KETIKA CINTA HARUS MEMILIH

MENCINTAI ADALAH KOMITMEN TAK BERSYARAT PADA SESEORANG YANG TIDAK SEMPURNA. MENCINTAI SESEORANG BUKANLAH SEKEDAR PERASAAN YANG KUAT, TETAPI SEBUAH KEPUTUSAN, PERTIMBANGAN, DAN SEBUAH JANJI (Paul Coelho)

Judul di atas adalah judul film dan novel populer tentang percintaan. Tetapi sebenarnya, secara umum, cinta tidak boleh memilih.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH OBYEKNYA.

Cinta kasih yang sejati tidak bisa memilih siapa yang akan dikasihi dan siapa yang tidak dikasihi. Saya mengasihi yang ini, tetapi membenci yang itu. Itu namanya bukan kasih, tetapi pilih kasih. Tidak bisa seseorang berkata ia mengasihi Tuhannya, lalu menyakiti orang yang berbeda dengannya. Kasih mencintai melampaui segala perbedaan. Bahkan perintah dari salah satu tokoh spiritual yaitu Yesus adalah, "Kasihilah musuhmu, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu."

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH LAMANYA.

Apa jadinya kalau orangtua berkata, "Kami mengasihimu hingga usia 15 tahun saja ya." Atau suami berkata, “Aku mencintaimu selama kulitmu belum keriput.” Kasih yang sejati tidak memberi batasan waktu. Cinta sejati baru berhenti ketika waktu sendiri yang menghentikan, yaitu dengan kematian.

CINTA SEJATI TIDAK BOLEH MEMILIH HASILNYA.  

Kasih memberi tanpa mengharap balasan. Lalu percuma dong?  Agak menyakitkan juga bila kasih tak terbalas?  Ada kalanya kita merasa percuma mengasihi dan berbakti pada orangtua yang pilih kasih, mengasihi kakak/adik kita dan tidak mempedulikan kita.  Kadang kita sudah susah-susah menolong teman dalam kesulitan, ternyata bukan ucapan terima kasih yang kita terima, melainkan cemoohan. Atau kita ragu mengasihi dan berbuat baik pada tetangga, karena belum tentu juga dia akan berbuat yang sama pada kita.  Untuk kasus ini, jawaban Mother Teresa adalah, "Saya temukan paradoks, bahwa bila saya mencintai hingga saya merasa sakit, maka tidak lagi ada rasa sakit, tetapi hanya ada cinta yang lebih besar lagi." Cinta adalah memberi diri bagi orang lain.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH KONDISINYA.  

Saya mengasihimu, kalau… (isi sendiri). Itu kontrak bersyarat, bukan cinta sejati.  Seperti ungkapan, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Karena itu, saat pernikahan orang berjanji untuk saling mencintai tanpa tergantung kondisi: dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, susah maupun senang.

CINTA SEJATI DAN PERNIKAHAN

Sangat dangkal bila memikirkan Valentine’s day sebatas bunga, coklat atau romantika. Sebenarnya kita ditantang untuk merayakan cinta sejati, yaitu cinta yang kuat, bertahan dalam segala macam badai, dan tanpa syarat (“unconditional love”).

Seorang ibu langsung mencintai bayinya yang baru lahir, tidak peduli bagaimana kondisi bayi tersebut, cakep atau tidak, pandai atau tidak, nantinya nakal atau tidak.  Seorang ibu hanya mau mencintai dan memberi, walaupun bayi itu tidak bisa apa-apa dan sangat merepotkan: membuatnya bangun tengah malam, rewel, dan menghabiskan banyak uang serta energi.  
Orang bertepuk tangan melihat kasih seorang ibu yang tanpa syarat. Tetapi bila diminta untuk mengasihi pasangan (suami/isteri) mereka dengan kasih yang demikian, mereka berpikir, “Kok enak bener dia…”  Padahal satu-satunya cara supaya pernikahan bisa berjalan seumur hidup, harus ada kasih tanpa syarat. Kalau kasih bersyarat “tergantung bagaimana dia” maka pernikahan akan bubar di tengah jalan. “Kalau dia cinta, ya saya cinta. Kalau dia baik, ya saya baik. Tapi kalau dia menjengkelkan dan menyakitkan, ngapain dilanjutkan?”

