YOU ARE VERY SPECIAL

image
Image from: http://www.boredpanda.com

Kelahiran seorang anak selalu memunculkan berbagai macam perasaan dalam hati orangtua. Senang, bahagia, sedikit rasa takut dan excited, semua beradu dalam hati kita. Tetapi lain cerita jika anak yang kita lahirkan ternyata memiliki keterbatasan fisik atau kebutuhan khusus. Serta-merta perasaan kita berubah menjadi keterkejutan, kesedihan, kemarahan, kecewa, khawatir dan sebagainya.

Apa yang harus kita lakukan jika emosi dan perasaan seperti ini muncul tak terkendali dalam hati dan pikiran kita sebagai orangtua? Bagaimana mengatur emosi saat kita mendengar berita yang tidak diinginkan ini? Dan bagaimana kita menghadapi kenyataan bahwa kita memiliki anak dengan kebutuhan khusus?

MENGIDENTIFIKASI APA YANG TELAH MATI

Bayi Anda hidup dan lahir dengan selamat, serta Anda menyambut kelahirannya dengan penuh ucapan syukur. Tetapi tetap saja ada hal-hal lain yang mati; impian, ekspektasi, harapan. Disadari atau tidak, setiap orangtua yang menantikan kelahiran anaknya pasti dipenuhi dengan tiga hal tersebut. Tetapi kenyataannya, impian dan harapan kita sirna terhapus oleh kenyataan yang ada. Kenyataan yang kita hadapi ini ibarat kematian yang tak terlihat oleh mata. Dan seringkali hal ini sulit diidentifikasi oleh akal sehat dan perasaan kita. Tetapi kita perlu secara sadar menerima dan menyadari bahwa INI TELAH TERJADI.

WAKTU BERDUKA

Jangan pernah menyangkali kesedihan Anda. Berikan waktu untuk berdukacita atas ‘kematian’ ini. Rasa duka itu dapat muncul dalam berbagai bentuk, tetapi tingkatannya biasanya terdiri dari:

1.     Shock dan penyangkalan.
2.     Marah.
3.     Melakukan sesi tawar-menawar dengan Tuhan.
4.     Depresi.
5.     Penerimaan.

Ada dua proses berlawanan yang juga terjadi pada masa ini, yaitu:

1.     Keberadaan anak Anda ini akan menolong Anda untuk menghadapi rasa duka dan kecewa, karena hati Anda tersentuh oleh si anak yang kemudian mengembalikan kesadaran Anda untuk menerima kenyataan dan mulai berjuang.

2.     Kesibukan Anda sebagai orangtua dari anak berkebutuhan khusus membuat Anda tak memiliki banyak waktu menyadari bahwa Anda berduka. Sehingga rasa duka itu justru lebih lama pergi. Karena ketiadaan momen khusus yang Anda lakukan untuk benar-benar menyadari dan mengambil tindakan  penyembuhan.

INGATLAH, ANDA SANGAT MEMBUTUHKAN TUHAN DAN KASIH KARUNIA-NYA.

Masa berduka biasanya memunculkan pertanyaan: “Mengapa Tuhan?” Tidak apa-apa. Anda berhak untuk bergumul dengan pertanyaan itu. Jika dibutuhkan, carilah pemimpin rohani yang dapat membimbing Anda. Bagaimanapun juga, akan ada waktu dimana pertanyaan: “Mengapa Tuhan?” harus diakhir dengan pernyataan: “Lalu apa yang Engkau ingin aku lakukan sekarang, Tuhan?”

Ingatlah, bahwa Anda bukan saja orangtua dari anak Anda ini, tetapi Anda juga merupakan anak dari Tuhan yang Maha Mengerti dan penuh belas kasih kepada Anda. Mintalah kepadaNya untuk memberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi masa-masa yang berat ini. Meskipun hari-hari Anda demikian sibuk, selalu adakan waktu semenit dua menit untuk berbincang denganNya, memohon kekuatan dan hikmat. Ambil waktu untuk berdiam diri agar IA dapat bekerja menyembuhkan luka dan kepedihan serta kekecewaan Anda.

FOKUSLAH PADA APA YANG ADA, DAN BUKAN PADA APA YANG TIDAK ADA.

“Apakah gelas ini setengah kosong, atau setengah penuh?” pertanyaan ini sering dilontarkan untuk menguji apakah kita seorang yang optimis atau pesimis. Kenyataannya, kedua jawaban itu terasa benar jika dipakai untuk melihat kondisi hati Anda saat ini. Akui saja bahwa memang gelas itu dapat juga terlihat ‘setengah kosong’. Terimalah kenyataan bahwa dengan segala keterbatasan yang dimiliki anak Anda, ia tak akan dapat melakukan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh anak-anak normal lainnya. Anda berhak untuk merasa berduka akan hal ini. Tetapi disisi lain, Anda juga harus dengan sengaja mengarahkan focus dan perhatian Anda kepada hal-hal yang DAPAT DILAKUKAN oleh anak Anda. Bangun kembali impian dan harapan baru bagi si anak. Ini adalah bagian dimana Anda melihat bahwa gelas itu ternyata ‘setengah terisi’.

“Lakukan apa yang Anda mampu, dan bukan apa yang tidak.” Rasanya frase ini lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan. Tetapi toh kita tetap harus mampu bersikap optimis dengan melihat bahwa gelas itu sebenarnya setengah penuh, dan bukan setengah kosong.” Saat kita berfokus pada apa yang DAPAT KITA LAKUKAN, kita dilatih untuk mampu mengendalikan diri dan keadaan kita. Tetapi jika kita berfokus pada hal-hal yang tidak mampu kita lakukan, maka kita akan merasa seperti seorang yang lepas kendali. Dan perasaan negative ini secara tidak sadar akan Anda tularkan kepada anak Anda.

SATU HARI SATU

Hiduplah berfokus pada ‘satu hari, satu langkah baru’. Ini bukan sebuah hal klise. Tetapi satu langkah sehat untuk dilakukan siapa saja, terutama mereka yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Jangan terlalu jauh memikirkan masa depan atau apa yang akan terjadi nanti. Ini hanya akan membuat Anda lebih khawatir dan ketakutan. Fokuslah pada kemajuan hari ini dan pada apa yang dapat Anda atau anak Anda lakukan hari ini. Belajarlah untuk tenang dan santai menghadapi hari-hari Anda. Live in the moment! Dan nikmati setiap kemajuan-kemajuan kecil yang Anda lihat. Bersikaplah sabar terhadap anak Anda, pasangan dan terhadap proses yang dijalani bersama. Maka tanpa disadari, Anda akan mampu tertawa dan bersukacita menghadapi rutinitas ‘normal’ yang istimewa ini, yang Anda jalani bersama orang-orang yang mensupport dan mencintai Anda dan keluarga Anda.

(Artikel disadur dari: http://www.focusonthefamily.com/parenting/parenting-challenges/parenting-a-special-needs-child/how-to-cope)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s