Integritas di dalam Kehidupan Sehari-hari

Integritas adalah tema yang diangkat oleh Focus on the Family Indonesia (FOFI) di bulan Oktober ini. Integritas suka diidentikkan dengan kejujuran atau bicara benar.

Pastinya, tanpa kita sadari sering mendengar orang mengemukakan alasan-alasan seperti ini, atau bisa jadi kita sendiri yang mengucapkannya sebagai pembenaran diri:

  • Oh, maaf, saya tidak bisa ikut makan malam bersama karena anjing saya sedang sakit.” (Really? Karena anjing saya masih baik-baik saja dua menit yang lalu).
  • Saya tidak bisa datang malam ini, saya sudah punya rencana tentatif lainnya. Tapi kalau mereka membatalkannya, saya pasti akan memberitahu kamu.” (Jadi, kita sedang membandingkan kegiatan atau acara yang lebih seru dibanding undangan darinya).
  • Saya betul-betul sedang sangat sibuk sekarang, karena itu saya akan merencanakan segala sesuatu dua minggu sebelumnya.” (Jadi itulah sebabnya saya selalu melihat post-post kamu yang mendadak di sosial media kamu).

Anda melihat polanya? Mengemukakan atau seolah-olah membuat alasan yang bagus tapi sebenarnya kita sedang berbohong untuk menutupi kekurangan diri sendiri melalui jawaban-jawaban yang “lebih baik, lebih kudus” atau “excuses yang halus atau cerdik.”

Berbohong untuk kebaikan memang tidak menyakiti perasaan orang lain, seakan-akan perbuatan itu mulai menjadi habit dengan setting (tanda kutip) “Kebenaran.” Tapi apakah benar itu sebuah kejujuran? Karena di balik jawaban-jawaban itu sebenarnya saya sedang capai atau malas saja, dan yang saya inginkan saat ini hanya duduk di depan televisi sambil makan, tanpa melakukan apapun.

Saya akui pernah juga melakukannya, berbohong sedikit atau memasukkan kebohongan kecil ke dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika seorang teman bertanya, “Bagaimana kabar kamu?” Dan saya menjawab, “Baik,” padahal yang sebenarnya terjadi saya sedang sedikit pusing akibat pekerjaan kantor yang banyak. Tapi jika saya menjawab jujur seperti itu, seolah saya terlihat tidak keren. Jadi, daripada berkata, “Ya adalah ya dan Tidak adalah tidak” kecenderungan untuk mencampur adukkan sesuatu atau memanipulasi percakapan terlihat lebih hebat dan penting, menjadi boleh-boleh saja untuk dilakukan.

Lalu, apalah bedanya dengan pengertian munafik: Orang yang berpura-pura dalam bersikap agar disetujui, disukai oleh orang lain, terutama di dalam kehidupan pribadi, pendapatnya, atau pernyataan terbuka yang sebenarnya berdusta.

Tapi, ayolah, Eve, jangan terlalu serius. Hal itu tidak salah,” ujar Anda kepada saya. Jika rasa percaya (trust) merupakan sesuatu yang penting di dalam sebuah hubungan, maka kejujuran adalah tindakan yang mengiringinya.

Pernah saya diberi pertanyaan seperti ini, “Eve, apakah kamu senang hidup sendiri?” Dulu, pertanyaan ini bersifat sedikit pribadi buat saya, sehingga saat menjawabnya, saya mempunyai definisi tersendiri kepada kelompok-kelompok tertentu: “Senang-senang saja” kepada kelompok orang yang jarang saya temui; “Sejauh ini saya baik-baik saja” kepada kelompok orang yang sering saya temui setidaknya satu kali dalam seminggu; dan “Tidak, saya butuh pria” kepada kelompok orang yang sangat dekat kepada saya. Yah, itu saya yang dulu, memanipulasi jawaban seolah keadaan saya sedang baik-baik saja.