Mungkin bukan cinta yang kita cari, tetapi kesenangan hidup. Kita jatuh cinta supaya hidup menjadi ceria. Kita mencintai supaya dicintai. Kita mencari pasangan supaya tidak kesepian. Kita menikah supaya ada yang mengurus kita seumur hidup. Tapi kita tidak siap mencintai sampai menderita. Kita lupa bahwa mencintai adalah memberi dengan resiko tidak menerima kembali. Kita tidak sadar bahwa mencintai berarti mengampuni tanpa menghitung kesalahan, dan tetap mengasihi ketika orang tersebut sulit dicintai. Namun, bila Anda memiliki cinta tak bersyarat, sebenarnya Anda telah bebas. Bebas dari kekhawatiran cinta tak terbalas, bebas dari ketakutan disakiti, bebas dari segudang ekspektasi. Ini adalah jalan satu-satunya menuju kebahagiaan cinta. (Oleh Esther Idayanti Untuk FOF INDONESIA)

THE ART OF RAISING TEENS

unnamed

Masa remaja adalah masa yang menakjubkan. Remaja diibratkan seperti sebuah pesawat ruang angkasa yang siap diluncurkan. Awalnya kita melihat dengan takjub, terutama mengingat mereka akan pergi menuju ruang angkasa. Segala sesuatunya terlihat menggetarkan.

Mari melihat kedalam pesawat luar angkasa tersebut. Setiap penumpang yang berada didalam pesawat sangat bergantung pada perisai panas yang terletak di dasar kapsul pesawat. Perisai panas ini berfungsi untuk melindungi penumpang dari suhu 537,8 derajat Celcius lebih. Jika perisai itu tidak ada atau tidak berfungsi dengan baik, maka seluruh penumpang didalam pesawat akan hangus terbakar.

Adapun ion-ion negatif yang berada di sekitar kapsul menyebabkan hambatan komunikasi dengan pihak bumi kurang lebih 7 menit lamanya. Semua orang di bumi menahan nafas menanti untuk mendapatkan kembali komunikasi yang jernih. Setelah melewati semua itu, komunikasi kembali jernih dan semua orang bersorak sorai lega dan bahagia.

Analogi apa yang kita peroleh dari kisah pesawat luar angkasa ini? Saat anak-anak kita memasuki usia remaja, saat itu pula kita merasa mereka berubah dan menjadi sosok remaja yang sulit dikenali. Setelah masa kanak-kanak lewat dan akil balik datang, kondisi mereka mirip seperti pesawat ruang angkasa yang berjalan menuju tempat peluncuran.

Para orangtua – layaknya penduduk bumi yang menonton detik-detik pesawat ruang angkasa itu akan terbang – mengamati anak-anak remaja mereka yang harus pergi dengan roketnya. Sebagai orangtua kita ingin ikut terbang pergi bersama mereka. Tetapi kenyataannya, hanya ada satu kursi dan satu ruang di pesawat tersebut. Dan saat ion-ion negatif mulai bermunculan mengitari anak-anak kita, para orang tua mulai bertanya-tanya: “Dimana anak saya? Aku tidak bisa melihat mereka. Mengapa dia tidak mau berbicara lagi dengan saya?”

Masa sulit ini dapat berlangsung bertahun-tahun. Remaja yang tadinya senang berbagi cerita, tiba-tiba hanya senang menjawab singkat. “Nggak tau!”. “Mungkin”. “Iya”. “Nggak”. Dan seterusnya. Kondisi ini mirip dengan keadaan didalam pesawat ruang angkasa, dimana mereka hanya dapat berbicara hal-hal penting karena toh mereka merasa untuk apa bicara banyak bila tak banyak orang yang akan mendengarkan.

Lalu orang-orang yang berada di bumi mulai khawatir, “Mengapa tak ada berita atau obrolan yang terjadi didalam pesawat ruang angkasa itu?” Tetapi tak berapa lama, setelah melalui penantian yang cukup panjang dalam ketakutan dan kekhawatiran, pesawat itu akhirnya kembali ke bumi. Penumpang didalam pesawat ruang angkasa itu merasa sudah cukup memperoleh pengetahuan tentang keadaan ruang angkasa. Lalu mereka kembali ke bumi untuk bertemu dengan keluarga, orang tua, saudara-saudara dan teman-temannya.

