PENANDA TANGANAN MOU FOCUS ON THE FAMILY INDONESIA DENGAN LAPAS WANITA DAN LAPAS ANAK PRIA

image

Pada tanggal 27 April yang lalu, tim Focus on The Family Indonesia (FOF Indonesia)  mendapatkan kesempatan untuk menghadiri  perayaan Ulang Tahun Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53 yang bertempat di Lapas Klas I, Tangerang, Banten.
Bersamaan dengan itu pula, setelah upacara perayaan berakhir, pihak Lapas Wanita Tangerang serta LPK Anak Pria Tangerang dan Focus On The Family Indonesia menanda tangani  MOU kerjasama. 

Tentu saja ini merupakan sebuah langkah baru yang membawa kabar baik bagi kedua belah pihak.  Karena dengan demikian, pelayanan FOF Indonesia di masyarakat dapat semakin diperluas dan menyentuh lebih banyak lapisan masyarakat, dalam hal ini warga binaan di Lapas Tangerang.

image

Semoga kerjasama ini akan menjadi awal yang baik bagi terbukanya kesempatan-kesempatan baru dimasa datang, dimana FOF Indonesia dapat lebih banyak lagi menjangkau berbagai komunitas dari segala usia, gender serta  level  pendidikan untuk dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menanamkan serta mengembangkan nilai-nilai keluarga dalam kehidupan rumah tangga dan lingkungan sekitar.
Kami percaya, bangsa yang besar adalah bangsa yang peduli akan nasib dan keadaan rakyatnya. Dan hal itu tidak hanya mencakup soal mata pencaharian, pendidikan, kesempatan untuk berusaha, namun juga perkembangan mental dan karakter anak yang diperoleh dalam lingkungan keluarga.

Kami sangat berharap, bahwa program-program yang kami kembangkan ini dapat membantu menumbuhkan, merawat, mengembangkan serta menyembuhkan berbagai masalah relasi dalam keluarga yang selama ini kurang baik bahkan rusak. Karena sudah saatnya negara ini memperbaiki keadaan bangsa dan warganya secara menyeluruh, tak hanya soal kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan mental, karakter serta hubungan keluarga yang baik.

image

Kiranya setiap hal yang kita kerjakan, tanamkan dan ajarkan kepada setiap anggota keluarga dapat berkembang dan menjadi sebuah kebiasaan baik yang akan dilakukan secara turun-temurun, menjadi sebuah legacy yang membanggakan dan tentunya dapat memperkuat pola pikir masyarakat secara luas dan menyeluruh.

Karena keluarga yang harmonis akan melahirkan generasi yang kuat, percaya diri, hangat, santun dan berakhlak. Bangsa ini akan kembali menjadi bangsa yang ramah-tamah dan suka bergotong-royong, karena hati dan mentalnya tertata dengan baik/. Dan kami yakin semua itu haruslah dimulai dari komunitas terkecil, yaitu keluarga. (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)

REST!

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjalankan tugas sebagai istri dan ibu membutuhkan energi lahir bathin yang tidak sedikit. Mungkin pekerjaan yang kita lakukan tak sehebat seorang direktur atau presiden. Tetapi percayalah, kesiapan lahir bathin yang maksimal amat sangat dibutuhkan.

Saya mencoba mengingat-ingat, seperti apa hari-hari awal saya saat  menjadi seorang ibu. Jujur saja, jika disuruh mengulang kembali masa itu, rasanya saya akan lebih memilih untuk mendaki gunung Himalaya daripada kembali ke masa itu. Bukan! Bukan karena saya tidak menyukai peran saya sebagai ibu. Tapi justru karena saya merasa melakukan itu semua benar-benar MEMBUTUHKAN fokus, keseriusan, dedikasi, kesungguhan hati, tenaga dan komitmen yang tiada akhirnya. Bayangkan jika kita bekerja di sebuah perusahaan. Saat kita merasa tugas dan tanggung jawab yang kita emban tak sesuai atau terlalu melelahkan, kita bisa saja mengajukan pengunduran diri atau pemindahan posisi ke departemen lain bukan? Tetapi menjadi ibu? Kita takkan pernah dapat melakukan kedua hal itu bila kelelahan atau stres melanda.