Tapi saya yang sekarang akan menjawab “Tidak masalah” kepada semua orang yang saya temui, baik kelompok yang jarang, sering, maupun teman-teman dekat. Saya berhenti memanipulasi jawaban dan belajar untuk menjawab dengan sesungguhnya. Karena memang saya baik-baik saja sendirian dan tetap merasa hidup itu indah.

Pemahaman ini saya dapatkan saat saya mulai mengetahui siapa diri saya di mata Tuhan, sehingga apapun yang orang lain pikirkan tentang saya menjadi tidak terlalu penting, yang terpenting apa kata Tuhan tentang saya.

Saya pernah mendengar orang lain berkata begini, “Si Eve terlalu pemilih kali ya, makanya masih sendiri.” Atau “Jangan-jangan dia pernah melakukan kesalahan di masa lalu, karena itu ia masih sendiri sekarang.” (Terlintas di pikiran saya perkataan Taylor Swift bahwa karma itu nyata).

Ya, mereka bisa berkata apapun. Tapi sungguh, saya merasa bahagia dengan kesendirian ini. Saya semakin mempunyai waktu untuk berhubungan dengan-Nya, juga semakin mencintai DIA dan diri sendiri. Saya jadi teringat quote, “People care about people who care about themselves.” Ya, ketika saya menyukai diri yang seperti ini, saya tahu, orang lain akan menyukai saya juga. [EV]

Penulis: Evelyne Priscilla @evelynepriscilla
Ide tulisan terinspirasi dari situs www.boundless.org, artikel “Integrity in Everyday Communication” oleh dawn.mcbane, pada 3 Agustus 2011.

 

 

Advertisements

MERDEKA UNTUK DEWASA

Karina Budiman

Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda.

Sekitar dua minggu yang lalu, negara kita baru saja merayakan Hari Kemerdekaannya. Saat kecil, perayaan ini tak memiliki arti apapun bagi saya pribadi. Saya hanya selalu gembira menyambut hari ini. Karena pertama, itu adalah hari ulang tahun ayah saya. Dan kedua, ada banyak acara menarik di kota saya saat tujuh belasan. Favorit saya: lari karung dan tarik tambang.
Semakin dewasa, saya semakin bisa menghargai arti kemerdekaan yang sebenarnya. Tidak hanya secara umum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun lebih dari itu, mewujudkan kemerdekaan yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan pribadi sehari-hari. Saya semakin yakin, bahwa kemerdekaan itu memang HAK SEGALA BANGSA (aka: setiap umat manusia). Tetapi kemerdekaan seperti apa? Tentu saja yang bertanggung jawab.
Dengan semakin bertambahnya…

View original post 561 more words

KETIKA CINTA HARUS MEMILIH

MENCINTAI ADALAH KOMITMEN TAK BERSYARAT PADA SESEORANG YANG TIDAK SEMPURNA. MENCINTAI SESEORANG BUKANLAH SEKEDAR PERASAAN YANG KUAT, TETAPI SEBUAH KEPUTUSAN, PERTIMBANGAN, DAN SEBUAH JANJI (Paul Coelho)

Judul di atas adalah judul film dan novel populer tentang percintaan. Tetapi sebenarnya, secara umum, cinta tidak boleh memilih.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH OBYEKNYA.

Cinta kasih yang sejati tidak bisa memilih siapa yang akan dikasihi dan siapa yang tidak dikasihi. Saya mengasihi yang ini, tetapi membenci yang itu. Itu namanya bukan kasih, tetapi pilih kasih. Tidak bisa seseorang berkata ia mengasihi Tuhannya, lalu menyakiti orang yang berbeda dengannya. Kasih mencintai melampaui segala perbedaan. Bahkan perintah dari salah satu tokoh spiritual yaitu Yesus adalah, "Kasihilah musuhmu, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu."

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH LAMANYA.