Pertanyaannya: Apakah ada cara untuk menghilangkan kecemasan serta stres yang bermunculan dalam pikiran orangtua saat anak remaja mereka melakukan ‘perjalanan ke ruang angkasa’ versi mereka masing-masing?

Sebagai orangtua, kita harus paham bahwa hal utama dalam diri seorang anak remaja yang memiliki kekuatan dahsyat adalah hormon remaja, yang seringkali menguasai kondisi emosi anak. Hal ini membuat anak kadang marah tanpa alasan, merajuk, melamun dan galau memikirkan hal sepele, dan sebagainya. Hormon ini menyerang remaja dari berbagai sisi, baik seksual, demotifasi dan sikap agresif.

Hal lain adalah, seorang anak remaja sangat takut tertolak dan dipermalukan oleh teman atau lingkungannya. Mungkin bagi kita para orangtua, sebuah kejadian kecil sifatnya biasa dan lumrah. Tapi tidak bagi anak remaja. Banyak hal-hal kecil yang tak terpikirkan oleh kita dianggap sebagai sebuah aib serius dalam dunia anak remaja. Aneh memang! Tetapi itulah kenyataannya. Harga diri seorang remaja sangat tergantung dari penerimaan teman-teman dan lingkungannya. Itu sebabnya seringkali remaja melakukan tindakan-tindakan tak masuk akal demi menuai pujian dan penerimaan dari lingkungannya. Dan hal ini seringkali sulit untuk dijelaskan kepada orangtua, sehingga timbullah konflik.

Bila kita sedang mengalami kondisi seperti ini, 5 (lima) tips berikut ini mungkin dapat menolong Anda:

1. BERI KESIBUKAN.
Jangan biarkan seorang remaja menghabiskan banyak waktu yang sia-sia dan kurang produktif. Biarkan mereka aktif dalam komunitas positif seperti olahraga, organisasi sekolah, kerohanian, ekskul dan sebagainya.

2. MEMBANTU MEREKA MENGERTI.
Bantu anak memecahkan berbagai masalah yang mungkin tidak dapat ia tangani sendiri. Seperti mengajar anak untuk mulai bertanggung jawab terhadap keuangannya. “Ini ATM untuk kamu. Ibu punya M-banking untuk melihat segala transaksi yang kamu lakukan. Kamu dapat gunakan ATM ini untuk keperluan harian kamu.” Lalu ajarkan dia bagaimana menggunakan uang dengan bertanggung jawab.

Hindari larangan-larangan yang tak masuk akal, mengkritik berlebihan atau memberikan aturan-aturan yang terlalu mengekang. Biarkan anak bebas, selama apa yang mereka lakukan masih dalam batas wajar. Sesungguhnya mereka tidak ingin haknya diambil. Kedengarannya membebaskan mereka seperti sebuah gagasan buruk. Tetapi percayalah, hal ini sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter mereka.

3. SIAPKAN ENERGI CADANGAN.
Sebagai orang tua Anda harus mempersiapkan energi cadangan dengan beristirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan berdoa. Mengapa? Karena Anda akan melalui banyak hal yang menguras energi dan pikiran serta meningkatkan stress level Anda. Oleh karena itu BERSIAPLAH! ūüôā

4. DAD, WE NEED YOU!
Diperlukan figur Ayah yang kuat bagi remaja putra. Hobi dan minat yang sama serta kerjasama ayah dan putranya akan menghilangkan segala pemberontakan. Adakan boys time bersama remaja putra Anda. Dibutuhkan pula Ayah yang romantis bagi remaja perempuan. Jika Ayah adalah seorang yang pemarah, penjudi, masa bodoh, meninggalkan dan sebagainya, maka remaja cenderung akan berusaha mencari pengganti figir ayah untuk mengisi kekosongan hati. Dan ini berbahaya. Ayah, hargai remaja putra dan putrimu. Agar mereka juga dapat melihat dirinya berharga.