Lalu bagaimana kita dapat menjalani semua ini dengan penuh kekuatan, ketabahan dan kesabaran seratus persen? BERISTIRAHATLAH!

Istirahat lebih dari sekedar tidur nyenyak di malam hari. Istirahat bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, beristirahat juga berarti melakukan hal-hal yang dapat menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Sesuatu yang membangkitkan suasana hati kita. Dan saya percaya, setiap kita memiliki cara tersendiri untuk melakukan ritual ‘istirahat’ ini.

Beberapa orang sering menyalah artikan ritual istirahat sebagai sebuah bentuk kemalasan. Padahal beristirahat (apapun cara dan bentuknya) amat dibutuhkan secara fisik, emosi dan mental, demi kesehatan hubungan kita dengan anak-anak dan terutama kesehatan rumah tangga dan pernikahan. Memaksakan diri untuk terus memberi padahal hati, jiwa, pikiran dan fisik kita lelah dan kosong merupakan sebuah kesalahan besar dan serius, yang dapat menyebabkan ledakan bom waktu di saat yang kurang tepat nantinya. Kita perlu beristirahat, agar kita dapat siap melayani, mencintai dan merawat keluarga kita dengan limpahan cinta yang sehat, yang muncul dari – salah satunya – istirahat yang cukup.

Satu hal perlu kita ingat, istirahat yang sesungguhnya bukanlah aktifitas serupa minum kopi, nonton TV sambil bermalas-malasan, ngemil atau membuka-buka media sosial lewat perangkat gadget Anda. Tetapi lebih dari itu, beristirahat yang benar adalah dengan sungguh-sungguh menggali dan mencari hal-hal yang dapat menyegarkan tubuh dan pikiran kita yang lelah. Dan hal ini tidak akan kita dapatkan hanya dengan melakukan hal-hal diatas. Kita harus mampu mengidentifikasi dan menyediakan waktu khusus untuk hal-hal yang dapat menginspirasi dan membangun gairah, menghidupkan harapan-harapan kita, membawa kesembuhan jiwa dan mental, mengasah kreatifitas serta mengundang sukacita.

Beberapa hal sederhana yang mengandung unsur beristirahat adalah: tidur nyenyak, berkebun, tertawa, meditasi, melukis, membaca dan menonton film-film berkualitas. Beberapa hal ini dapat menyegarkan pikiran, hati, jiwa serta mengasah gairah kita dalam melakukan aktifitas rutin dan tanggung jawab kita sehari-hari.  Temukan aktifitas yang dapat memberikan istirahat yang sesungguhnya bagi fisik, mental dan jiwa kita. So moms, start making your list now and have a great rest! (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)

                           

MEDIA: TONTONAN ATAU TUNTUNAN

image

Secara umum media dimengerti masyarakat sebagai wadah untuk bertukar informasi. Entah itu dalam bentuk untuk mendapatkan informasi ataupun mengirimkan informasi.

Mengikuti perkembangan teknologi, media pun ikut melebarkan sayapnya. Tidak hanya terpaku pada media konvensional, seperti: televisi, radio, koran, majalah, dll, media pun berdiri atas azas digitalisasi.

Pada media digital, komunikasi pertukaran informasi lebih terasa “real time”. Jika pada periode kejayaan media konvensional, masyarakat cenderung pasif hanya untuk mengkonsumsi informasi yang disajikan. Justru pada periode media digital, masyarakat memiliki hak kebebasan untuk terjun memberikan informasi kepada semua orang di belahan bumi manapun, atau lebih dikenal dengan istilah citizen journalism.

“Lembaga penyiaran memiliki 5 fungsi utama, yaitu: media informasi, kontrol sosial, media pendidikan, media hiburan, dan lembaga ekonomi. Namun, amat disayangkan, yang lebih dijalankan saat ini hanyalah fungsi hiburan,” ujar Lutfi selaku Koordinator Bidang PS2P KPID Banten, saat ditemui dalam programHeartine Coffee Morning, Selasa (09/05/17).

Oleh sebab itu, Lutfi mengatakan bahwa tidaklah mengherankan apabila fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat, sangat berkaitan erat dengan tayangan dari televisi, contohnya: kekerasan dalam rumah tangga, kejahatan yang dilakukan anak-anak, dll. Berkaitan dengan hal ini masyarakat diminta untuk menjalankan literasi media, dimana masyarakat dan orang tua dituntut untuk cerdas memilih konten informasi seperti apakah yang akan dikonsumsi untuk dirinya atau keluarganya.