Apa jadinya kalau orangtua berkata, "Kami mengasihimu hingga usia 15 tahun saja ya." Atau suami berkata, “Aku mencintaimu selama kulitmu belum keriput.” Kasih yang sejati tidak memberi batasan waktu. Cinta sejati baru berhenti ketika waktu sendiri yang menghentikan, yaitu dengan kematian.

CINTA SEJATI TIDAK BOLEH MEMILIH HASILNYA.  

Kasih memberi tanpa mengharap balasan. Lalu percuma dong?  Agak menyakitkan juga bila kasih tak terbalas?  Ada kalanya kita merasa percuma mengasihi dan berbakti pada orangtua yang pilih kasih, mengasihi kakak/adik kita dan tidak mempedulikan kita.  Kadang kita sudah susah-susah menolong teman dalam kesulitan, ternyata bukan ucapan terima kasih yang kita terima, melainkan cemoohan. Atau kita ragu mengasihi dan berbuat baik pada tetangga, karena belum tentu juga dia akan berbuat yang sama pada kita.  Untuk kasus ini, jawaban Mother Teresa adalah, "Saya temukan paradoks, bahwa bila saya mencintai hingga saya merasa sakit, maka tidak lagi ada rasa sakit, tetapi hanya ada cinta yang lebih besar lagi." Cinta adalah memberi diri bagi orang lain.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH KONDISINYA.  

Saya mengasihimu, kalau… (isi sendiri). Itu kontrak bersyarat, bukan cinta sejati.  Seperti ungkapan, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Karena itu, saat pernikahan orang berjanji untuk saling mencintai tanpa tergantung kondisi: dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, susah maupun senang.

CINTA SEJATI DAN PERNIKAHAN

Sangat dangkal bila memikirkan Valentine’s day sebatas bunga, coklat atau romantika. Sebenarnya kita ditantang untuk merayakan cinta sejati, yaitu cinta yang kuat, bertahan dalam segala macam badai, dan tanpa syarat (“unconditional love”).

Seorang ibu langsung mencintai bayinya yang baru lahir, tidak peduli bagaimana kondisi bayi tersebut, cakep atau tidak, pandai atau tidak, nantinya nakal atau tidak.  Seorang ibu hanya mau mencintai dan memberi, walaupun bayi itu tidak bisa apa-apa dan sangat merepotkan: membuatnya bangun tengah malam, rewel, dan menghabiskan banyak uang serta energi.  
Orang bertepuk tangan melihat kasih seorang ibu yang tanpa syarat. Tetapi bila diminta untuk mengasihi pasangan (suami/isteri) mereka dengan kasih yang demikian, mereka berpikir, “Kok enak bener dia…”  Padahal satu-satunya cara supaya pernikahan bisa berjalan seumur hidup, harus ada kasih tanpa syarat. Kalau kasih bersyarat “tergantung bagaimana dia” maka pernikahan akan bubar di tengah jalan. “Kalau dia cinta, ya saya cinta. Kalau dia baik, ya saya baik. Tapi kalau dia menjengkelkan dan menyakitkan, ngapain dilanjutkan?”

Mungkin bukan cinta yang kita cari, tetapi kesenangan hidup. Kita jatuh cinta supaya hidup menjadi ceria. Kita mencintai supaya dicintai. Kita mencari pasangan supaya tidak kesepian. Kita menikah supaya ada yang mengurus kita seumur hidup. Tapi kita tidak siap mencintai sampai menderita. Kita lupa bahwa mencintai adalah memberi dengan resiko tidak menerima kembali. Kita tidak sadar bahwa mencintai berarti mengampuni tanpa menghitung kesalahan, dan tetap mengasihi ketika orang tersebut sulit dicintai. Namun, bila Anda memiliki cinta tak bersyarat, sebenarnya Anda telah bebas. Bebas dari kekhawatiran cinta tak terbalas, bebas dari ketakutan disakiti, bebas dari segudang ekspektasi. Ini adalah jalan satu-satunya menuju kebahagiaan cinta. (Oleh Esther Idayanti Untuk FOF INDONESIA)

THE ART OF RAISING TEENS

unnamed

Masa remaja adalah masa yang menakjubkan. Remaja diibratkan seperti sebuah pesawat ruang angkasa yang siap diluncurkan. Awalnya kita melihat dengan takjub, terutama mengingat mereka akan pergi menuju ruang angkasa. Segala sesuatunya terlihat menggetarkan.