5. THE ART OF TOUGH LOVE.
Orangtua dapat melakukan ‘tough love’ untuk menangani kasus-kasus berat secara benar. Sebagai contoh: Jika terjadi pelanggaran serius atau berat, katakan pada anak Anda, “Kamu tidak bisa melakukan hal ini. Ini sebuah pelanggaran berat. Jika kamu tidak mau memperbaikinya, kami terpaksa harus memanggil pihak yang berwajib.” Hal ini terdengar mengerikan. Tapi itulah kasih yang sebenarnya. Ajarkan anak Anda untuk bertanggung jawab. Jangan menjadi orangtua yang memohon-mohon apalagi merengek dengan tangisan pada anak remaja Anda, agar mereka kasihan dan berhenti melakukan hal buruk. Seorang anak yang memberontak harus diajarkan untuk berdiri teguh, berani bertanggung jawab dan dapat mengambil tindakan tepat.

Apapun yang terjadi pada remaja kita, lakukan tindakan yang benar untuk mengatasi setiap permasalahan, dan jangan pernah merasa bersalah karena harus memberikan konsekuensi serius pada mereka. Berhentilah melindungi mereka dari tindakan yang destruktif dan akan menghancurkan mereka. TOUGH LOVE amat dibutuhkan untuk menjadi orangtua yang percaya diri, tegas namun bertujuan baik lewat cara-cara yang benar. Semuanya demi masa depan mereka. (Oleh: Vallerie Mellanov | Sumber artikel: Dr. James Dobson – Founder Focus on the Family)

R E S T

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjalankan tugas sebagai istri dan ibu membutuhkan energi lahir bathin yang tidak sedikit. Mungkin pekerjaan yang kita lakukan tak sehebat seorang direktur atau presiden. Tetapi percayalah, kesiapan lahir bathin yang maksimal amat sangat dibutuhkan.

IMG_3475

Saya mencoba mengingat-ingat, seperti apa hari-hari awal saya saat  menjadi seorang ibu. Jujur saja, jika disuruh mengulang kembali masa itu, rasanya saya akan lebih memilih untuk mendaki gunung Himalaya daripada kembali ke masa itu. Bukan! Bukan karena saya tidak menyukai peran saya sebagai ibu. Tapi justru karena saya merasa melakukan itu semua benar-benar MEMBUTUHKAN fokus, keseriusan, dedikasi, kesungguhan hati, tenaga dan komitmen yang tiada akhirnya.

Bayangkan jika kita bekerja di sebuah perusahaan. Saat kita merasa tugas dan tanggung jawab yang kita emban tak sesuai atau terlalu melelahkan, kita bisa saja mengajukan pengunduran diri atau pemindahan posisi ke departemen lain bukan? Tetapi menjadi ibu? Kita takkan pernah dapat melakukan kedua hal itu bila kelelahan atau stres melanda.

 

Lalu bagaimana kita dapat menjalani semua ini dengan penuh kekuatan, ketabahan dan kesabaran paripurna? BERISTIRAHATLAH!

 

Istirahat lebih dari sekedar tidur nyenyak di malam hari. Istirahat bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, beristirahat juga berarti melakukan hal-hal yang dapat menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Sesuatu yang membangkitkan suasana hati kita. Dan saya percaya, setiap kita memiliki cara tersendiri untuk melakukan ritual ‚Äėistirahat‚Äô ini.

 

Beberapa orang sering menyalah artikan ritual istirahat sebagai sebuah bentuk kemalasan. Padahal beristirahat (apapun cara dan bentuknya) amat dibutuhkan secara fisik, emosi dan mental, demi kesehatan hubungan kita dengan anak-anak dan terutama kesehatan rumah tangga dan pernikahan. Memaksakan diri untuk terus memberi padahal hati, jiwa, pikiran dan fisik kita lelah dan kosong merupakan sebuah kesalahan besar dan serius, yang dapat menyebabkan ledakan bom waktu di saat yang kurang tepat nantinya. Kita perlu beristirahat, agar kita dapat siap melayani, mencintai dan merawat keluarga kita dengan limpahan cinta yang sehat, yang muncul dari ‚Äď salah satunya – istirahat yang cukup.

 

Satu hal perlu kita ingat, istirahat yang sesungguhnya bukanlah aktifitas serupa minum kopi, nonton TV sambil bermalas-malasan, ngemil atau membuka-buka media sosial lewat perangkat gadget Anda. Tetapi lebih dari itu, beristirahat yang benar adalah dengan sungguh-sungguh menggali dan mencari hal-hal yang dapat menyegarkan tubuh dan pikiran kita yang lelah. Dan hal ini tidak akan kita dapatkan hanya dengan melakukan hal-hal diatas. Kita harus mampu mengidentifikasi dan menyediakan waktu khusus untuk hal-hal yang dapat menginspirasi dan membangun gairah, menghidupkan harapan-harapan kita, membawa kesembuhan jiwa dan mental, mengasah kreatifitas serta mengundang rasa bahagia dan sukacita.