Lebih lanjut, Anggota Komisi I DPR RI Marinus Gea menegaskan bahwa, media harus menampilkan berita yang seharusnya diketahui masyarakat, tidak hanya berita yang ingin diketahui masyarakat saja. Hal ini juga mempengaruhi informasi negatif yang sangat mungkin dijangkau oleh anak-anak. Untuk itu, Direktur dari Focus on The Family Indonesia Valerie Mellanov Gan menyarankan untuk membuat anak Anda mengikuti kegiatan-kegiatan positif, sebagai langkah preventif anak untuk tidak menjangkau konten negatif.

Ditemui di salah satu acara bincang pagi Radio Heartline Tangerang, Wartawan Senior KOMPAS Andreas Maryoto menyatakan bahwa, manusialah yang harus mengontrol teknologi. Menurutnya masyarakat harus cerdas dalam memahami dan mempelajari segala informasi yang diterima oleh media itu sendiri.

Secanggih-canggihnya teknologi, teknologi itu sendiri merupakan hasil ciptaan manusia. Maka masyarakat harus mempergunakan ciptaan tersebut dengan bertanggung jawab. Kebebasan jangan sampai kebablasan, sebab amatlah konyol jika pencipta teknologi justru dikendalikan oleh hasil ciptaannya.(HL/IL)

Sumber: http://www.heartline.co.id

Family Gathering: SESPIMMEN POLRI 56 BATALYON WICAKSANA LAGHAWA

image

Lembang ,  5 November 2016 – KELUARGA. Tidak banyak orang benar-benar memahami makna kata keluarga dalam kehidupannya. Akhir pekan kemarin, FOFI – bekerjasama dengan keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56 Batalyon Wicaksana Laghawa – menggelar  Family Gathering yang bertujuan untuk mengembalikan kedekatan dalam keluarga. Keharmonisan keluarga bagi seorang SESPIMMEN POLRI sangatlah penting. Dan melalui event ini, FOFI berharap momen eksklusif dapat terbangun diantara pasangan serta anak dan orangtua. Berangkat dari pemikiran itulah, FOFI menyusun serangkaian acara menarik bagi keluarga SESPIMMEN POLRI 56.

Aktivitas pagi itu dibuka dengan senam pagi bersama keluarga dengan instruktur senam handal, Tawarikh. Aktifitas ini tidak saja bertujuan untuk mengajak seluruh keluarga untuk hidup bugar, tetapi juga membangun kedekatan antar anggota keluarga. Setiap gerakan yang dilakukan pada sesi Senam Pagi ini penuh dengan unsur membangun kekompakan keluarga. Karena kami percaya, cara kita memulai hari akan menentukan keadaan hati dan pikiran kita sepanjang hari itu. Dan olahraga bersama merupakan salah satu cara positif untuk memulai hari yang sehat dan bahagia.

Saat coffee break, seluruh peserta keluarga SESPIMMEN POLRI 56 terlihat bercengkrama dan menikmati waktu istirahat mereka dengan bertukar cerita bersama keluarga lainnya. Sharing merupakan poin penting dalam hidup berkeluarga. Karena dari situlah kita dapat memperoleh masukan serta mengerti isi hati anggota keluarga kita. Kami berharap aktifitas ini dapat sering dilakukan dengan menyesuaikan waktu yang ada dalam keluarga masing-masing, agar tercipta komunikasi yang baik dan hubungan yang akrab. Karena kebersamaan adalah sesuatu yang WAJIB dilakukan.

image

Selepas Coffee Break, acara permainan (games) pun dimulai. Sesi ini disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak. Rangkaian games memang kami rancang agar seluruh anggota keluarga turut ambil bagian didalamnya. Games seperti: Jaring laba laba, lompat tali, balap karung, bakiak dan membuat sandwich diadakan dengan agenda menanamkan nilai-nilai kerjasama, kekompakan dan saling support antar anggota keluarga. Ada pula games yang dirancang untuk mengasah kemampuan ayah dalam bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, dimana mereka diharapkan mampu membantu anggota keluarga dalam menghadapi rintangan hidup. Games ini juga mengajar setiap anggota untuk mengutamakan cinta kasih dalam keluarga. Praktek cinta kasih dalam bentuk sederhana adalah adanya pengertian antara suami istri serta orangtua dan anak akan peran masing-masing, sehingga dapat saling mendukung dan menolong.

