan dan hubungannya dengan istrinya.

Dengan demikian, hubungan ibu dan anak lelaki serta menantu perempuan akan lebih jelas dan terarah serta saling mengerti dan menghormati posisi masing-masing.

Dr. Sylvia L. Mikucki-Enyart, seorang asisten profesor bidang Komunikasi di Universitas Wisconsin melakukan penelitian terhadap 89 orang ibu mertua, dan ditemukan beberapa kekhawatiran mendasar (yang mirip satu sama lain) tentang pernikahan anak lelakinya. Ternyata, ibu yang memiliki anak lelaki jauh lebih khawatir untuk melepas anak lelakinya masuk dalam pernikahan, dibandingkan melepas anak perempuannya.

Kekhawatiran itu adalah:
1. Apakah hubungan IBU-ANAK akan berubah?
2. Apakah anak saya akan menjadi jarang berkunjung atau menelepon?
3. Apakah ia akan mengisi liburan bersama kami atau tidak?
4. Apakah ia akan tetap setia membela dan bergantung pada kami atau tidak?
5. Apakah dia akan cukup makan yang sehat dan bergizi?
6. Bagaimana istrinya akan memperlakukan dia nanti?

Dr. Mikucki-Enyart juga melakukan penelitian terhadap 133 menantu perempuan. Dan ternyata, mereka pun memiliki beberapa kekhawatiran, yaitu:

1. Apakah ibu mertua saya akan terlalu ikut campur dalam banyak hal di pernikahan kami?
2. Apakah ibu mertua saya mampu mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik? (Atau akan sering merongrong suami saya dan meminta bantuan keuangan).
3. Apakah ibu mertua saya akan menjelek-jelekkan saya pada suami saya?

Dalam pernikahan, sebab utama ketegangan antara ibu mertua dan menantu perempuan adalah: Adanya kompetisi dalam hal siapa yang lebih baik dalam merawat / melayani si anak lelaki; Ibunya kah? Atau sang istri?

Untuk itulah dibutuhkan sikap dewasa, kerendahan hati serta kebijaksanaan sang ibu untuk mundur dan membiarkan sang menantu perempuan berperan menjalankan tugasnya untuk melayani suami. Tentu ini BUKAN PERKARA MUDAH! Karena dibutuhkan pengertian yang besar diantara kedua wanita – ibu mertua dan mantu perempuan – untuk membuat semuanya berjalan dengan baik. Suami juga WAJIB berperan dalam menetapkan batasan-batasan dalam rumah tangganya, baik bagi sang ibu maupun istri.

Masalah yang paling sering muncul ke permukaan adalah: Saat suami (anak lelaki) terperangkap dalam pilihan sulit, membela ibunya atau istrinya? Berikut ini adalah beberapa anjuran untuk mengatasi situasi tersebut:

1. Jadikan istri Anda sebagai prioritas Anda, tetapi jangan meninggalkan dan tetaplah menunjukkan sikap peduli pada ibu Anda. Katakan bahwa Anda mencintai istri Anda, dan bahwa istri Anda membutuhkan dukungan ibu untuk membuat dia (istri Anda) merasa diterima dan dikasihi.

2. Saat istri Anda mengeluh tentang sesuatu, dengarkan keluhannya. Jangan bersikap lebih membela pihak lain, cobalah mengerti permasalahan yang ia hadapi. Jika masalahnya adalah bahwa ibu Anda terlalu mencampuri urusan pribadi rumah tangga Anda berdua, bicaralah empat mata (menegur dengan penuh hormat dan kasih) dengan ibu Anda.

3. Sebisa mungkin, ajak kedua pihak keluarga (anda dan istri Anda) dalam perayaan atau momen-momen penting Anda. Berhati-hatilah, jangan sampai ibu dari kedua pihak merasa tidak diikut sertakan. Jika salah satu pihak tidak dapat hadir, PASTIKAN Anda memberitahukan bahwa “Tiada kesan tanpa kehadiran mama.”

4. Dalam segala persoalan, kondisi dan situasi, utamakan istri dan keluarga inti Anda. Umumnya, jika ibu melihat bahwa anak-anaknya memiliki pernikahan yang bahagia dan saling mencintai, mereka akan melakukan yang terbaik untuk mendukung kesuksesan pernikahan Anda.