 

Beberapa hal sederhana yang mengandung unsur beristirahat adalah: tidur nyenyak, berkebun, tertawa, meditasi, berolah raga, melukis, membaca dan menonton film-film berkualitas. Beberapa hal ini dapat menyegarkan pikiran, hati, jiwa serta mengasah gairah kita dalam melakukan aktifitas rutin dan tanggung jawab kita sehari-hari.  Temukan aktifitas yang dapat memberikan istirahat yang sesungguhnya bagi fisik, mental dan jiwa kita. So moms, start making your list now and have a great rest! (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)

PENANDA TANGANAN MOU FOCUS ON THE FAMILY INDONESIA DENGAN LAPAS WANITA DAN LAPAS ANAK PRIA

image

Pada tanggal 27 April yang lalu, tim Focus on The Family Indonesia (FOF Indonesia)  mendapatkan kesempatan untuk menghadiri  perayaan Ulang Tahun Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53 yang bertempat di Lapas Klas I, Tangerang, Banten.
Bersamaan dengan itu pula, setelah upacara perayaan berakhir, pihak Lapas Wanita Tangerang serta LPK Anak Pria Tangerang dan Focus On The Family Indonesia menanda tangani  MOU kerjasama. 

Tentu saja ini merupakan sebuah langkah baru yang membawa kabar baik bagi kedua belah pihak.  Karena dengan demikian, pelayanan FOF Indonesia di masyarakat dapat semakin diperluas dan menyentuh lebih banyak lapisan masyarakat, dalam hal ini warga binaan di Lapas Tangerang.

image

Semoga kerjasama ini akan menjadi awal yang baik bagi terbukanya kesempatan-kesempatan baru dimasa datang, dimana FOF Indonesia dapat lebih banyak lagi menjangkau berbagai komunitas dari segala usia, gender serta  level  pendidikan untuk dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menanamkan serta mengembangkan nilai-nilai keluarga dalam kehidupan rumah tangga dan lingkungan sekitar.
Kami percaya, bangsa yang besar adalah bangsa yang peduli akan nasib dan keadaan rakyatnya. Dan hal itu tidak hanya mencakup soal mata pencaharian, pendidikan, kesempatan untuk berusaha, namun juga perkembangan mental dan karakter anak yang diperoleh dalam lingkungan keluarga.

Kami sangat berharap, bahwa program-program yang kami kembangkan ini dapat membantu menumbuhkan, merawat, mengembangkan serta menyembuhkan berbagai masalah relasi dalam keluarga yang selama ini kurang baik bahkan rusak. Karena sudah saatnya negara ini memperbaiki keadaan bangsa dan warganya secara menyeluruh, tak hanya soal kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan mental, karakter serta hubungan keluarga yang baik.

image

Kiranya setiap hal yang kita kerjakan, tanamkan dan ajarkan kepada setiap anggota keluarga dapat berkembang dan menjadi sebuah kebiasaan baik yang akan dilakukan secara turun-temurun, menjadi sebuah legacy yang membanggakan dan tentunya dapat memperkuat pola pikir masyarakat secara luas dan menyeluruh.

Karena keluarga yang harmonis akan melahirkan generasi yang kuat, percaya diri, hangat, santun dan berakhlak. Bangsa ini akan kembali menjadi bangsa yang ramah-tamah dan suka bergotong-royong, karena hati dan mentalnya tertata dengan baik/. Dan kami yakin semua itu haruslah dimulai dari komunitas terkecil, yaitu keluarga. (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)

REST!

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjalankan tugas sebagai istri dan ibu membutuhkan energi lahir bathin yang tidak sedikit. Mungkin pekerjaan yang kita lakukan tak sehebat seorang direktur atau presiden. Tetapi percayalah, kesiapan lahir bathin yang maksimal amat sangat dibutuhkan.