Waktu makan siang pun tiba. Secara otomatis para istri dan ibu saling bantu dalam menyiapkan makanan bagi para suami dan anak-anak mereka. Wujud tenggang rasa serta-merta dapat terlihat, dimana para suami tak sungkan membantu pasangan mereka menyuapi anak-anak, agar sang istri dapat makan dengan tenang. “Makan” merupakan momen penting bagi anggota keluarga untuk mulai melakukan pendekatan pada pasangan, anak dan anggota keluarga lainnya. FOFI sangat menganjurkan agar keluarga selalu dapat mengusahakan waktu makan bersama. Karena ini merupakan salah satu cara mendasar dalam membangun waktu berkualitas. Dengan terbangunnya kebersamaan, maka komunikasi didalam keluarga akan semakin dalam, kuat dan harmonis.

image

Rangkaian acara Family Gathering ini ditutup dengan peresmian Majalah IKHAGAWA yang diluncurkan oleh keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56. Majalah ini memuat berbagai aktifitas dan tugas pekerjaan yang dilakukan para anggota POLRI 56 selama tujuh bulan mengemban tugas. Dengan kemunculan majalah ini, mereka berharap agar hubungan antar keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56 dapat senantiasa melekat dan akrab. Selain Family Gathering, event ini juga merupakan momen reuni bagi keluarga SESPIMMEN POLRI 56 Batalyon IKHAGAWA. Dimana mereka berharap agar kekompakan dan hubungan baik dapat terus terjaga, baik didalam anggota keluarga sendiri maupun dalam ikatan keluarga besar POLRI.

image

Melalui Family Gathering ini, FOFI ingin menjangkau seluruh peserta dan anggota keluarga SESPIMMEN POLRI 56 dengan harapan agar mereka dapat mengenal, memahami, melakukan dan mengedepankan nilai-nilai keluarga dalam seluruh aktifitas kehidupan mereka. Dalam event ini, FOFI juga memberikan ruang bagi anak-anak keluarga SESPIMMEN POLRI 56 untuk dapat menyalurkan minat dan mengekspresikan bakat mereka dengan pengadaan mini playground lengkap dengan berbagai macam food stall anak yang – tentu saja – menjadi penambah keceriaan bagi seluruh anak-anak SESPIMMEN POLRI 56. Apalagi ditambah dengan kehadiran badut serta sesi mewarnai. Semua ini kami lakukan sebagai bentuk dukungan FOFI bagi anak-anak dalam mengekspresikan bakat dan kreatifitas mereka.

Tentang Focus On The Family Indonesia
Focus On The Family Indonesia adalah yayasan nirlaba dan lembaga swadaya masyarakat yang  berfokus pada hubungan keluarga. Misi kami adalah merestorasi hubungan keluarga Indonesia melalui beberapa core activities seperti: family bonding events, seminar, live talkshow, workshop, training, konseling, maupun pendekatan melalui media (online maupun offline).

Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi :
SHINTYA
Telp: 087888564637
Email: shintya.fofi@gmail.com

IBU VS ISTRI: PILIH YANG MANA?

image

…dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

Sebuah masalah klasik yang terjadi di hampir setiap pernikahan, dimana seorang suami sering diperhadapkan pada keadaan: Membela ibu atau istri? Mengutamakan ibu atau istri?

Akan lebih baik dan lebih mulus jalannya bila seorang calon istri mengambil waktu untuk mengenal lebih dekat bakal calon ibu mertuanya. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang muncul di kemudian hari dapat lebih mudah teratasi. Begitu pula dengan sang anak lelaki, atau calon suami. Ada baiknya secara terbuka berbicara pada ibunya dari hati ke hati tentang seberapa jauh ia ingin sang ibu mensupport pernikahan dan hubungannya dengan istrinya.