Mari melihat kedalam pesawat luar angkasa tersebut. Setiap penumpang yang berada didalam pesawat sangat bergantung pada perisai panas yang terletak di dasar kapsul pesawat. Perisai panas ini berfungsi untuk melindungi penumpang dari suhu 537,8 derajat Celcius lebih. Jika perisai itu tidak ada atau tidak berfungsi dengan baik, maka seluruh penumpang didalam pesawat akan hangus terbakar.

Adapun ion-ion negatif yang berada di sekitar kapsul menyebabkan hambatan komunikasi dengan pihak bumi kurang lebih 7 menit lamanya. Semua orang di bumi menahan nafas menanti untuk mendapatkan kembali komunikasi yang jernih. Setelah melewati semua itu, komunikasi kembali jernih dan semua orang bersorak sorai lega dan bahagia.

Analogi apa yang kita peroleh dari kisah pesawat luar angkasa ini? Saat anak-anak kita memasuki usia remaja, saat itu pula kita merasa mereka berubah dan menjadi sosok remaja yang sulit dikenali. Setelah masa kanak-kanak lewat dan akil balik datang, kondisi mereka mirip seperti pesawat ruang angkasa yang berjalan menuju tempat peluncuran.

Para orangtua – layaknya penduduk bumi yang menonton detik-detik pesawat ruang angkasa itu akan terbang – mengamati anak-anak remaja mereka yang harus pergi dengan roketnya. Sebagai orangtua kita ingin ikut terbang pergi bersama mereka. Tetapi kenyataannya, hanya ada satu kursi dan satu ruang di pesawat tersebut. Dan saat ion-ion negatif mulai bermunculan mengitari anak-anak kita, para orang tua mulai bertanya-tanya: “Dimana anak saya? Aku tidak bisa melihat mereka. Mengapa dia tidak mau berbicara lagi dengan saya?”

Masa sulit ini dapat berlangsung bertahun-tahun. Remaja yang tadinya senang berbagi cerita, tiba-tiba hanya senang menjawab singkat. “Nggak tau!”. “Mungkin”. “Iya”. “Nggak”. Dan seterusnya. Kondisi ini mirip dengan keadaan didalam pesawat ruang angkasa, dimana mereka hanya dapat berbicara hal-hal penting karena toh mereka merasa untuk apa bicara banyak bila tak banyak orang yang akan mendengarkan.

Lalu orang-orang yang berada di bumi mulai khawatir, “Mengapa tak ada berita atau obrolan yang terjadi didalam pesawat ruang angkasa itu?” Tetapi tak berapa lama, setelah melalui penantian yang cukup panjang dalam ketakutan dan kekhawatiran, pesawat itu akhirnya kembali ke bumi. Penumpang didalam pesawat ruang angkasa itu merasa sudah cukup memperoleh pengetahuan tentang keadaan ruang angkasa. Lalu mereka kembali ke bumi untuk bertemu dengan keluarga, orang tua, saudara-saudara dan teman-temannya.

Pertanyaannya: Apakah ada cara untuk menghilangkan kecemasan serta stres yang bermunculan dalam pikiran orangtua saat anak remaja mereka melakukan ‘perjalanan ke ruang angkasa’ versi mereka masing-masing?

Sebagai orangtua, kita harus paham bahwa hal utama dalam diri seorang anak remaja yang memiliki kekuatan dahsyat adalah hormon remaja, yang seringkali menguasai kondisi emosi anak. Hal ini membuat anak kadang marah tanpa alasan, merajuk, melamun dan galau memikirkan hal sepele, dan sebagainya. Hormon ini menyerang remaja dari berbagai sisi, baik seksual, demotifasi dan sikap agresif.