Saya mencoba mengingat-ingat, seperti apa hari-hari awal saya saat  menjadi seorang ibu. Jujur saja, jika disuruh mengulang kembali masa itu, rasanya saya akan lebih memilih untuk mendaki gunung Himalaya daripada kembali ke masa itu. Bukan! Bukan karena saya tidak menyukai peran saya sebagai ibu. Tapi justru karena saya merasa melakukan itu semua benar-benar MEMBUTUHKAN fokus, keseriusan, dedikasi, kesungguhan hati, tenaga dan komitmen yang tiada akhirnya. Bayangkan jika kita bekerja di sebuah perusahaan. Saat kita merasa tugas dan tanggung jawab yang kita emban tak sesuai atau terlalu melelahkan, kita bisa saja mengajukan pengunduran diri atau pemindahan posisi ke departemen lain bukan? Tetapi menjadi ibu? Kita takkan pernah dapat melakukan kedua hal itu bila kelelahan atau stres melanda.

Lalu bagaimana kita dapat menjalani semua ini dengan penuh kekuatan, ketabahan dan kesabaran seratus persen? BERISTIRAHATLAH!

Istirahat lebih dari sekedar tidur nyenyak di malam hari. Istirahat bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, beristirahat juga berarti melakukan hal-hal yang dapat menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Sesuatu yang membangkitkan suasana hati kita. Dan saya percaya, setiap kita memiliki cara tersendiri untuk melakukan ritual ‚Äėistirahat‚Äô ini.

Beberapa orang sering menyalah artikan ritual istirahat sebagai sebuah bentuk kemalasan. Padahal beristirahat (apapun cara dan bentuknya) amat dibutuhkan secara fisik, emosi dan mental, demi kesehatan hubungan kita dengan anak-anak dan terutama kesehatan rumah tangga dan pernikahan. Memaksakan diri untuk terus memberi padahal hati, jiwa, pikiran dan fisik kita lelah dan kosong merupakan sebuah kesalahan besar dan serius, yang dapat menyebabkan ledakan bom waktu di saat yang kurang tepat nantinya. Kita perlu beristirahat, agar kita dapat siap melayani, mencintai dan merawat keluarga kita dengan limpahan cinta yang sehat, yang muncul dari ‚Äď salah satunya – istirahat yang cukup.

Satu hal perlu kita ingat, istirahat yang sesungguhnya bukanlah aktifitas serupa minum kopi, nonton TV sambil bermalas-malasan, ngemil atau membuka-buka media sosial lewat perangkat gadget Anda. Tetapi lebih dari itu, beristirahat yang benar adalah dengan sungguh-sungguh menggali dan mencari hal-hal yang dapat menyegarkan tubuh dan pikiran kita yang lelah. Dan hal ini tidak akan kita dapatkan hanya dengan melakukan hal-hal diatas. Kita harus mampu mengidentifikasi dan menyediakan waktu khusus untuk hal-hal yang dapat menginspirasi dan membangun gairah, menghidupkan harapan-harapan kita, membawa kesembuhan jiwa dan mental, mengasah kreatifitas serta mengundang sukacita.

Beberapa hal sederhana yang mengandung unsur beristirahat adalah: tidur nyenyak, berkebun, tertawa, meditasi, melukis, membaca dan menonton film-film berkualitas. Beberapa hal ini dapat menyegarkan pikiran, hati, jiwa serta mengasah gairah kita dalam melakukan aktifitas rutin dan tanggung jawab kita sehari-hari.  Temukan aktifitas yang dapat memberikan istirahat yang sesungguhnya bagi fisik, mental dan jiwa kita. So moms, start making your list now and have a great rest! (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)

                           

MEDIA: TONTONAN ATAU TUNTUNAN

image

Secara umum media dimengerti masyarakat sebagai wadah untuk bertukar informasi. Entah itu dalam bentuk untuk mendapatkan informasi ataupun mengirimkan informasi.

Mengikuti perkembangan teknologi, media pun ikut melebarkan sayapnya. Tidak hanya terpaku pada media konvensional, seperti: televisi, radio, koran, majalah, dll, media pun berdiri atas azas digitalisasi.

Pada media digital, komunikasi pertukaran informasi lebih terasa¬†‚Äúreal time‚ÄĚ.¬†Jika pada periode kejayaan media konvensional, masyarakat cenderung pasif hanya untuk mengkonsumsi informasi yang disajikan. Justru pada periode media digital, masyarakat memiliki hak kebebasan untuk terjun memberikan informasi kepada semua orang di belahan bumi manapun, atau lebih dikenal dengan istilah¬†citizen journalism.