5. Jangan pernah menjelekkan istri Anda dihadapan ibumu, demikian pula sebaliknya. Karena ini dapat menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja.

Biasanya permasalahan keluarga diserahkan kepada pihak wanita atau istri. Tetapi jika itu menyangkut hubungan antara ibu, anak lelaki dan istrinya, permasalahan ini membutuhkan perlakuan dan tindakan khusus dari sang anak lelaki / suami.

Bagaimanapun juga, ibu adalah sosok wanita pertama yang hadir dalam hidup si anak lelaki. Ibu dan anak lelaki memiliki hubungan khusus yang rumit sekaligus istimewa. Oleh karena itu, dibutuhkan kebesaran hati dan pengertian yang dalam bagi seorang ibu untuk dengan rela melepaskan dan mempercayakan anak lelakinya untuk dilayani dan dirawat oleh sang istri. Percaya bahwa si anak mampu mengerti posisi mertua-menantu, serta dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

(KB/FOFI, Disadur dari Artikel “Guys, Your Mother Can Destroy Your Marriage” oleh Mary Jo Rapini, seorang Licensed Relationship and Family Therapist, http://www.chron.com).

MEMAHAMI REMAJA

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa (misalnya perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki).

Selain aspek fisik, secara kognitif anak pun mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orangtua perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orangtua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi bantahan sebagai ekspresi pernyataan pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosioemosional remaja.
Secara sosioemosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orangtua.
Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orangtua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebayanya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.
Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya masih berproses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih dan menentukan nilai dan prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Oleh karena itu orangtua sering melihat bagaimana remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, tetapi bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-4 aspek tersebut: fisik, kognitif, sosioemosional dan moral, dapat disimpulkan bahwa si remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orangtua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami si remaja, akan membuat orangtua dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan si remaja.

Misalnya terkait pubertas, orangtua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, berikut bagaimana menyikapinya. Tentang kemampuan berpikir, orangtua hendaknya tidak memaknai pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi memang konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orangtua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosioemosional remaja, diperlukan kebesaran hati orangtua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minatnya, tetapi tetap dalam batasan koridor norma aturan keluarga yang jelas. Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orangtua tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

Pada dasarnya, yang dibutuhkan remaja ada penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. (Ibu Pinkan Margaretha Bolang untuk FOF Indonesia)

KAMI INGIN DIMENGERTI

image

Perihal mendidik anak merupakan salah satu topik hangat yang hampir selalu mewarnai perbincangan para ibu dan ayah. Sepertinya butuh seni TERSENDIRI untuk menjadikan momen ‘mendidik dan merawat’ ini berhasil. Tak sedikit orangtua yang mengeluh dan kewalahan menghadapi anak remajanya. “Wah, kalau minta sesuatu ngotot! Nggak boleh dilarang.” Ujar seorang ibu dari remaja putri. “Tiap hari adaaaa… saja momen ngambeknya. Kadang kita nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba ngambek.” Tambah ibu lainnya yang kelihatan sedikit frustasi menghadapi mood anak remajanya.

Well, suka atau tidak suka, setiap anak akan dan pasti melalui fase ini. MASA REMAJA yang oleh banyak orang disebut sebagai masa terindah (buat si anak), sekaligus masa terseram dan terlelah (bagi si ayah dan ibu) jika kita tak mencoba mengerti ‘bagaimana’ menyiasatinya. Masa remaja memang masa yang penuh tantangan bagi kedua pihak – anak dan orangtua. Disatu sisi, si anak merasa sudah dewasa dan ingin mulai mencoba banyak hal SENDIRI. Sementara orangtua berpikir, anak remajanya ini belum paham dunia nyata dan masih harus dijaga serta diberitahu tentang banyak hal.

Tak sedikit orangtua dan anak yang memiliki pengalaman buruk saat melalui masa-masa ini. Orangtua merasa bahwa anaknya berubah menjadi sosok yang sulit dimengerti. Sementara anak merasa orangtuanya terlalu ingin mengatur dan tidak bisa mempercayai apapun yang mereka lakukan.

Sesi curhat atau ngobrol-ngobrol yang dulu diwarnai canda tawa, kini seringkali berakhir dramatis disertai perbantahan. Ada apa ini? Pikir si ayah. Anak remajanya seolah ANTI terhadap aturan, disiplin dan kata TIDAK yang dilontarkan orangtuanya. Apakah kami telah salah mendidik dia? Ujar sang ibu penuh kekhawatiran.