Dengan demikian, hubungan ibu dan anak lelaki serta menantu perempuan akan lebih jelas dan terarah serta saling mengerti dan menghormati posisi masing-masing.

Dr. Sylvia L. Mikucki-Enyart, seorang asisten profesor bidang Komunikasi di Universitas Wisconsin melakukan penelitian terhadap 89 orang ibu mertua, dan ditemukan beberapa kekhawatiran mendasar (yang mirip satu sama lain) tentang pernikahan anak lelakinya. Ternyata, ibu yang memiliki anak lelaki jauh lebih khawatir untuk melepas anak lelakinya masuk dalam pernikahan, dibandingkan melepas anak perempuannya.

Kekhawatiran itu adalah:
1. Apakah hubungan IBU-ANAK akan berubah?
2. Apakah anak saya akan menjadi jarang berkunjung atau menelepon?
3. Apakah ia akan mengisi liburan bersama kami atau tidak?
4. Apakah ia akan tetap setia membela dan bergantung pada kami atau tidak?
5. Apakah dia akan cukup makan yang sehat dan bergizi?
6. Bagaimana istrinya akan memperlakukan dia nanti?

Dr. Mikucki-Enyart juga melakukan penelitian terhadap 133 menantu perempuan. Dan ternyata, mereka pun memiliki beberapa kekhawatiran, yaitu:

1. Apakah ibu mertua saya akan terlalu ikut campur dalam banyak hal di pernikahan kami?
2. Apakah ibu mertua saya mampu mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik? (Atau akan sering merongrong suami saya dan meminta bantuan keuangan).
3. Apakah ibu mertua saya akan menjelek-jelekkan saya pada suami saya?

Dalam pernikahan, sebab utama ketegangan antara ibu mertua dan menantu perempuan adalah: Adanya kompetisi dalam hal siapa yang lebih baik dalam merawat / melayani si anak lelaki; Ibunya kah? Atau sang istri?

Untuk itulah dibutuhkan sikap dewasa, kerendahan hati serta kebijaksanaan sang ibu untuk mundur dan membiarkan sang menantu perempuan berperan menjalankan tugasnya untuk melayani suami. Tentu ini BUKAN PERKARA MUDAH! Karena dibutuhkan pengertian yang besar diantara kedua wanita – ibu mertua dan mantu perempuan – untuk membuat semuanya berjalan dengan baik. Suami juga WAJIB berperan dalam menetapkan batasan-batasan dalam rumah tangganya, baik bagi sang ibu maupun istri.

Masalah yang paling sering muncul ke permukaan adalah: Saat suami (anak lelaki) terperangkap dalam pilihan sulit, membela ibunya atau istrinya? Berikut ini adalah beberapa anjuran untuk mengatasi situasi tersebut:

1. Jadikan istri Anda sebagai prioritas Anda, tetapi jangan meninggalkan dan tetaplah menunjukkan sikap peduli pada ibu Anda. Katakan bahwa Anda mencintai istri Anda, dan bahwa istri Anda membutuhkan dukungan ibu untuk membuat dia (istri Anda) merasa diterima dan dikasihi.

2. Saat istri Anda mengeluh tentang sesuatu, dengarkan keluhannya. Jangan bersikap lebih membela pihak lain, cobalah mengerti permasalahan yang ia hadapi. Jika masalahnya adalah bahwa ibu Anda terlalu mencampuri urusan pribadi rumah tangga Anda berdua, bicaralah empat mata (menegur dengan penuh hormat dan kasih) dengan ibu Anda.

3. Sebisa mungkin, ajak kedua pihak keluarga (anda dan istri Anda) dalam perayaan atau momen-momen penting Anda. Berhati-hatilah, jangan sampai ibu dari kedua pihak merasa tidak diikut sertakan. Jika salah satu pihak tidak dapat hadir, PASTIKAN Anda memberitahukan bahwa “Tiada kesan tanpa kehadiran mama.”

4. Dalam segala persoalan, kondisi dan situasi, utamakan istri dan keluarga inti Anda. Umumnya, jika ibu melihat bahwa anak-anaknya memiliki pernikahan yang bahagia dan saling mencintai, mereka akan melakukan yang terbaik untuk mendukung kesuksesan pernikahan Anda.