Hal lain adalah, seorang anak remaja sangat takut tertolak dan dipermalukan oleh teman atau lingkungannya. Mungkin bagi kita para orangtua, sebuah kejadian kecil sifatnya biasa dan lumrah. Tapi tidak bagi anak remaja. Banyak hal-hal kecil yang tak terpikirkan oleh kita dianggap sebagai sebuah aib serius dalam dunia anak remaja. Aneh memang! Tetapi itulah kenyataannya. Harga diri seorang remaja sangat tergantung dari penerimaan teman-teman dan lingkungannya. Itu sebabnya seringkali remaja melakukan tindakan-tindakan tak masuk akal demi menuai pujian dan penerimaan dari lingkungannya. Dan hal ini seringkali sulit untuk dijelaskan kepada orangtua, sehingga timbullah konflik.

Bila kita sedang mengalami kondisi seperti ini, 5 (lima) tips berikut ini mungkin dapat menolong Anda:

1. BERI KESIBUKAN.
Jangan biarkan seorang remaja menghabiskan banyak waktu yang sia-sia dan kurang produktif. Biarkan mereka aktif dalam komunitas positif seperti olahraga, organisasi sekolah, kerohanian, ekskul dan sebagainya.

2. MEMBANTU MEREKA MENGERTI.
Bantu anak memecahkan berbagai masalah yang mungkin tidak dapat ia tangani sendiri. Seperti mengajar anak untuk mulai bertanggung jawab terhadap keuangannya. “Ini ATM untuk kamu. Ibu punya M-banking untuk melihat segala transaksi yang kamu lakukan. Kamu dapat gunakan ATM ini untuk keperluan harian kamu.” Lalu ajarkan dia bagaimana menggunakan uang dengan bertanggung jawab.

Hindari larangan-larangan yang tak masuk akal, mengkritik berlebihan atau memberikan aturan-aturan yang terlalu mengekang. Biarkan anak bebas, selama apa yang mereka lakukan masih dalam batas wajar. Sesungguhnya mereka tidak ingin haknya diambil. Kedengarannya membebaskan mereka seperti sebuah gagasan buruk. Tetapi percayalah, hal ini sangat bermanfaat bagi perkembangan karakter mereka.

3. SIAPKAN ENERGI CADANGAN.
Sebagai orang tua Anda harus mempersiapkan energi cadangan dengan beristirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan berdoa. Mengapa? Karena Anda akan melalui banyak hal yang menguras energi dan pikiran serta meningkatkan stress level Anda. Oleh karena itu BERSIAPLAH! 🙂

4. DAD, WE NEED YOU!
Diperlukan figur Ayah yang kuat bagi remaja putra. Hobi dan minat yang sama serta kerjasama ayah dan putranya akan menghilangkan segala pemberontakan. Adakan boys time bersama remaja putra Anda. Dibutuhkan pula Ayah yang romantis bagi remaja perempuan. Jika Ayah adalah seorang yang pemarah, penjudi, masa bodoh, meninggalkan dan sebagainya, maka remaja cenderung akan berusaha mencari pengganti figir ayah untuk mengisi kekosongan hati. Dan ini berbahaya. Ayah, hargai remaja putra dan putrimu. Agar mereka juga dapat melihat dirinya berharga.

5. THE ART OF TOUGH LOVE.
Orangtua dapat melakukan ‘tough love’ untuk menangani kasus-kasus berat secara benar. Sebagai contoh: Jika terjadi pelanggaran serius atau berat, katakan pada anak Anda, “Kamu tidak bisa melakukan hal ini. Ini sebuah pelanggaran berat. Jika kamu tidak mau memperbaikinya, kami terpaksa harus memanggil pihak yang berwajib.” Hal ini terdengar mengerikan. Tapi itulah kasih yang sebenarnya. Ajarkan anak Anda untuk bertanggung jawab. Jangan menjadi orangtua yang memohon-mohon apalagi merengek dengan tangisan pada anak remaja Anda, agar mereka kasihan dan berhenti melakukan hal buruk. Seorang anak yang memberontak harus diajarkan untuk berdiri teguh, berani bertanggung jawab dan dapat mengambil tindakan tepat.