Firstable, you are not alone! Ada jutaan orangtua di dunia yang sedang menghadapi musim yang sama dengan Anda. Jangan panik! Karena ketenangan adalah kunci dalam menyelesaikan masalah dengan anak remaja. Berbincang dengan sesama orangtua lain yang memiliki anak remaja akan sangat menolong menenangkan Anda, sekaligus menjadi ajang bertukar ilmu.

Dari berbagai obrolan dan keluhan yang muncul di dunia parenting, kami berkesimpulan ada tiga hal dasar yang perlu kita ingat setiap kali kita berhadapan dengan anak remaja:

1. ANDALAH YANG MEMEGANG KENDALI.
Bukan berarti Anda berhak menjadi seorang yang otoriter dan kejam. Tetapi ingatlah, sebagai orang yang sudah lebih dewasa dan (kami harap) lebih bijaksana dalam berpikir, Anda adalah pihak yang memegang kendali serta memiliki kuasa untuk memutuskan. Tentu saja keputusan yang Anda buat haruslah berdasarkan pertimbangan yang matang serta adil bagi kedua belah pihak. Jangan terbawa emosi. Kendalikan diri Anda dan ingatlah: Anak Anda sebenarnya juga sedang menilai kemampuan parenting Anda, apakah ayah atau ibuku ini seorang yang tegas atau dapat kupengaruhi dalam membuat keputusan?

2. PENJELASAN YANG MASUK AKAL.
Orangtua dengan ribuan keluhannya selalu mengalami ‘drama’ saat harus berkata TIDAK kepada anak remajanya. Payahnya, si anak dengan keras kepala tetap meminta orangtua untuk menuruti keinginan mereka. Banyak orangtua tak cukup sabar untuk menjelaskan kepada si anak mengapa keinginannya ditolak! Berikan penjelasan yang masuk akal dan tegas padanya. Beri contoh-contoh relevan yang dapat dimengerti oleh si anak.

Contoh: Daripada Anda berkata, “Tidak boleh. Karena pulang tengah malam itu tidak baik.” Akan lebih masuk akal jika Anda berkata: “Kamu harus pulang pukul 10.00 malam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.” Lalu beri penjelasan tentang keberatan Anda.

3. INGAT, ANDA JUGA PERNAH MUDA.
Saat libur akhir pekan, sesekali ajak anak remaja Anda untuk hangout ke tempat-tempat andalan Anda sewaktu remaja, jika memungkinkan. Ajaklah ia berdiskusi dan tanyakan pendapatnya. “Menurutmu bagaimana? Bagus nggak tempat hangout papa/mama?” Ajak dia mengunjungi tempat-tempat yang sedang ‘happening’ bersama Anda. Beri kesan bahwa Anda juga mengerti dunianya dan keinginan-keinginannya. Hindari sikap ‘menyerang dan menyudutkan sewaktu anak mengutarakan keinginan yang mungkin kurang Anda setujui.

Mulailah mempercayakan mereka untuk melakukan satu dua hal penting sendiri. Jika kita mengijinkan mereka untuk belajar bertanggung jawab, mereka juga akan berusaha menjaga kepercayaan Anda. Dan untuk sesuatu yang berbahaya, Anda perlu menjelaskan alasan Anda berkata tidak pada keinginannya.

Pada akhirnya, akumulasi didikan dan nasehat-nasehat positif yang telah Anda berikan kepada seorang anak sejak ia kecil, pastilah akan mempengaruhi setiap keputusan yang ia ambil. Jangan terlalu khawatir terhadap segala hal. Anak-anak Anda pasti tahu, apa yang Anda sukai atau tidak, apa yang Anda ijinkan atau tidak.

Hal terpenting bagi seorang remaja adalah mengetahui bahwa kedua orangtuanya selalu mendukung, melindungi, mengerti, mengasihi dan dapat diandalkan. Penting bagi mereka untuk memiliki keyakinan bahwa: “My parents is my rock!” Sehingga mereka tidak perlu mencari perlindungan dan kenyamanan di tempat-tempat lain, yang belum tentu benar. Mari belajar memahami kebutuhan remaja Anda untuk dipercaya, diperlakukan seperti seorang yang dewasa dan diberi tanggung jawab lebih untuk mengatur dirinya sendiri. (KB/FOF)