‚ÄúLembaga penyiaran memiliki 5 fungsi utama, yaitu: media informasi, kontrol sosial, media pendidikan, media hiburan, dan lembaga ekonomi. Namun, amat disayangkan, yang lebih dijalankan saat ini hanyalah fungsi hiburan,‚Ä̬†ujar Lutfi selaku Koordinator Bidang PS2P KPID Banten, saat ditemui dalam programHeartine Coffee Morning, Selasa (09/05/17).

Oleh sebab itu, Lutfi mengatakan bahwa tidaklah mengherankan apabila fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat, sangat berkaitan erat dengan tayangan dari televisi, contohnya: kekerasan dalam rumah tangga, kejahatan yang dilakukan anak-anak, dll. Berkaitan dengan hal ini masyarakat diminta untuk menjalankan literasi media, dimana masyarakat dan orang tua dituntut untuk cerdas memilih konten informasi seperti apakah yang akan dikonsumsi untuk dirinya atau keluarganya.

Lebih lanjut, Anggota Komisi I DPR RI Marinus Gea menegaskan bahwa, media harus menampilkan berita yang seharusnya diketahui masyarakat, tidak hanya berita yang ingin diketahui masyarakat saja. Hal ini juga mempengaruhi informasi negatif yang sangat mungkin dijangkau oleh anak-anak. Untuk itu, Direktur dari Focus on The Family Indonesia Valerie Mellanov Gan menyarankan untuk membuat anak Anda mengikuti kegiatan-kegiatan positif, sebagai langkah preventif anak untuk tidak menjangkau konten negatif.

Ditemui di salah satu acara bincang pagi Radio Heartline Tangerang, Wartawan Senior KOMPAS Andreas Maryoto menyatakan bahwa, manusialah yang harus mengontrol teknologi. Menurutnya masyarakat harus cerdas dalam memahami dan mempelajari segala informasi yang diterima oleh media itu sendiri.

Secanggih-canggihnya teknologi, teknologi itu sendiri merupakan hasil ciptaan manusia. Maka masyarakat harus mempergunakan ciptaan tersebut dengan bertanggung jawab. Kebebasan jangan sampai kebablasan, sebab amatlah konyol jika pencipta teknologi justru dikendalikan oleh hasil ciptaannya.(HL/IL)

Sumber: http://www.heartline.co.id

Family Gathering: SESPIMMEN POLRI 56 BATALYON WICAKSANA LAGHAWA

image

Lembang ,¬† 5 November 2016 ‚Äď KELUARGA. Tidak banyak orang benar-benar memahami makna kata keluarga dalam kehidupannya. Akhir pekan kemarin, FOFI – bekerjasama dengan keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56 Batalyon Wicaksana Laghawa – menggelar¬† Family Gathering yang bertujuan untuk mengembalikan kedekatan dalam keluarga. Keharmonisan keluarga bagi seorang SESPIMMEN POLRI sangatlah penting. Dan melalui event ini, FOFI berharap momen eksklusif dapat terbangun diantara pasangan serta anak dan orangtua. Berangkat dari pemikiran itulah, FOFI menyusun serangkaian acara menarik bagi keluarga SESPIMMEN POLRI 56.

Aktivitas pagi itu dibuka dengan senam pagi bersama keluarga dengan instruktur senam handal, Tawarikh. Aktifitas ini tidak saja bertujuan untuk mengajak seluruh keluarga untuk hidup bugar, tetapi juga membangun kedekatan antar anggota keluarga. Setiap gerakan yang dilakukan pada sesi Senam Pagi ini penuh dengan unsur membangun kekompakan keluarga. Karena kami percaya, cara kita memulai hari akan menentukan keadaan hati dan pikiran kita sepanjang hari itu. Dan olahraga bersama merupakan salah satu cara positif untuk memulai hari yang sehat dan bahagia.