5. Jangan pernah menjelekkan istri Anda dihadapan ibumu, demikian pula sebaliknya. Karena ini dapat menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja.

Biasanya permasalahan keluarga diserahkan kepada pihak wanita atau istri. Tetapi jika itu menyangkut hubungan antara ibu, anak lelaki dan istrinya, permasalahan ini membutuhkan perlakuan dan tindakan khusus dari sang anak lelaki / suami.

Bagaimanapun juga, ibu adalah sosok wanita pertama yang hadir dalam hidup si anak lelaki. Ibu dan anak lelaki memiliki hubungan khusus yang rumit sekaligus istimewa. Oleh karena itu, dibutuhkan kebesaran hati dan pengertian yang dalam bagi seorang ibu untuk dengan rela melepaskan dan mempercayakan anak lelakinya untuk dilayani dan dirawat oleh sang istri. Percaya bahwa si anak mampu mengerti posisi mertua-menantu, serta dengan rela hati kedua belah pihak harus dapat SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU (Agree to disagree), supaya tercipta hubungan yang baik, dimana kedua pihak (ibu mertua dan menantu perempuan) dapat terus mengasihi sosok pria yang sama (yaitu si anak lelaki / sang suami) dalam kedamaian, saling menghargai serta memiliki pengertian yang besar satu sama lain.

(KB/FOFI, Disadur dari Artikel “Guys, Your Mother Can Destroy Your Marriage” oleh Mary Jo Rapini, seorang Licensed Relationship and Family Therapist, http://www.chron.com).

YOU ARE VERY SPECIAL

image
Image from: http://www.boredpanda.com

Kelahiran seorang anak selalu memunculkan berbagai macam perasaan dalam hati orangtua. Senang, bahagia, sedikit rasa takut dan excited, semua beradu dalam hati kita. Tetapi lain cerita jika anak yang kita lahirkan ternyata memiliki keterbatasan fisik atau kebutuhan khusus. Serta-merta perasaan kita berubah menjadi keterkejutan, kesedihan, kemarahan, kecewa, khawatir dan sebagainya.

Apa yang harus kita lakukan jika emosi dan perasaan seperti ini muncul tak terkendali dalam hati dan pikiran kita sebagai orangtua? Bagaimana mengatur emosi saat kita mendengar berita yang tidak diinginkan ini? Dan bagaimana kita menghadapi kenyataan bahwa kita memiliki anak dengan kebutuhan khusus?

MENGIDENTIFIKASI APA YANG TELAH MATI

Bayi Anda hidup dan lahir dengan selamat, serta Anda menyambut kelahirannya dengan penuh ucapan syukur. Tetapi tetap saja ada hal-hal lain yang mati; impian, ekspektasi, harapan. Disadari atau tidak, setiap orangtua yang menantikan kelahiran anaknya pasti dipenuhi dengan tiga hal tersebut. Tetapi kenyataannya, impian dan harapan kita sirna terhapus oleh kenyataan yang ada. Kenyataan yang kita hadapi ini ibarat kematian yang tak terlihat oleh mata. Dan seringkali hal ini sulit diidentifikasi oleh akal sehat dan perasaan kita. Tetapi kita perlu secara sadar menerima dan menyadari bahwa INI TELAH TERJADI.

WAKTU BERDUKA

Jangan pernah menyangkali kesedihan Anda. Berikan waktu untuk berdukacita atas ‘kematian’ ini. Rasa duka itu dapat muncul dalam berbagai bentuk, tetapi tingkatannya biasanya terdiri dari:

1.     Shock dan penyangkalan.
2.     Marah.
3.     Melakukan sesi tawar-menawar dengan Tuhan.
4.     Depresi.
5.     Penerimaan.

Ada dua proses berlawanan yang juga terjadi pada masa ini, yaitu:

1.     Keberadaan anak Anda ini akan menolong Anda untuk menghadapi rasa duka dan kecewa, karena hati Anda tersentuh oleh si anak yang kemudian mengembalikan kesadaran Anda untuk menerima kenyataan dan mulai berjuang.

2.     Kesibukan Anda sebagai orangtua dari anak berkebutuhan khusus membuat Anda tak memiliki banyak waktu menyadari bahwa Anda berduka. Sehingga rasa duka itu justru lebih lama pergi. Karena ketiadaan momen khusus yang Anda lakukan untuk benar-benar menyadari dan mengambil tindakan  penyembuhan.

