UJIAN YANG MENGUATKAN

Setiap pernikahan akan menghadapi ujian. Sekali lagi, SETIAP pernikahan akan menghadapi UJIAN. Jenisnya mungkin berbeda-beda. Tetapi semuanya sama-sama menuntut kesabaran, penerimaan, pengertian, usaha dan pengorbanan. Wujud dan dalamnya kesabaran serta penerimaan pada setiap orangpun berbeda-beda. Kedewasaan spiritual dan mental menjadi tolok ukur dalam menilai kemampuan setiap pasangan untuk bertahan dan berjuang, hingga akhirnya menang.

Satu hal yang harus kita ingat baik-baik, setiap masalah atau tantangan dalam pernikahan akan membawa kita pada dua posisi akhir, yaitu: menang atau kalah. Menang dalam arti kita tetap teguh berpegang pada janji pernikahan, serta berkomitmen untuk menghadapi, menjalani, bertahan serta memenangkan pertempuran melawan masalah. Atau kalah, dalam arti kita menyerah dan memilih untuk mengakhiri serta meninggalkan medan tempur.

Kedua pilihan itu memang tidak mudah untuk dijalani. Masing-masing memiliki resiko yang harus kita tanggung dan hadapi. Yang tepenting adalah, “Apakah kita mau membayar harga untuk meraih kemenangan itu?” Perjuangan yang kita hadapi menuju pada kemenangan akan menuntut banyak pengorbanan, terutama dalam hal penyesuaian sikap dan pemikiran yang tentu tidak mudah untuk dilakukan. Tak perlu dirinci pengorbanan apa saja yang harus kita lakukan. Tetapi kita semua tahu, sesuatu yang berharga pastilah menuntut pengorbanan yang mahal harganya. Sekarang, apakah kita bersedia membayarnya?

Yang jelas, saat kita dihadapkan pada ujian pernikahan – jika kita tidak menyerah dan mau berusaha demi kepentingan bersama – maka ujian yang kita hadapi akan berakhir pada kemenangan, kedekatan (satu sama lain) dan kesembuhan (jiwa dan roh) pada  kedua belah pihak. Sebaliknya, bila kita memilih untuk menyerah pada ujian ini, maka kita akan berhadapan dengan kekalahan, perpisahan dan luka hati di kedua pihak. Pilihan ada di tangan Anda berdua.

Mungkin beberapa dari kita sedang menghadapi ujian dalam rumah tangga. Resep lulus ujian tentulah “belajar” dan “mempersiapkan diri” dengan sungguh-sungguh:

BELAJAR menerima, memaafkan & mengerti. Serta saling menolong agar pasangan kita dapat kembali pada panggilan awalnya sebagai suami atau istri yang baik.

MEMPERSIAPKAN DIRI meliputi pembenahan hubungan serta kedekatan kita pada Yang Maha Kuasa (karena memenangkan ujian tanpa hikmat dari Tuhan adalah usaha yang sia-sia). Siapkan diri untuk berkomunikasi dengan kerendahan hati, keinginan untuk mendengar serta berfokus pada jalan keluar, bukan pada siapa yang benar atau salah. Siap untuk berkomitmen menjalankan langkah-langkah positif yang telah didiskusikan bersama pasangan agar ujian dapat diselesaikan dengan nilai yang baik. Pada akhirnya, tentukan tujuan baru yang lebih baik bagi pernikahan Anda berdua. Apa serta bagaimana mewujudkannya, sehingga pernikahan Anda akan terus berjalan semakin kuat, semakin indah, semakin melekat dan semakin mesra. (KB/FOF)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s