Apapun yang terjadi pada remaja kita, lakukan tindakan yang benar untuk mengatasi setiap permasalahan, dan jangan pernah merasa bersalah karena harus memberikan konsekuensi serius pada mereka. Berhentilah melindungi mereka dari tindakan yang destruktif dan akan menghancurkan mereka. TOUGH LOVE amat dibutuhkan untuk menjadi orangtua yang percaya diri, tegas namun bertujuan baik lewat cara-cara yang benar. Semuanya demi masa depan mereka. (Oleh: Vallerie Mellanov | Sumber artikel: Dr. James Dobson – Founder Focus on the Family)

R E S T

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjalankan tugas sebagai istri dan ibu membutuhkan energi lahir bathin yang tidak sedikit. Mungkin pekerjaan yang kita lakukan tak sehebat seorang direktur atau presiden. Tetapi percayalah, kesiapan lahir bathin yang maksimal amat sangat dibutuhkan.

IMG_3475

Saya mencoba mengingat-ingat, seperti apa hari-hari awal saya saat  menjadi seorang ibu. Jujur saja, jika disuruh mengulang kembali masa itu, rasanya saya akan lebih memilih untuk mendaki gunung Himalaya daripada kembali ke masa itu. Bukan! Bukan karena saya tidak menyukai peran saya sebagai ibu. Tapi justru karena saya merasa melakukan itu semua benar-benar MEMBUTUHKAN fokus, keseriusan, dedikasi, kesungguhan hati, tenaga dan komitmen yang tiada akhirnya.

Bayangkan jika kita bekerja di sebuah perusahaan. Saat kita merasa tugas dan tanggung jawab yang kita emban tak sesuai atau terlalu melelahkan, kita bisa saja mengajukan pengunduran diri atau pemindahan posisi ke departemen lain bukan? Tetapi menjadi ibu? Kita takkan pernah dapat melakukan kedua hal itu bila kelelahan atau stres melanda.

 

Lalu bagaimana kita dapat menjalani semua ini dengan penuh kekuatan, ketabahan dan kesabaran paripurna? BERISTIRAHATLAH!

 

Istirahat lebih dari sekedar tidur nyenyak di malam hari. Istirahat bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, beristirahat juga berarti melakukan hal-hal yang dapat menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Sesuatu yang membangkitkan suasana hati kita. Dan saya percaya, setiap kita memiliki cara tersendiri untuk melakukan ritual ‘istirahat’ ini.

 

Beberapa orang sering menyalah artikan ritual istirahat sebagai sebuah bentuk kemalasan. Padahal beristirahat (apapun cara dan bentuknya) amat dibutuhkan secara fisik, emosi dan mental, demi kesehatan hubungan kita dengan anak-anak dan terutama kesehatan rumah tangga dan pernikahan. Memaksakan diri untuk terus memberi padahal hati, jiwa, pikiran dan fisik kita lelah dan kosong merupakan sebuah kesalahan besar dan serius, yang dapat menyebabkan ledakan bom waktu di saat yang kurang tepat nantinya. Kita perlu beristirahat, agar kita dapat siap melayani, mencintai dan merawat keluarga kita dengan limpahan cinta yang sehat, yang muncul dari – salah satunya – istirahat yang cukup.

 

Satu hal perlu kita ingat, istirahat yang sesungguhnya bukanlah aktifitas serupa minum kopi, nonton TV sambil bermalas-malasan, ngemil atau membuka-buka media sosial lewat perangkat gadget Anda. Tetapi lebih dari itu, beristirahat yang benar adalah dengan sungguh-sungguh menggali dan mencari hal-hal yang dapat menyegarkan tubuh dan pikiran kita yang lelah. Dan hal ini tidak akan kita dapatkan hanya dengan melakukan hal-hal diatas. Kita harus mampu mengidentifikasi dan menyediakan waktu khusus untuk hal-hal yang dapat menginspirasi dan membangun gairah, menghidupkan harapan-harapan kita, membawa kesembuhan jiwa dan mental, mengasah kreatifitas serta mengundang rasa bahagia dan sukacita.