Saat coffee break, seluruh peserta keluarga SESPIMMEN POLRI 56 terlihat bercengkrama dan menikmati waktu istirahat mereka dengan bertukar cerita bersama keluarga lainnya. Sharing merupakan poin penting dalam hidup berkeluarga. Karena dari situlah kita dapat memperoleh masukan serta mengerti isi hati anggota keluarga kita. Kami berharap aktifitas ini dapat sering dilakukan dengan menyesuaikan waktu yang ada dalam keluarga masing-masing, agar tercipta komunikasi yang baik dan hubungan yang akrab. Karena kebersamaan adalah sesuatu yang WAJIB dilakukan.

image

Selepas Coffee Break, acara permainan (games) pun dimulai. Sesi ini disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak. Rangkaian games memang kami rancang agar seluruh anggota keluarga turut ambil bagian didalamnya. Games seperti: Jaring laba laba, lompat tali, balap karung, bakiak dan membuat sandwich diadakan dengan agenda menanamkan nilai-nilai kerjasama, kekompakan dan saling support antar anggota keluarga. Ada pula games yang dirancang untuk mengasah kemampuan ayah dalam bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, dimana mereka diharapkan mampu membantu anggota keluarga dalam menghadapi rintangan hidup. Games ini juga mengajar setiap anggota untuk mengutamakan cinta kasih dalam keluarga. Praktek cinta kasih dalam bentuk sederhana adalah adanya pengertian antara suami istri serta orangtua dan anak akan peran masing-masing, sehingga dapat saling mendukung dan menolong.

Waktu makan siang pun tiba. Secara otomatis para istri dan ibu saling bantu dalam menyiapkan makanan bagi para suami dan anak-anak mereka. Wujud tenggang rasa serta-merta dapat terlihat, dimana para suami tak sungkan membantu pasangan mereka menyuapi anak-anak, agar sang istri dapat makan dengan tenang. ‚ÄúMakan‚ÄĚ merupakan momen penting bagi anggota keluarga untuk mulai melakukan pendekatan pada pasangan, anak dan anggota keluarga lainnya. FOFI sangat menganjurkan agar keluarga selalu dapat mengusahakan waktu makan bersama. Karena ini merupakan salah satu cara mendasar dalam membangun waktu berkualitas. Dengan terbangunnya kebersamaan, maka komunikasi didalam keluarga akan semakin dalam, kuat dan harmonis.

image

Rangkaian acara Family Gathering ini ditutup dengan peresmian Majalah IKHAGAWA yang diluncurkan oleh keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56. Majalah ini memuat berbagai aktifitas dan tugas pekerjaan yang dilakukan para anggota POLRI 56 selama tujuh bulan mengemban tugas. Dengan kemunculan majalah ini, mereka berharap agar hubungan antar keluarga besar SESPIMMEN POLRI 56 dapat senantiasa melekat dan akrab. Selain Family Gathering, event ini juga merupakan momen reuni bagi keluarga SESPIMMEN POLRI 56 Batalyon IKHAGAWA. Dimana mereka berharap agar kekompakan dan hubungan baik dapat terus terjaga, baik didalam anggota keluarga sendiri maupun dalam ikatan keluarga besar POLRI.

image

Melalui Family Gathering ini, FOFI ingin menjangkau seluruh peserta dan anggota keluarga SESPIMMEN POLRI 56 dengan harapan agar mereka dapat mengenal, memahami, melakukan dan mengedepankan nilai-nilai keluarga dalam seluruh aktifitas kehidupan mereka. Dalam event ini, FOFI juga memberikan ruang bagi anak-anak keluarga SESPIMMEN POLRI 56 untuk dapat menyalurkan minat dan mengekspresikan bakat mereka dengan pengadaan mini playground lengkap dengan berbagai macam food stall anak yang ‚Äď tentu saja – menjadi penambah keceriaan bagi seluruh anak-anak SESPIMMEN POLRI 56. Apalagi ditambah dengan kehadiran badut serta sesi mewarnai. Semua ini kami lakukan sebagai bentuk dukungan FOFI bagi anak-anak dalam mengekspresikan bakat dan kreatifitas mereka.

Tentang Focus On The Family Indonesia
Focus On The Family Indonesia adalah yayasan nirlaba dan lembaga swadaya masyarakat yang  berfokus pada hubungan keluarga. Misi kami adalah merestorasi hubungan keluarga Indonesia melalui beberapa core activities seperti: family bonding events, seminar, live talkshow, workshop, training, konseling, maupun pendekatan melalui media (online maupun offline).

Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi :
SHINTYA
Telp: 087888564637
Email: shintya.fofi@gmail.com