INGATLAH, ANDA SANGAT MEMBUTUHKAN TUHAN DAN KASIH KARUNIA-NYA.

Masa berduka biasanya memunculkan pertanyaan: “Mengapa Tuhan?” Tidak apa-apa. Anda berhak untuk bergumul dengan pertanyaan itu. Jika dibutuhkan, carilah pemimpin rohani yang dapat membimbing Anda. Bagaimanapun juga, akan ada waktu dimana pertanyaan: “Mengapa Tuhan?” harus diakhir dengan pernyataan: “Lalu apa yang Engkau ingin aku lakukan sekarang, Tuhan?”

Ingatlah, bahwa Anda bukan saja orangtua dari anak Anda ini, tetapi Anda juga merupakan anak dari Tuhan yang Maha Mengerti dan penuh belas kasih kepada Anda. Mintalah kepadaNya untuk memberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi masa-masa yang berat ini. Meskipun hari-hari Anda demikian sibuk, selalu adakan waktu semenit dua menit untuk berbincang denganNya, memohon kekuatan dan hikmat. Ambil waktu untuk berdiam diri agar IA dapat bekerja menyembuhkan luka dan kepedihan serta kekecewaan Anda.

FOKUSLAH PADA APA YANG ADA, DAN BUKAN PADA APA YANG TIDAK ADA.

“Apakah gelas ini setengah kosong, atau setengah penuh?” pertanyaan ini sering dilontarkan untuk menguji apakah kita seorang yang optimis atau pesimis. Kenyataannya, kedua jawaban itu terasa benar jika dipakai untuk melihat kondisi hati Anda saat ini. Akui saja bahwa memang gelas itu dapat juga terlihat ‘setengah kosong’. Terimalah kenyataan bahwa dengan segala keterbatasan yang dimiliki anak Anda, ia tak akan dapat melakukan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh anak-anak normal lainnya. Anda berhak untuk merasa berduka akan hal ini. Tetapi disisi lain, Anda juga harus dengan sengaja mengarahkan focus dan perhatian Anda kepada hal-hal yang DAPAT DILAKUKAN oleh anak Anda. Bangun kembali impian dan harapan baru bagi si anak. Ini adalah bagian dimana Anda melihat bahwa gelas itu ternyata ‘setengah terisi’.

“Lakukan apa yang Anda mampu, dan bukan apa yang tidak.” Rasanya frase ini lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan. Tetapi toh kita tetap harus mampu bersikap optimis dengan melihat bahwa gelas itu sebenarnya setengah penuh, dan bukan setengah kosong.” Saat kita berfokus pada apa yang DAPAT KITA LAKUKAN, kita dilatih untuk mampu mengendalikan diri dan keadaan kita. Tetapi jika kita berfokus pada hal-hal yang tidak mampu kita lakukan, maka kita akan merasa seperti seorang yang lepas kendali. Dan perasaan negative ini secara tidak sadar akan Anda tularkan kepada anak Anda.

SATU HARI SATU

Hiduplah berfokus pada ‘satu hari, satu langkah baru’. Ini bukan sebuah hal klise. Tetapi satu langkah sehat untuk dilakukan siapa saja, terutama mereka yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Jangan terlalu jauh memikirkan masa depan atau apa yang akan terjadi nanti. Ini hanya akan membuat Anda lebih khawatir dan ketakutan. Fokuslah pada kemajuan hari ini dan pada apa yang dapat Anda atau anak Anda lakukan hari ini. Belajarlah untuk tenang dan santai menghadapi hari-hari Anda. Live in the moment! Dan nikmati setiap kemajuan-kemajuan kecil yang Anda lihat. Bersikaplah sabar terhadap anak Anda, pasangan dan terhadap proses yang dijalani bersama. Maka tanpa disadari, Anda akan mampu tertawa dan bersukacita menghadapi rutinitas ‘normal’ yang istimewa ini, yang Anda jalani bersama orang-orang yang mensupport dan mencintai Anda dan keluarga Anda.

(Artikel disadur dari: http://www.focusonthefamily.com/parenting/parenting-challenges/parenting-a-special-needs-child/how-to-cope)