 

Beberapa hal sederhana yang mengandung unsur beristirahat adalah: tidur nyenyak, berkebun, tertawa, meditasi, berolah raga, melukis, membaca dan menonton film-film berkualitas. Beberapa hal ini dapat menyegarkan pikiran, hati, jiwa serta mengasah gairah kita dalam melakukan aktifitas rutin dan tanggung jawab kita sehari-hari.  Temukan aktifitas yang dapat memberikan istirahat yang sesungguhnya bagi fisik, mental dan jiwa kita. So moms, start making your list now and have a great rest! (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)

PENANDA TANGANAN MOU FOCUS ON THE FAMILY INDONESIA DENGAN LAPAS WANITA DAN LAPAS ANAK PRIA

image

Pada tanggal 27 April yang lalu, tim Focus on The Family Indonesia (FOF Indonesia)  mendapatkan kesempatan untuk menghadiri  perayaan Ulang Tahun Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53 yang bertempat di Lapas Klas I, Tangerang, Banten.
Bersamaan dengan itu pula, setelah upacara perayaan berakhir, pihak Lapas Wanita Tangerang serta LPK Anak Pria Tangerang dan Focus On The Family Indonesia menanda tangani  MOU kerjasama. 

Tentu saja ini merupakan sebuah langkah baru yang membawa kabar baik bagi kedua belah pihak.  Karena dengan demikian, pelayanan FOF Indonesia di masyarakat dapat semakin diperluas dan menyentuh lebih banyak lapisan masyarakat, dalam hal ini warga binaan di Lapas Tangerang.

image

Semoga kerjasama ini akan menjadi awal yang baik bagi terbukanya kesempatan-kesempatan baru dimasa datang, dimana FOF Indonesia dapat lebih banyak lagi menjangkau berbagai komunitas dari segala usia, gender serta  level  pendidikan untuk dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menanamkan serta mengembangkan nilai-nilai keluarga dalam kehidupan rumah tangga dan lingkungan sekitar.
Kami percaya, bangsa yang besar adalah bangsa yang peduli akan nasib dan keadaan rakyatnya. Dan hal itu tidak hanya mencakup soal mata pencaharian, pendidikan, kesempatan untuk berusaha, namun juga perkembangan mental dan karakter anak yang diperoleh dalam lingkungan keluarga.

Kami sangat berharap, bahwa program-program yang kami kembangkan ini dapat membantu menumbuhkan, merawat, mengembangkan serta menyembuhkan berbagai masalah relasi dalam keluarga yang selama ini kurang baik bahkan rusak. Karena sudah saatnya negara ini memperbaiki keadaan bangsa dan warganya secara menyeluruh, tak hanya soal kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan mental, karakter serta hubungan keluarga yang baik.

image

Kiranya setiap hal yang kita kerjakan, tanamkan dan ajarkan kepada setiap anggota keluarga dapat berkembang dan menjadi sebuah kebiasaan baik yang akan dilakukan secara turun-temurun, menjadi sebuah legacy yang membanggakan dan tentunya dapat memperkuat pola pikir masyarakat secara luas dan menyeluruh.

Karena keluarga yang harmonis akan melahirkan generasi yang kuat, percaya diri, hangat, santun dan berakhlak. Bangsa ini akan kembali menjadi bangsa yang ramah-tamah dan suka bergotong-royong, karena hati dan mentalnya tertata dengan baik/. Dan kami yakin semua itu haruslah dimulai dari komunitas terkecil, yaitu keluarga. (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)

REST!

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjalankan tugas sebagai istri dan ibu membutuhkan energi lahir bathin yang tidak sedikit. Mungkin pekerjaan yang kita lakukan tak sehebat seorang direktur atau presiden. Tetapi percayalah, kesiapan lahir bathin yang maksimal amat sangat dibutuhkan.

Saya mencoba mengingat-ingat, seperti apa hari-hari awal saya saat  menjadi seorang ibu. Jujur saja, jika disuruh mengulang kembali masa itu, rasanya saya akan lebih memilih untuk mendaki gunung Himalaya daripada kembali ke masa itu. Bukan! Bukan karena saya tidak menyukai peran saya sebagai ibu. Tapi justru karena saya merasa melakukan itu semua benar-benar MEMBUTUHKAN fokus, keseriusan, dedikasi, kesungguhan hati, tenaga dan komitmen yang tiada akhirnya. Bayangkan jika kita bekerja di sebuah perusahaan. Saat kita merasa tugas dan tanggung jawab yang kita emban tak sesuai atau terlalu melelahkan, kita bisa saja mengajukan pengunduran diri atau pemindahan posisi ke departemen lain bukan? Tetapi menjadi ibu? Kita takkan pernah dapat melakukan kedua hal itu bila kelelahan atau stres melanda.

Lalu bagaimana kita dapat menjalani semua ini dengan penuh kekuatan, ketabahan dan kesabaran seratus persen? BERISTIRAHATLAH!

Istirahat lebih dari sekedar tidur nyenyak di malam hari. Istirahat bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, beristirahat juga berarti melakukan hal-hal yang dapat menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Sesuatu yang membangkitkan suasana hati kita. Dan saya percaya, setiap kita memiliki cara tersendiri untuk melakukan ritual ‘istirahat’ ini.

Beberapa orang sering menyalah artikan ritual istirahat sebagai sebuah bentuk kemalasan. Padahal beristirahat (apapun cara dan bentuknya) amat dibutuhkan secara fisik, emosi dan mental, demi kesehatan hubungan kita dengan anak-anak dan terutama kesehatan rumah tangga dan pernikahan. Memaksakan diri untuk terus memberi padahal hati, jiwa, pikiran dan fisik kita lelah dan kosong merupakan sebuah kesalahan besar dan serius, yang dapat menyebabkan ledakan bom waktu di saat yang kurang tepat nantinya. Kita perlu beristirahat, agar kita dapat siap melayani, mencintai dan merawat keluarga kita dengan limpahan cinta yang sehat, yang muncul dari – salah satunya – istirahat yang cukup.

Satu hal perlu kita ingat, istirahat yang sesungguhnya bukanlah aktifitas serupa minum kopi, nonton TV sambil bermalas-malasan, ngemil atau membuka-buka media sosial lewat perangkat gadget Anda. Tetapi lebih dari itu, beristirahat yang benar adalah dengan sungguh-sungguh menggali dan mencari hal-hal yang dapat menyegarkan tubuh dan pikiran kita yang lelah. Dan hal ini tidak akan kita dapatkan hanya dengan melakukan hal-hal diatas. Kita harus mampu mengidentifikasi dan menyediakan waktu khusus untuk hal-hal yang dapat menginspirasi dan membangun gairah, menghidupkan harapan-harapan kita, membawa kesembuhan jiwa dan mental, mengasah kreatifitas serta mengundang sukacita.

Beberapa hal sederhana yang mengandung unsur beristirahat adalah: tidur nyenyak, berkebun, tertawa, meditasi, melukis, membaca dan menonton film-film berkualitas. Beberapa hal ini dapat menyegarkan pikiran, hati, jiwa serta mengasah gairah kita dalam melakukan aktifitas rutin dan tanggung jawab kita sehari-hari.  Temukan aktifitas yang dapat memberikan istirahat yang sesungguhnya bagi fisik, mental dan jiwa kita. So moms, start making your list now and have a great rest! (Karina Budiman Untuk FOF Indonesia)